Disclaimer: fanfic ini mempunyai judul yang sesungguhnya bukan inti dari cerita di dalamnya, tapi aku tak bisa memikirkan judul lain (supaya tidak terlalu memberi hint dari film seri apa cerita ini mengadopsi). Dan aku tidak pintar meramu agar cerita menjadi menarik, tapi aku sungguh ingin menulis ini.
"Kemudikan mobil ini menuju bandara, agen Natsuki, aku ingin kau menyusul Mai. Lebih baik kamu menelepon agen perjalananmu sekarang untuk tiketmu. Kamu akan pergi ke Pegunungan Bersalju, Distrik Tertinggal, tempat kelahiran Mai Tokiha atau sekarang Mai Tate sebelum keluarga mereka hijrah ke Distrik 10," kata Nagi Homura di belakang Natsuki. Keluarga Tokiha hijrah ke Distrik 10 saat pengungsian besar-besaran dari Distrik Tertinggal setelah terjadi kebocoran nuklir yang dikembangkan pemerintah di distrik itu. Ayah Mai bekerja sebagai teknisi di sana sebelum akhirnya pindah dan membuka usaha yang kini diteruskan Takumi.
"Kecelakaan keluarga Tate didalangi mereka. Mereka tahu Tokiha memberikan satu informasi pada putri tertuanya, Mai. Informasi itu, adalah jurnal yang kami ambil dari TKP kecelakaan keluarga Tate beberapa waktu lalu. Sayangnya sang pengambil jurnal, yang kau kenal sebagai pelaku pengeboman nomor lima, membaca beberapa informasi di dalamnya. Dia tak membaca seluruhnya, hanya beberapa. Apa yang dia baca dia kemukakan pada beberapa teman baiknya, pelaku pertama sampai ke empat. Mereka tahu betul bahwa aliran kepercayaan yang mereka ikuti, sama sekali bukan jalan yang membawa mereka ke surga. Mereka tahu mereka bersamaku untuk tujuan tertentu. Tapi mereka tahu lebih banyak dariku, dan memutuskan mencari jalan sendiri demi keselamatan mereka."
Natsuki menatap Nagi dari spion tengahnya.
"Kami sebuah organisasi rahasia, hanya aku dan pemimpin inti yang tahu tujuan kami sebenarnya. Kami melawan pemerintah. Lebih tepatnya melawan satu divisi khusus dalam pemerintah yang mempelajari satu hal: alien."
Natsuki tersenyum kecut mendengar penjabaran gila Nagi.
"Aku tahu kamu tak percaya alien, Natsuki. Pemerintahmu berbeda. Mereka mengirim sinyal-sinyal ke luar angkasa sana, sinyal permintaan tolong. Menjebak beberapa alien dalam seratus tahun ini. Alien dan kendaraannya. Ada satu yang jatuh dan terkubur di Pegunungan Bersalju dalam keadaan utuh, para penghuni pesawatpun masih tertidur di dalamnya. Satu kejadian terjadi dan mereka tahu bahwa mereka butuh menjaga lingkungannya stabil agar para alien tidak terbangun dan mereka dapat mempelajari makhluk-makhluk itu dan teknologinya. Lingkungan akan stabil bila jumlah makhluk yang tertidur sesuai dengan jumlah tempat peristirahatan yang ada. Mereka menggunakan virus alien untuk menginfeksi manusia, menggantikan satu demi satu alien yang diambil untuk dibedah, diteliti,"
"Awalnya, kepercayaan HiME Star yang diberi tugas untuk menyalurkan korban, tentu saja tanpa sepengetahuanku. Awalnya aku berpikir bahwa mereka yang kuberikan pada pemerintah akan diperbantukan ketrampilan tambangnya untuk mengembangkan pembangunan senjata nuklir bawah tanah, sebagai proyek antisipasi dan keamanan negara. Sampai akhirnya aku sadar, proyek itu sudah berkembang sejak lima dasawarsa lalu, dan bukan di Distrik Tertinggal. Mereka sedang melakukan proyek baru, meniupkan isu kebocoran nuklir sehingga Distrik Tertinggal tak dihuni di bagian Pegunungan Bersalju terutama."
"Agen Shizuru adalah pengganti tubuh alien yang akan dibedah berikutnya. Dia tak sengaja terpilih karena telah membaca jurnal itu."
"Lantas kaitan peristiwa-peristiwa pengeboman itu?" tanya Natsuki.
"Pemerintahmu, Agen Natsuki. Banyak bagian-bagian dalam pemerintahmu yang punya rahasia dan alasan tersendiri pada setiap gerakannya. Mereka melakukan ini untuk pengetahuan, tapi orang-orangku menjadi korban. Aku jadi tahu mengapa mereka memberi nama kami HiME Star. HiME Star bukanlah bintang seperti yang mereka sebutkan. HiME Star adalah sebuah pangkalan yang mereka buat untuk membuat sinyal permintaan tolong ke seluruh angkasa."
"Aku terlambat menyadari sampai pengakuan palsu bahwa kami bertanggung jawab terhadap pengeboman pertama menyebar seantero dunia. Empat orang yang tersisa mengira bahwa kami benar-benar bertanggung jawab dan memutuskan mencari perlindungan. Mereka datang pada orang-orang yang pernah mengatakan bersimpati pada kepercayaan kami, tapi pemerintahmu memasangkan bom pada sabuk mereka. Bom berskala kecil untuk mengubur rahasia mereka."
"Agen Kuga, aku tahu kamu akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan partnermu. Aku membaca profilmu dan setia kawan adalah hal yang paling menonjol darimu. Kamu selamatkan Shizuru, rusak lingkungan pesawat itu."
"Tuan Tokiha, bagaimana dengan ayah Mai?" tanya Natsuki.
"Dia tidak tahu apa-apa. Bahkan tidak tahu bahwa dia membawa jurnal itu pada barang-barang yang dititipkan pada Nyonya Tate saat dia dan istrinya memutuskan melakukan tur keliling dunia berdua."
"Kenapa kamu memberi informasi ini?" tanya Natsuki, mereka berhenti pada lampu merah. Nagi tersenyum.
"Berjalan lurus ke depan, Agen Natsuki, berhati-hatilah melangkah," kata Nagi sambil keluar dari mobil Natsuki lalu masuk ke dalam mobil yang berhenti di sebelahnya yang lantas melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Natsuki. Semua terjadi begitu cepat, Natsuki tak sempat mencegah.
--=XXX=--
Natsuki sampai pada Distrik Tertinggal dan memulai perjalanan darat yang melelahkan menuju Pegunungan Bersalju. Kendaraan off road membawanya perlahan-lahan menuju Puncak Datar, salah satu puncak yang dimiliki Pegunungan Bersalju, yang dulunya menjadi pusat reaktor nuklir. Saat tiba di sana, Natsuki hanya mendapati warna putih yang membutakan sejauh mata memandang. Natsuki menghembuskan nafas, frustrasi setelah berjam-jam mencari tanpa menemukan titik terang keberadaan Shizuru.
Natsuki memandang sekelilingnya, ada 13 gudang besar di sana, seperti satu kumpulan. Dilihatnya ada ukiran berbentuk tanda aliran kepercayaan HiME Star di setiap pintu. Natsuki berpikir, pasti ada sesuatu di gudang itu. Pintu menuju bawah tanah kah? Natsuki menyisir pelan-pelan satu demi satu gudang. Pada gudang terakhir, Natsuki mendapati bentukan seperti jam besar berada di lantai gudang. Natsuki teringat saat menyelidiki keluarga para pelaku bom bunuh diri, semuanya punya bentukan seperti jam di altar tempat suci masing-masing, menurut kepercayaan HiME Star itu untuk menunjukkan posisi bintang HiME terhadap bulan. Di hadapan Natsuki jam tersebut tampak tak diposisikan semestinya. Natsuki menggeser jarum-jarum jam tersebut, membuatnya sama persis seperti yang dia lihat di altar. Sebuah pintu ke bawah tanah terbuka tepat di bawah kaki Natsuki, Natsuki merosot turun ke bawah melewati lorong bundar lalu terhenti di atas tumpukan salju.
Natsuki terdiam sesaat, matanya menamatkan pemandangan asing di sekelilingnya. Pilar-pilar tabung transparan seukuran tubuh manusia berjumlah ratusan memenuhi ruang bawah tanah. Natsuki teringat kata-kata Nagi, di salah satu tabung pasti ada Shizuru. Tak ingin membuang waktu, Natsuki menyisirnya satu demi satu. Tubuh-tubuh serupa manusia, ada juga yang manusia.
"Shizuru," pekik Natsuki tertahan saat menemukan wajah familiar. Shizuru mengapung dalam cairan dalam tabung, sebuah sungkup menutup hidung dan mulutnya untuk mengalirkan udara. Natsuki mencari alat untuk memecahkan tabung, berusaha mengeluarkan Shizuru. Dilihatnya sebuah anak tangga menuju ke atas, Natsuki melihat ada tabung pemadam kebakaran di dekat pintu, Natsuki meraih alat tersebut dan kembali ke Shizuru. Dengan sekuat tenaga dipukulnya tabung transparan itu, bunyi retakan benturan,, sekali lagi Natsuki memukul. Cairan dalam tabung berhamburan keluar, Natsuki berhati-hati agar pukulannya tak mengenai Shizuru. Natsuki menangkap tubuh Shizuru, menyelimutinya dengan jaket yang dia kenakan.
"Shizuru, oi, bangun," Natsuki memeriksa nafas dan nadi di leher Shizuru. Meski bernafas dan berdenyut, Shizuru tak menunjukkan tanda-tanda membuka mata. Terdengar suara asing yang keras dari arah kanan Natsuki, dia menoleh, melihat tabung-tabung yang lain perlahan-lahan surut cairannya. Natsuki sadar dia telah merusak 'lingkungan' alien tersebut. Natsuki dengan sekuat tenaga berusaha menggendong Shizuru, menaikkannya ke punggung dan berlari tergopoh-gopoh menuju anak tangga naik karena pintu yang tadi dilihatnya terkunci. Natsuki tidak tahu sudah berapa anak tangga dia lewati, langkahnya semakin berat, derak-derak keras dia dengar di belakangnya. Akhirnya dia menemukan pintu, terkunci, didobraknya sekuat tenaga. Pintu terbuka setelah dobrakan ke lima, Natsuki segera keluar dari pintu tersebut bersama Shizuru, Natsuki melihat interior dalam salah satu gedung yang dia selidiki tadi.
Tiba-tiba pijakannya berdiri runtuh, demikian dengan sebagian gedung, Natsuki dan Shizuru jatuh seperti tersedot ke bawah, dia tangkap tangan Shizuru yang masih belum sadar. Sekitar satu meter jatuh ke bawah, Natsuki dan Shizuru terbentur benda mirip logam. Terdengar raungan keras alarm gedung, sambung-menyambung. Tiba-tiba Natsuki dan Shizuru sudah terangkat ke atas, dua meter dari permukaan tanah. Keduanya merosot jatuh dari logam melengkung itu, ke tumpukan salju di sekitarnya. Natsuki melihat benda logam raksasa yang menjatuhkannya tersebut, sebuah piring terbang. Takjub, dia hanya ternganga tanpa bicara. Semenit kemudian, benda itu melesat meninggalkan Natsuki yang masih membeku.
Lama sesudahnya, Natsuki tersadar oleh erangan dari mulut Shizuru. Dilihatnya Shizuru membuka mata.
"Apakah saya melewatkan sesuatu?" tanya Shizuru.
Natsuki mengangguk perlahan, "Kamu tidak akan percaya dengan apa yang sudah kamu lewatkan," kata Natsuki sambil menunjuk lubang raksasa yang menganga di sebelah mereka.
finally, sekumpulan puisi cyber keroyokan bersama teman-teman, terbit
Kamis, 27 Oktober 2011

puisi-puisi karya Niken KW, Eugene Alexis, Endang SSN, Roy Tigor dan parikesit n1nna akhirnya dibukukan oleh dbuku. Bicara (bukan) Pada Sunyi, Sekumpulan Puisi Cyber beranekaragam isi, ada yang biasa-biasa, ada yang mengejutkan, ada yang penuh caci maki, ada yang iri-dengki, ada yang manis, disertai banyak rasa lain. keberagaman secara sederhana tentang cinta, hidup, memilih jalan hidup, jalan hidup, perjalanan berusaha dimaknai oleh kelima penulis ini. persis membaca buku pedoman, penulis seolah membolak-balik halaman, berusaha untuk mengerti dan lebih mengerti lagi, lalu bingung, membolak-balik halaman lagi, berusaha mengerti dan lebih mengerti lagi, mencapai suatu kesimpulan lalu kesimpulan itu ditentang sendiri. terus dan terus. seperti orang yang sedang belajar.
meski buku ini berisi puisi-puisi yang sangat sederhana, beberapa sangat kiri, namun kesederhanaan itu seolah bersinergi dengan keinginan belajar yang sangat besar dari penulis untuk membuahkan buku bergambar bibir-bibir manis ini mewarnai jagad perbukuan.
Behavioral Science Unit 3
Minggu, 23 Oktober 2011
Disclaimer: I am an ordinary fan yang ingin melihat Shizuru dan Natsuki bersatu di film berseri keren seperti the X-Files.
Sudah tiga bulan berlalu sejak serangan bom bunuh diri di Gereja Katolik Distrik 10 oleh penganut HiME Star yang didalangi Nagi Homura. Natsuki dan Shizuru menemukan adanya suatu pola tertentu dari serangan-serangan Homura. Terkuaknya pola tersebut menggagalkan serangan ke lima dari kelompok Homura. Tapi Natsuki malah berpikir serangan bunuh diri itu cuma agenda tragis yang berusaha dia kuak maksudnya. Natsuki melihat, serangan bom bunuh diri itu hanya melukai orang-orang di sekitarnya, tak pernah jatuh korban meninggal selain pelaku bom bunuh diri. Pelaku serangan ke lima memang tidak berhasil meledakkan bomnya, tapi Natsuki harus kecewa karena rupanya kelompok Homura mempersiapkan rencana lain, tembakan snipper lawan membunuh pelaku tersebut. Pemeriksaan forensik yang dikomando oleh Shizuru tak memberi informasi apa-apa.
Namun Shizuru menemukan sesuatu. Sesuatu yang dia tak mengerti.
Bom berada si sabuk tiap-tiap pelaku. Tiap ledakan memburaikan isi perut para pelaku, menyisakan anggota tubuh yang lain. Semuanya punya satu lubang kecil disertai radang di sekitarnya. Berdiameter 4 sentimeter, di belakang leher.
Natsuki menemukan kesamaan yang lain, semua pelaku pernah bekerja di sebuah tambang di luar Distrik 10, The Cavern. Saat bekerja di situ jugalah Nagi Homura mulai membentuk aliran kepercayaan HiME Star, pengikut awalnya pun berasal dari tempat kerja yang sama.
Kesimpulan lain yang diduga Natsuki adalah Nagi Homura mengincar tempat-tempat ibadah yang pemimpinnya pernah menyatakan dukungan pada aliran kepercayaan Homura. Natsuki berusaha mencari alasan di balik semua itu, namun Natsuki menemui jalan buntu.
Ketakutan merebak, demo anti kepercayaan HiME Star menular ke distrik-distrik lain, Natsuki dan Shizuru mendapat tekanan dari Yamada.
--=XXX=--
"Aku tak bisa menemanimu menyelidiki Linden Baum, aku harus mengantar Mai ke bandara," Natsuki berkata pada telepon genggamnya yang menyambung pada Shizuru. Linden Baum adalah kafe terakhir tersangka ke lima makan, sebelum akan menghancurkan salah satu tempat ibadah di Distrik 10.
"Baiklah, saya bisa mengatasinya," jawab Shizuru.
"Oke, sampai nanti. Setelah dari bandara aku akan segera menyusulmu," Natsuki lalu mematikan telepon genggamnya.
Shizuru memarkirkan mobilnya pada Linden Baum yang sedang ditutup. Garis polisi mengamankan TKP dan Shizuru masuk ke dalam Linden Baum. Mengamati satu jengkal demi satu jengkal, Shizuru mengamankan satu carik kertas berisi menu yang dipesan pelaku. Shizuru mengamati tempat duduk yang dipakai oleh pelaku di dekat jendela yang tepat mengamati pintu utama rumah ibadah sasaran. "Pelaku menunggu sesuatu di sana, Shizuru," Shizuru teringat kata-kata Natsuki yang menuntunnya merunuti tingkah laku pelaku. "Semua pelaku menunggu jam ibadah berakhir, Shizuru, itu hal yang paling tak ku mengerti. Seandainya mereka berniat melakukan teror, seharusnya mereka meledakkan diri saat ibadah berlangsung agar kerusakannya besar," Shizuru menutup mata berusaha menghayati pertanyaan Natsuki di kepalanya. Tiba-tiba mendekat seorang laki-laki berjubah hitam. Pendeta Ishigami.
"Anda yang berwenang atas kasus kelompok Homura?" tanya Pendeta Ishigami pada Shizuru. Shizuru mengangguk. "Ada yang ingin saya sampaikan pada anda."
--=XXX=--
"Pelaku menunggu Pendeta Ishigami, Natsuki," ungkap Shizuru di telepon setelah Pendeta Ishigami meninggalkannya sendiri di Linden Baum.
"Apa?!", seru Natsuki.
"Pelaku mengirimkan satu notes lewat kurir, salah satu pelayan Linden Baum, yang berisi permintaan tolong."
"Ya? Lalu?"
"Pelaku menyatakan bahwa dia menyimpan sesuatu di Linden Baum, sesuatu yang harus ditemukan Pendeta Ishigami yang sekarang berusaha saya cari."
"Aku akan segera ke sana untuk membantumu, Shizuru."
Shizuru sudah melihat rekaman CCTV Linden Baum. Dia tahu ke mana saja pelaku selama di Linden Baum dan itu mempersempit ruang pencariannya. Shizuru masuk ke ruang ganti pelayan, salah satu tempat yang dimasuki pelaku secara diam-diam. "Ada sesuatu di sini," batin Shizuru. Loker-loker terkunci. Shizuru membuka satu demi satu dengan kunci yang dia sita dari pekerja-pekerja Linden Baum. Pada loker ke lima, Shizuru menemukan sebuah jurnal. Jurnal pelaku ke lima. Dengan tidar sabar Shizuru membuka dan membacanya, tenggelam di dalam tulisan-tulisan yang membelalakkan matanya. Tanpa sadar, seseorang berada di belakang Shizuru dan menikam leher belakangnya dengan spuit berukuran kecil.
--=XXX=--
Natsuki memarkir mobilnya di dekat milik Shizuru, tergesa memasuki Linden Baum. Ia melihat sosok yang berlari keluar melalui pintu belakang.
"Hey, stop!" seru Natsuki sambil berlari ke arah pintu belakang. Natsuki terhenti saat mendengar erangan di balik pintu yang sepertinya merupakan ruang ganti. Natsuki tahu itu suara Shizuru, segera berbalik arah menuju suara itu berasal.
"Shizuru!" pekik Natsuki sambil membalikkan tubuh Shizuru agar terlentang. Natsuki menahan nafas saat melihat kedua bola mata Shizuru mulai menghitam. "Shizuru!" panggil Natsuki lagi. Natsuki segera mengeluarkan telepon genggamnya, menekan tombol-tombol darurat. "Halo, aku Natsuki Kuga. Tolong kirim ambulans ke Linden Baum, seorang petugas bernama Shizuru Fujino terluka."
Natsuki memeriksa nafas Shizuru, tangannya beranjak ke leher Shizuru untuk memeriksa nadi karotisnya. Natsuki mendengar suara sirine tak seberapa lama kemudian, segera dia angkat Shizuru keluar dari Linden Baum. Dia disambut dua orang petugas medis yang segera memasangkan sungkup udara pada Shizuru, Natsuki meletakkan Shizuru pada pembaringan dan membiarkan kedua petugas itu memasukkannya pada ambulans. Otaknya mencatat nama rumah sakit yang tertera di samping mobil ambulans, dia berjalan menuju mobilnya sendiri yang terparkir di sisi lain dar Linden Baum. Natsuki melihat ambulans itu beranjak pergi.
Natsuki duduk di belakang kemudi saat seseorang tiba-tiba masuk ke mobilnya. Natsuki meraba senjata di balik jaketnya, bersiap mengambilnya saat orang itu, Nagi Homura, berkata, "Agen Kuga, apakah kamu yakin mereka akan membawa agen Fujino pada rumah sakit yang tertera namanya di ambulans itu?", Natsuki membeku.
"Cobalah telepon rumah sakit itu, tanyakan apakah mereka mengirim ambulans?"
Natsuki menuruti Nagi, tubuhnya tegang mengetahui bahwa rumah sakit tersebut tak mengirim ambulans ke Linden Baum.
"Agen Kuga, apakah kamu yakin negara yang kamu layani ini tak menyimpan rahasia dan tak melanggar hak azasi makhluk lain?"
Sudah tiga bulan berlalu sejak serangan bom bunuh diri di Gereja Katolik Distrik 10 oleh penganut HiME Star yang didalangi Nagi Homura. Natsuki dan Shizuru menemukan adanya suatu pola tertentu dari serangan-serangan Homura. Terkuaknya pola tersebut menggagalkan serangan ke lima dari kelompok Homura. Tapi Natsuki malah berpikir serangan bunuh diri itu cuma agenda tragis yang berusaha dia kuak maksudnya. Natsuki melihat, serangan bom bunuh diri itu hanya melukai orang-orang di sekitarnya, tak pernah jatuh korban meninggal selain pelaku bom bunuh diri. Pelaku serangan ke lima memang tidak berhasil meledakkan bomnya, tapi Natsuki harus kecewa karena rupanya kelompok Homura mempersiapkan rencana lain, tembakan snipper lawan membunuh pelaku tersebut. Pemeriksaan forensik yang dikomando oleh Shizuru tak memberi informasi apa-apa.
Namun Shizuru menemukan sesuatu. Sesuatu yang dia tak mengerti.
Bom berada si sabuk tiap-tiap pelaku. Tiap ledakan memburaikan isi perut para pelaku, menyisakan anggota tubuh yang lain. Semuanya punya satu lubang kecil disertai radang di sekitarnya. Berdiameter 4 sentimeter, di belakang leher.
Natsuki menemukan kesamaan yang lain, semua pelaku pernah bekerja di sebuah tambang di luar Distrik 10, The Cavern. Saat bekerja di situ jugalah Nagi Homura mulai membentuk aliran kepercayaan HiME Star, pengikut awalnya pun berasal dari tempat kerja yang sama.
Kesimpulan lain yang diduga Natsuki adalah Nagi Homura mengincar tempat-tempat ibadah yang pemimpinnya pernah menyatakan dukungan pada aliran kepercayaan Homura. Natsuki berusaha mencari alasan di balik semua itu, namun Natsuki menemui jalan buntu.
Ketakutan merebak, demo anti kepercayaan HiME Star menular ke distrik-distrik lain, Natsuki dan Shizuru mendapat tekanan dari Yamada.
--=XXX=--
"Aku tak bisa menemanimu menyelidiki Linden Baum, aku harus mengantar Mai ke bandara," Natsuki berkata pada telepon genggamnya yang menyambung pada Shizuru. Linden Baum adalah kafe terakhir tersangka ke lima makan, sebelum akan menghancurkan salah satu tempat ibadah di Distrik 10.
"Baiklah, saya bisa mengatasinya," jawab Shizuru.
"Oke, sampai nanti. Setelah dari bandara aku akan segera menyusulmu," Natsuki lalu mematikan telepon genggamnya.
Shizuru memarkirkan mobilnya pada Linden Baum yang sedang ditutup. Garis polisi mengamankan TKP dan Shizuru masuk ke dalam Linden Baum. Mengamati satu jengkal demi satu jengkal, Shizuru mengamankan satu carik kertas berisi menu yang dipesan pelaku. Shizuru mengamati tempat duduk yang dipakai oleh pelaku di dekat jendela yang tepat mengamati pintu utama rumah ibadah sasaran. "Pelaku menunggu sesuatu di sana, Shizuru," Shizuru teringat kata-kata Natsuki yang menuntunnya merunuti tingkah laku pelaku. "Semua pelaku menunggu jam ibadah berakhir, Shizuru, itu hal yang paling tak ku mengerti. Seandainya mereka berniat melakukan teror, seharusnya mereka meledakkan diri saat ibadah berlangsung agar kerusakannya besar," Shizuru menutup mata berusaha menghayati pertanyaan Natsuki di kepalanya. Tiba-tiba mendekat seorang laki-laki berjubah hitam. Pendeta Ishigami.
"Anda yang berwenang atas kasus kelompok Homura?" tanya Pendeta Ishigami pada Shizuru. Shizuru mengangguk. "Ada yang ingin saya sampaikan pada anda."
--=XXX=--
"Pelaku menunggu Pendeta Ishigami, Natsuki," ungkap Shizuru di telepon setelah Pendeta Ishigami meninggalkannya sendiri di Linden Baum.
"Apa?!", seru Natsuki.
"Pelaku mengirimkan satu notes lewat kurir, salah satu pelayan Linden Baum, yang berisi permintaan tolong."
"Ya? Lalu?"
"Pelaku menyatakan bahwa dia menyimpan sesuatu di Linden Baum, sesuatu yang harus ditemukan Pendeta Ishigami yang sekarang berusaha saya cari."
"Aku akan segera ke sana untuk membantumu, Shizuru."
Shizuru sudah melihat rekaman CCTV Linden Baum. Dia tahu ke mana saja pelaku selama di Linden Baum dan itu mempersempit ruang pencariannya. Shizuru masuk ke ruang ganti pelayan, salah satu tempat yang dimasuki pelaku secara diam-diam. "Ada sesuatu di sini," batin Shizuru. Loker-loker terkunci. Shizuru membuka satu demi satu dengan kunci yang dia sita dari pekerja-pekerja Linden Baum. Pada loker ke lima, Shizuru menemukan sebuah jurnal. Jurnal pelaku ke lima. Dengan tidar sabar Shizuru membuka dan membacanya, tenggelam di dalam tulisan-tulisan yang membelalakkan matanya. Tanpa sadar, seseorang berada di belakang Shizuru dan menikam leher belakangnya dengan spuit berukuran kecil.
--=XXX=--
Natsuki memarkir mobilnya di dekat milik Shizuru, tergesa memasuki Linden Baum. Ia melihat sosok yang berlari keluar melalui pintu belakang.
"Hey, stop!" seru Natsuki sambil berlari ke arah pintu belakang. Natsuki terhenti saat mendengar erangan di balik pintu yang sepertinya merupakan ruang ganti. Natsuki tahu itu suara Shizuru, segera berbalik arah menuju suara itu berasal.
"Shizuru!" pekik Natsuki sambil membalikkan tubuh Shizuru agar terlentang. Natsuki menahan nafas saat melihat kedua bola mata Shizuru mulai menghitam. "Shizuru!" panggil Natsuki lagi. Natsuki segera mengeluarkan telepon genggamnya, menekan tombol-tombol darurat. "Halo, aku Natsuki Kuga. Tolong kirim ambulans ke Linden Baum, seorang petugas bernama Shizuru Fujino terluka."
Natsuki memeriksa nafas Shizuru, tangannya beranjak ke leher Shizuru untuk memeriksa nadi karotisnya. Natsuki mendengar suara sirine tak seberapa lama kemudian, segera dia angkat Shizuru keluar dari Linden Baum. Dia disambut dua orang petugas medis yang segera memasangkan sungkup udara pada Shizuru, Natsuki meletakkan Shizuru pada pembaringan dan membiarkan kedua petugas itu memasukkannya pada ambulans. Otaknya mencatat nama rumah sakit yang tertera di samping mobil ambulans, dia berjalan menuju mobilnya sendiri yang terparkir di sisi lain dar Linden Baum. Natsuki melihat ambulans itu beranjak pergi.
Natsuki duduk di belakang kemudi saat seseorang tiba-tiba masuk ke mobilnya. Natsuki meraba senjata di balik jaketnya, bersiap mengambilnya saat orang itu, Nagi Homura, berkata, "Agen Kuga, apakah kamu yakin mereka akan membawa agen Fujino pada rumah sakit yang tertera namanya di ambulans itu?", Natsuki membeku.
"Cobalah telepon rumah sakit itu, tanyakan apakah mereka mengirim ambulans?"
Natsuki menuruti Nagi, tubuhnya tegang mengetahui bahwa rumah sakit tersebut tak mengirim ambulans ke Linden Baum.
"Agen Kuga, apakah kamu yakin negara yang kamu layani ini tak menyimpan rahasia dan tak melanggar hak azasi makhluk lain?"
Label:
shiznat
Behavioral Science Unit 2
Disclaimer: bagi yang berusaha menebak, ya tepat sekali, ini adalah Fanfiction Mai-HiME dan X-Files. Fox Mulder di sini adalah Natsuki Kuga dan Dana Scully menjadi Shizuru Fujino. Meskipun mereka out of characters, baik dari Mai-HiME maupun dari X-Files, tapi ide Fanfic ini berasal dari kedua film itu, dan film-film lain yang kulihat saat aku masih muda.
Natsuki duduk di depan meja bar Resto and Bar favoritnya, Takumi Tokiha menyambutnya hangat.
"Menu seperti biasa," pinta Natsuki. Dia bergerak gelisah di sebelah Shizuru yang sedang memilih menu.
"Teh hijau saja," putus Shizuru.
"Ramen. Keluarga Tokiha punya Ramen paling enak seantero kota," saran Natsuki. Shizuru menoleh pada partnernya.
"Oke, ramen satu," kata Shizuru.
"Bagaimana kabar kakakmu?" tanya Natsuki pada Takumi, adik Mai.
"Masih sedih," jawab Takumi pendek. Natsuki membaca kesedihan yang sama dirasakannya di mata Takumi.
"Hey, Natsuki!" Akira memecah keheningan yang mendadak tercipta. "Vespa klasikmu keren sekali, kapan-kapan pinjam lagi, ya?", Akira menyeringai.
"Kapan-kapan kita tur kota sama Mikoto juga, oke?" Natsuki mengangkat gelas minumannya menyaluti Akira yang kembali sibuk membuatkan pesanan mereka berdua.
"Saya dengar berita tentang kecelakaan keluarga Tate," kata Shizuru membuka pembicaraan.
"Mai sahabat dekatku. Kami kenal sejak kelas 10. Takumi itu tadi adik Mai, Akira yang sedang menyiapkan makanan kita itu istrinya."
"Dan Mikoto itu, apakah maksudnya Mikoto Minagi?"
"Yup. Mikoto teman Akira dan Takumi. Aktivis LGBT yang bekerja di bagian Juvenile Crime and Behavior. Pernikahannya dengan Nao Yuuki adalah pernikahan same-sex agen negara pertama yang diakui negara. Meskipun aku berpikir kalau mereka masih terlalu muda untuk memutuskan menikah, mereka teman baikku juga."
Shizuru menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum pada Akira yang menyerahkan teh hijau pesanannya.
"Mikoto dan Nao memberi advokasi yang bagus pada anak-anak bermasalah, terutama mereka yang juga bermasalah dengan identitas seksual. Bahkan menurutku mereka yang terbaik di bidangnya. Tak ada yang lebih baik dari mereka yang pernah mengalaminya."
"Menurutmu, mengapa Homura menyerang Gereja Katolik?", Shizuru mengalihkan pembicaraan.
"Itu pertanyaan besar yang mesti dijawab, mengingat Sister Yukariko Sanada adalah pendukung kebebasan beragama yang pernah mengatakan bahwa ia menghormati pemeluk kepercayaan HiME Star."
"Sister Yukariko Sanada?"
"Yup, Sister kepala di Gereja Katolik Distrik 10."
"Oh..."
"Ngomong-ngomong, ini kartu namaku. Boleh minta kartu namamu?" Natsuki heran kenapa dia bisa begitu relaks berbicara dengan Shizuru, yang merupakan orang baru baginya.
"Ah, ya, hampir lupa. Tapi ini masih kartu dengan alamat lama. Saya tinggal di Apartemen J kamar 311, di pusat kota."
"Tak seberapa jauh dari tempatku."
"Ah, itu Mikoto dan Nao. Mikoto!" seru Natsuki. Shizuru tersedak oleh makanan yang sedang dia nikmati, meneguk teh favoritnya untuk meredakan penderitaannya.
"Natsuki!" balas Mikoto, "Shizuru?!", kejut Mikoto.
"Hai, Mikoto," sapa Shizuru.
"Kalian kenal satu sama lain?" tanya Natsuki heran.
"Yup! Kami sering bertemu di acara-aca..."
"Acara-acara seminar nasional Juvenile Crime and Behavior. Saya dulu tertarik mendalami bagian itu," tukas Shizuru memotong pembicaraan Mikoto. Mikoto tertegun sebentar menatap Shizuru, berusaha mengartikan maksud perempuan berambut coklat itu.
"Ah, ya...Shizuru Fujino yang dipuji thesisnya oleh atasan kami," kata Nao dengan antusiasme yang ringan. Mereka berdua duduk di sebelah Natsuki, segera disambut oleh Takumi.
Shizuru beranjak menuju toilet, diikuti oleh Nao.
"Kabar kepindahanmu baru kudengar, sepuluh menit kemudian kita sudah bertemu."
"Apa kabar, Nao?" kata Shizuru sambil memeluk Nao ringan.
"Tomoe akhirnya melepaskanmu?"
"Tidak. Saya pindah karena merasa terganggu dengan kelakuan Tomoe."
"Mantan partner kerjamu itu memang satu contoh lesbian psycho yang paling bagus," ujar Nao.
"No comment."
Natsuki duduk di depan meja bar Resto and Bar favoritnya, Takumi Tokiha menyambutnya hangat.
"Menu seperti biasa," pinta Natsuki. Dia bergerak gelisah di sebelah Shizuru yang sedang memilih menu.
"Teh hijau saja," putus Shizuru.
"Ramen. Keluarga Tokiha punya Ramen paling enak seantero kota," saran Natsuki. Shizuru menoleh pada partnernya.
"Oke, ramen satu," kata Shizuru.
"Bagaimana kabar kakakmu?" tanya Natsuki pada Takumi, adik Mai.
"Masih sedih," jawab Takumi pendek. Natsuki membaca kesedihan yang sama dirasakannya di mata Takumi.
"Hey, Natsuki!" Akira memecah keheningan yang mendadak tercipta. "Vespa klasikmu keren sekali, kapan-kapan pinjam lagi, ya?", Akira menyeringai.
"Kapan-kapan kita tur kota sama Mikoto juga, oke?" Natsuki mengangkat gelas minumannya menyaluti Akira yang kembali sibuk membuatkan pesanan mereka berdua.
"Saya dengar berita tentang kecelakaan keluarga Tate," kata Shizuru membuka pembicaraan.
"Mai sahabat dekatku. Kami kenal sejak kelas 10. Takumi itu tadi adik Mai, Akira yang sedang menyiapkan makanan kita itu istrinya."
"Dan Mikoto itu, apakah maksudnya Mikoto Minagi?"
"Yup. Mikoto teman Akira dan Takumi. Aktivis LGBT yang bekerja di bagian Juvenile Crime and Behavior. Pernikahannya dengan Nao Yuuki adalah pernikahan same-sex agen negara pertama yang diakui negara. Meskipun aku berpikir kalau mereka masih terlalu muda untuk memutuskan menikah, mereka teman baikku juga."
Shizuru menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum pada Akira yang menyerahkan teh hijau pesanannya.
"Mikoto dan Nao memberi advokasi yang bagus pada anak-anak bermasalah, terutama mereka yang juga bermasalah dengan identitas seksual. Bahkan menurutku mereka yang terbaik di bidangnya. Tak ada yang lebih baik dari mereka yang pernah mengalaminya."
"Menurutmu, mengapa Homura menyerang Gereja Katolik?", Shizuru mengalihkan pembicaraan.
"Itu pertanyaan besar yang mesti dijawab, mengingat Sister Yukariko Sanada adalah pendukung kebebasan beragama yang pernah mengatakan bahwa ia menghormati pemeluk kepercayaan HiME Star."
"Sister Yukariko Sanada?"
"Yup, Sister kepala di Gereja Katolik Distrik 10."
"Oh..."
"Ngomong-ngomong, ini kartu namaku. Boleh minta kartu namamu?" Natsuki heran kenapa dia bisa begitu relaks berbicara dengan Shizuru, yang merupakan orang baru baginya.
"Ah, ya, hampir lupa. Tapi ini masih kartu dengan alamat lama. Saya tinggal di Apartemen J kamar 311, di pusat kota."
"Tak seberapa jauh dari tempatku."
"Ah, itu Mikoto dan Nao. Mikoto!" seru Natsuki. Shizuru tersedak oleh makanan yang sedang dia nikmati, meneguk teh favoritnya untuk meredakan penderitaannya.
"Natsuki!" balas Mikoto, "Shizuru?!", kejut Mikoto.
"Hai, Mikoto," sapa Shizuru.
"Kalian kenal satu sama lain?" tanya Natsuki heran.
"Yup! Kami sering bertemu di acara-aca..."
"Acara-acara seminar nasional Juvenile Crime and Behavior. Saya dulu tertarik mendalami bagian itu," tukas Shizuru memotong pembicaraan Mikoto. Mikoto tertegun sebentar menatap Shizuru, berusaha mengartikan maksud perempuan berambut coklat itu.
"Ah, ya...Shizuru Fujino yang dipuji thesisnya oleh atasan kami," kata Nao dengan antusiasme yang ringan. Mereka berdua duduk di sebelah Natsuki, segera disambut oleh Takumi.
Shizuru beranjak menuju toilet, diikuti oleh Nao.
"Kabar kepindahanmu baru kudengar, sepuluh menit kemudian kita sudah bertemu."
"Apa kabar, Nao?" kata Shizuru sambil memeluk Nao ringan.
"Tomoe akhirnya melepaskanmu?"
"Tidak. Saya pindah karena merasa terganggu dengan kelakuan Tomoe."
"Mantan partner kerjamu itu memang satu contoh lesbian psycho yang paling bagus," ujar Nao.
"No comment."
Label:
shiznat
Behavioral Science Unit
disclaimer: oh, surabaya yang panas, di kepalaku berputar adegan heat wave-nya roswell, michael en maria. oh, well, shiznat, too.
Natsuki melepaskan jaket kulitnya, dia lemparkan ke sandaran kursi lalu menyalakan kipas angin. Rambutnya serentak terayun-ayun dimainkan angin, dinikmatinya udara panas yang menerjang.
Angin tak menggejala, tak sesepoi pun, batin Natsuki.
Setengah jam lagi dia sudah harus di kantor, berdiri di depan atasannya. Kecelakaan yang menimpa Mai, partner kerjanya, membuatnya dipasangkan dengan petugas lain. Natsuki sedikit frustrasi karena harus menyesuaikan diri dengan orang lain, she's not good at that. Dibukanya pembungkus hotdog yang barusan dia beli, dalam beberapa kunyahan hotdog tersebut sudah berpindah ke dalam perutnya. Natsuki berjalan menuju kulkas untuk meneguk teh favoritnya. Di pintu kulkas ada magnet berbentuk vespa, oleh-oleh bulan madu Mai dengan Yuichi dari Itali, menindih satu carik potongan surat kabar yang memberitakan kecelakaan Mai dan Yuichi. Belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab terhadap kecelakaan mereka. Yuichi seorang diplomat negara asing dan Mai agen negara, ada alasan dibalik kecelakaan itu yang masih berusaha dijawab para penyidik. Hal ini menyisakan satu kekhawatiran di hati Natsuki, dia takut Mai akan diserang lagi. Lalu dia menyarankan Mai untuk cuti, sampai situasi dapat terbaca. Mai sepakat, tapi Natsuki menebak itu bukan karena idenya. Mai butuh waktu sendiri. Kecelakaan itu merenggut anak dalam kandungannya. Yuichi sendiri mengalami cidera otak yang menyebabkan kesadarannya sempat menurun beberapa hari. Cuti adalah hal paling masuk akal untuk menambal luka fisik dan hati mereka.
Empat puluh lima menit kemudian Natsuki sudah berada di ruang tunggu atasannya. Dua puluh menit sudah dia di sana, tanpa tanda-tanda kemunculan atasannya. Natsuki membuang rokoknya yang kedua, yang masih separuh habis, di asbak milik teman kerjanya. Dia tak biasa merokok, hanya pada keadaan tertentu saat dia gelisah, tertekan atau kesepian. Dan maksimal satu batang sehari. Rupanya pikiran tentang keadaan keluarga Mai dan tentang rekan barunya akan seperti apa membuat kegelisahan Natsuki berlipat-lipat.
Pintu terbuka, Natsuki melihat dua orang masuk, satu atasannya, Yamada, dan satu lagi seorang perempuan berambut coklat. Dalam sekali tatap Natsuki tahu bahwa inilah partner kerja barunya. Perempuan itu tersenyum. Natsuki memaksakan senyum untuk membalasnya.
"Kuga, seperti yang kamu tahu, Mai Tate cuti untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Kami butuh kamu untuk tetap bekerja, namun pekerjaanmu mustahil dilakukan sendiri. Ini Doktor Fujino, partner barumu. Doktor Fujino, ini Doktor Kuga."
"Senang bertemu dengan anda," Shizuru Fujino mengangsurkan tangannya untuk berjabatan dengan tangan Natsuki Kuga. Natsuki menyambutnya. Mereka berdua lalu duduk di depan Yamada.
"Kita punya kasus baru, serangan teroris di Gereja Katolik Distrik 10. Isunya tentang pemecah belahan umat beragama. Bom bunuh diri itu diklaim ditokohi oleh Homura, yang memperjuangkan kebebasan Distrik 10 untuk menjadi negara merdeka bagi pemuja HiME Star. Ajaran HiME Star sendiri muncul di tahun 2004, saat ilmuwan Astronomi menemukan bintang baru yang dari bumi terlihat selalu berada di dekat Bulan. Menurut kabar terakhir Nagi Homura terlihat di subkota Kana, 45 kilometer dari tengah kota Distrik 10."
Natsuki dan Shizuru mempelajari file-file di hadapan mereka sekilas.
"Yang akan kalian lakukan adalah mencegah Nagi Homura melancarkan aksi berikutnya. Kalian, sebagai Behavioral Science Unit ditunjuk untuk mempelajari tokoh kita satu ini. Aku tahu ini unit baru, tapi aku tidak bisa untuk tidak menyandarkan masalah besar ini pada kalian. Aku berharap sangat besar. Aku tahu kemampuanmu, Kuga, dan Doktor Fujino akan memberi bantuan yang besar terhadap itu."
Natsuki melepaskan jaket kulitnya, dia lemparkan ke sandaran kursi lalu menyalakan kipas angin. Rambutnya serentak terayun-ayun dimainkan angin, dinikmatinya udara panas yang menerjang.
Angin tak menggejala, tak sesepoi pun, batin Natsuki.
Setengah jam lagi dia sudah harus di kantor, berdiri di depan atasannya. Kecelakaan yang menimpa Mai, partner kerjanya, membuatnya dipasangkan dengan petugas lain. Natsuki sedikit frustrasi karena harus menyesuaikan diri dengan orang lain, she's not good at that. Dibukanya pembungkus hotdog yang barusan dia beli, dalam beberapa kunyahan hotdog tersebut sudah berpindah ke dalam perutnya. Natsuki berjalan menuju kulkas untuk meneguk teh favoritnya. Di pintu kulkas ada magnet berbentuk vespa, oleh-oleh bulan madu Mai dengan Yuichi dari Itali, menindih satu carik potongan surat kabar yang memberitakan kecelakaan Mai dan Yuichi. Belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab terhadap kecelakaan mereka. Yuichi seorang diplomat negara asing dan Mai agen negara, ada alasan dibalik kecelakaan itu yang masih berusaha dijawab para penyidik. Hal ini menyisakan satu kekhawatiran di hati Natsuki, dia takut Mai akan diserang lagi. Lalu dia menyarankan Mai untuk cuti, sampai situasi dapat terbaca. Mai sepakat, tapi Natsuki menebak itu bukan karena idenya. Mai butuh waktu sendiri. Kecelakaan itu merenggut anak dalam kandungannya. Yuichi sendiri mengalami cidera otak yang menyebabkan kesadarannya sempat menurun beberapa hari. Cuti adalah hal paling masuk akal untuk menambal luka fisik dan hati mereka.
Empat puluh lima menit kemudian Natsuki sudah berada di ruang tunggu atasannya. Dua puluh menit sudah dia di sana, tanpa tanda-tanda kemunculan atasannya. Natsuki membuang rokoknya yang kedua, yang masih separuh habis, di asbak milik teman kerjanya. Dia tak biasa merokok, hanya pada keadaan tertentu saat dia gelisah, tertekan atau kesepian. Dan maksimal satu batang sehari. Rupanya pikiran tentang keadaan keluarga Mai dan tentang rekan barunya akan seperti apa membuat kegelisahan Natsuki berlipat-lipat.
Pintu terbuka, Natsuki melihat dua orang masuk, satu atasannya, Yamada, dan satu lagi seorang perempuan berambut coklat. Dalam sekali tatap Natsuki tahu bahwa inilah partner kerja barunya. Perempuan itu tersenyum. Natsuki memaksakan senyum untuk membalasnya.
"Kuga, seperti yang kamu tahu, Mai Tate cuti untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Kami butuh kamu untuk tetap bekerja, namun pekerjaanmu mustahil dilakukan sendiri. Ini Doktor Fujino, partner barumu. Doktor Fujino, ini Doktor Kuga."
"Senang bertemu dengan anda," Shizuru Fujino mengangsurkan tangannya untuk berjabatan dengan tangan Natsuki Kuga. Natsuki menyambutnya. Mereka berdua lalu duduk di depan Yamada.
"Kita punya kasus baru, serangan teroris di Gereja Katolik Distrik 10. Isunya tentang pemecah belahan umat beragama. Bom bunuh diri itu diklaim ditokohi oleh Homura, yang memperjuangkan kebebasan Distrik 10 untuk menjadi negara merdeka bagi pemuja HiME Star. Ajaran HiME Star sendiri muncul di tahun 2004, saat ilmuwan Astronomi menemukan bintang baru yang dari bumi terlihat selalu berada di dekat Bulan. Menurut kabar terakhir Nagi Homura terlihat di subkota Kana, 45 kilometer dari tengah kota Distrik 10."
Natsuki dan Shizuru mempelajari file-file di hadapan mereka sekilas.
"Yang akan kalian lakukan adalah mencegah Nagi Homura melancarkan aksi berikutnya. Kalian, sebagai Behavioral Science Unit ditunjuk untuk mempelajari tokoh kita satu ini. Aku tahu ini unit baru, tapi aku tidak bisa untuk tidak menyandarkan masalah besar ini pada kalian. Aku berharap sangat besar. Aku tahu kemampuanmu, Kuga, dan Doktor Fujino akan memberi bantuan yang besar terhadap itu."
Label:
shiznat
Langganan:
Postingan (Atom)
