Ada kebosanan yang walaupun itu tidak mengganggu ketertarikanku menonton film superhero di minggu pertama film bersangkutan tayang di teater bioskop lokal, namun cukup menggangguku saat aku keluar dari gedung bioskop.
Kebosanan itu dipicu dari satu logika yang kubangun sendiri, dan tentu dibumbui oleh pengalaman, curhat dari mantan gebetan, dan banyak kejadian yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Kusebut itu sindrom pangeran berkuda putih.
Yang akan kubahas adalah soal sang pangeran, bukan sang puterinya. Derajat sindrom ini bisa ringan sampai berat.
Bioskop-bioskop akhir-akhir ini sangat menarik. Subtema yang sangat humanis diterapkan dalam kerangka film-film mulai film tentang dunia medis (yang tentu sangat dekat dengan aspek ini), horror, thriller, sampai film tentang perang dan manusia berkemampuan superhuman. Sejujurnya aku suka kecenderungan film yang semakin ke arah manusiawi, tapi menitik beratkannya dengan terlalu berat justru membuatku semakin merasakan arogansi manusia.
Derajat ringan dari sindrom pangeran berkuda putih, atau sindrom superhero, atau arogansi manusia, kutemukan dalam pengalaman pribadiku dan curhat mantan gebetan. Pernah dengar atau merasakan diputus oleh pacar karena hati pacar sebenarnya telah mendua (walau itu diingkarinya mati-matian) karena pacar merasa kita tidak membutuhkan dia dan dia lebih memilih orang yang membutuhkan dia? Selamat, anda sudah menemukan sesosok 'pangeran berkuda putih' bagi puteri lain. Alasan seperti "Kamu lebih kuat dan mandiri dari si A, karena itu aku milih mutusin kamu", atau "She needs me more than you do", atau "Kamu lebih baik tanpaku" adalah alasan klise untuk membenarkan kelakuan ataupun menyerah pada keadaan yang sudah tidak mendukung. Tentu memulai kisah baru lebih mudah dan melegakan daripada memperbaiki apa yang ada, dan lagi si pacar yang berubah jadi mantan mendapatkan perlakuan istimewa dari orang lain, superhero bagi orang lain.
Derajat beratnya kutemukan pada film-film superhero, yang sedang hangat tai ayam tentu persaingan pahlawan super dari semesta DC dan Marvel. Dan Avengers 3: Infinity War membuat kebosananku terhadap sindrom ini berlipat-lipat lagi hingga muak.
Dalam segi cerita dan penggarapan karakternya, Infinity War mencapai titik yang sulit diikuti oleh film yang diangkat dari DC, namun keduanya mengipasi semangat yang sama: manusia dengan segala kelemahannya adalah the new god.
Karena menghembuskan napas 'manusiawi' ke tubuh-tubuh superhuman, dunia superhero membuka jalan untuk kita (penonton yang sudah pasti adalah manusia) masuk ke dalam semesta buatan mereka dan merasa karib. Hal ini membuat kita juga merasa sah-sah saja saat permasalahan yang timbul karena kekuatan super mereka diselesaikan dengan kekuatan super pula (plus nalar-nalar yang manusia banget).
Ketika bertaruh dengan seorang teman tentang siapa yang bakal menang di film Batman V Superman: Dawn of Justice, aku dengan bulat dan ringan nyeletuk: sudah pasti Batman. Kenapa? Karena Batman manusia. Karena film-film sejenis selalu memenangkan manusia, menjago-jagokan jargon 'save yourself first' atau 'tidak ada yang manusia tidak bisa lakukan' yang mungkin berasal dari film masa kanak-kanak garapan Walt Disney yang gaungnya terasa sampai di film yang bukan untuk kanak-kanak lagi.
Pada masa kanak-kanak, ide 'kamu bisa mencapai apapun cita-citamu' itu sangat bagus untuk merangsang motivasi menghadapi fase hidup yang lebih lanjut. Tapi ketika diterapkan pada masa dewasa, jurang arogansi, ego, dan ambisi berlebihan membuat penonton seperti aku takut kesandung dan jatuh.
Betapa tidak, taruhan saja kalau Vision di film Avengers (atau film lain dalam semesta Marvel) yang notebenenya merupakan ciptaan Tony Stark yang diisi oleh Jarvis, Ultron, bahkan salah satu batu Infinity, dapat hidup selayaknya manusia tanpa batu tersebut. Bayangkan, manusia menciptakan manusia. Logika seperti ini tentu tidak masuk dalam otak manusiawiku. Logika macam 'manusia bisa melakukan segalanya, mengalahkan segala tantangan di hadapannya' bagiku tak perlu ditunggangi oleh kemampuan menciptakan kehidupan karena sudah jelas 'kesombongan' itu bukan ranah milik kita. Lihat juga siapa yang lebih banyak tidak matinya daripada yang mati? Bangsa manusia biasa, kan? Karakter yang berkekuatan tertentu kebanyakan hangus jadi abu. Kalau berpikir "mau ngelawan Thanos pake apa?" tentu ini sangat menarik, tapi kalau berpikir pada domain 'manusia adalah tuhan baru' hal seperti ini sudah pasti cuma nanggepin pake roll eye. Sambil mbenerin roll rambut.
Infinity War dibanding Civil War milik Captain America bagiku sudah merupakan penurunan kelas untuk segi peperangannya, tak peduli sebanyak dan seluarbiasa apapun pahlawan-pahlawan super yang diboyong ke dalam film Avengers. Tak ada yang bisa membantah bahwa perang ideologi telah membuat genosida di muka bumi ini di dunia nyata. Diangkatlah peperangan ideologi ini ke dalam Infinity War dalam bentuk kado remeh dengan bungkus luar biasa cantik. Dengan musuh dan ideologi yang jelas (jelas salah), Infinity War membuat makanan yang tampak nikmat menjadi tak berasa. Berbeda dengan Civil War, atau bahkan dengan Hunger Games, peperangan walaupun telah usai tidak akan membuat kedua belah pihak tidur nyenyak.
Civil War bagiku merupakan puncak keemasan dari film dalam semesta Marvel sejauh ini, di mana nilai-nilai manusia benar-benar hidup dan ada. Film ini, seperti halnya trilogi Spiderman milik Sam Raimi, konsisten imbang dalam segala aspek. Perang ideologi Captain Steve Roger dengan Tony tidaklah ditutup dengan kemenangan atau setidaknya rasa puas. Civil War sangat politik. Mana kala satu ideologi bersikeras mengungguli ideologi lain, salah satu memang harus besar hati memilih. Tony memilih untuk mentaati regulasi yang dibuat pihak lain karena tak biasa membatasi diri, setelah moralnya terguncang oleh konsekuensi dari kemampuan super yang dimiliki kelompoknya. Steve ingin mempertahankan ketidakberpihakan. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh politik negara mereka sendiri yang kejam, yang dengan massal membunuh orang dari ideologi lain (di negara lain).
Tentu saja hal seperti ini dipahami oleh mata-mata macam Nat dan Clint yang bekerja kotor untuk negara. Ada kekuatan yang lebih tangguh dari negara yang bisa membuat tidur tenang dan bisa mendesak kebijakan negara apabila keluar jalur, kenapa mesti ditundukkan oleh undang-undang, kembali bekerja kotor, dan saling curiga? Tentu saran Tony, yang punya uang dan koneksi politik seperti jaring laba-laba, dimuntahkan mentah-mentah mengingat status imunitas Tony.
Ingat sejarah negara kita sendiri? Amerika mensyaratkan ideologi komunis angkat kaki dari Indonesia sebelum mengakui kita sebagai sebuah negara, hal ini dijawab Hatta selaku perdana menteri kita dengan tangan dingin. Setahun kemudian Indonesia tak diutak-atik lagi oleh negara sekutu. Ingat ketika Soekarno membawa kita terlalu kiri? CIA diamini Soeharto campur tangan dalam skenario rakyat membunuh rakyat sendiri yang menjadi penutup masa kuasa sang putera fajar dan melahirkan orde baru. Ketika komunisme tenang dalam tidur, politik menjadi menarik sekaligus memuakkan. Menarik karena ketidakjelasan protagonis-antagonis seperti ramalan Soekarno, memuakkan karena yang digodok sampai mendidih saat ini adalah masalah agama. Tapi ya memang itulah bagian-bagian dari politik yang tak bisa dipilah-pilih.
Steve, seperti Hatta, jelas. Bahwa persoalan Avengers harus dirumuskan sendiri dan tidak condong. Mencampurkannya dengan negara hanya akan menjadikannya aset sepihak yang mengorbankan moral, pemikiran, dan keunikan tumbuh kembang masing-masing individu dalam grup. Hatta menangkap politik luar negeri Amerika dengan meredam komunis dalam negeri secara 'sipil', demikian akan jauh berbeda hasilnya dengan cara 'militer' Untung dan tanggapan Soeharto yang menghasilkan genosida. Hal ini selaras dengan cara Thanos yang (seakan) tepat sasaran tapi kurang belas kasihan dan minus penghargaan terhadap nilai-nilai yang membentuk manusia dan kehidupan yang menyokong manusia itu sendiri karena dibutakan kekuatan dan kesegeraan dalam mewujudkan cita-cita.
Yang kusayangkan dalam Civil War adalah bagaimana Steve semudah itu melepaskan Avengers tanpa deklarasi pesaing, kemungkinan besar karena Steve masih merasa menjadi bagian dari Avengers walau bukan anggota aktifnya. Hal ini terkonfirmasi dalam Infinity War saat Steve menyebut markas Avengers sebagai rumah. Steve memutuskan bahwa menyerahkan urusan rumah tangga resmi Avengers ke tangan Tony adalah kompromi yang 'korbannya' lebih sedikit.
Di luar semua itu, Infinity War adalah tontonan ciamik yang terlalu seru untuk dilewatkan.
Ketika dalam hidup diharuskan memilih pilihan dilematis, jika pilihanmu membuatmu lega, hidup tenang, dan berhenti mencari kesalahan dalam diri, maka kritisi dirimu sendiri benarkah pilihan itu tepat? Memilih dengan pilihan sulit bagiku akan menjadi kenangan tersendiri yang membuatku seperti tersetrum saat akan mengulangi perbuatan yang itu-itu saja, atau saat teringat. Akan membuatku sulit tidur karena merenungkan pelajaran pahit, dan dan menjaga langkah di kemudian hari. Thanos di akhir Avengers 3: Infinity War demikian merasa benar dengan pengorbanan demi cita-citanya, aku yakin selanjutnya ia akan tertampar dengan pelajaran tentang 'merasa paling benar'.
Berhati-hatilah dalam tinggi menilai diri sendiri tapi juga jangan merendahkan diri sendiri.
Dan meski aku menertawakan betapa kanak-kanaknya Star Lord dan logika neuron adik T'Challa (karena dengan berapapun trilyunan sinaps neuron dan listrik-listriknya, robot takkan pernah menjadi manusia) yang sama mengada-adanya dengan logika mantan kekasihku saat memutuskanku, intinya aku cumalah menertawakan diri sendiri --yang berlagak puteri yang percaya dengan pangeran berkuda putih yang kelak jika menjadi raja niscaya akan menyunting puteri-puteri lain-- yang tetap mengikuti film ini (dan tetap dengan antusias menonton di minggu pertama).
Namanya juga perempuan.
Antara Civil War, Infinity War, Komunis, dan Pak Hatta
Senin, 07 Mei 2018
Label:
afternoon tea,
perjalanan n1nna
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar