
kudengar angin bersuara malam ini saat prosesi persemayaman bapak seorang teman. membawaku jauh dari kekhusyukan kebersamaan. baju putih-baju putih dikenakan sebagian ada yang hitam. kelam suasana. seperti warna langit ini malam.
kuabadikan warna-warni di sepanjang lorong. lilin-lilin yang tak kutahu maknanya menyala. dupa-dupa dan bau kemenyan yang lekat pada jaketku yang akan membuatku merinding kala aku pulang nanti. dan gerimis, seperti kabar yang dibawa angin, datang perlahan tanpa suara.
kudengar angin bersuara malam ini saat aku melintas jalan sunyi. lampu yang temaram. malam yang panjang. motor yang melaju pelan. rasa dingin yang samar-samar merayap di kedua telapak tanganku. hati yang lebam. hidup ini sepi tapi kematian itu sunyi. tanpa peringatan, tanpa perpisahan. lalu tubuh mengabu bersama peti dalam sebuah perapian. tak bisa lagi dipeluk. membeku dalam foto-foto dan kenangan.
karenanya aku datang padamu, karena suara angin menuntunku. aku ingin memelukmu malam ini, kenankanlah. sebelum aku tak bisa memeluk lagi. sebelum jiwaku pergi dan tubuhku busuk terpendam dalam tanah dan sendirian. kuharap aku tidak membusuk dan tidak sendirian. dan ketidaksendirian adalah bersama semua amal baik yang pernah kulakukan. dalam hatiku ada keimanan yang selalu kunomorduakan. sebab aku datang padamu, perempuan, saat akupun perempuan.

0 komentar:
Posting Komentar