welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

Tampilkan postingan dengan label perjalanan n1nna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan n1nna. Tampilkan semua postingan

so hard to breath walk with me, maybe...

Jumat, 18 Juni 2021

love is not enough


nasehat yang diketawain anak usia 4 tahun dan orang tua 84 tahun


di tengah keduanya, aku, sulit sekali mencari yang cinta saja cukup selebihnya let's fix it. gagal menyederhanakan keinginan, perasaan, ambisi, nafsu


cinta itu meteor, jadikan ia berpijar sebentar pada kejatuhannya lantas mati...seandainya juga bisa sesederhana itu...so you don't have to lay awake recollecting memories you shared and cry all night long. so you don't have to stay single for even a second, you take live as it comes and never say regret. so you can simply love other human being as fun as the needs between your legs





Metanoia

Minggu, 30 Mei 2021

'some things break your heart BUT fix your vision'
ada hal-hal yang menghancurkan hatimu tapi memperbaiki pandangan hidupmu.

Bertemu dengan seorang teman yang beberapa tahun lalu (sekitar 3 tahun) perdarahan otak luas. Satu sisi bagian tubuhnya mati dan dia harus konsumsi obat anti kejang bertahun-tahun karena komplikasi jangka panjang penyakit yang diderita. Dia bertanya, "bukankah dokter harus bertanya padaku dan meminta persetujuan kalau akan mengoperasi otakku dulu?" Aku ingat bahwa saat terkena serangan dia mengalami turun kesadaran, keluarganya mengambil alih seluruh persetujuan tindakan medis. Saat itu operasi untuknya dipertimbangkan sebagai penyelamatan nyawa, bukan penyembuhan.

Temanku ini menjadi orang yang lebih pahit dari dia yang dulu. Dulu dia bisa kerja keras dan mengabaikan kesehatan, mendapatkan istri cantik yang jadi rebutan laki-laki bahkan mengalahkan sesama teman kami yang ganteng abis. Punya anak dari istri itu. Kini dia punya keinginan bekerja tapi menulis kata dengan benar saja tidak bisa pada ketikan media sosial. Konon dia dulu kerja desain. Istrinya meninggalkan dia tak lama pasca perdarahan otak dan anak mereka ikut si Bapak alias temanku ini.

Pengetahuan seperti ini membuatku mensyukuri betapa sehat tubuhku saat berbagai peristiwa mendera meski psikisku harus tertatih mengejar. Termasuk 7-8 tahun yang lalu dan bertahun-tahun setelahnya. Betapa beruntung aku karena tidak harus mengalami pengambilan pelajaran yang menyempitkan hati dan akal-pikiran.

Beberapa malam lalu aku berkunjung ke teman lain sesama teman SMA, perempuan bersuami dan beranak 3, dan salah satu pembicaraan kami membahas mengenai teman kami yang pasca perdarahan otak itu. Tentu kehancuran rumah tangga dan sikap sang istri jadi sorotannya. Aku bilang aku belum bersuami, tak berani banyak komentar. Temanku ini bilang bahwa istri itu pekerjanya pemerintah, cukupanlah mestinya paling tidak membawa anak mereka kalau tak mau merawat suami yang tidak bekerja dan bukan pegawai negeri.

'people go but how they left always stays'
orang-orang pergi tapi bagaimana cara mereka pergi itu membekas.

Ada hal yang tak bisa lupa walau telah bertukar maaf. Ada banyak hal setelah kata maaf itu sendiri, bukan hanya sekedar rekonsiliasi masa lalu, namun menjadikan diri sendiri lebih baik dari sebelumnya. Kalau tidak, maaf itu di kata-kata saja, tidak perlu didengar, dibaca, atau bahkan dipedulikan sebab cuma serupa janji manis yang keluar dari mulut berbisa. Ada kalanya aku berpikir bahwa aku layak mendapatkan 'maaf' yang lebih baik, 'goodbye' yang lebih baik, tapi menoleh ke belakang aku merasa beruntung dicerabut paksa.

Kini dan kelak, bila ingin membuka pintu untuk seseorang baik teman ataupun kekasih, ingatkan diri tentang menyaring kedekatan lebih jeli lagi, ingatkan diri pernah menangis pada malam-malam tak sanggup memungkasi hari dengan ketenangan tidur. Ingatkan diri tentang pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab dan punggung-punggung mereka yang telah merelakanmu terpuruk dan tertunduk pilu.

Pemberian maaf itu adalah mahkota orang-orang yang mulia. Bukan berarti lupa, bukan berarti tak mengambil pelajaran. Kita bisa saja menolak mengambil peran pertemanan kembali apalagi bersahabat, cukup kenal saja. Dan dari pelajaran relasi perkawanan atau percintaan yang telah dilalui bertahun-tahun lama ada catatan penting yang bisa digarisbawahi: kamu tak harus melukai orang lain untuk move on. Berilah orang lain, terlebih kawan baikmu, perpisahan yang lebih baik.

A Year in Our Life: How Do You Measure A Year?

Jumat, 02 April 2021

 How do measure a year in life of a woman or a man?

Hampir ulang tahunku, dalam setahun ini apakah yang paling berkesan dalam hidupku?

    Tentu wabah dunia bernama COVID-19. Dan orang-orang yang terenggut oleh virus yang sangat menular yang merubah kehidupan dunia. Setahun tak bisa bertemu kekasih. Namun juga setahun yang mempertemukan aku kembali dengan seseorang yang kukira takkan pernah kutemui secara fisik dalam tahunan panjang. Xapi. Satu dari mantan kekasih yang menjadi 'sahabat pena' terbaik ketika aku mengalami stress emosional, bukan karena sugestinya yang ciamik sehingga aku selalu menoleh padanya di saat-saat buruk, tapi karena ia tidak sempurna. Ia tak senantiasa menunjukkan ia suci atau tanpa cela. Ia memberiku privasi juga. Dan ia ada di saat paling burukku 2016. Empat tahun kemudian aku mendapat kehormatan mengantar Ayahnya berpulang.


Do you measure a year in her life in truth that she learned? Or in time that she cried? In bridges she burned?


Aku ingat persahabatanku dengan Setya. Saat itu kami 4n6, ketika akan masuk ruangan tiba-tiba dia histeris mengabarkan bapaknya sedang sakit keras. Lalu dia menutup diri, tidak membiarkan satu orang pun masuk sampai Bapaknya pergi.

Sebagai sahabat tentu kita berusaha memahami apa yang diinginkan orang yang kita sayangi, sambil meraba kebutuhannya. Aku merasa tak bisa memberi keduanya pada Setya. Ada kebingungan yang tak bisa kami bicarakan karena Setya sangat introvert. Dan aku bukan pangeran berkuda putih ataupun SJW (social justice warrior). Tidak pernah ingin menjadi pangeran berkuda putih untuk siapapun. Walau dalam hati aku mempertanyakan di manakah dia meletakkanku dalam persahabatan.


Do you measure a year in her life in daylights? In sunsets? In midnights? In inches? In miles? In laughter? In strife?


    Selanjutnya aku terbiasa dicampakkan dengan pintu yang mendadak tertutup di hadapanku. Kita berduka dengan cara kita sendiri-sendiri, aku bisa mengerti. Namun ada bagian dari diriku yang ingin mengatakan, "Kita bisa jadi orang lain nanti, tapi hari ini mari kita bersandar sebentar." Ada yang patah di diriku, dulu, dan ketika aku meraih orang yang tepat dan dia mau meluangkan waktu, ternyata semua bisa menjadi satu titik balik krusial.

Tahun lalu kubilang, "Don't shut me out." Aku memang pernah membiarkannya sendiri saat ia keguguran, karena aku bukan pangeran berkuda putih dan aku harus menjaga perasaan kekasihku waktu itu, walau ternyata kekasih itu tidak layak mendapat kesetiaanku. Kali ini aku ingin mengambil bagian dalam menghormati Ayahnya, walau ia tak tampak membutuhkanku seperti saat ia keguguran dulu. Pada malam di mana Ayahnya pulang selamanya, kami bertemu tepat 4 tahun (kurang sehari) dari pertemuan kami sebelumnya di mana saat itu aku merasa diriku adalah puncak segala kegagalan tentang cinta, studi, persahabatan, dan anak yang gagal mewujudkan cita-cita orang tua. Empat tahun sebelumnya itu menjadi satu dari sekian alasan aku mencoba lagi, sampai tiba di sini. Dan di sini, aku ingin menghormati Ayah perempuan yang kucintai di satu waktu tertentu, dan menjadi sahabat di waktu lain.

Aku sungguh berterima kasih padanya yang telah membuka pintu untuk melakukan apa yang telah kulakukan kemarin. Sungguh suatu kehormatan bisa menjadi satu orang yang bisa tahlil pasca pemakaman, tak bisa kubayangkan aku tanpa itu di pemakamanku. Bisa menjadi salah satu yang berdiri mendirikan sholat jenazah, yang mengirimkan bacaan-bacaan mewakili putrinya saat beliau sakit, dan saat beliau telah meninggal. Mungkin aku takkan pernah jadi sahabat yang belanja bareng, yang menemani di saat ia gelisah atau kepingin nongkrong, aku takkan pernah jadi sahabat pilihan hatinya untuk mengalami kegembiraan atau kesedihan. Di hari lain ia akan jadi orang lain, namun di saat seperti ini... let me handle this with care.


Pada setahun dalam hidupku, aku belajar bahwa in the end only kindness matter. Ketika aku tak ada di sisinya saat ia perlu ia tak membalasku demikian saat aku perlu. Dan aku akan selalu ingat, dan berterima kasih akan hal itu.

Catatan Akhir Tahun 2020

Kamis, 31 Desember 2020

Kusaksikan begitu banyak orang menjadi lebih buruk dari orang yang pernah menyakiti mereka.


Di tempatku belajar dulu, di mana kakak kelas punya kuasa ini-itu terhadap adik kelasnya, seseorang di bawah berusaha menyalakan api pemberontakan. Jauh dalam hatiku ada kecurigaan dia akan menjelma lebih buruk dari kakak kelasnya dalam menyikapi adik kelas, dan ternyata memang demikian.


Seseorang dulu dikhianati oleh kekasihnya, yang sekarang menjadi pasangan hidupnya. Dia membenarkan perselingkuhan-perselingkuhannya dengan awal alasan dendam. Sampai sekarang dia tak bisa mengontrol perasaan, atau nafsunya, dan selalu mencari pembenaran.



Seorang yang lain ditinggalkan oleh kekasihnya begitu saja. Namun kekasihnya itu telah ada saat ia membutuhkan dan si mantan sudah tahu risiko apa yang dia hadapi dengan mencintai kekasihnya itu. Beberapa tahun bersama kekasih baru, dia meninggalkan kekasih barunya saat di saat ia membutuhkan support luar biasa.


Kusaksikan begitu banyak orang yang berkata memaafkan tapi semuanya hanya di bibir. Persis seperti seseorang yang menjalani LDR yang selalu meminta kabar kepada kekasihnya, minta supaya ‘melapor’ sedang di mana-sama siapa-sampai jam berapa. Tapi saat kekasihnya datang ke kotanya ia tetap bekerja waktu penuh bahkan lembur dan mematikan gawai, tak ada pertanyaan bahkan sekedar sudah makan belum apalagi pertanyaan ‘ingin kuantar ke mana?’ Perhatian semu. Pun maaf itu sebagian besar palsu. Kusaksikan mereka slowly became the people they swore they’d never become.


Karenanya resolusi akhir tahunku masih sama sejak bertahun lalu: don’t become those who hurt you. Jangan menjelma menjadi orang yang menyakitimu. Sebab kau akan melakukannya lebih buruk, seolah orang yang kau sakiti memang layak mendapatkannya.


Mereka yang mengenakan jaringan parutnya malah kulihat lebih baik dalam menjaga diri agar orang yang ia cintai tidak jatuh pada lubangnya terjatuh ketimbang mereka yang menutupinya dengan alasan ingin menyederhanakan segalanya atau alasan seagamis apapun.


Dan ketika kamu lelah memperbaiki diri, ingatlah bahwa rasa lelah itu sementara dan menjadi orang yang lebih baik itu selamanya. If no one is proud of you, be proud of yourself.

19 Juli 2020

Minggu, 19 Juli 2020

Sapardi berpulang.

Barang kali nama itu bisa jadi satu dari berita kematian yang sudah terlalu biasa didengar di masa pandemi Covid-19 ini, namun bagiku nama ini terlalu penting.

Sapardi itu penulis puisi favoritku. Pilihan kata dan gaya sederhana, yang memanusiakan benda-benda di sekeliling, yang selalu memiliki aura romantis tanpa menye-menye.

Sebelas hari sebelumnya, yaitu 8 Juli 2020, aktris yang memerankan Santana Lopez di serial televisi Glee dikabarkan menghilang saat berenang di Danau Piru, California. Tanggal 13 Juli 2020 ditemukan mayat yang diduga kuat sebagai Naya Rivera, sang aktris yang hilang tersebut.

Kalau ingat lagu favoritku dari The Band Perry, If I Die Young, yang dinyanyikan ulang oleh Santana saat episode obituari untuk Finn Hudson (diperankan Cory Monteith yang meninggal pada 13 Juli 2013 di tengah Glee sedang kejar tayang) maka liriknya seolah menggambarkan kematian Naya.

If I die young bury me in satin
Lay me down on a bed of roses
Sink me in the river at dawn
Send me away with the words of a love song

Rivera tenggelam di Danau Piru, diduga saat berenang ia mengalami masalah dengan tumbuhan/pohon atau arus dalam danau buatan tersebut. Sesaat sebelum meninggal, diperkirakan ia mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menaikkan satu-satunya anaknya ke perahu agar selamat. A mother's love.

Naya Rivera sebagai Santana Lopez menyanyikan If I Die Young (dipopulerkan oleh The Band Perry) pada serial televisi Glee musim 5 episode 3, The Quarterback.

Kalau ingat zaman Glee masih tayang, Santana merupakan karakter favoritku. Santana menjadi peran yang sangat membumi untuk kebanyakan lesbian yang berperang dengan dirinya sendiri ketika menyadari orientasi seksnya, penokohan yang sangat penting dibangun mulai awal tanpa diduga-duga, dan berakhir dengan pernikahannya dengan kekasih SMA-nya yaitu Brittany S. Pierce. Indahnya. Aku juga pingin, tapi enggak sepingin itu. Lagu If I Die Young mengingatkan aku pada Xapi saat dia mengalami keguguran, mengingatkanku juga saat aku akan digugurkan karena saran dokter kandungan. Berapapun umurku saat aku mati nanti, I think I've had just enough time.

Seasons of Love oleh Glee.

Terus terang lagu favoritku tentang kematian seseorang bukanlah If I Die Young. Aku lebih suka Stars yang dibawakan Grace Potter and The Nocturnals dan Seasons of Love versi Glee yang aslinya dinyanyikan oleh RENT.

525600 minutes, 525000 moments so dear
525600 minutes, how do you measure-- measure a year?
in daylights? in sunsets? in midnights? in cups of coffee?
in inches? in miles? in laughters? in strives?

Lagu Seasons of Love lebih pada merayakan kehidupan seseorang yang telah meninggal itu, kepedihannya, kebahagiaannya, hidupnya...
Sedangkan Stars tentang kepedihan ditinggal seseorang yang sangat penting dalam kehidupan kita.

I lit a fire with the love you left behind
It burned wild and crept up the mountain side
I can't look at the window, I can't look at the stars
Make me wonder where you are
If I knew you at all, I knew you've gone too far...

Kedua lagu ini mengingatkanku pada Bapak. Dan segala hal yang tak ingin kujumpai lagi karena harus kulepas pergi.

Stars oleh Grace Potter and The Nocturnals.

Akhirnya beberapa hari aku hanya mengubur diri dengan Highland Fling milik Anna Larner, merasakan kepedihan kehilangan dan harapan untuk hidup hari demi hari. I love you Moira Burns.

You Are The Only Exception -Paramore

Kamis, 30 April 2020

When I was younger I saw my daddy cry And curse at the wind He broke his own heart and I watched As he tried to reassemble it And my momma swore That she would never let herself forget And that was the day that I promised I'd never sing of love if it does not exist But darling, You are the only exception

Maybe I know somewhere Deep in my soul That love never lasts And we've got to find other ways To make it alone Or keep a straight face And I've always lived like this Keeping a comfortable distance And up until now I've sworn to myself That I'm content with loneliness Because none of it was ever worth the risk Well you are the only exception I've got a tight grip on reality But I can't let go of what's in front of me here I know you're leaving in the morning When you wake up Leave me with some kind of proof it's not a dream You are the only exception And I'm on my way to believing Oh, and I'm on my way to believing

Refleksi 8 April 2020

Rabu, 29 April 2020

Glenn meninggal.

Sebagian diriku bilang hidup terus berjalan, sebagian lagi terlempar ke masa lalu. Glenn ini spesialis lagu galau. Salah satu mantan yang berdarah Maluku bangga sekali dengan penyanyi satu ini.

Selain latar belakang cewek-cewek yang berusaha dia gebet dan suara desahan yang menjijikkan, sebenarnya aku enggak begitu tidak suka dengan Glenn. Malah, beberapa lagunya kena banget di saat terpurukku. Terpuruk karena cinta, wkwkwk, lebih tepatnya karena tidak punya uang dan diperparah ditinggalkan orang-orang yang katanya mencintaiku. Love sucks, tapi hati yang sentimentil bisa tetap tinggal bertahun-tahun bahkan setelah cinta itu sudah tak terasa adekuat lagi.

Adanya perintah untuk tinggal di rumah saja karena Covid-19 ini, pasti banyak orang yang diam-diam menghubungi orang-orang di masa lalu. Old flames juga mungkin tiba-tiba teringat kita dan kita teringat mereka. Kadang ingat saja tidak cukup buat beberapa orang. Berbeda dengan mantan-mantan yang suka ngumpulin orang-orang di sekitarnya --siapa tau mereka berguna nanti, politik orang yang merasa dia akan hidup selamanya seperti drakula-- aku sih tidak berteman dengan mantan, namun sering cekikikan dengan Caca mengingat kelucuan-kelucuan di masa dia dengan mantannya dan aku dengan mantanku. Caca ini satu-satunya teman yang tersisa di masa deNL, selain Rani yang terlalu serius dan terlalu 'semesta'.

Sebenarnya aku juga masih sibuk, bukan hanya bekerja dari rumah tapi aku juga harus bekerja ke luar rumah. Namun kesibukan ini bukan kesibukan biasanya yang bisa membuatku berhenti menulis. Sebenarnya kerja yang seperti ini impian, tapi aku orang yang susah mencambuk diri sendiri, akan banyak pekerjaan birokratif yang enggak selesai kalau aku bekerja di rumah karena sudah biasa untuk menyelesaikan segalanya di kantor.

"Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih, aku bukan pilihan."*


Kembali ke cekikikan karena masa lalu, aku ingat saat aku hidup di rumah Icha, saat itu dia sedang menyetir Honda-nya, kami kembali dari mengantar kekasih Icha di sekitaran Bungurasih. Waktu itu lagu Tega mengalun lewat radio, ya si Glenn Fredly ini, kemudian aku nyeletuk, "Dulu kalo weekend aku seneng banget, soalnya ada orang yang kutunggu-tunggu bakal datang." Si Icha menggodaku dengan detil-detil tentang mantan setelah celetukanku. Barang kali itu adalah satu dari kenangan yang kuingat dari Icha. Tega itu lagu yang lumayan akurat untuk menggambarkan sakit hatiku karena perpisahan dengan mantan di sekitar 2015 (atau 2014, aku sudah agak lupa).

"..yang tega menipuku..."**


Kematian Glenn, tentu mengingatkanku pada mantan-mantan karena panjang karir dan keaktivan Glenn di dunia musik. Sebut saja Sekali Ini Saja dan Januari, ini akan membuatku ingat mantan yang sekarang di Bandung, Tega untuk mantan yang dulu 9 tahun bersama (sangat suka aku saat Glenn dengan emosional berulang kali menegaskan "..yang tega menipuku..."), Yang Terlupakan (versi Glenn di Prambanan Jazz 2016, aslinya milik Iwan Fals) untuk 'Am yang sekarang sudah beranak dua. Tentu saja aku sangat menikmati terdampar dalam lagu-lagu itu yang dinyanyikan secara langsung dan Jazz yang saksofon-nya terasa agak-agak nge-funk (The Bakuucakar) di saat-saat banyak berada di rumah ini.

Selamat jalan, Glenn. Empatiku untukmu di perjalananmu selanjutnya.

"Putus lagi cintaku, putus lagi jalinan kasih sayangku dengannya
Cuma karena rupiah lalu engkau berpaling muka tak mau menatap lagi
Kecewa, kecewa hatiku
Terluka karena cinta"***

*Glenn Fredly (Aku Bukan Pilihan oleh Iwan Fals) dalam NET. ONE Anniversary -Trio Lestari- Medley Lagu Iwan Fals menit 00:27
**Glenn Fredly dalam Glenn Fredly -Tega @ JJF 2018 menit 04:57
***Glenn Fredly (Sakit Gigi oleh Meggy Z.) dalam Trio Lestari Kolaborasi Music Joke Entertainment (Malang Jazz Festival 2016) menit 04:26


catatan ulang tahun ini tahun

Minggu, 19 April 2020

we don't always survive the cracks of a relationship*

Di FB sedang bertebaran status tentang dikhianati kekasih. Ini tentu membuatku ingat masa-masa sulit itu, di mana cinta dan persahabatan terlalu sulit untuk dipertahankan.

there will come a time when your desire to hold something will exceed your capacity to keep it*

Ada saat di mana kepedihan terlalu sulit dikomunikasikan, kepergian seseorang yang paling kucintai yaitu Bapak menjadi pemicu yang merubah hidupku beberapa tahun setelahnya.

love is a very strong force, but it's still capable of dying**

Saat itu aku tak percaya ada yang sama buruk dengan kepergian Bapak. Rupanya aku salah. Perlahan-lahan mereka yang bilang mencintaiku pergi di saat aku membutuhkan uluran tangan. Orang yang kupikir akan ada di saat suka dan duka ternyata tak sanggup menghadapi kepedihanku.

i used to justify people's departures by finding faults in myself and creating false narratives about me that validate their inability to stay***

Barang kali sampai detik ini mereka masih berpikir bahwa apa yang mereka lakukan benar. Tapi aku membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa apa yang mereka lakukan mungkin benar...benar-benar menamparku untuk lebih mencintai diri sendiri. Menyibukkan diri untuk memperbaiki diri sendiri, aku berlari maraton dan mengikuti perjalanan ke kota-kota lain dengan vespa, memperkaya diri dengan pengalaman dan orang-orang baru. Tak mengapa bila orang melihatku selalu sendirian, toh aku telah membuktikan bahwa cinta dan persahabatan itu sama rapuhnya.

love yourself enough that people's departures don't feel like funerals***

Tapi dunia ini memang tempat penuh kejutan. Pertemuan demi pertemuan memaksa luka terlupa. Hari ini adalah bukti bahwa aku tetap bisa mendapatkan segalanya tanpa mereka memilihku dulu. Dan hari ini adalah bukti bahwa aku bisa bahagia. Aku tak harus membangun lagi koneksi dengan mereka hanya untuk membuktikan sesuatu, aku tak butuh validasi apapun tentang how to wear my feelings.

don't put resistance towards anything outgrowing you. let it outgrow you, don't prolong its inevitable departure***

i just want to thank all those who've destroyed me into i am today


*overlyxclusive
**winter pennington dalam raven mask
***iambrillyant

Perjalanan 2

Rabu, 19 Februari 2020

Selain Lumajang, di 2019 aku juga mengunjungi Situbondo, Probolinggo, Yogyakarta, Bogor, Madura, Labuan Bajo, Malang, Mojokerto, Blitar, dan Trawas.


Situbondo dan Probolinggo adalah kota kenangan saat aku kecil. Aku sempat bersekolah di sana. Kemudian Yogyakarta, tempatku S2 di UGM (tapi aku mengundurkan diri).

Di Malang dan Trawas aku mengikuti rapat kerja. Enak banget di Trawas, namun aku tidak suka memikirkan bagaimana berkendara ke sana.



Di Madura hanya iseng dan kuliner dengan partner. Ke Blitar untuk kulakan coklat crispy favoritku di Kampung Coklat, sambil wisata edukasi dan religi ke Makam Bung Karno.


Yang seru itu di Bogor dan Labuan Bajo, jalan dengan partner dan Inen dengan pasangannya. Makanan Bogor enak. Meski aku tak sempat ke Kebun Raya Bogor seperti mereka, kulinernya sudah cukup membuatku ingin balik lagi ke sana dua tahun lagi. Menginap dekat IPB, tempatku ujian tahun 2018 lalu. Makanan yang menarik: Soto Kuning Pak Yusup, cungkring Pak Jumat, bir kocok, sate sumsum, dan soto & sate Pak Hasan Kumis. Sayang kota ini macet kebangetan.



Di Labuan Bajo hari pertama mampir ke Hotel Djayakarta menikmati sunset. Menginap di Ayana Resort, ketemu teman SD yang ternyata kerja di Travel Agent yang ada di resort tersebut. Besoknya, menjelajahi Padar, Long Pink Beach, Pulau Rinca, dan snorkeling di Kanawa. Kayaknya gak bakal balik ke sana, selain mahal aku tak tahan dengan pesawat kecil. Mabuk. Padahal selama naik kapal aku baik-baik saja, dasar perut manja ahahaha...





i had to step away from a few
and walk back into my own life
to realize how much i had missed myself*

*iambrillyant

Perjalanan

Minggu, 16 Februari 2020

Tahun 2019 dipenuhi dengan perjalanan. 2020 karena covid19, aku menghindari perjalanan.

Maret 2019, kedua kalinya ke Bali untuk tahun ini. Karangasem, daerah asal si geg, 3 jam dari bandara.


Menginap di Candi Resort, tinggal di salah satu kamar yang paling dekat dengan pantai privat. Luar biasa memang Bali ini dalam memanjakan wisatawannya. Sebelum sampai di hotel, mampir dulu untuk makan siang di Pantai Goa Lawah. Tak disangka ketemu beberapa teman lama di sana.




Perjalanan berlanjut ke Taman Ujung Soekasada, di mana gunung bertemu pantai. Indah sekali. Lalu ke Tenganan Pegringsingan. Menuju kota, pindah ke sekitar Kuta dan bertolak ke Garuda Wisnu Kencana.


Perjalanan sebelumnya diawali di Jakarta, tepatnya Cawang. Monas. Mampir Grand Indonesia karena ingin merasakan bioskop CGV tipe starium, nonton Captain Marvel. Makan di the Halal Guy. Lalu naik kereta ke Surabaya, makan di nasi pecel dekat bambu runcing, jalan ke the House of Sampoerna lalu ke Juanda.


Dan ternyata bulan Agustus 2019 aku ke Bali lagi (ya ampun ahahaha) pada liburan Iedul Adha, di Sanur. Jalan di pantai dan makan lumpia. Ke Pandawa Beach, Padang-Padang, dan jalan sama partner ke Seminyak sampai kaki udah ogah jalan lagi.




it takes a lot to laugh as the years gone by
but i can find you there as my tears run dry*

the right lover will never try to silence your wounds when they become too loud
their soul will open its ears, listen to what they have to say, and gently caress you into a space of peace**

*diubah dari private emotion-nya Ricky Martin
** iambrillyant

Beachwalk, Januari 2019

Jumat, 14 Februari 2020


Kalau aku harus setuju tentang banyak hal tentang Bali, maka aku harus setuju bahwa senja di Bali itu indah. Itupun karena aku jarang bisa bangun pagi untuk menikmati sunrise di pantai-pantai sebelah timur, sehingga aku tidak bisa membandingkan keduanya.


Januari ini, 2019, kuhabiskan dengan berjalan ke Beachwalk setiap hari. Entah sekedar makan es milo, es ovaltine, es oreo, es kitkat atau es apapunlah namanya sambil melihat matahari tenggelam di pantai Kuta, atau bahkan hanya duduk saja di pantai Kuta. Entah kenapa dulu aku malah sibuk berfoto dan berguyon-guyon tidak jelas dengan teman-teman. Kali ini aku ingin lebih banyak mengabadikan dengan ingatanku. Sederhana seperti New York State of Mind-nya Billy Joel.





Tinggal di hotel bergaya 90an, lalu seorang diri berkendara ke museum Antonio deBlanco, Pura Saraswati, Puri Ubud, Monkey Forest.

Menikmati tipat cantok, rujak tanpa kuah pindang (eh yang ini belum keturutan), ayam betutu, sate lilit, nasi jinggo, lawar ayam, dan sambel embe yang ternyata beda dengan milik geprek bensu favoritku.


Kalau aku punya banyak hari yang bisa kugunakan ke sini lagi, aku ingin kursus surfing. Tapi kemudian di tahun 2020 telinga kananku jebol lagi gendangnya, sehingga kemungkinan besar aku takkan bisa kursus surfing.



if your soul has no words and feels quiet today,
if your heart feels empty and in need of furnishing
i hope you remember that your existence is not defined by anyone else's love or
the lack of it
i hope you're feeding your solitude with self love instead of loneliness*

*iambrillyant

28 Juni 2019

Rabu, 12 Februari 2020

Adalah demikian, kusadari, tak pernah kudapati langit sebiru ini. Aku jauh dari rumah. Jauh dari segala rutinitas dan apa-apa yang kukenal.

"I wish you the bluest sky
and love
wherever you are

And for me to stay strong and let everything happen to me."

Tentu saja aku berserah. Aku sedang berada di salah satu resort dengan pantai privat di Bali. Nusa Dua. Inaya Putri Bali.



Sudah lama aku muak dengan hotel bertingkat-tingkat. Bangunan tinggi yang sebagian besar lorongnya terbuat dari dinding dan sempit. Dan ini Bali. Tempat tanpa bangunan tinggi-tinggi. Aku bisa puas jalan kaki dengan partner dan berakhir minta pijat. Pantai dengan sedikit orang. Langit dengan sedikit awan.



Aku bisa menyimpan cadangan vitamin D untuk seumur hidup hanya dengan seharian di bawah terik matahari Bali. Tolong jangan nyalakan lagu menye-menye tentang lembayung di langit Bali, aku sedang berlibur dari kesedihan karena penyakitan cinta.

"I hope the stars fill the night wherever you are
and i wish myself to be brave and begin again
and my heart to rest and heal"

Tentu saja menyenangkan melihat bintang di atas pasir putih. Ada tiga kolam renang yang ingin kucoba selain berenang di laut untuk kesekian kalinya. Atau lebih tepatnya bermain di tepi laut.



Semua yang kudapatkan setelah beribu dera barang kali adalah doa dari orang-orang di masa lalu. Atau jawaban dari doa-doaku di masa lalu. 2019 adalah satu dari tahun terbaik hidupku. Aku punya uang, waktu, partner yang sabar dan pengertian, masa lalu yang pahit dan tak ingin kuulang, serta jabatan yang bisa kupertanggungjawabkan dengan baik.

Jadi kalau kau merasa hidupmu bahagia, sama.

Goodbyes can taste bitter in the moment
but the aftertaste can be so sweet*

*iambrillyant

Lumajang, 10 Februari 2019

Senin, 10 Februari 2020

Pertama kalinya aku ke kota ini. Hujan berpanjangan. Macet. Kota kecil yang redup ditelan malam dan musim yang sendu.

From the very first time i rest my eyes on you, boy
My heart says follow through*

Tentu saja aku ingat kamu. Pertemuan terakhir kita di dekat ruang direktur dan setelah itu kita tak pernah lagi berkomunikasi. Kubayangkan kau membangun karir dengan keramahanmu yang unik, di sebuah pulau tempat terakhir aku tahu kau di sana.

Aku ingat pertaruhan dengan Andin waktu itu, walaupun akhirnya kami yang sibuk punya hubungan sendiri. Kalau Andin menyebalkan saat nyetir karena hemineglect, yang tidak kusuka darimu adalah kaca mobil yang terlalu gelap. Saat itu aku benar-benar berharap kita dekat, sayangnya kita tidak satu kelas. Setelah itu kita semakin sibuk dengan urusan masing-masing, sampai sekarang.

I don't want to wait in vain for your love
Coz summer is here, i'm still waiting there
Winter is here, i'm still waiting there*

Saat aku menyerah dengan kemacetan, kuputuskan untuk berjalan di kota kecil ini. Kotamu. Barang kali rumahmu adalah satu dari rumah yang kulewati. Lipstikku terlalu merah hari ini, sehingga laki-laki yang mengingatkanku untuk menepi ke pinggir jalan memanggilku ibu. Tapi memang sudah sembilan atau sepuluh tahun sejak aku, Andin, dan kau. Orang bilang jiwa akan selamanya terasa muda, hanya pelajaran yang semakin banyak yang kita sesap bila kita memang mau belajar. Aku belajar darimu tentang kebahagiaan. Katamu waktu itu: kalau itu bikin kamu bahagia. Aku bahagia denganmu, batinku, tapi aku tak mengenalmu kecuali nama dan kenyataan bahwa kau tidak tertarik pada perempuan.

In life i know there's a lot of grief
But you'll always my relief*

Barang kali aneh buatmu ketika aku memutuskan kau boleh tahu. Seperti kataku, kita tak saling kenal. Tapi kau menjelma jadi satu dari teman yang tak bisa kulupakan.

Lumajang tak sedingin yang kukira, dan mengenangmu tak seberat yang kuduga.

Darling,
you are not a cure for people's loneliness
you do not live to validate anyone
it's not your job to decorate anyone's comfort zone**

-RM Terapung Bu Umi, Jalan Raya Semeru
*waiting in vain
**iambrillyant

Sabtu, 19 Januari 2019

kau bisa mencari pertemanan yang kau inginkan
yang bisa memberimu kenyamanan yang tak kuberikan

kau bahkan bisa meninggalkan satu orang dan orang lainnya

tapi jika kau tak bisa melihat diri sendiri
dan belajar menyudahi ketidakpuasan akan hal di luarmu
...
aku hanya akan memandangmu dengan kasihan
dan mensyukuri kepergianmu

Disobedience

Rabu, 02 Januari 2019

ironi, bahwa komunitas yang kau ingin lari darinya juga yang melahirkan orang-orang yang kau cintai

J A R A K

Kamis, 29 November 2018

Jarak adalah keberuntungan yang lapang
yang dimiliki bumi untuk syarat kehidupan

Jarak adalah kebutuhan yang niscaya
yang menyatukan pagi dan bintang

Jarak adalah pohon seluruh rindu
yang memisahkan ranting masa kini dengan akar masa lalu

Jumat, 23 November 2018

Cara seseorang pergi menjelaskan segalanya

Taurus on Her Journey

Senin, 20 Agustus 2018

I encountered a Taurus on her journey (of finding love). Somehow within days she had caught my soft side of heart.

Dan hari berlari.

Yang kemudian kusadari adalah aku pada lini masa yang dilematis. Ketidaksesuaian kata dan sikap membuatku menyikapinya dengan ragu-ragu pula.

Sampai akhirnya aku mengerti betapa rapuhnya pertemanan dalam lesbian, tak hanya masalah percintaan.

Kita, seumur hidup kita, akan memiliki kesepakatan sendiri-sendiri dengan diri kita sendiri. Tidak ada celah untuk pertimbangan orang lain. Yang mungkin bisa bernegosiasi dengannya hanyalah kekasih pilihan hati. Dan aku hanya orang lain, bukan kekasih. Dan dia juga orang lain, bukan kekasih.

It was a lovely morning when I left her. And it was a lukewarm memory I love to cherish, while drinking my green tea.



I was her amber, and some one else's her shade of gold.

Ada waktu di mana kita ingin menanyakan tempat kita di hati seseorang. Bukan untuk menagih cinta, tapi sekedar ingin tahu bagaimana ia menyikapi hati kita yang mudah pecah. Dalam hidup, jatuh cinta tidaklah pernah menjadi ukuran yang kuperhitungkan sebab aku bisa saja jatuh cinta pada pantai, aku bisa jatuh cinta pada puisi, aku bisa jatuh cinta pada lagu atau masakan. Tapi penting bagiku untuk membalas seseorang dengan sikap yang seimbang, atau mengacuhkannya bila aku tak sanggup. Tak ada pertemuan yang tak ada makna di baliknya. Seluruh pertemuan adalah tak terelakkan. I always grateful for lessons she gave me. I cried for times I lost her company, she's stronghead, I watched her stunned, confused, pained, let go, and gathered her own life back together again. She's beautiful in her own struggle and I celebrated her life by writing this story of her.

We might not in love in one another, we might not find love in one another. I encountered a Taurus on her journey (of finding love). Now I turn around and find that goodbye can taste bitter in the moment, but the after taste can be so sweet.

Lawu 2018 dan Pengumuman Hari ini

Rabu, 01 Agustus 2018

It's been 16 years...

Aku ingat sekali, setelah pengumuman penerimaan mahasiswa baru saat aku masuk ke Fakultas dan Universitas pilihan pertamaku, aku merenungi alasan kenapa aku diterima di sana. Renungan ini kubawa sampai ke pos-pos pendakian Lawu. Sebab walaupun aku mendapatkan yang kuinginkan, hal itu bukanlah keinginanku. Saat itu aku ingin gagal, agar bisa memilih jurusan yang benar-benar kuinginkan tahun depan.

Aku tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan. Hal ini berlaku pada kisah cintaku, pekerjaanku, kuliahku, dan hal-hal penting lain yang merubah diriku menjadi aku di masa kini.

Namun, bila kulihat ke belakang di mana saat ini aku telah mencapai puncak, tak ada perjalanan yang sia-sia bagiku.

Saat aku pulang dari sebuah kota di timur Jawa kelas 4 SD karena kakakku tidak tahan dengan kenakalanku (kenakalan yang kumaksud adalah aku masih mengompol sampai kelas 6 SD, hahahah...), aku masuk SD pinggiran yang hampir seluruh muridnya merupakan anak orang-orang menengah ke bawah. Sejak tahun kemarin, alumni tahun angkatanku di SD pinggiran ini sedang getol-getolnya ngumpul dan ribut banget di grup Whatsapp (kontras dengan alumni SDku sebelumnya, yang berisi orang-orang menengah ke atas, yang adem ayem). Aku sempat berpikir, sampai saat ini aku belum menemukan kegunaanku sekolah di SD itu (kenapa waktu itu Tuhan kasih aku sekolah di situ) karena aku tidak menemukan manfaat yang membedakan sekolah itu dengan sekolahku sebelumnya.

Hari ini aku bertemu seorang teman sesama alumni SD pinggiran itu, dan kini aku mengerti. Saat kupikir teman-teman SDku itu tak bermanfaat, seketika aku ditamparNya dan itu membuatku memahami rencanaNya dengan lebih baik.

Tidaklah Dia menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Tidak pula saat Dia ciptakan perjalananku.

Seluruh perpisahan adalah campur tanganNya, semua pertemuan hanyalah perjumpaan yang tak terhindarkan. Saat aku menginginkan sesuatu dan Dia memberiku sesuatu yang lain adalah pelajaran yang tak kuketahui sampai aku berada di masa depan dan dengan legowo menerima kehendakNya.

Maka bila pengumuman hari ini mengharuskanku jadi mahasiswa kembali... Maka, selamat malam, Jogja...

Antara Civil War, Infinity War, Komunis, dan Pak Hatta

Senin, 07 Mei 2018

Ada kebosanan yang walaupun itu tidak mengganggu ketertarikanku menonton film superhero di minggu pertama film bersangkutan tayang di teater bioskop lokal, namun cukup menggangguku saat aku keluar dari gedung bioskop.

Kebosanan itu dipicu dari satu logika yang kubangun sendiri, dan tentu dibumbui oleh pengalaman, curhat dari mantan gebetan, dan banyak kejadian yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Kusebut itu sindrom pangeran berkuda putih.

Yang akan kubahas adalah soal sang pangeran, bukan sang puterinya. Derajat sindrom ini bisa ringan sampai berat.

Bioskop-bioskop akhir-akhir ini sangat menarik. Subtema yang sangat humanis diterapkan dalam kerangka film-film mulai film tentang dunia medis (yang tentu sangat dekat dengan aspek ini), horror, thriller, sampai film tentang perang dan manusia berkemampuan superhuman. Sejujurnya aku suka kecenderungan film yang semakin ke arah manusiawi, tapi menitik beratkannya dengan terlalu berat justru membuatku semakin merasakan arogansi manusia.

Derajat ringan dari sindrom pangeran berkuda putih, atau sindrom superhero, atau arogansi manusia, kutemukan dalam pengalaman pribadiku dan curhat mantan gebetan. Pernah dengar atau merasakan diputus oleh pacar karena hati pacar sebenarnya telah mendua (walau itu diingkarinya mati-matian) karena pacar merasa kita tidak membutuhkan dia dan dia lebih memilih orang yang membutuhkan dia? Selamat, anda sudah menemukan sesosok 'pangeran berkuda putih' bagi puteri lain. Alasan seperti "Kamu lebih kuat dan mandiri dari si A, karena itu aku milih mutusin kamu", atau "She needs me more than you do", atau "Kamu lebih baik tanpaku" adalah alasan klise untuk membenarkan kelakuan ataupun menyerah pada keadaan yang sudah tidak mendukung. Tentu memulai kisah baru lebih mudah dan melegakan daripada memperbaiki apa yang ada, dan lagi si pacar yang berubah jadi mantan mendapatkan perlakuan istimewa dari orang lain, superhero bagi orang lain.

Derajat beratnya kutemukan pada film-film superhero, yang sedang hangat tai ayam tentu persaingan pahlawan super dari semesta DC dan Marvel. Dan Avengers 3: Infinity War membuat kebosananku terhadap sindrom ini berlipat-lipat lagi hingga muak.

Dalam segi cerita dan penggarapan karakternya, Infinity War mencapai titik yang sulit diikuti oleh film yang diangkat dari DC, namun keduanya mengipasi semangat yang sama: manusia dengan segala kelemahannya adalah the new god.

Karena menghembuskan napas 'manusiawi' ke tubuh-tubuh superhuman, dunia superhero membuka jalan untuk kita (penonton yang sudah pasti adalah manusia) masuk ke dalam semesta buatan mereka dan merasa karib. Hal ini membuat kita juga merasa sah-sah saja saat permasalahan yang timbul karena kekuatan super mereka diselesaikan dengan kekuatan super pula (plus nalar-nalar yang manusia banget).

Ketika bertaruh dengan seorang teman tentang siapa yang bakal menang di film Batman V Superman: Dawn of Justice, aku dengan bulat dan ringan nyeletuk: sudah pasti Batman. Kenapa? Karena Batman manusia. Karena film-film sejenis selalu memenangkan manusia, menjago-jagokan jargon 'save yourself first' atau 'tidak ada yang manusia tidak bisa lakukan' yang mungkin berasal dari film masa kanak-kanak garapan Walt Disney yang gaungnya terasa sampai di film yang bukan untuk kanak-kanak lagi.

Pada masa kanak-kanak, ide 'kamu bisa mencapai apapun cita-citamu' itu sangat bagus untuk merangsang motivasi menghadapi fase hidup yang lebih lanjut. Tapi ketika diterapkan pada masa dewasa, jurang arogansi, ego, dan ambisi berlebihan membuat penonton seperti aku takut kesandung dan jatuh.

Betapa tidak, taruhan saja kalau Vision di film Avengers (atau film lain dalam semesta Marvel) yang notebenenya merupakan ciptaan Tony Stark yang diisi oleh Jarvis, Ultron, bahkan salah satu batu Infinity, dapat hidup selayaknya manusia tanpa batu tersebut. Bayangkan, manusia menciptakan manusia. Logika seperti ini tentu tidak masuk dalam otak manusiawiku. Logika macam 'manusia bisa melakukan segalanya, mengalahkan segala tantangan di hadapannya' bagiku tak perlu ditunggangi oleh kemampuan menciptakan kehidupan karena sudah jelas 'kesombongan' itu bukan ranah milik kita. Lihat juga siapa yang lebih banyak tidak matinya daripada yang mati? Bangsa manusia biasa, kan? Karakter yang berkekuatan tertentu kebanyakan hangus jadi abu. Kalau berpikir "mau ngelawan Thanos pake apa?" tentu ini sangat menarik, tapi kalau berpikir pada domain 'manusia adalah tuhan baru' hal seperti ini sudah pasti cuma nanggepin pake roll eye. Sambil mbenerin roll rambut.

Infinity War dibanding Civil War milik Captain America bagiku sudah merupakan penurunan kelas untuk segi peperangannya, tak peduli sebanyak dan seluarbiasa apapun pahlawan-pahlawan super yang diboyong ke dalam film Avengers. Tak ada yang bisa membantah bahwa perang ideologi telah membuat genosida di muka bumi ini di dunia nyata. Diangkatlah peperangan ideologi ini ke dalam Infinity War dalam bentuk kado remeh dengan bungkus luar biasa cantik. Dengan musuh dan ideologi yang jelas (jelas salah), Infinity War membuat makanan yang tampak nikmat menjadi tak berasa. Berbeda dengan Civil War, atau bahkan dengan Hunger Games, peperangan walaupun telah usai tidak akan membuat kedua belah pihak tidur nyenyak.

Civil War bagiku merupakan puncak keemasan dari film dalam semesta Marvel sejauh ini, di mana nilai-nilai manusia benar-benar hidup dan ada. Film ini, seperti halnya trilogi Spiderman milik Sam Raimi, konsisten imbang dalam segala aspek. Perang ideologi Captain Steve Roger dengan Tony tidaklah ditutup dengan kemenangan atau setidaknya rasa puas. Civil War sangat politik. Mana kala satu ideologi bersikeras mengungguli ideologi lain, salah satu memang harus besar hati memilih. Tony memilih untuk mentaati regulasi yang dibuat pihak lain karena tak biasa membatasi diri, setelah moralnya terguncang oleh konsekuensi dari kemampuan super yang dimiliki kelompoknya. Steve ingin mempertahankan ketidakberpihakan. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh politik negara mereka sendiri yang kejam, yang dengan massal membunuh orang dari ideologi lain (di negara lain).

Tentu saja hal seperti ini dipahami oleh mata-mata macam Nat dan Clint yang bekerja kotor untuk negara. Ada kekuatan yang lebih tangguh dari negara yang bisa membuat tidur tenang dan bisa mendesak kebijakan negara apabila keluar jalur, kenapa mesti ditundukkan oleh undang-undang, kembali bekerja kotor, dan saling curiga? Tentu saran Tony, yang punya uang dan koneksi politik seperti jaring laba-laba, dimuntahkan mentah-mentah mengingat status imunitas Tony.

Ingat sejarah negara kita sendiri? Amerika mensyaratkan ideologi komunis angkat kaki dari Indonesia sebelum mengakui kita sebagai sebuah negara, hal ini dijawab Hatta selaku perdana menteri kita dengan tangan dingin. Setahun kemudian Indonesia tak diutak-atik lagi oleh negara sekutu. Ingat ketika Soekarno membawa kita terlalu kiri? CIA diamini Soeharto campur tangan dalam skenario rakyat membunuh rakyat sendiri yang menjadi penutup masa kuasa sang putera fajar dan melahirkan orde baru. Ketika komunisme tenang dalam tidur, politik menjadi menarik sekaligus memuakkan. Menarik karena ketidakjelasan protagonis-antagonis seperti ramalan Soekarno, memuakkan karena yang digodok sampai mendidih saat ini adalah masalah agama. Tapi ya memang itulah bagian-bagian dari politik yang tak bisa dipilah-pilih.

Steve, seperti Hatta, jelas. Bahwa persoalan Avengers harus dirumuskan sendiri dan tidak condong. Mencampurkannya dengan negara hanya akan menjadikannya aset sepihak yang mengorbankan moral, pemikiran, dan keunikan tumbuh kembang masing-masing individu dalam grup. Hatta menangkap politik luar negeri Amerika dengan meredam komunis dalam negeri secara 'sipil', demikian akan jauh berbeda hasilnya dengan cara 'militer' Untung dan tanggapan Soeharto yang menghasilkan genosida. Hal ini selaras dengan cara Thanos yang (seakan) tepat sasaran tapi kurang belas kasihan dan minus penghargaan terhadap nilai-nilai yang membentuk manusia dan kehidupan yang menyokong manusia itu sendiri karena dibutakan kekuatan dan kesegeraan dalam mewujudkan cita-cita.

Yang kusayangkan dalam Civil War adalah bagaimana Steve semudah itu melepaskan Avengers tanpa deklarasi pesaing, kemungkinan besar karena Steve masih merasa menjadi bagian dari Avengers walau bukan anggota aktifnya. Hal ini terkonfirmasi dalam Infinity War saat Steve menyebut markas Avengers sebagai rumah. Steve memutuskan bahwa menyerahkan urusan rumah tangga resmi Avengers ke tangan Tony adalah kompromi yang 'korbannya' lebih sedikit.

Di luar semua itu, Infinity War adalah tontonan ciamik yang terlalu seru untuk dilewatkan.

Ketika dalam hidup diharuskan memilih pilihan dilematis, jika pilihanmu membuatmu lega, hidup tenang, dan berhenti mencari kesalahan dalam diri, maka kritisi dirimu sendiri benarkah pilihan itu tepat? Memilih dengan pilihan sulit bagiku akan menjadi kenangan tersendiri yang membuatku seperti tersetrum saat akan mengulangi perbuatan yang itu-itu saja, atau saat teringat. Akan membuatku sulit tidur karena merenungkan pelajaran pahit, dan dan menjaga langkah di kemudian hari. Thanos di akhir Avengers 3: Infinity War demikian merasa benar dengan pengorbanan demi cita-citanya, aku yakin selanjutnya ia akan tertampar dengan pelajaran tentang 'merasa paling benar'.

Berhati-hatilah dalam tinggi menilai diri sendiri tapi juga jangan merendahkan diri sendiri.

Dan meski aku menertawakan betapa kanak-kanaknya Star Lord dan logika neuron adik T'Challa (karena dengan berapapun trilyunan sinaps neuron dan listrik-listriknya, robot takkan pernah menjadi manusia) yang sama mengada-adanya dengan logika mantan kekasihku saat memutuskanku, intinya aku cumalah menertawakan diri sendiri --yang berlagak puteri yang percaya dengan pangeran berkuda putih yang kelak jika menjadi raja niscaya akan menyunting puteri-puteri lain-- yang tetap mengikuti film ini (dan tetap dengan antusias menonton di minggu pertama).

Namanya juga perempuan.
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates