Kusaksikan begitu banyak orang menjadi lebih buruk dari orang yang pernah menyakiti mereka.
Di tempatku belajar dulu, di mana kakak kelas punya kuasa ini-itu terhadap adik kelasnya, seseorang di bawah berusaha menyalakan api pemberontakan. Jauh dalam hatiku ada kecurigaan dia akan menjelma lebih buruk dari kakak kelasnya dalam menyikapi adik kelas, dan ternyata memang demikian.
Seseorang dulu dikhianati oleh kekasihnya, yang sekarang menjadi pasangan hidupnya. Dia membenarkan perselingkuhan-perselingkuhannya dengan awal alasan dendam. Sampai sekarang dia tak bisa mengontrol perasaan, atau nafsunya, dan selalu mencari pembenaran.
Seorang yang lain ditinggalkan oleh kekasihnya begitu saja. Namun kekasihnya itu telah ada saat ia membutuhkan dan si mantan sudah tahu risiko apa yang dia hadapi dengan mencintai kekasihnya itu. Beberapa tahun bersama kekasih baru, dia meninggalkan kekasih barunya saat di saat ia membutuhkan support luar biasa.
Kusaksikan begitu banyak orang yang berkata memaafkan tapi semuanya hanya di bibir. Persis seperti seseorang yang menjalani LDR yang selalu meminta kabar kepada kekasihnya, minta supaya ‘melapor’ sedang di mana-sama siapa-sampai jam berapa. Tapi saat kekasihnya datang ke kotanya ia tetap bekerja waktu penuh bahkan lembur dan mematikan gawai, tak ada pertanyaan bahkan sekedar sudah makan belum apalagi pertanyaan ‘ingin kuantar ke mana?’ Perhatian semu. Pun maaf itu sebagian besar palsu. Kusaksikan mereka slowly became the people they swore they’d never become.
Karenanya resolusi akhir tahunku masih sama sejak bertahun lalu: don’t become those who hurt you. Jangan menjelma menjadi orang yang menyakitimu. Sebab kau akan melakukannya lebih buruk, seolah orang yang kau sakiti memang layak mendapatkannya.
Mereka yang mengenakan jaringan parutnya malah kulihat lebih baik dalam menjaga diri agar orang yang ia cintai tidak jatuh pada lubangnya terjatuh ketimbang mereka yang menutupinya dengan alasan ingin menyederhanakan segalanya atau alasan seagamis apapun.
Dan ketika kamu lelah memperbaiki diri, ingatlah bahwa rasa lelah itu sementara dan menjadi orang yang lebih baik itu selamanya. If no one is proud of you, be proud of yourself.

