Oke, aku sedikit terhibur. Menurut Niken, the best choice penyair Jember is parikesit n1nna. Itu didapat dari tur launching buku Bicara (Bukan) pada Sunyi garapan kami berlima dengan Niken sebagai wakil dari kami. Buku dibedah habis-habisan, bikin mules (tak bisa kubayangkan jika aku jadi Niken), puisi kami dipreteli satu demi satu.
Puisi-puisi yang dibaca:
pejuang pena (aku lupa, ini puisi siapa, ya?)
ada (Eugene Alexis)
Tuhan beri kamu malam ini (parikesit n1nna)
rindu sebisu batu (Niken)
pulang, dek (Niken)
memo pagi ini (Niken)
kang agus (Niken)
masih tentang rindu (Niken)
kota hiu dan buaya (parikesit n1nna).
Itu beberapa diantaranya. Thanks to Niken yang pergaulan sastranya luas, buku kami dapat apresiasi dari komunitas di Jember. Soal aku menjadi penulis pilihan, aku curiga itu karena Niken. Puisiku terlalu personal, terlalu diriku, sedang Niken dan Roy punya tema lebih berat dan luas.
Secara singkat, lewat blackberry messenger (bbm), Niken mengabari kritik mereka:
Roy negasi (pengingkaran, kalimat) hancur,
Niken lemah di unsur kejutan,
n1nna terlalu personal di akhir-akhir,
Eugene ribet di Bahasa Indonesia, dan
Endang hambar.
Wuih, tidak terbayangkan bila kami dibantai di Halte Sastra, bisa-bisa cuma dipandang sebelah mata dan dibakar, hahaha...
Good job, Ken, sori gak bisa nemenin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar