Disclaimer: fanfic ini mempunyai judul yang sesungguhnya bukan inti dari cerita di dalamnya, tapi aku tak bisa memikirkan judul lain (supaya tidak terlalu memberi hint dari film seri apa cerita ini mengadopsi). Dan aku tidak pintar meramu agar cerita menjadi menarik, tapi aku sungguh ingin menulis ini.
"Kemudikan mobil ini menuju bandara, agen Natsuki, aku ingin kau menyusul Mai. Lebih baik kamu menelepon agen perjalananmu sekarang untuk tiketmu. Kamu akan pergi ke Pegunungan Bersalju, Distrik Tertinggal, tempat kelahiran Mai Tokiha atau sekarang Mai Tate sebelum keluarga mereka hijrah ke Distrik 10," kata Nagi Homura di belakang Natsuki. Keluarga Tokiha hijrah ke Distrik 10 saat pengungsian besar-besaran dari Distrik Tertinggal setelah terjadi kebocoran nuklir yang dikembangkan pemerintah di distrik itu. Ayah Mai bekerja sebagai teknisi di sana sebelum akhirnya pindah dan membuka usaha yang kini diteruskan Takumi.
"Kecelakaan keluarga Tate didalangi mereka. Mereka tahu Tokiha memberikan satu informasi pada putri tertuanya, Mai. Informasi itu, adalah jurnal yang kami ambil dari TKP kecelakaan keluarga Tate beberapa waktu lalu. Sayangnya sang pengambil jurnal, yang kau kenal sebagai pelaku pengeboman nomor lima, membaca beberapa informasi di dalamnya. Dia tak membaca seluruhnya, hanya beberapa. Apa yang dia baca dia kemukakan pada beberapa teman baiknya, pelaku pertama sampai ke empat. Mereka tahu betul bahwa aliran kepercayaan yang mereka ikuti, sama sekali bukan jalan yang membawa mereka ke surga. Mereka tahu mereka bersamaku untuk tujuan tertentu. Tapi mereka tahu lebih banyak dariku, dan memutuskan mencari jalan sendiri demi keselamatan mereka."
Natsuki menatap Nagi dari spion tengahnya.
"Kami sebuah organisasi rahasia, hanya aku dan pemimpin inti yang tahu tujuan kami sebenarnya. Kami melawan pemerintah. Lebih tepatnya melawan satu divisi khusus dalam pemerintah yang mempelajari satu hal: alien."
Natsuki tersenyum kecut mendengar penjabaran gila Nagi.
"Aku tahu kamu tak percaya alien, Natsuki. Pemerintahmu berbeda. Mereka mengirim sinyal-sinyal ke luar angkasa sana, sinyal permintaan tolong. Menjebak beberapa alien dalam seratus tahun ini. Alien dan kendaraannya. Ada satu yang jatuh dan terkubur di Pegunungan Bersalju dalam keadaan utuh, para penghuni pesawatpun masih tertidur di dalamnya. Satu kejadian terjadi dan mereka tahu bahwa mereka butuh menjaga lingkungannya stabil agar para alien tidak terbangun dan mereka dapat mempelajari makhluk-makhluk itu dan teknologinya. Lingkungan akan stabil bila jumlah makhluk yang tertidur sesuai dengan jumlah tempat peristirahatan yang ada. Mereka menggunakan virus alien untuk menginfeksi manusia, menggantikan satu demi satu alien yang diambil untuk dibedah, diteliti,"
"Awalnya, kepercayaan HiME Star yang diberi tugas untuk menyalurkan korban, tentu saja tanpa sepengetahuanku. Awalnya aku berpikir bahwa mereka yang kuberikan pada pemerintah akan diperbantukan ketrampilan tambangnya untuk mengembangkan pembangunan senjata nuklir bawah tanah, sebagai proyek antisipasi dan keamanan negara. Sampai akhirnya aku sadar, proyek itu sudah berkembang sejak lima dasawarsa lalu, dan bukan di Distrik Tertinggal. Mereka sedang melakukan proyek baru, meniupkan isu kebocoran nuklir sehingga Distrik Tertinggal tak dihuni di bagian Pegunungan Bersalju terutama."
"Agen Shizuru adalah pengganti tubuh alien yang akan dibedah berikutnya. Dia tak sengaja terpilih karena telah membaca jurnal itu."
"Lantas kaitan peristiwa-peristiwa pengeboman itu?" tanya Natsuki.
"Pemerintahmu, Agen Natsuki. Banyak bagian-bagian dalam pemerintahmu yang punya rahasia dan alasan tersendiri pada setiap gerakannya. Mereka melakukan ini untuk pengetahuan, tapi orang-orangku menjadi korban. Aku jadi tahu mengapa mereka memberi nama kami HiME Star. HiME Star bukanlah bintang seperti yang mereka sebutkan. HiME Star adalah sebuah pangkalan yang mereka buat untuk membuat sinyal permintaan tolong ke seluruh angkasa."
"Aku terlambat menyadari sampai pengakuan palsu bahwa kami bertanggung jawab terhadap pengeboman pertama menyebar seantero dunia. Empat orang yang tersisa mengira bahwa kami benar-benar bertanggung jawab dan memutuskan mencari perlindungan. Mereka datang pada orang-orang yang pernah mengatakan bersimpati pada kepercayaan kami, tapi pemerintahmu memasangkan bom pada sabuk mereka. Bom berskala kecil untuk mengubur rahasia mereka."
"Agen Kuga, aku tahu kamu akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan partnermu. Aku membaca profilmu dan setia kawan adalah hal yang paling menonjol darimu. Kamu selamatkan Shizuru, rusak lingkungan pesawat itu."
"Tuan Tokiha, bagaimana dengan ayah Mai?" tanya Natsuki.
"Dia tidak tahu apa-apa. Bahkan tidak tahu bahwa dia membawa jurnal itu pada barang-barang yang dititipkan pada Nyonya Tate saat dia dan istrinya memutuskan melakukan tur keliling dunia berdua."
"Kenapa kamu memberi informasi ini?" tanya Natsuki, mereka berhenti pada lampu merah. Nagi tersenyum.
"Berjalan lurus ke depan, Agen Natsuki, berhati-hatilah melangkah," kata Nagi sambil keluar dari mobil Natsuki lalu masuk ke dalam mobil yang berhenti di sebelahnya yang lantas melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Natsuki. Semua terjadi begitu cepat, Natsuki tak sempat mencegah.
--=XXX=--
Natsuki sampai pada Distrik Tertinggal dan memulai perjalanan darat yang melelahkan menuju Pegunungan Bersalju. Kendaraan off road membawanya perlahan-lahan menuju Puncak Datar, salah satu puncak yang dimiliki Pegunungan Bersalju, yang dulunya menjadi pusat reaktor nuklir. Saat tiba di sana, Natsuki hanya mendapati warna putih yang membutakan sejauh mata memandang. Natsuki menghembuskan nafas, frustrasi setelah berjam-jam mencari tanpa menemukan titik terang keberadaan Shizuru.
Natsuki memandang sekelilingnya, ada 13 gudang besar di sana, seperti satu kumpulan. Dilihatnya ada ukiran berbentuk tanda aliran kepercayaan HiME Star di setiap pintu. Natsuki berpikir, pasti ada sesuatu di gudang itu. Pintu menuju bawah tanah kah? Natsuki menyisir pelan-pelan satu demi satu gudang. Pada gudang terakhir, Natsuki mendapati bentukan seperti jam besar berada di lantai gudang. Natsuki teringat saat menyelidiki keluarga para pelaku bom bunuh diri, semuanya punya bentukan seperti jam di altar tempat suci masing-masing, menurut kepercayaan HiME Star itu untuk menunjukkan posisi bintang HiME terhadap bulan. Di hadapan Natsuki jam tersebut tampak tak diposisikan semestinya. Natsuki menggeser jarum-jarum jam tersebut, membuatnya sama persis seperti yang dia lihat di altar. Sebuah pintu ke bawah tanah terbuka tepat di bawah kaki Natsuki, Natsuki merosot turun ke bawah melewati lorong bundar lalu terhenti di atas tumpukan salju.
Natsuki terdiam sesaat, matanya menamatkan pemandangan asing di sekelilingnya. Pilar-pilar tabung transparan seukuran tubuh manusia berjumlah ratusan memenuhi ruang bawah tanah. Natsuki teringat kata-kata Nagi, di salah satu tabung pasti ada Shizuru. Tak ingin membuang waktu, Natsuki menyisirnya satu demi satu. Tubuh-tubuh serupa manusia, ada juga yang manusia.
"Shizuru," pekik Natsuki tertahan saat menemukan wajah familiar. Shizuru mengapung dalam cairan dalam tabung, sebuah sungkup menutup hidung dan mulutnya untuk mengalirkan udara. Natsuki mencari alat untuk memecahkan tabung, berusaha mengeluarkan Shizuru. Dilihatnya sebuah anak tangga menuju ke atas, Natsuki melihat ada tabung pemadam kebakaran di dekat pintu, Natsuki meraih alat tersebut dan kembali ke Shizuru. Dengan sekuat tenaga dipukulnya tabung transparan itu, bunyi retakan benturan,, sekali lagi Natsuki memukul. Cairan dalam tabung berhamburan keluar, Natsuki berhati-hati agar pukulannya tak mengenai Shizuru. Natsuki menangkap tubuh Shizuru, menyelimutinya dengan jaket yang dia kenakan.
"Shizuru, oi, bangun," Natsuki memeriksa nafas dan nadi di leher Shizuru. Meski bernafas dan berdenyut, Shizuru tak menunjukkan tanda-tanda membuka mata. Terdengar suara asing yang keras dari arah kanan Natsuki, dia menoleh, melihat tabung-tabung yang lain perlahan-lahan surut cairannya. Natsuki sadar dia telah merusak 'lingkungan' alien tersebut. Natsuki dengan sekuat tenaga berusaha menggendong Shizuru, menaikkannya ke punggung dan berlari tergopoh-gopoh menuju anak tangga naik karena pintu yang tadi dilihatnya terkunci. Natsuki tidak tahu sudah berapa anak tangga dia lewati, langkahnya semakin berat, derak-derak keras dia dengar di belakangnya. Akhirnya dia menemukan pintu, terkunci, didobraknya sekuat tenaga. Pintu terbuka setelah dobrakan ke lima, Natsuki segera keluar dari pintu tersebut bersama Shizuru, Natsuki melihat interior dalam salah satu gedung yang dia selidiki tadi.
Tiba-tiba pijakannya berdiri runtuh, demikian dengan sebagian gedung, Natsuki dan Shizuru jatuh seperti tersedot ke bawah, dia tangkap tangan Shizuru yang masih belum sadar. Sekitar satu meter jatuh ke bawah, Natsuki dan Shizuru terbentur benda mirip logam. Terdengar raungan keras alarm gedung, sambung-menyambung. Tiba-tiba Natsuki dan Shizuru sudah terangkat ke atas, dua meter dari permukaan tanah. Keduanya merosot jatuh dari logam melengkung itu, ke tumpukan salju di sekitarnya. Natsuki melihat benda logam raksasa yang menjatuhkannya tersebut, sebuah piring terbang. Takjub, dia hanya ternganga tanpa bicara. Semenit kemudian, benda itu melesat meninggalkan Natsuki yang masih membeku.
Lama sesudahnya, Natsuki tersadar oleh erangan dari mulut Shizuru. Dilihatnya Shizuru membuka mata.
"Apakah saya melewatkan sesuatu?" tanya Shizuru.
Natsuki mengangguk perlahan, "Kamu tidak akan percaya dengan apa yang sudah kamu lewatkan," kata Natsuki sambil menunjuk lubang raksasa yang menganga di sebelah mereka.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar