welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

sakit? bolos kerja saja!

Sabtu, 12 November 2011


Hari ini, tubuhku rasanya...leleh. Sendi-sendi terutama punggung bawah serasa copot, jari-jari linu, area belakang lutut rasanya luar biasa pegal. Segera kuhubungi kakak kelasku yang seorang dokter.

"Wah, keknya kamu kena infeksi virus, tuh," jawabnya santai.
"Virus apa?"
"Ya, kagak tau, emang aku dukun?"
"Lho, situ kan dokter."
"Ya tetep harus dilihat sendiri dan diperiksa, donk. Ya udah, coba diinget-inget, kontak ma orang sakit kagak akhir-akhir ini?"

Kutepuk jidatku, astaga, anak salah seorang perempuan yang kemarin ngobrol ngalur-ngidul ma aku di jalan kan kena cacar air, dia sempat curhat padaku.

"Keknya ada luka-luka kek jerawat gitu di perut, punggung, muka en payudaraku," kataku.
"Wah, kamu kena varicella, tuh. Cacar air," jawabnya mengkonfirmasi ketakutanku.

Tuh kan, batinku.

"Waaa..."
"Udah, gak usah panik. Acyclovir 5x800mg 7-10 hari yeee… Lukanya bukan di genital kan?"
"Genitalmu!" hardikku.
"Hehe...kali aja. Nular banget, lho, pakaian harus disendirikan, cuci pake air panas, selimut en bed cover, bantal-guling juga. Sekalian kamu, kali, direndam air panas."

Dokter menyebalkan, batinku.

"Gak boleh masuk kerja, lho, ya. Istirahat yang banyak, get well soon."
"Bagi surat dokternya."
"Jauh, ah, minta klinik terdekat aja."

Tambah menyebalkan saja, nih, kakak kelas.

Untung hari ini partner ada acara di luar kota, jadi kemungkinan tertular ya sedikit. Eh, tapi kemarin dia kan sempet nginep di rumah, wah. Padahal dia lagi diet, kan gak bisa makan banyak untuk menghimpun kekebalan tubuh.

Cacar air tanpa panas tubuh? Itu sudah biasa (kata adik kelasku yang juga dokter, sih). Waspadalah! Waspadalah!!

Jadi ini malam, bokap sibuk mencarikanku acyclovir (yang terbeli adalah acyclovir 400mg, artinya aku harus minum sehari lima kali, tiap kali minum dua tablet! Pingin kucekik rasanya kakak kelasku itu). Kuminum pertama kali barusan, jam 21.25 wib tadi. Berarti aku harus minum lagi 4-5 jam setelahnya, itu berarti jam 1 atau 2 malam, yang bener saja, kenapa obatnya cuma bekerja 4-5 jam, sih? Katanya suruh istirahat, kok disuruh bangun-bangun terus untuk minum obat? Gak konsisten!

Yah, karena aku udah gede, gak mungkin kan ikut mlungker-mlungker gitu di sebelah ibu. Sudah pasti orang serumah begidik melihatku, sumber virus yang sibuk di depan laptopnya, mengupdate blog. Curhat pada diari, dengan kesadaran penuh mengisolasi diri dalam kamar. Kamar yang kayak kapal pecah, penuh dengan buku dan sampah. Tuhan, oh, Tuhan, saya bersabar saja untuk urusan sakit saya, tapi saya kirimin pembantu, ya, untuk membersihkan kamar saya? Amin.

Apa bahayanya cacar air (varicella) ini?
Ternyata, ia merupakan penyakit infeksi dengan masa inkubasi virus kurang lebih 2 minggu (berarti mungkin bukan dari ibu yang kemarin ngobrol sama aku) yang punya sifat dormant, tetap tinggal dalam manusia yang pernah terkena (carrier/manifest), sehingga suatu hari nanti bisa relaps alias kambuh lagi, tapi dalam bentuk lain yang namanya herpes zoster (ini dia yang pake dosis acyclovir 5x400mg). Pada penyakit menular seksual, ada namanya herpes genital, ini oleh virus lain yaitu herpes simpleks virus. Sedang dua penyakit sebelumnya oleh varicella zoster virus.

Saya sudah pernah terkena cacar air sewaktu kecil, atau sudah melakukan vaksinasi, kenapa bisa terjadi cacar air lagi (kenapa tidak berubah menjadi herpes zoster)?
Ada kemungkinan karena tubuh membentuk kekebalan tubuh yang tak sempurna pasca vaksinasi atau paparan cacar air yang pertama, sehingga pada paparan yang kedua terjadi cacar air. Ada yang menyebutkan bahwa vaksinasi alami (pernah sakit cacar air) dan buatan (pemberian imunisasi) melindungi dalam jangka waktu 20 tahun saja dari terakhir terjadinya paparan, sehingga bila periode itu terlampaui maka seseorang kemungkinan menderita cacar air kembali.

Apa yang bisa kita lakukan bila partner/pasangan kita terkena cacar air?
Banyak. Paling tidak ada 5 hal yang bisa kita lakukan. Di antaranya yang paling aman adalah menghindari kontak dengannya. Kita isolasi partner, jebloskan dia dalam kamar, kunci dari luar, kasih makan, minum dan obat melalui jendela. (Well, keknya pembaca SK bukan tipe sadis macam gini deh, hehehe)
Satu, kita bisa bantuin menghandle barang-barang yang kontak langsung dengan pasangan seperti pakaian, bed cover, selimut, sarung bantal dan guling. Pisahkan dan cuci dengan air panas (belum menemukan dengan pasti berapa derajat), deterjen atau chlorin.
Dua, kita bisa memberikan asupan makanan untuk partner, memastikan dia sudah makan, suapin buah, vitamin dan membuatkan jus, memotivasi untuk banyak minum (kebanyakan obat dibersihkan di ginjal), mengontrol suhu badan partner dengan mengkompres atau memberikan obat penurun panas yang dianjurkan oleh dokter dan mengingatkan partner jam-jam minum obatnya.
Tiga, beri pengertian pada partner untuk memotong pendek kukunya. Hal ini perlu diperhatikan agar tidak terjadi infeksi sekunder (terjadi bila luka yang sangat gatal itu tergaruk dan kulit yang terkelupas menjadi sasaran empuk untuk infeksi bakteri). Kuku yang panjang mengakibatkan iritasi yang lebih dalam dan memungkinkan membawa bakteri dibawahnya. Untuk menambah kemesraan (kalo gak parno takut tertular), bisa kita potongkan kuku partner.
Empat, untuk mengurangi penderitaan partner karena gatal, sarankan kepadanya untuk tetap mandi. Jauhi mitos pasien cacar air tidak boleh mandi. Bisa mandi memakai larutan PK 1%. Masalah mandi, yang harus diperhatikan adalah cara mengeringkan tubuh memakai handuk. Harus hati-hati agar luka tidak "tergaruk" handuk dan menyebabkan infeksi sekunder. Kemudian anjurkan untuk menaburi tubuh dengan bedak.
Lima, berikan acyclovir salep 5% untuk diterakan pada luka-luka partner.
Enam, sakit kepala, pegal-pegal otot, nyeri sendi yang rasanya seperti encok yang menyertai mungkin saja membuat mood partner menjadi jelek. Berikan dukungan, kasih sayang, semangat positif baik kata-kata, sikap maupun tindakan agar tercipta kondisi psikis yang kondusif untuk percepatan penyembuhan partner.

Mengapa harus bolos kerja?
Cacar air pada manusia dengan imunitas (sistem kekebalan tubuh) yang baik, contohnya dewasa muda, bisa sembuh sendiri. Tapi penularan pada ibu hamil trimester pertama bisa menyebabkan kecacatan janin, terlebih sistem saraf janin. Beberapa negara di luar negeri, bila ternyata janin cacat (dilihat saat pemeriksaan kehamilan ante natal care), orang tua punya hak untuk menggugurkan janinnya. Di indonesia? Jangan tanya aku.
Selain itu, manusia yang terkena virus ini cairan tubuhnya amat sangat menular. Terlebih cairan dalam gelembung-gelembung lukanya (bullae/vesikel), sampai lukanya masuk stadium borok (krusta). Masalahnya, tiap gelembung usianya berbeda, ada yang masih gelembung berisi cairan, ada yang sudah memborok. Ini yang membedakan dengan herpes zoster, di mana herpes zoster gelembung-gelembungnya cuma pada satu area tertentu disebut dermatom dan berusia seragam, sedang cacar air relatif beragam dan tersebar di seluruh tubuh.
Pada manusia dengan imunitas yang (dianggap) lemah, seperti anak-anak (maka dari itu ada larangan membawa anak-anak ke rumah sakit kalo nggak sakit) dan orang berusia tua, atau orang-orang dengan latar belakang kondisi klinis tertentu yang menurunkan imunitasnya (orang dalam terapi kortikosteroid dosis dan dalam jangka waktu tertentu, pasien kanker atau HIV), bisa terjadi komplikasi seperti radang hati (hepatitis), radang otot jantung (myocarditis), radang ginjal (glomerulonefritis), radang paru (pneumonia) dan radang otak (encephalitis) yang bisa berujung kematian.

Jadi, meskipun anda kuat bekerja dan tidak sayang tubuh anda, sayangilah orang lain. Ayo bolos kerja!

0 komentar:

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates