Dua bulan awal setelah putus aku tidak pernah mengingatnya. Kukatakan pada diri sendiri, n1nna, take your time and grieve for her.
Apakah aku tidak mencintainya? Atau kurang mencintainya sehingga aku tak pernah mengingatnya lagi saat itu?
Aku akan mengingat diriku yang berjanji akan mengikuti ke mana hatinya pergi, mengikuti sejauh apapun ia melangkah dan seluruh keputusannya kecuali satu keputusan tentang anak yang dampak ke depannya sangat merusak. Akan kuingat diriku yang selalu mengikutinya di seluruh keputusan besar yang ia buat sendiri: menikah, pekerjaan, perpisahan. Dan kekecewaan yang ia tanam dan ia tuai. Apapun keputusan yang pernah ia buat, aku selalu hanya memandang lurus kepadanya, tak bergeming oleh berbagai hal di luar ia.
Sedari dulu aku memang tak suka membuat keputusan. Aku bukan orang yang berani mengabaikan konsukuensi atau suka bertaruh. Pekerjaanku berjalan menuju arah yang tak kusukai, dalam hati kuyakinkan selalu bahwa apa yang kusukai barangkali tak bagus untukku dan boleh jadi yang tak kusukai ternyata baik untukku. Dengan rasa percaya yang besar tentang hal itu, aku berjalan di sampingnya dengan kritikan panjang tentang gerak-geriknya disertai pemakluman yang besar pula. Aku adalah tipe pencatat yang tak segan mencoret-coret catatan saat menjumpai keanehan di sana.
Aku akan mengingat diriku yang sangat tidak toleran dan sangat toleran. Yang menuduh, yang mengamati, yang menginginkan penjelasan atas banyak hal namun hanya dijawab dengan: tugasmu hanyalah mengikutiku dan percaya.
Aku ingin percaya. Sungguh aku ingin.
Kini kujumpai kebenaran di luarmu ternyata lebih memabukkan. Bukan tentang kamu atau kisah cinta kita atau orang-orang di sekitar kita. Saat ini akan kuminta diriku yang berusaha memberi waktu diriku sendiri berkabung atasmu berhenti menjadi janda yang berusaha mengingat kebaikanmu sambil membayangkan betapa bahagia hidupmu kini karena kebebasan yang kau inginkan tercapai juga. Senangnya, aku pun kepingin sebebas kamu. Sebebas kamu dalam pikiran yang kubangun sendiri, bukan kenyataanmu apapun kenyataanmu saat ini.
Akan kukatakan pada diriku sendiri: stop. Stop untuk mempunyai rasa apapun, yang paling antah berantah sekalipun. Stop grieving, stop learning, stop processing. Just stop. Membekulah di tempat, n1nna. Membeku dan jangan pernah mencair lagi.
Stop. Just stop.
Langganan:
Postingan (Atom)
