tak kubiarkan kau luluh di kakiku
cintaku tak menjadikanmu pecandu
tak menghambakan
pantas jalan panjang terasa benar
kau tak melihatnya selayakku
kau cintai aku sesederhana mungkin tapi,
sayang, aku tak sesederhana itu
apa kau pikir cinta sesederhana itu?
begitu sederhana hingga ia menjadi alasan aku
mencintaimu
begitu sederhana hingga ia menjadi alasan aku
meninggalkanmu
cinta hanyalah kekuatan, untukku
kuharap untukmu pula
yang menjadikan kita menempuhi perbedaan
keadaan
cinta hanyalah rasa sanggup
untuk menjalani hari demi hari,
makin kuat makin hari
meyakinkan kita, membuka mata kita
seharusnya cinta membebaskan
menjaga diri pada janji yang pernah tertanam
cinta memberi perlindungan dan harapan
meski berujung perpisahan
cinta adalah kekuatan untuk melanjutkan langkah
cinta adalah adaptasi
kekuatan untuk meneruskan hidup dengan berani
tak kubiarkan cinta menjadi candu
cinta semata-mata kekuatan
bad days?
Minggu, 27 November 2011
Oke, aku sedikit terhibur. Menurut Niken, the best choice penyair Jember is parikesit n1nna. Itu didapat dari tur launching buku Bicara (Bukan) pada Sunyi garapan kami berlima dengan Niken sebagai wakil dari kami. Buku dibedah habis-habisan, bikin mules (tak bisa kubayangkan jika aku jadi Niken), puisi kami dipreteli satu demi satu.
Puisi-puisi yang dibaca:
pejuang pena (aku lupa, ini puisi siapa, ya?)
ada (Eugene Alexis)
Tuhan beri kamu malam ini (parikesit n1nna)
rindu sebisu batu (Niken)
pulang, dek (Niken)
memo pagi ini (Niken)
kang agus (Niken)
masih tentang rindu (Niken)
kota hiu dan buaya (parikesit n1nna).
Itu beberapa diantaranya. Thanks to Niken yang pergaulan sastranya luas, buku kami dapat apresiasi dari komunitas di Jember. Soal aku menjadi penulis pilihan, aku curiga itu karena Niken. Puisiku terlalu personal, terlalu diriku, sedang Niken dan Roy punya tema lebih berat dan luas.
Secara singkat, lewat blackberry messenger (bbm), Niken mengabari kritik mereka:
Roy negasi (pengingkaran, kalimat) hancur,
Niken lemah di unsur kejutan,
n1nna terlalu personal di akhir-akhir,
Eugene ribet di Bahasa Indonesia, dan
Endang hambar.
Wuih, tidak terbayangkan bila kami dibantai di Halte Sastra, bisa-bisa cuma dipandang sebelah mata dan dibakar, hahaha...
Good job, Ken, sori gak bisa nemenin.
Puisi-puisi yang dibaca:
pejuang pena (aku lupa, ini puisi siapa, ya?)
ada (Eugene Alexis)
Tuhan beri kamu malam ini (parikesit n1nna)
rindu sebisu batu (Niken)
pulang, dek (Niken)
memo pagi ini (Niken)
kang agus (Niken)
masih tentang rindu (Niken)
kota hiu dan buaya (parikesit n1nna).
Itu beberapa diantaranya. Thanks to Niken yang pergaulan sastranya luas, buku kami dapat apresiasi dari komunitas di Jember. Soal aku menjadi penulis pilihan, aku curiga itu karena Niken. Puisiku terlalu personal, terlalu diriku, sedang Niken dan Roy punya tema lebih berat dan luas.
Secara singkat, lewat blackberry messenger (bbm), Niken mengabari kritik mereka:
Roy negasi (pengingkaran, kalimat) hancur,
Niken lemah di unsur kejutan,
n1nna terlalu personal di akhir-akhir,
Eugene ribet di Bahasa Indonesia, dan
Endang hambar.
Wuih, tidak terbayangkan bila kami dibantai di Halte Sastra, bisa-bisa cuma dipandang sebelah mata dan dibakar, hahaha...
Good job, Ken, sori gak bisa nemenin.
Label:
afternoon tea,
perjalanan n1nna,
thats hot
lovestoned
Selasa, 15 November 2011

Disclaimer: meminjam nama Fujino Shizuru, Kuga Natsuki dan Suzushiro Haruka dari Mai Hime, serta soundtrack Tokiiro no Mai dan terinspirasi oleh lagu Lovestoned dari Justin Timberlake.
Shizuru memasuki ruang bersuara bingar. Dia melangkah mantap pada meja yang mengelilingi seorang bartender, menghembuskan nama sebuah minuman ke telinga peracik minuman itu dengan cara yang membuatnya merah tersipu.
Lampu menyala bersahut-sahutan, berlarik-larik, warna-warni, seperti mengacu pada musik yang menghentak-hentak. Shizuru bosan. Semoga club ini tak membuatnya begitu.
Jika saja sebuah club hanya berisi minuman memabukkan dan musik-musik nakal, Shizuru pasti lebih memutuskan untuk menggantung kakinya di atas kursi malas ruang tamu, mendengarkan lagu-lagu ala Ituana yang jadi jenis musik favoritnya, membuka sebotol anggur dan menyesapnya seperti menyesap seorang perempuan. Tapi, ada sesuatu dari club ini yang menariknya begitu kuat. Mungkin efek lampunya yang terlihat dari luar, sesuatu yang jarang didapat dari sebuah club. Atau mungkin Shizuru penasaran akan dekorasinya. Atau karena ini ladies night, dia tahu dari papan promosi yang dipajang di dekat pintu masuk. Shizuru bisa sewaktu-waktu melihat promosi event yang terjadi di club ini karena pintu elevator yang selalu terbuka pada lantai 10, lantai club, selepas Shizuru kerja di satu lantai atasnya. Selalu ada rekan kerjanya yang turun menggunakan elevator yang sama dengannya sepulang kerja yang mampir ke lantai 10 dan mengajaknya bergabung. Selalu Shizuru tolak, dia menolak untuk berada di tempat yang menurutnya "tidak pantas". Meski kadang Haruka sahabatnya berhasil membujuk, dengan suara keras dan lantang, untuk bergabung.
Apa yang begitu kontras dengannya sangat menarik bagi Shizuru. Haruka bersuara lantang, berkata apa adanya, sering belepotan memilih diksi berputar seratus delapan puluh derajat dengannya yang bersuara lembut, cenderung manipulatif dan negosiator yang bisa diandalkan. Mungkin sesuatu yang kontras juga yang menariknya masuk club ini hari ini. Ah, Shizuru ingat, musik yang dimainkan berbeda sama sekali dengan apa yang biasa dia dengar saat pintu elevator terbuka di lantai 10. Tokiiro no mai, salah satu musik favorit Shizuru. Dia sangat tertarik karena betul-betul heran, dari mana DJ tahu musik ini? Padahal Tokiiro no mai adalah salah satu soundtrack adegan perang dari sebuah film anime Jepang yang sama sekali tidak cocok untuk didengarkan di sebuah club. Walaupun DJ mengemasnya dalam bentuk yang dicocok-cocokkan untuk suasana di sini, tetap bagi Shizuru terasa aneh.
Shizuru meneguk minumannya sedikit. Berakhir mabuk di sini akan membuatnya out of character, Shizuru menimbang semua yang dia lakukan dengan bijaksana. Matanya menatap lampu yang berkilat-kilat, yang salah satu cahayanya menerpa seorang perempuan yang berada di ujung selatan Shizuru. Ah, Shizuru tahu, semua alasan kenapa tiba-tiba dia berada di sini sebelumnya punah sudah. Dia tahu itu karena perempuan itu, yang memegang botol kuning dan menyesap minuman lewat bibir botol dengan cara yang cantik. Gerakannya menari sangat menyenangkan Shizuru, Shizuru tersenyum di sela tegukan minum. Perempuan itu sekilas menoleh padanya, matanya menatap mata Shizuru. Dia tersenyum nakal. Senyum yang sama saat mereka berjumpa dalam elevator tadi. Shizuru bersumpah perempuan itu tahu apa yang dia rasakan.
Begitu kontras dengan Shizuru. Tubuh perempuan itu dibalut pakaian yang seperti kulit kedua, Shizuru memakai pakaian yang jauh dari kata ketat. Rambutnya lurus dan terlihat hitam legam, Shizuru berombak dan berwarna rambut jagung. Matanya melihat orang lain dengan lirikan, Shizuru cenderung sopan dengan menoleh. Dia bergerak dinamis, Shizuru cenderung statis.
Shizuru mengekor lewat tatapan mata tiap perempuan itu beralih tempat. Dia nikmati caranya berjalan yang seolah menantang untuk membuat keributan dengan perempuan-perempuan berpasangan yang cemburu disekitarnya. Shizuru melihatnya berkali-kali menolak ajakan minum lelaki-lelaki sendirian. Radar Shizuru berpendar penuh harap, matanya terus mengekor sosok menarik itu.
Entah berapa lama, Shizuru mengamati gerakan demi gerakan yang perempuan itu lakukan. Dia tahu malam sudah menjelang pagi saat mengintip sebentar ke jam tangannya. Dia harus ke kamar mandi. Dengan enggan dia menyeret langkah, meninggalkan tas kerjanya, berjalan melewati depan elevator dan berbelok di belokan pertama ke kiri. Dia mematut diri di kaca sebentar setelah menuntaskan hajat kecil, menatap kedua matanya yang lelah. Kamu benar-benar butuh tidur, Shizuru, batinnya pada diri sendiri.
Saat berjalan untuk kembali ke tempat duduknya tadi, melewati elevator, hati Shizuru mencelos mendapati yang berdiri di dalam kotak besi itu saat dia melirik sejenak pada pintunya yang terbuka. Shizuru terpaku, tak bisa berkata-kata, dan dia terpukau dengan senyum nakal milik perempuan itu. Perempuan itu. Pintu elevator tertutup, Shizuru tertegun, menyadari kebodohannya beberapa saat kemudian. Perempuan itu berdiri sendiri, mestinya dia menahan pintu agar tak tertutup sambil menanyakan namanya. Sambil bicara apapunlah, yang penting dia tahu sedikit jejak perempuan itu yang bisa dia runuti. Matanya menatap angka yang berjalan mundur, sesuai lantai keberadaan elevator, sampai akhirnya berhenti di angka 1. Bukan lantai parkir kendaraan roda empat. Shizuru menghembus nafas kecewa, dia tidak akan punya kesempatan mengejar perempuan itu. Shizuru berjalan gontai kembali ke tempat duduknya, mengemasi barang-barang dan memanggil bartender untuk satu sloki terakhir minuman pengobat rasa frustasi. Setelah meneguknya, Shizuru memberi tips yang membuat mata sang bartender terbelalak senang. Shizuru tersenyum meski sedih, sedikit terhibur melihat dia bisa membahagiakan orang lain saat dia sendiri butuh penghiburan.
"And now I walk around without a care
She's got me hooked, it just ain't fair, but I...
I'm love stoned and I could swear that she knows
Think that she knows, oh, oh
She knows, she knows, oh, oh"
Lovestoned, Justin Timberlake
epilog:
Senyum bartender itu masih mengembang saat dia menyerahkan satu lembar tisu pada Shizuru. Shizuru dengan heran menerima tisu itu.
"Dari perempuan yang anda lihat terus-terusan tadi, non," kata sang bartender dengan senyum yang menurut Shizuru hangat dan menyenangkan. Giliran Shizuru terbelalak, matanya menangkap tulisan tangan berisi huruf-huruf dan angka-angka. Shizuru menatap sang bartender yang senyumnya makin lebar melihat reaksi Shizuru. "Namanya Natsuki Kuga," bartender itu kemudian berbalik untuk melayani permintaan tamu lain.
Shizuru tersenyum. Ternyata hari ini tidak terlalu membosankan.
Label:
shiznat,
yang menetas di kepala
sakit? bolos kerja saja!
Sabtu, 12 November 2011
Hari ini, tubuhku rasanya...leleh. Sendi-sendi terutama punggung bawah serasa copot, jari-jari linu, area belakang lutut rasanya luar biasa pegal. Segera kuhubungi kakak kelasku yang seorang dokter.
"Wah, keknya kamu kena infeksi virus, tuh," jawabnya santai.
"Virus apa?"
"Ya, kagak tau, emang aku dukun?"
"Lho, situ kan dokter."
"Ya tetep harus dilihat sendiri dan diperiksa, donk. Ya udah, coba diinget-inget, kontak ma orang sakit kagak akhir-akhir ini?"
Kutepuk jidatku, astaga, anak salah seorang perempuan yang kemarin ngobrol ngalur-ngidul ma aku di jalan kan kena cacar air, dia sempat curhat padaku.
"Keknya ada luka-luka kek jerawat gitu di perut, punggung, muka en payudaraku," kataku.
"Wah, kamu kena varicella, tuh. Cacar air," jawabnya mengkonfirmasi ketakutanku.
Tuh kan, batinku.
"Waaa..."
"Udah, gak usah panik. Acyclovir 5x800mg 7-10 hari yeee… Lukanya bukan di genital kan?"
"Genitalmu!" hardikku.
"Hehe...kali aja. Nular banget, lho, pakaian harus disendirikan, cuci pake air panas, selimut en bed cover, bantal-guling juga. Sekalian kamu, kali, direndam air panas."
Dokter menyebalkan, batinku.
"Gak boleh masuk kerja, lho, ya. Istirahat yang banyak, get well soon."
"Bagi surat dokternya."
"Jauh, ah, minta klinik terdekat aja."
Tambah menyebalkan saja, nih, kakak kelas.
Untung hari ini partner ada acara di luar kota, jadi kemungkinan tertular ya sedikit. Eh, tapi kemarin dia kan sempet nginep di rumah, wah. Padahal dia lagi diet, kan gak bisa makan banyak untuk menghimpun kekebalan tubuh.
Cacar air tanpa panas tubuh? Itu sudah biasa (kata adik kelasku yang juga dokter, sih). Waspadalah! Waspadalah!!
Jadi ini malam, bokap sibuk mencarikanku acyclovir (yang terbeli adalah acyclovir 400mg, artinya aku harus minum sehari lima kali, tiap kali minum dua tablet! Pingin kucekik rasanya kakak kelasku itu). Kuminum pertama kali barusan, jam 21.25 wib tadi. Berarti aku harus minum lagi 4-5 jam setelahnya, itu berarti jam 1 atau 2 malam, yang bener saja, kenapa obatnya cuma bekerja 4-5 jam, sih? Katanya suruh istirahat, kok disuruh bangun-bangun terus untuk minum obat? Gak konsisten!
Yah, karena aku udah gede, gak mungkin kan ikut mlungker-mlungker gitu di sebelah ibu. Sudah pasti orang serumah begidik melihatku, sumber virus yang sibuk di depan laptopnya, mengupdate blog. Curhat pada diari, dengan kesadaran penuh mengisolasi diri dalam kamar. Kamar yang kayak kapal pecah, penuh dengan buku dan sampah. Tuhan, oh, Tuhan, saya bersabar saja untuk urusan sakit saya, tapi saya kirimin pembantu, ya, untuk membersihkan kamar saya? Amin.
Apa bahayanya cacar air (varicella) ini?
Ternyata, ia merupakan penyakit infeksi dengan masa inkubasi virus kurang lebih 2 minggu (berarti mungkin bukan dari ibu yang kemarin ngobrol sama aku) yang punya sifat dormant, tetap tinggal dalam manusia yang pernah terkena (carrier/manifest), sehingga suatu hari nanti bisa relaps alias kambuh lagi, tapi dalam bentuk lain yang namanya herpes zoster (ini dia yang pake dosis acyclovir 5x400mg). Pada penyakit menular seksual, ada namanya herpes genital, ini oleh virus lain yaitu herpes simpleks virus. Sedang dua penyakit sebelumnya oleh varicella zoster virus.
Saya sudah pernah terkena cacar air sewaktu kecil, atau sudah melakukan vaksinasi, kenapa bisa terjadi cacar air lagi (kenapa tidak berubah menjadi herpes zoster)?
Ada kemungkinan karena tubuh membentuk kekebalan tubuh yang tak sempurna pasca vaksinasi atau paparan cacar air yang pertama, sehingga pada paparan yang kedua terjadi cacar air. Ada yang menyebutkan bahwa vaksinasi alami (pernah sakit cacar air) dan buatan (pemberian imunisasi) melindungi dalam jangka waktu 20 tahun saja dari terakhir terjadinya paparan, sehingga bila periode itu terlampaui maka seseorang kemungkinan menderita cacar air kembali.
Apa yang bisa kita lakukan bila partner/pasangan kita terkena cacar air?
Banyak. Paling tidak ada 5 hal yang bisa kita lakukan. Di antaranya yang paling aman adalah menghindari kontak dengannya. Kita isolasi partner, jebloskan dia dalam kamar, kunci dari luar, kasih makan, minum dan obat melalui jendela. (Well, keknya pembaca SK bukan tipe sadis macam gini deh, hehehe)
Satu, kita bisa bantuin menghandle barang-barang yang kontak langsung dengan pasangan seperti pakaian, bed cover, selimut, sarung bantal dan guling. Pisahkan dan cuci dengan air panas (belum menemukan dengan pasti berapa derajat), deterjen atau chlorin.
Dua, kita bisa memberikan asupan makanan untuk partner, memastikan dia sudah makan, suapin buah, vitamin dan membuatkan jus, memotivasi untuk banyak minum (kebanyakan obat dibersihkan di ginjal), mengontrol suhu badan partner dengan mengkompres atau memberikan obat penurun panas yang dianjurkan oleh dokter dan mengingatkan partner jam-jam minum obatnya.
Tiga, beri pengertian pada partner untuk memotong pendek kukunya. Hal ini perlu diperhatikan agar tidak terjadi infeksi sekunder (terjadi bila luka yang sangat gatal itu tergaruk dan kulit yang terkelupas menjadi sasaran empuk untuk infeksi bakteri). Kuku yang panjang mengakibatkan iritasi yang lebih dalam dan memungkinkan membawa bakteri dibawahnya. Untuk menambah kemesraan (kalo gak parno takut tertular), bisa kita potongkan kuku partner.
Empat, untuk mengurangi penderitaan partner karena gatal, sarankan kepadanya untuk tetap mandi. Jauhi mitos pasien cacar air tidak boleh mandi. Bisa mandi memakai larutan PK 1%. Masalah mandi, yang harus diperhatikan adalah cara mengeringkan tubuh memakai handuk. Harus hati-hati agar luka tidak "tergaruk" handuk dan menyebabkan infeksi sekunder. Kemudian anjurkan untuk menaburi tubuh dengan bedak.
Lima, berikan acyclovir salep 5% untuk diterakan pada luka-luka partner.
Enam, sakit kepala, pegal-pegal otot, nyeri sendi yang rasanya seperti encok yang menyertai mungkin saja membuat mood partner menjadi jelek. Berikan dukungan, kasih sayang, semangat positif baik kata-kata, sikap maupun tindakan agar tercipta kondisi psikis yang kondusif untuk percepatan penyembuhan partner.
Mengapa harus bolos kerja?
Cacar air pada manusia dengan imunitas (sistem kekebalan tubuh) yang baik, contohnya dewasa muda, bisa sembuh sendiri. Tapi penularan pada ibu hamil trimester pertama bisa menyebabkan kecacatan janin, terlebih sistem saraf janin. Beberapa negara di luar negeri, bila ternyata janin cacat (dilihat saat pemeriksaan kehamilan ante natal care), orang tua punya hak untuk menggugurkan janinnya. Di indonesia? Jangan tanya aku.
Selain itu, manusia yang terkena virus ini cairan tubuhnya amat sangat menular. Terlebih cairan dalam gelembung-gelembung lukanya (bullae/vesikel), sampai lukanya masuk stadium borok (krusta). Masalahnya, tiap gelembung usianya berbeda, ada yang masih gelembung berisi cairan, ada yang sudah memborok. Ini yang membedakan dengan herpes zoster, di mana herpes zoster gelembung-gelembungnya cuma pada satu area tertentu disebut dermatom dan berusia seragam, sedang cacar air relatif beragam dan tersebar di seluruh tubuh.
Pada manusia dengan imunitas yang (dianggap) lemah, seperti anak-anak (maka dari itu ada larangan membawa anak-anak ke rumah sakit kalo nggak sakit) dan orang berusia tua, atau orang-orang dengan latar belakang kondisi klinis tertentu yang menurunkan imunitasnya (orang dalam terapi kortikosteroid dosis dan dalam jangka waktu tertentu, pasien kanker atau HIV), bisa terjadi komplikasi seperti radang hati (hepatitis), radang otot jantung (myocarditis), radang ginjal (glomerulonefritis), radang paru (pneumonia) dan radang otak (encephalitis) yang bisa berujung kematian.
Jadi, meskipun anda kuat bekerja dan tidak sayang tubuh anda, sayangilah orang lain. Ayo bolos kerja!
Label:
afternoon tea
Behavioral Science Unit 4
Jumat, 28 Oktober 2011
Disclaimer: fanfic ini mempunyai judul yang sesungguhnya bukan inti dari cerita di dalamnya, tapi aku tak bisa memikirkan judul lain (supaya tidak terlalu memberi hint dari film seri apa cerita ini mengadopsi). Dan aku tidak pintar meramu agar cerita menjadi menarik, tapi aku sungguh ingin menulis ini.
"Kemudikan mobil ini menuju bandara, agen Natsuki, aku ingin kau menyusul Mai. Lebih baik kamu menelepon agen perjalananmu sekarang untuk tiketmu. Kamu akan pergi ke Pegunungan Bersalju, Distrik Tertinggal, tempat kelahiran Mai Tokiha atau sekarang Mai Tate sebelum keluarga mereka hijrah ke Distrik 10," kata Nagi Homura di belakang Natsuki. Keluarga Tokiha hijrah ke Distrik 10 saat pengungsian besar-besaran dari Distrik Tertinggal setelah terjadi kebocoran nuklir yang dikembangkan pemerintah di distrik itu. Ayah Mai bekerja sebagai teknisi di sana sebelum akhirnya pindah dan membuka usaha yang kini diteruskan Takumi.
"Kecelakaan keluarga Tate didalangi mereka. Mereka tahu Tokiha memberikan satu informasi pada putri tertuanya, Mai. Informasi itu, adalah jurnal yang kami ambil dari TKP kecelakaan keluarga Tate beberapa waktu lalu. Sayangnya sang pengambil jurnal, yang kau kenal sebagai pelaku pengeboman nomor lima, membaca beberapa informasi di dalamnya. Dia tak membaca seluruhnya, hanya beberapa. Apa yang dia baca dia kemukakan pada beberapa teman baiknya, pelaku pertama sampai ke empat. Mereka tahu betul bahwa aliran kepercayaan yang mereka ikuti, sama sekali bukan jalan yang membawa mereka ke surga. Mereka tahu mereka bersamaku untuk tujuan tertentu. Tapi mereka tahu lebih banyak dariku, dan memutuskan mencari jalan sendiri demi keselamatan mereka."
Natsuki menatap Nagi dari spion tengahnya.
"Kami sebuah organisasi rahasia, hanya aku dan pemimpin inti yang tahu tujuan kami sebenarnya. Kami melawan pemerintah. Lebih tepatnya melawan satu divisi khusus dalam pemerintah yang mempelajari satu hal: alien."
Natsuki tersenyum kecut mendengar penjabaran gila Nagi.
"Aku tahu kamu tak percaya alien, Natsuki. Pemerintahmu berbeda. Mereka mengirim sinyal-sinyal ke luar angkasa sana, sinyal permintaan tolong. Menjebak beberapa alien dalam seratus tahun ini. Alien dan kendaraannya. Ada satu yang jatuh dan terkubur di Pegunungan Bersalju dalam keadaan utuh, para penghuni pesawatpun masih tertidur di dalamnya. Satu kejadian terjadi dan mereka tahu bahwa mereka butuh menjaga lingkungannya stabil agar para alien tidak terbangun dan mereka dapat mempelajari makhluk-makhluk itu dan teknologinya. Lingkungan akan stabil bila jumlah makhluk yang tertidur sesuai dengan jumlah tempat peristirahatan yang ada. Mereka menggunakan virus alien untuk menginfeksi manusia, menggantikan satu demi satu alien yang diambil untuk dibedah, diteliti,"
"Awalnya, kepercayaan HiME Star yang diberi tugas untuk menyalurkan korban, tentu saja tanpa sepengetahuanku. Awalnya aku berpikir bahwa mereka yang kuberikan pada pemerintah akan diperbantukan ketrampilan tambangnya untuk mengembangkan pembangunan senjata nuklir bawah tanah, sebagai proyek antisipasi dan keamanan negara. Sampai akhirnya aku sadar, proyek itu sudah berkembang sejak lima dasawarsa lalu, dan bukan di Distrik Tertinggal. Mereka sedang melakukan proyek baru, meniupkan isu kebocoran nuklir sehingga Distrik Tertinggal tak dihuni di bagian Pegunungan Bersalju terutama."
"Agen Shizuru adalah pengganti tubuh alien yang akan dibedah berikutnya. Dia tak sengaja terpilih karena telah membaca jurnal itu."
"Lantas kaitan peristiwa-peristiwa pengeboman itu?" tanya Natsuki.
"Pemerintahmu, Agen Natsuki. Banyak bagian-bagian dalam pemerintahmu yang punya rahasia dan alasan tersendiri pada setiap gerakannya. Mereka melakukan ini untuk pengetahuan, tapi orang-orangku menjadi korban. Aku jadi tahu mengapa mereka memberi nama kami HiME Star. HiME Star bukanlah bintang seperti yang mereka sebutkan. HiME Star adalah sebuah pangkalan yang mereka buat untuk membuat sinyal permintaan tolong ke seluruh angkasa."
"Aku terlambat menyadari sampai pengakuan palsu bahwa kami bertanggung jawab terhadap pengeboman pertama menyebar seantero dunia. Empat orang yang tersisa mengira bahwa kami benar-benar bertanggung jawab dan memutuskan mencari perlindungan. Mereka datang pada orang-orang yang pernah mengatakan bersimpati pada kepercayaan kami, tapi pemerintahmu memasangkan bom pada sabuk mereka. Bom berskala kecil untuk mengubur rahasia mereka."
"Agen Kuga, aku tahu kamu akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan partnermu. Aku membaca profilmu dan setia kawan adalah hal yang paling menonjol darimu. Kamu selamatkan Shizuru, rusak lingkungan pesawat itu."
"Tuan Tokiha, bagaimana dengan ayah Mai?" tanya Natsuki.
"Dia tidak tahu apa-apa. Bahkan tidak tahu bahwa dia membawa jurnal itu pada barang-barang yang dititipkan pada Nyonya Tate saat dia dan istrinya memutuskan melakukan tur keliling dunia berdua."
"Kenapa kamu memberi informasi ini?" tanya Natsuki, mereka berhenti pada lampu merah. Nagi tersenyum.
"Berjalan lurus ke depan, Agen Natsuki, berhati-hatilah melangkah," kata Nagi sambil keluar dari mobil Natsuki lalu masuk ke dalam mobil yang berhenti di sebelahnya yang lantas melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Natsuki. Semua terjadi begitu cepat, Natsuki tak sempat mencegah.
--=XXX=--
Natsuki sampai pada Distrik Tertinggal dan memulai perjalanan darat yang melelahkan menuju Pegunungan Bersalju. Kendaraan off road membawanya perlahan-lahan menuju Puncak Datar, salah satu puncak yang dimiliki Pegunungan Bersalju, yang dulunya menjadi pusat reaktor nuklir. Saat tiba di sana, Natsuki hanya mendapati warna putih yang membutakan sejauh mata memandang. Natsuki menghembuskan nafas, frustrasi setelah berjam-jam mencari tanpa menemukan titik terang keberadaan Shizuru.
Natsuki memandang sekelilingnya, ada 13 gudang besar di sana, seperti satu kumpulan. Dilihatnya ada ukiran berbentuk tanda aliran kepercayaan HiME Star di setiap pintu. Natsuki berpikir, pasti ada sesuatu di gudang itu. Pintu menuju bawah tanah kah? Natsuki menyisir pelan-pelan satu demi satu gudang. Pada gudang terakhir, Natsuki mendapati bentukan seperti jam besar berada di lantai gudang. Natsuki teringat saat menyelidiki keluarga para pelaku bom bunuh diri, semuanya punya bentukan seperti jam di altar tempat suci masing-masing, menurut kepercayaan HiME Star itu untuk menunjukkan posisi bintang HiME terhadap bulan. Di hadapan Natsuki jam tersebut tampak tak diposisikan semestinya. Natsuki menggeser jarum-jarum jam tersebut, membuatnya sama persis seperti yang dia lihat di altar. Sebuah pintu ke bawah tanah terbuka tepat di bawah kaki Natsuki, Natsuki merosot turun ke bawah melewati lorong bundar lalu terhenti di atas tumpukan salju.
Natsuki terdiam sesaat, matanya menamatkan pemandangan asing di sekelilingnya. Pilar-pilar tabung transparan seukuran tubuh manusia berjumlah ratusan memenuhi ruang bawah tanah. Natsuki teringat kata-kata Nagi, di salah satu tabung pasti ada Shizuru. Tak ingin membuang waktu, Natsuki menyisirnya satu demi satu. Tubuh-tubuh serupa manusia, ada juga yang manusia.
"Shizuru," pekik Natsuki tertahan saat menemukan wajah familiar. Shizuru mengapung dalam cairan dalam tabung, sebuah sungkup menutup hidung dan mulutnya untuk mengalirkan udara. Natsuki mencari alat untuk memecahkan tabung, berusaha mengeluarkan Shizuru. Dilihatnya sebuah anak tangga menuju ke atas, Natsuki melihat ada tabung pemadam kebakaran di dekat pintu, Natsuki meraih alat tersebut dan kembali ke Shizuru. Dengan sekuat tenaga dipukulnya tabung transparan itu, bunyi retakan benturan,, sekali lagi Natsuki memukul. Cairan dalam tabung berhamburan keluar, Natsuki berhati-hati agar pukulannya tak mengenai Shizuru. Natsuki menangkap tubuh Shizuru, menyelimutinya dengan jaket yang dia kenakan.
"Shizuru, oi, bangun," Natsuki memeriksa nafas dan nadi di leher Shizuru. Meski bernafas dan berdenyut, Shizuru tak menunjukkan tanda-tanda membuka mata. Terdengar suara asing yang keras dari arah kanan Natsuki, dia menoleh, melihat tabung-tabung yang lain perlahan-lahan surut cairannya. Natsuki sadar dia telah merusak 'lingkungan' alien tersebut. Natsuki dengan sekuat tenaga berusaha menggendong Shizuru, menaikkannya ke punggung dan berlari tergopoh-gopoh menuju anak tangga naik karena pintu yang tadi dilihatnya terkunci. Natsuki tidak tahu sudah berapa anak tangga dia lewati, langkahnya semakin berat, derak-derak keras dia dengar di belakangnya. Akhirnya dia menemukan pintu, terkunci, didobraknya sekuat tenaga. Pintu terbuka setelah dobrakan ke lima, Natsuki segera keluar dari pintu tersebut bersama Shizuru, Natsuki melihat interior dalam salah satu gedung yang dia selidiki tadi.
Tiba-tiba pijakannya berdiri runtuh, demikian dengan sebagian gedung, Natsuki dan Shizuru jatuh seperti tersedot ke bawah, dia tangkap tangan Shizuru yang masih belum sadar. Sekitar satu meter jatuh ke bawah, Natsuki dan Shizuru terbentur benda mirip logam. Terdengar raungan keras alarm gedung, sambung-menyambung. Tiba-tiba Natsuki dan Shizuru sudah terangkat ke atas, dua meter dari permukaan tanah. Keduanya merosot jatuh dari logam melengkung itu, ke tumpukan salju di sekitarnya. Natsuki melihat benda logam raksasa yang menjatuhkannya tersebut, sebuah piring terbang. Takjub, dia hanya ternganga tanpa bicara. Semenit kemudian, benda itu melesat meninggalkan Natsuki yang masih membeku.
Lama sesudahnya, Natsuki tersadar oleh erangan dari mulut Shizuru. Dilihatnya Shizuru membuka mata.
"Apakah saya melewatkan sesuatu?" tanya Shizuru.
Natsuki mengangguk perlahan, "Kamu tidak akan percaya dengan apa yang sudah kamu lewatkan," kata Natsuki sambil menunjuk lubang raksasa yang menganga di sebelah mereka.
"Kemudikan mobil ini menuju bandara, agen Natsuki, aku ingin kau menyusul Mai. Lebih baik kamu menelepon agen perjalananmu sekarang untuk tiketmu. Kamu akan pergi ke Pegunungan Bersalju, Distrik Tertinggal, tempat kelahiran Mai Tokiha atau sekarang Mai Tate sebelum keluarga mereka hijrah ke Distrik 10," kata Nagi Homura di belakang Natsuki. Keluarga Tokiha hijrah ke Distrik 10 saat pengungsian besar-besaran dari Distrik Tertinggal setelah terjadi kebocoran nuklir yang dikembangkan pemerintah di distrik itu. Ayah Mai bekerja sebagai teknisi di sana sebelum akhirnya pindah dan membuka usaha yang kini diteruskan Takumi.
"Kecelakaan keluarga Tate didalangi mereka. Mereka tahu Tokiha memberikan satu informasi pada putri tertuanya, Mai. Informasi itu, adalah jurnal yang kami ambil dari TKP kecelakaan keluarga Tate beberapa waktu lalu. Sayangnya sang pengambil jurnal, yang kau kenal sebagai pelaku pengeboman nomor lima, membaca beberapa informasi di dalamnya. Dia tak membaca seluruhnya, hanya beberapa. Apa yang dia baca dia kemukakan pada beberapa teman baiknya, pelaku pertama sampai ke empat. Mereka tahu betul bahwa aliran kepercayaan yang mereka ikuti, sama sekali bukan jalan yang membawa mereka ke surga. Mereka tahu mereka bersamaku untuk tujuan tertentu. Tapi mereka tahu lebih banyak dariku, dan memutuskan mencari jalan sendiri demi keselamatan mereka."
Natsuki menatap Nagi dari spion tengahnya.
"Kami sebuah organisasi rahasia, hanya aku dan pemimpin inti yang tahu tujuan kami sebenarnya. Kami melawan pemerintah. Lebih tepatnya melawan satu divisi khusus dalam pemerintah yang mempelajari satu hal: alien."
Natsuki tersenyum kecut mendengar penjabaran gila Nagi.
"Aku tahu kamu tak percaya alien, Natsuki. Pemerintahmu berbeda. Mereka mengirim sinyal-sinyal ke luar angkasa sana, sinyal permintaan tolong. Menjebak beberapa alien dalam seratus tahun ini. Alien dan kendaraannya. Ada satu yang jatuh dan terkubur di Pegunungan Bersalju dalam keadaan utuh, para penghuni pesawatpun masih tertidur di dalamnya. Satu kejadian terjadi dan mereka tahu bahwa mereka butuh menjaga lingkungannya stabil agar para alien tidak terbangun dan mereka dapat mempelajari makhluk-makhluk itu dan teknologinya. Lingkungan akan stabil bila jumlah makhluk yang tertidur sesuai dengan jumlah tempat peristirahatan yang ada. Mereka menggunakan virus alien untuk menginfeksi manusia, menggantikan satu demi satu alien yang diambil untuk dibedah, diteliti,"
"Awalnya, kepercayaan HiME Star yang diberi tugas untuk menyalurkan korban, tentu saja tanpa sepengetahuanku. Awalnya aku berpikir bahwa mereka yang kuberikan pada pemerintah akan diperbantukan ketrampilan tambangnya untuk mengembangkan pembangunan senjata nuklir bawah tanah, sebagai proyek antisipasi dan keamanan negara. Sampai akhirnya aku sadar, proyek itu sudah berkembang sejak lima dasawarsa lalu, dan bukan di Distrik Tertinggal. Mereka sedang melakukan proyek baru, meniupkan isu kebocoran nuklir sehingga Distrik Tertinggal tak dihuni di bagian Pegunungan Bersalju terutama."
"Agen Shizuru adalah pengganti tubuh alien yang akan dibedah berikutnya. Dia tak sengaja terpilih karena telah membaca jurnal itu."
"Lantas kaitan peristiwa-peristiwa pengeboman itu?" tanya Natsuki.
"Pemerintahmu, Agen Natsuki. Banyak bagian-bagian dalam pemerintahmu yang punya rahasia dan alasan tersendiri pada setiap gerakannya. Mereka melakukan ini untuk pengetahuan, tapi orang-orangku menjadi korban. Aku jadi tahu mengapa mereka memberi nama kami HiME Star. HiME Star bukanlah bintang seperti yang mereka sebutkan. HiME Star adalah sebuah pangkalan yang mereka buat untuk membuat sinyal permintaan tolong ke seluruh angkasa."
"Aku terlambat menyadari sampai pengakuan palsu bahwa kami bertanggung jawab terhadap pengeboman pertama menyebar seantero dunia. Empat orang yang tersisa mengira bahwa kami benar-benar bertanggung jawab dan memutuskan mencari perlindungan. Mereka datang pada orang-orang yang pernah mengatakan bersimpati pada kepercayaan kami, tapi pemerintahmu memasangkan bom pada sabuk mereka. Bom berskala kecil untuk mengubur rahasia mereka."
"Agen Kuga, aku tahu kamu akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan partnermu. Aku membaca profilmu dan setia kawan adalah hal yang paling menonjol darimu. Kamu selamatkan Shizuru, rusak lingkungan pesawat itu."
"Tuan Tokiha, bagaimana dengan ayah Mai?" tanya Natsuki.
"Dia tidak tahu apa-apa. Bahkan tidak tahu bahwa dia membawa jurnal itu pada barang-barang yang dititipkan pada Nyonya Tate saat dia dan istrinya memutuskan melakukan tur keliling dunia berdua."
"Kenapa kamu memberi informasi ini?" tanya Natsuki, mereka berhenti pada lampu merah. Nagi tersenyum.
"Berjalan lurus ke depan, Agen Natsuki, berhati-hatilah melangkah," kata Nagi sambil keluar dari mobil Natsuki lalu masuk ke dalam mobil yang berhenti di sebelahnya yang lantas melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Natsuki. Semua terjadi begitu cepat, Natsuki tak sempat mencegah.
--=XXX=--
Natsuki sampai pada Distrik Tertinggal dan memulai perjalanan darat yang melelahkan menuju Pegunungan Bersalju. Kendaraan off road membawanya perlahan-lahan menuju Puncak Datar, salah satu puncak yang dimiliki Pegunungan Bersalju, yang dulunya menjadi pusat reaktor nuklir. Saat tiba di sana, Natsuki hanya mendapati warna putih yang membutakan sejauh mata memandang. Natsuki menghembuskan nafas, frustrasi setelah berjam-jam mencari tanpa menemukan titik terang keberadaan Shizuru.
Natsuki memandang sekelilingnya, ada 13 gudang besar di sana, seperti satu kumpulan. Dilihatnya ada ukiran berbentuk tanda aliran kepercayaan HiME Star di setiap pintu. Natsuki berpikir, pasti ada sesuatu di gudang itu. Pintu menuju bawah tanah kah? Natsuki menyisir pelan-pelan satu demi satu gudang. Pada gudang terakhir, Natsuki mendapati bentukan seperti jam besar berada di lantai gudang. Natsuki teringat saat menyelidiki keluarga para pelaku bom bunuh diri, semuanya punya bentukan seperti jam di altar tempat suci masing-masing, menurut kepercayaan HiME Star itu untuk menunjukkan posisi bintang HiME terhadap bulan. Di hadapan Natsuki jam tersebut tampak tak diposisikan semestinya. Natsuki menggeser jarum-jarum jam tersebut, membuatnya sama persis seperti yang dia lihat di altar. Sebuah pintu ke bawah tanah terbuka tepat di bawah kaki Natsuki, Natsuki merosot turun ke bawah melewati lorong bundar lalu terhenti di atas tumpukan salju.
Natsuki terdiam sesaat, matanya menamatkan pemandangan asing di sekelilingnya. Pilar-pilar tabung transparan seukuran tubuh manusia berjumlah ratusan memenuhi ruang bawah tanah. Natsuki teringat kata-kata Nagi, di salah satu tabung pasti ada Shizuru. Tak ingin membuang waktu, Natsuki menyisirnya satu demi satu. Tubuh-tubuh serupa manusia, ada juga yang manusia.
"Shizuru," pekik Natsuki tertahan saat menemukan wajah familiar. Shizuru mengapung dalam cairan dalam tabung, sebuah sungkup menutup hidung dan mulutnya untuk mengalirkan udara. Natsuki mencari alat untuk memecahkan tabung, berusaha mengeluarkan Shizuru. Dilihatnya sebuah anak tangga menuju ke atas, Natsuki melihat ada tabung pemadam kebakaran di dekat pintu, Natsuki meraih alat tersebut dan kembali ke Shizuru. Dengan sekuat tenaga dipukulnya tabung transparan itu, bunyi retakan benturan,, sekali lagi Natsuki memukul. Cairan dalam tabung berhamburan keluar, Natsuki berhati-hati agar pukulannya tak mengenai Shizuru. Natsuki menangkap tubuh Shizuru, menyelimutinya dengan jaket yang dia kenakan.
"Shizuru, oi, bangun," Natsuki memeriksa nafas dan nadi di leher Shizuru. Meski bernafas dan berdenyut, Shizuru tak menunjukkan tanda-tanda membuka mata. Terdengar suara asing yang keras dari arah kanan Natsuki, dia menoleh, melihat tabung-tabung yang lain perlahan-lahan surut cairannya. Natsuki sadar dia telah merusak 'lingkungan' alien tersebut. Natsuki dengan sekuat tenaga berusaha menggendong Shizuru, menaikkannya ke punggung dan berlari tergopoh-gopoh menuju anak tangga naik karena pintu yang tadi dilihatnya terkunci. Natsuki tidak tahu sudah berapa anak tangga dia lewati, langkahnya semakin berat, derak-derak keras dia dengar di belakangnya. Akhirnya dia menemukan pintu, terkunci, didobraknya sekuat tenaga. Pintu terbuka setelah dobrakan ke lima, Natsuki segera keluar dari pintu tersebut bersama Shizuru, Natsuki melihat interior dalam salah satu gedung yang dia selidiki tadi.
Tiba-tiba pijakannya berdiri runtuh, demikian dengan sebagian gedung, Natsuki dan Shizuru jatuh seperti tersedot ke bawah, dia tangkap tangan Shizuru yang masih belum sadar. Sekitar satu meter jatuh ke bawah, Natsuki dan Shizuru terbentur benda mirip logam. Terdengar raungan keras alarm gedung, sambung-menyambung. Tiba-tiba Natsuki dan Shizuru sudah terangkat ke atas, dua meter dari permukaan tanah. Keduanya merosot jatuh dari logam melengkung itu, ke tumpukan salju di sekitarnya. Natsuki melihat benda logam raksasa yang menjatuhkannya tersebut, sebuah piring terbang. Takjub, dia hanya ternganga tanpa bicara. Semenit kemudian, benda itu melesat meninggalkan Natsuki yang masih membeku.
Lama sesudahnya, Natsuki tersadar oleh erangan dari mulut Shizuru. Dilihatnya Shizuru membuka mata.
"Apakah saya melewatkan sesuatu?" tanya Shizuru.
Natsuki mengangguk perlahan, "Kamu tidak akan percaya dengan apa yang sudah kamu lewatkan," kata Natsuki sambil menunjuk lubang raksasa yang menganga di sebelah mereka.
Label:
shiznat,
yang menetas di kepala
finally, sekumpulan puisi cyber keroyokan bersama teman-teman, terbit
Kamis, 27 Oktober 2011

puisi-puisi karya Niken KW, Eugene Alexis, Endang SSN, Roy Tigor dan parikesit n1nna akhirnya dibukukan oleh dbuku. Bicara (bukan) Pada Sunyi, Sekumpulan Puisi Cyber beranekaragam isi, ada yang biasa-biasa, ada yang mengejutkan, ada yang penuh caci maki, ada yang iri-dengki, ada yang manis, disertai banyak rasa lain. keberagaman secara sederhana tentang cinta, hidup, memilih jalan hidup, jalan hidup, perjalanan berusaha dimaknai oleh kelima penulis ini. persis membaca buku pedoman, penulis seolah membolak-balik halaman, berusaha untuk mengerti dan lebih mengerti lagi, lalu bingung, membolak-balik halaman lagi, berusaha mengerti dan lebih mengerti lagi, mencapai suatu kesimpulan lalu kesimpulan itu ditentang sendiri. terus dan terus. seperti orang yang sedang belajar.
meski buku ini berisi puisi-puisi yang sangat sederhana, beberapa sangat kiri, namun kesederhanaan itu seolah bersinergi dengan keinginan belajar yang sangat besar dari penulis untuk membuahkan buku bergambar bibir-bibir manis ini mewarnai jagad perbukuan.
Behavioral Science Unit 3
Minggu, 23 Oktober 2011
Disclaimer: I am an ordinary fan yang ingin melihat Shizuru dan Natsuki bersatu di film berseri keren seperti the X-Files.
Sudah tiga bulan berlalu sejak serangan bom bunuh diri di Gereja Katolik Distrik 10 oleh penganut HiME Star yang didalangi Nagi Homura. Natsuki dan Shizuru menemukan adanya suatu pola tertentu dari serangan-serangan Homura. Terkuaknya pola tersebut menggagalkan serangan ke lima dari kelompok Homura. Tapi Natsuki malah berpikir serangan bunuh diri itu cuma agenda tragis yang berusaha dia kuak maksudnya. Natsuki melihat, serangan bom bunuh diri itu hanya melukai orang-orang di sekitarnya, tak pernah jatuh korban meninggal selain pelaku bom bunuh diri. Pelaku serangan ke lima memang tidak berhasil meledakkan bomnya, tapi Natsuki harus kecewa karena rupanya kelompok Homura mempersiapkan rencana lain, tembakan snipper lawan membunuh pelaku tersebut. Pemeriksaan forensik yang dikomando oleh Shizuru tak memberi informasi apa-apa.
Namun Shizuru menemukan sesuatu. Sesuatu yang dia tak mengerti.
Bom berada si sabuk tiap-tiap pelaku. Tiap ledakan memburaikan isi perut para pelaku, menyisakan anggota tubuh yang lain. Semuanya punya satu lubang kecil disertai radang di sekitarnya. Berdiameter 4 sentimeter, di belakang leher.
Natsuki menemukan kesamaan yang lain, semua pelaku pernah bekerja di sebuah tambang di luar Distrik 10, The Cavern. Saat bekerja di situ jugalah Nagi Homura mulai membentuk aliran kepercayaan HiME Star, pengikut awalnya pun berasal dari tempat kerja yang sama.
Kesimpulan lain yang diduga Natsuki adalah Nagi Homura mengincar tempat-tempat ibadah yang pemimpinnya pernah menyatakan dukungan pada aliran kepercayaan Homura. Natsuki berusaha mencari alasan di balik semua itu, namun Natsuki menemui jalan buntu.
Ketakutan merebak, demo anti kepercayaan HiME Star menular ke distrik-distrik lain, Natsuki dan Shizuru mendapat tekanan dari Yamada.
--=XXX=--
"Aku tak bisa menemanimu menyelidiki Linden Baum, aku harus mengantar Mai ke bandara," Natsuki berkata pada telepon genggamnya yang menyambung pada Shizuru. Linden Baum adalah kafe terakhir tersangka ke lima makan, sebelum akan menghancurkan salah satu tempat ibadah di Distrik 10.
"Baiklah, saya bisa mengatasinya," jawab Shizuru.
"Oke, sampai nanti. Setelah dari bandara aku akan segera menyusulmu," Natsuki lalu mematikan telepon genggamnya.
Shizuru memarkirkan mobilnya pada Linden Baum yang sedang ditutup. Garis polisi mengamankan TKP dan Shizuru masuk ke dalam Linden Baum. Mengamati satu jengkal demi satu jengkal, Shizuru mengamankan satu carik kertas berisi menu yang dipesan pelaku. Shizuru mengamati tempat duduk yang dipakai oleh pelaku di dekat jendela yang tepat mengamati pintu utama rumah ibadah sasaran. "Pelaku menunggu sesuatu di sana, Shizuru," Shizuru teringat kata-kata Natsuki yang menuntunnya merunuti tingkah laku pelaku. "Semua pelaku menunggu jam ibadah berakhir, Shizuru, itu hal yang paling tak ku mengerti. Seandainya mereka berniat melakukan teror, seharusnya mereka meledakkan diri saat ibadah berlangsung agar kerusakannya besar," Shizuru menutup mata berusaha menghayati pertanyaan Natsuki di kepalanya. Tiba-tiba mendekat seorang laki-laki berjubah hitam. Pendeta Ishigami.
"Anda yang berwenang atas kasus kelompok Homura?" tanya Pendeta Ishigami pada Shizuru. Shizuru mengangguk. "Ada yang ingin saya sampaikan pada anda."
--=XXX=--
"Pelaku menunggu Pendeta Ishigami, Natsuki," ungkap Shizuru di telepon setelah Pendeta Ishigami meninggalkannya sendiri di Linden Baum.
"Apa?!", seru Natsuki.
"Pelaku mengirimkan satu notes lewat kurir, salah satu pelayan Linden Baum, yang berisi permintaan tolong."
"Ya? Lalu?"
"Pelaku menyatakan bahwa dia menyimpan sesuatu di Linden Baum, sesuatu yang harus ditemukan Pendeta Ishigami yang sekarang berusaha saya cari."
"Aku akan segera ke sana untuk membantumu, Shizuru."
Shizuru sudah melihat rekaman CCTV Linden Baum. Dia tahu ke mana saja pelaku selama di Linden Baum dan itu mempersempit ruang pencariannya. Shizuru masuk ke ruang ganti pelayan, salah satu tempat yang dimasuki pelaku secara diam-diam. "Ada sesuatu di sini," batin Shizuru. Loker-loker terkunci. Shizuru membuka satu demi satu dengan kunci yang dia sita dari pekerja-pekerja Linden Baum. Pada loker ke lima, Shizuru menemukan sebuah jurnal. Jurnal pelaku ke lima. Dengan tidar sabar Shizuru membuka dan membacanya, tenggelam di dalam tulisan-tulisan yang membelalakkan matanya. Tanpa sadar, seseorang berada di belakang Shizuru dan menikam leher belakangnya dengan spuit berukuran kecil.
--=XXX=--
Natsuki memarkir mobilnya di dekat milik Shizuru, tergesa memasuki Linden Baum. Ia melihat sosok yang berlari keluar melalui pintu belakang.
"Hey, stop!" seru Natsuki sambil berlari ke arah pintu belakang. Natsuki terhenti saat mendengar erangan di balik pintu yang sepertinya merupakan ruang ganti. Natsuki tahu itu suara Shizuru, segera berbalik arah menuju suara itu berasal.
"Shizuru!" pekik Natsuki sambil membalikkan tubuh Shizuru agar terlentang. Natsuki menahan nafas saat melihat kedua bola mata Shizuru mulai menghitam. "Shizuru!" panggil Natsuki lagi. Natsuki segera mengeluarkan telepon genggamnya, menekan tombol-tombol darurat. "Halo, aku Natsuki Kuga. Tolong kirim ambulans ke Linden Baum, seorang petugas bernama Shizuru Fujino terluka."
Natsuki memeriksa nafas Shizuru, tangannya beranjak ke leher Shizuru untuk memeriksa nadi karotisnya. Natsuki mendengar suara sirine tak seberapa lama kemudian, segera dia angkat Shizuru keluar dari Linden Baum. Dia disambut dua orang petugas medis yang segera memasangkan sungkup udara pada Shizuru, Natsuki meletakkan Shizuru pada pembaringan dan membiarkan kedua petugas itu memasukkannya pada ambulans. Otaknya mencatat nama rumah sakit yang tertera di samping mobil ambulans, dia berjalan menuju mobilnya sendiri yang terparkir di sisi lain dar Linden Baum. Natsuki melihat ambulans itu beranjak pergi.
Natsuki duduk di belakang kemudi saat seseorang tiba-tiba masuk ke mobilnya. Natsuki meraba senjata di balik jaketnya, bersiap mengambilnya saat orang itu, Nagi Homura, berkata, "Agen Kuga, apakah kamu yakin mereka akan membawa agen Fujino pada rumah sakit yang tertera namanya di ambulans itu?", Natsuki membeku.
"Cobalah telepon rumah sakit itu, tanyakan apakah mereka mengirim ambulans?"
Natsuki menuruti Nagi, tubuhnya tegang mengetahui bahwa rumah sakit tersebut tak mengirim ambulans ke Linden Baum.
"Agen Kuga, apakah kamu yakin negara yang kamu layani ini tak menyimpan rahasia dan tak melanggar hak azasi makhluk lain?"
Sudah tiga bulan berlalu sejak serangan bom bunuh diri di Gereja Katolik Distrik 10 oleh penganut HiME Star yang didalangi Nagi Homura. Natsuki dan Shizuru menemukan adanya suatu pola tertentu dari serangan-serangan Homura. Terkuaknya pola tersebut menggagalkan serangan ke lima dari kelompok Homura. Tapi Natsuki malah berpikir serangan bunuh diri itu cuma agenda tragis yang berusaha dia kuak maksudnya. Natsuki melihat, serangan bom bunuh diri itu hanya melukai orang-orang di sekitarnya, tak pernah jatuh korban meninggal selain pelaku bom bunuh diri. Pelaku serangan ke lima memang tidak berhasil meledakkan bomnya, tapi Natsuki harus kecewa karena rupanya kelompok Homura mempersiapkan rencana lain, tembakan snipper lawan membunuh pelaku tersebut. Pemeriksaan forensik yang dikomando oleh Shizuru tak memberi informasi apa-apa.
Namun Shizuru menemukan sesuatu. Sesuatu yang dia tak mengerti.
Bom berada si sabuk tiap-tiap pelaku. Tiap ledakan memburaikan isi perut para pelaku, menyisakan anggota tubuh yang lain. Semuanya punya satu lubang kecil disertai radang di sekitarnya. Berdiameter 4 sentimeter, di belakang leher.
Natsuki menemukan kesamaan yang lain, semua pelaku pernah bekerja di sebuah tambang di luar Distrik 10, The Cavern. Saat bekerja di situ jugalah Nagi Homura mulai membentuk aliran kepercayaan HiME Star, pengikut awalnya pun berasal dari tempat kerja yang sama.
Kesimpulan lain yang diduga Natsuki adalah Nagi Homura mengincar tempat-tempat ibadah yang pemimpinnya pernah menyatakan dukungan pada aliran kepercayaan Homura. Natsuki berusaha mencari alasan di balik semua itu, namun Natsuki menemui jalan buntu.
Ketakutan merebak, demo anti kepercayaan HiME Star menular ke distrik-distrik lain, Natsuki dan Shizuru mendapat tekanan dari Yamada.
--=XXX=--
"Aku tak bisa menemanimu menyelidiki Linden Baum, aku harus mengantar Mai ke bandara," Natsuki berkata pada telepon genggamnya yang menyambung pada Shizuru. Linden Baum adalah kafe terakhir tersangka ke lima makan, sebelum akan menghancurkan salah satu tempat ibadah di Distrik 10.
"Baiklah, saya bisa mengatasinya," jawab Shizuru.
"Oke, sampai nanti. Setelah dari bandara aku akan segera menyusulmu," Natsuki lalu mematikan telepon genggamnya.
Shizuru memarkirkan mobilnya pada Linden Baum yang sedang ditutup. Garis polisi mengamankan TKP dan Shizuru masuk ke dalam Linden Baum. Mengamati satu jengkal demi satu jengkal, Shizuru mengamankan satu carik kertas berisi menu yang dipesan pelaku. Shizuru mengamati tempat duduk yang dipakai oleh pelaku di dekat jendela yang tepat mengamati pintu utama rumah ibadah sasaran. "Pelaku menunggu sesuatu di sana, Shizuru," Shizuru teringat kata-kata Natsuki yang menuntunnya merunuti tingkah laku pelaku. "Semua pelaku menunggu jam ibadah berakhir, Shizuru, itu hal yang paling tak ku mengerti. Seandainya mereka berniat melakukan teror, seharusnya mereka meledakkan diri saat ibadah berlangsung agar kerusakannya besar," Shizuru menutup mata berusaha menghayati pertanyaan Natsuki di kepalanya. Tiba-tiba mendekat seorang laki-laki berjubah hitam. Pendeta Ishigami.
"Anda yang berwenang atas kasus kelompok Homura?" tanya Pendeta Ishigami pada Shizuru. Shizuru mengangguk. "Ada yang ingin saya sampaikan pada anda."
--=XXX=--
"Pelaku menunggu Pendeta Ishigami, Natsuki," ungkap Shizuru di telepon setelah Pendeta Ishigami meninggalkannya sendiri di Linden Baum.
"Apa?!", seru Natsuki.
"Pelaku mengirimkan satu notes lewat kurir, salah satu pelayan Linden Baum, yang berisi permintaan tolong."
"Ya? Lalu?"
"Pelaku menyatakan bahwa dia menyimpan sesuatu di Linden Baum, sesuatu yang harus ditemukan Pendeta Ishigami yang sekarang berusaha saya cari."
"Aku akan segera ke sana untuk membantumu, Shizuru."
Shizuru sudah melihat rekaman CCTV Linden Baum. Dia tahu ke mana saja pelaku selama di Linden Baum dan itu mempersempit ruang pencariannya. Shizuru masuk ke ruang ganti pelayan, salah satu tempat yang dimasuki pelaku secara diam-diam. "Ada sesuatu di sini," batin Shizuru. Loker-loker terkunci. Shizuru membuka satu demi satu dengan kunci yang dia sita dari pekerja-pekerja Linden Baum. Pada loker ke lima, Shizuru menemukan sebuah jurnal. Jurnal pelaku ke lima. Dengan tidar sabar Shizuru membuka dan membacanya, tenggelam di dalam tulisan-tulisan yang membelalakkan matanya. Tanpa sadar, seseorang berada di belakang Shizuru dan menikam leher belakangnya dengan spuit berukuran kecil.
--=XXX=--
Natsuki memarkir mobilnya di dekat milik Shizuru, tergesa memasuki Linden Baum. Ia melihat sosok yang berlari keluar melalui pintu belakang.
"Hey, stop!" seru Natsuki sambil berlari ke arah pintu belakang. Natsuki terhenti saat mendengar erangan di balik pintu yang sepertinya merupakan ruang ganti. Natsuki tahu itu suara Shizuru, segera berbalik arah menuju suara itu berasal.
"Shizuru!" pekik Natsuki sambil membalikkan tubuh Shizuru agar terlentang. Natsuki menahan nafas saat melihat kedua bola mata Shizuru mulai menghitam. "Shizuru!" panggil Natsuki lagi. Natsuki segera mengeluarkan telepon genggamnya, menekan tombol-tombol darurat. "Halo, aku Natsuki Kuga. Tolong kirim ambulans ke Linden Baum, seorang petugas bernama Shizuru Fujino terluka."
Natsuki memeriksa nafas Shizuru, tangannya beranjak ke leher Shizuru untuk memeriksa nadi karotisnya. Natsuki mendengar suara sirine tak seberapa lama kemudian, segera dia angkat Shizuru keluar dari Linden Baum. Dia disambut dua orang petugas medis yang segera memasangkan sungkup udara pada Shizuru, Natsuki meletakkan Shizuru pada pembaringan dan membiarkan kedua petugas itu memasukkannya pada ambulans. Otaknya mencatat nama rumah sakit yang tertera di samping mobil ambulans, dia berjalan menuju mobilnya sendiri yang terparkir di sisi lain dar Linden Baum. Natsuki melihat ambulans itu beranjak pergi.
Natsuki duduk di belakang kemudi saat seseorang tiba-tiba masuk ke mobilnya. Natsuki meraba senjata di balik jaketnya, bersiap mengambilnya saat orang itu, Nagi Homura, berkata, "Agen Kuga, apakah kamu yakin mereka akan membawa agen Fujino pada rumah sakit yang tertera namanya di ambulans itu?", Natsuki membeku.
"Cobalah telepon rumah sakit itu, tanyakan apakah mereka mengirim ambulans?"
Natsuki menuruti Nagi, tubuhnya tegang mengetahui bahwa rumah sakit tersebut tak mengirim ambulans ke Linden Baum.
"Agen Kuga, apakah kamu yakin negara yang kamu layani ini tak menyimpan rahasia dan tak melanggar hak azasi makhluk lain?"
Label:
shiznat
Behavioral Science Unit 2
Disclaimer: bagi yang berusaha menebak, ya tepat sekali, ini adalah Fanfiction Mai-HiME dan X-Files. Fox Mulder di sini adalah Natsuki Kuga dan Dana Scully menjadi Shizuru Fujino. Meskipun mereka out of characters, baik dari Mai-HiME maupun dari X-Files, tapi ide Fanfic ini berasal dari kedua film itu, dan film-film lain yang kulihat saat aku masih muda.
Natsuki duduk di depan meja bar Resto and Bar favoritnya, Takumi Tokiha menyambutnya hangat.
"Menu seperti biasa," pinta Natsuki. Dia bergerak gelisah di sebelah Shizuru yang sedang memilih menu.
"Teh hijau saja," putus Shizuru.
"Ramen. Keluarga Tokiha punya Ramen paling enak seantero kota," saran Natsuki. Shizuru menoleh pada partnernya.
"Oke, ramen satu," kata Shizuru.
"Bagaimana kabar kakakmu?" tanya Natsuki pada Takumi, adik Mai.
"Masih sedih," jawab Takumi pendek. Natsuki membaca kesedihan yang sama dirasakannya di mata Takumi.
"Hey, Natsuki!" Akira memecah keheningan yang mendadak tercipta. "Vespa klasikmu keren sekali, kapan-kapan pinjam lagi, ya?", Akira menyeringai.
"Kapan-kapan kita tur kota sama Mikoto juga, oke?" Natsuki mengangkat gelas minumannya menyaluti Akira yang kembali sibuk membuatkan pesanan mereka berdua.
"Saya dengar berita tentang kecelakaan keluarga Tate," kata Shizuru membuka pembicaraan.
"Mai sahabat dekatku. Kami kenal sejak kelas 10. Takumi itu tadi adik Mai, Akira yang sedang menyiapkan makanan kita itu istrinya."
"Dan Mikoto itu, apakah maksudnya Mikoto Minagi?"
"Yup. Mikoto teman Akira dan Takumi. Aktivis LGBT yang bekerja di bagian Juvenile Crime and Behavior. Pernikahannya dengan Nao Yuuki adalah pernikahan same-sex agen negara pertama yang diakui negara. Meskipun aku berpikir kalau mereka masih terlalu muda untuk memutuskan menikah, mereka teman baikku juga."
Shizuru menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum pada Akira yang menyerahkan teh hijau pesanannya.
"Mikoto dan Nao memberi advokasi yang bagus pada anak-anak bermasalah, terutama mereka yang juga bermasalah dengan identitas seksual. Bahkan menurutku mereka yang terbaik di bidangnya. Tak ada yang lebih baik dari mereka yang pernah mengalaminya."
"Menurutmu, mengapa Homura menyerang Gereja Katolik?", Shizuru mengalihkan pembicaraan.
"Itu pertanyaan besar yang mesti dijawab, mengingat Sister Yukariko Sanada adalah pendukung kebebasan beragama yang pernah mengatakan bahwa ia menghormati pemeluk kepercayaan HiME Star."
"Sister Yukariko Sanada?"
"Yup, Sister kepala di Gereja Katolik Distrik 10."
"Oh..."
"Ngomong-ngomong, ini kartu namaku. Boleh minta kartu namamu?" Natsuki heran kenapa dia bisa begitu relaks berbicara dengan Shizuru, yang merupakan orang baru baginya.
"Ah, ya, hampir lupa. Tapi ini masih kartu dengan alamat lama. Saya tinggal di Apartemen J kamar 311, di pusat kota."
"Tak seberapa jauh dari tempatku."
"Ah, itu Mikoto dan Nao. Mikoto!" seru Natsuki. Shizuru tersedak oleh makanan yang sedang dia nikmati, meneguk teh favoritnya untuk meredakan penderitaannya.
"Natsuki!" balas Mikoto, "Shizuru?!", kejut Mikoto.
"Hai, Mikoto," sapa Shizuru.
"Kalian kenal satu sama lain?" tanya Natsuki heran.
"Yup! Kami sering bertemu di acara-aca..."
"Acara-acara seminar nasional Juvenile Crime and Behavior. Saya dulu tertarik mendalami bagian itu," tukas Shizuru memotong pembicaraan Mikoto. Mikoto tertegun sebentar menatap Shizuru, berusaha mengartikan maksud perempuan berambut coklat itu.
"Ah, ya...Shizuru Fujino yang dipuji thesisnya oleh atasan kami," kata Nao dengan antusiasme yang ringan. Mereka berdua duduk di sebelah Natsuki, segera disambut oleh Takumi.
Shizuru beranjak menuju toilet, diikuti oleh Nao.
"Kabar kepindahanmu baru kudengar, sepuluh menit kemudian kita sudah bertemu."
"Apa kabar, Nao?" kata Shizuru sambil memeluk Nao ringan.
"Tomoe akhirnya melepaskanmu?"
"Tidak. Saya pindah karena merasa terganggu dengan kelakuan Tomoe."
"Mantan partner kerjamu itu memang satu contoh lesbian psycho yang paling bagus," ujar Nao.
"No comment."
Natsuki duduk di depan meja bar Resto and Bar favoritnya, Takumi Tokiha menyambutnya hangat.
"Menu seperti biasa," pinta Natsuki. Dia bergerak gelisah di sebelah Shizuru yang sedang memilih menu.
"Teh hijau saja," putus Shizuru.
"Ramen. Keluarga Tokiha punya Ramen paling enak seantero kota," saran Natsuki. Shizuru menoleh pada partnernya.
"Oke, ramen satu," kata Shizuru.
"Bagaimana kabar kakakmu?" tanya Natsuki pada Takumi, adik Mai.
"Masih sedih," jawab Takumi pendek. Natsuki membaca kesedihan yang sama dirasakannya di mata Takumi.
"Hey, Natsuki!" Akira memecah keheningan yang mendadak tercipta. "Vespa klasikmu keren sekali, kapan-kapan pinjam lagi, ya?", Akira menyeringai.
"Kapan-kapan kita tur kota sama Mikoto juga, oke?" Natsuki mengangkat gelas minumannya menyaluti Akira yang kembali sibuk membuatkan pesanan mereka berdua.
"Saya dengar berita tentang kecelakaan keluarga Tate," kata Shizuru membuka pembicaraan.
"Mai sahabat dekatku. Kami kenal sejak kelas 10. Takumi itu tadi adik Mai, Akira yang sedang menyiapkan makanan kita itu istrinya."
"Dan Mikoto itu, apakah maksudnya Mikoto Minagi?"
"Yup. Mikoto teman Akira dan Takumi. Aktivis LGBT yang bekerja di bagian Juvenile Crime and Behavior. Pernikahannya dengan Nao Yuuki adalah pernikahan same-sex agen negara pertama yang diakui negara. Meskipun aku berpikir kalau mereka masih terlalu muda untuk memutuskan menikah, mereka teman baikku juga."
Shizuru menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum pada Akira yang menyerahkan teh hijau pesanannya.
"Mikoto dan Nao memberi advokasi yang bagus pada anak-anak bermasalah, terutama mereka yang juga bermasalah dengan identitas seksual. Bahkan menurutku mereka yang terbaik di bidangnya. Tak ada yang lebih baik dari mereka yang pernah mengalaminya."
"Menurutmu, mengapa Homura menyerang Gereja Katolik?", Shizuru mengalihkan pembicaraan.
"Itu pertanyaan besar yang mesti dijawab, mengingat Sister Yukariko Sanada adalah pendukung kebebasan beragama yang pernah mengatakan bahwa ia menghormati pemeluk kepercayaan HiME Star."
"Sister Yukariko Sanada?"
"Yup, Sister kepala di Gereja Katolik Distrik 10."
"Oh..."
"Ngomong-ngomong, ini kartu namaku. Boleh minta kartu namamu?" Natsuki heran kenapa dia bisa begitu relaks berbicara dengan Shizuru, yang merupakan orang baru baginya.
"Ah, ya, hampir lupa. Tapi ini masih kartu dengan alamat lama. Saya tinggal di Apartemen J kamar 311, di pusat kota."
"Tak seberapa jauh dari tempatku."
"Ah, itu Mikoto dan Nao. Mikoto!" seru Natsuki. Shizuru tersedak oleh makanan yang sedang dia nikmati, meneguk teh favoritnya untuk meredakan penderitaannya.
"Natsuki!" balas Mikoto, "Shizuru?!", kejut Mikoto.
"Hai, Mikoto," sapa Shizuru.
"Kalian kenal satu sama lain?" tanya Natsuki heran.
"Yup! Kami sering bertemu di acara-aca..."
"Acara-acara seminar nasional Juvenile Crime and Behavior. Saya dulu tertarik mendalami bagian itu," tukas Shizuru memotong pembicaraan Mikoto. Mikoto tertegun sebentar menatap Shizuru, berusaha mengartikan maksud perempuan berambut coklat itu.
"Ah, ya...Shizuru Fujino yang dipuji thesisnya oleh atasan kami," kata Nao dengan antusiasme yang ringan. Mereka berdua duduk di sebelah Natsuki, segera disambut oleh Takumi.
Shizuru beranjak menuju toilet, diikuti oleh Nao.
"Kabar kepindahanmu baru kudengar, sepuluh menit kemudian kita sudah bertemu."
"Apa kabar, Nao?" kata Shizuru sambil memeluk Nao ringan.
"Tomoe akhirnya melepaskanmu?"
"Tidak. Saya pindah karena merasa terganggu dengan kelakuan Tomoe."
"Mantan partner kerjamu itu memang satu contoh lesbian psycho yang paling bagus," ujar Nao.
"No comment."
Label:
shiznat
Behavioral Science Unit
disclaimer: oh, surabaya yang panas, di kepalaku berputar adegan heat wave-nya roswell, michael en maria. oh, well, shiznat, too.
Natsuki melepaskan jaket kulitnya, dia lemparkan ke sandaran kursi lalu menyalakan kipas angin. Rambutnya serentak terayun-ayun dimainkan angin, dinikmatinya udara panas yang menerjang.
Angin tak menggejala, tak sesepoi pun, batin Natsuki.
Setengah jam lagi dia sudah harus di kantor, berdiri di depan atasannya. Kecelakaan yang menimpa Mai, partner kerjanya, membuatnya dipasangkan dengan petugas lain. Natsuki sedikit frustrasi karena harus menyesuaikan diri dengan orang lain, she's not good at that. Dibukanya pembungkus hotdog yang barusan dia beli, dalam beberapa kunyahan hotdog tersebut sudah berpindah ke dalam perutnya. Natsuki berjalan menuju kulkas untuk meneguk teh favoritnya. Di pintu kulkas ada magnet berbentuk vespa, oleh-oleh bulan madu Mai dengan Yuichi dari Itali, menindih satu carik potongan surat kabar yang memberitakan kecelakaan Mai dan Yuichi. Belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab terhadap kecelakaan mereka. Yuichi seorang diplomat negara asing dan Mai agen negara, ada alasan dibalik kecelakaan itu yang masih berusaha dijawab para penyidik. Hal ini menyisakan satu kekhawatiran di hati Natsuki, dia takut Mai akan diserang lagi. Lalu dia menyarankan Mai untuk cuti, sampai situasi dapat terbaca. Mai sepakat, tapi Natsuki menebak itu bukan karena idenya. Mai butuh waktu sendiri. Kecelakaan itu merenggut anak dalam kandungannya. Yuichi sendiri mengalami cidera otak yang menyebabkan kesadarannya sempat menurun beberapa hari. Cuti adalah hal paling masuk akal untuk menambal luka fisik dan hati mereka.
Empat puluh lima menit kemudian Natsuki sudah berada di ruang tunggu atasannya. Dua puluh menit sudah dia di sana, tanpa tanda-tanda kemunculan atasannya. Natsuki membuang rokoknya yang kedua, yang masih separuh habis, di asbak milik teman kerjanya. Dia tak biasa merokok, hanya pada keadaan tertentu saat dia gelisah, tertekan atau kesepian. Dan maksimal satu batang sehari. Rupanya pikiran tentang keadaan keluarga Mai dan tentang rekan barunya akan seperti apa membuat kegelisahan Natsuki berlipat-lipat.
Pintu terbuka, Natsuki melihat dua orang masuk, satu atasannya, Yamada, dan satu lagi seorang perempuan berambut coklat. Dalam sekali tatap Natsuki tahu bahwa inilah partner kerja barunya. Perempuan itu tersenyum. Natsuki memaksakan senyum untuk membalasnya.
"Kuga, seperti yang kamu tahu, Mai Tate cuti untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Kami butuh kamu untuk tetap bekerja, namun pekerjaanmu mustahil dilakukan sendiri. Ini Doktor Fujino, partner barumu. Doktor Fujino, ini Doktor Kuga."
"Senang bertemu dengan anda," Shizuru Fujino mengangsurkan tangannya untuk berjabatan dengan tangan Natsuki Kuga. Natsuki menyambutnya. Mereka berdua lalu duduk di depan Yamada.
"Kita punya kasus baru, serangan teroris di Gereja Katolik Distrik 10. Isunya tentang pemecah belahan umat beragama. Bom bunuh diri itu diklaim ditokohi oleh Homura, yang memperjuangkan kebebasan Distrik 10 untuk menjadi negara merdeka bagi pemuja HiME Star. Ajaran HiME Star sendiri muncul di tahun 2004, saat ilmuwan Astronomi menemukan bintang baru yang dari bumi terlihat selalu berada di dekat Bulan. Menurut kabar terakhir Nagi Homura terlihat di subkota Kana, 45 kilometer dari tengah kota Distrik 10."
Natsuki dan Shizuru mempelajari file-file di hadapan mereka sekilas.
"Yang akan kalian lakukan adalah mencegah Nagi Homura melancarkan aksi berikutnya. Kalian, sebagai Behavioral Science Unit ditunjuk untuk mempelajari tokoh kita satu ini. Aku tahu ini unit baru, tapi aku tidak bisa untuk tidak menyandarkan masalah besar ini pada kalian. Aku berharap sangat besar. Aku tahu kemampuanmu, Kuga, dan Doktor Fujino akan memberi bantuan yang besar terhadap itu."
Natsuki melepaskan jaket kulitnya, dia lemparkan ke sandaran kursi lalu menyalakan kipas angin. Rambutnya serentak terayun-ayun dimainkan angin, dinikmatinya udara panas yang menerjang.
Angin tak menggejala, tak sesepoi pun, batin Natsuki.
Setengah jam lagi dia sudah harus di kantor, berdiri di depan atasannya. Kecelakaan yang menimpa Mai, partner kerjanya, membuatnya dipasangkan dengan petugas lain. Natsuki sedikit frustrasi karena harus menyesuaikan diri dengan orang lain, she's not good at that. Dibukanya pembungkus hotdog yang barusan dia beli, dalam beberapa kunyahan hotdog tersebut sudah berpindah ke dalam perutnya. Natsuki berjalan menuju kulkas untuk meneguk teh favoritnya. Di pintu kulkas ada magnet berbentuk vespa, oleh-oleh bulan madu Mai dengan Yuichi dari Itali, menindih satu carik potongan surat kabar yang memberitakan kecelakaan Mai dan Yuichi. Belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab terhadap kecelakaan mereka. Yuichi seorang diplomat negara asing dan Mai agen negara, ada alasan dibalik kecelakaan itu yang masih berusaha dijawab para penyidik. Hal ini menyisakan satu kekhawatiran di hati Natsuki, dia takut Mai akan diserang lagi. Lalu dia menyarankan Mai untuk cuti, sampai situasi dapat terbaca. Mai sepakat, tapi Natsuki menebak itu bukan karena idenya. Mai butuh waktu sendiri. Kecelakaan itu merenggut anak dalam kandungannya. Yuichi sendiri mengalami cidera otak yang menyebabkan kesadarannya sempat menurun beberapa hari. Cuti adalah hal paling masuk akal untuk menambal luka fisik dan hati mereka.
Empat puluh lima menit kemudian Natsuki sudah berada di ruang tunggu atasannya. Dua puluh menit sudah dia di sana, tanpa tanda-tanda kemunculan atasannya. Natsuki membuang rokoknya yang kedua, yang masih separuh habis, di asbak milik teman kerjanya. Dia tak biasa merokok, hanya pada keadaan tertentu saat dia gelisah, tertekan atau kesepian. Dan maksimal satu batang sehari. Rupanya pikiran tentang keadaan keluarga Mai dan tentang rekan barunya akan seperti apa membuat kegelisahan Natsuki berlipat-lipat.
Pintu terbuka, Natsuki melihat dua orang masuk, satu atasannya, Yamada, dan satu lagi seorang perempuan berambut coklat. Dalam sekali tatap Natsuki tahu bahwa inilah partner kerja barunya. Perempuan itu tersenyum. Natsuki memaksakan senyum untuk membalasnya.
"Kuga, seperti yang kamu tahu, Mai Tate cuti untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Kami butuh kamu untuk tetap bekerja, namun pekerjaanmu mustahil dilakukan sendiri. Ini Doktor Fujino, partner barumu. Doktor Fujino, ini Doktor Kuga."
"Senang bertemu dengan anda," Shizuru Fujino mengangsurkan tangannya untuk berjabatan dengan tangan Natsuki Kuga. Natsuki menyambutnya. Mereka berdua lalu duduk di depan Yamada.
"Kita punya kasus baru, serangan teroris di Gereja Katolik Distrik 10. Isunya tentang pemecah belahan umat beragama. Bom bunuh diri itu diklaim ditokohi oleh Homura, yang memperjuangkan kebebasan Distrik 10 untuk menjadi negara merdeka bagi pemuja HiME Star. Ajaran HiME Star sendiri muncul di tahun 2004, saat ilmuwan Astronomi menemukan bintang baru yang dari bumi terlihat selalu berada di dekat Bulan. Menurut kabar terakhir Nagi Homura terlihat di subkota Kana, 45 kilometer dari tengah kota Distrik 10."
Natsuki dan Shizuru mempelajari file-file di hadapan mereka sekilas.
"Yang akan kalian lakukan adalah mencegah Nagi Homura melancarkan aksi berikutnya. Kalian, sebagai Behavioral Science Unit ditunjuk untuk mempelajari tokoh kita satu ini. Aku tahu ini unit baru, tapi aku tidak bisa untuk tidak menyandarkan masalah besar ini pada kalian. Aku berharap sangat besar. Aku tahu kemampuanmu, Kuga, dan Doktor Fujino akan memberi bantuan yang besar terhadap itu."
Label:
shiznat
youre my high school babe!
Minggu, 14 Agustus 2011
high school….
is a time where we remember our past, and…
look back on it, hoping that we have nothing to regret.
Because regrets are something we can't afford to have in the future and on this day, the day we graduate from it, we shouldn't have any regrets! We…
..we shouldn't have to regret our decision to not apologize for the mean things we did to other people; all the swirlies and beatings we gave because, we really weren't loved as a child!
I felt bad for those poor kids coming to class with their hair wet every day. They should've just joined the swim team.
And…
We shouldn't regret never saying sorry for being such a stuck-up bitch to everybody because inside, we actually feel that we're worthless.
And…
We don't have to be ashamed, of admitting that we have an eating disorder.
And…
And for not telling even your best friend, who will love you no matter what, that you're gay.
Anyway…You all know who you are, and…
And…and you're not alone! Even…Even I have some things I don't want to regret, like, I don't want to regret, never saying...
For never saying that...I love you B*yyin*t*l Iro*a*i!
is a time where we remember our past, and…
look back on it, hoping that we have nothing to regret.
Because regrets are something we can't afford to have in the future and on this day, the day we graduate from it, we shouldn't have any regrets! We…
..we shouldn't have to regret our decision to not apologize for the mean things we did to other people; all the swirlies and beatings we gave because, we really weren't loved as a child!
I felt bad for those poor kids coming to class with their hair wet every day. They should've just joined the swim team.
And…
We shouldn't regret never saying sorry for being such a stuck-up bitch to everybody because inside, we actually feel that we're worthless.
And…
We don't have to be ashamed, of admitting that we have an eating disorder.
And…
And for not telling even your best friend, who will love you no matter what, that you're gay.
Anyway…You all know who you are, and…
And…and you're not alone! Even…Even I have some things I don't want to regret, like, I don't want to regret, never saying...
For never saying that...I love you B*yyin*t*l Iro*a*i!
how did i fall in love with you -bsb
Rabu, 27 Juli 2011
remember when we never needed each other
the best of friends like sisters and brothers
we understand, we'll never be alone
now that days are gone
and i want you so much
the night is long
and i need your touch
dont know what to say
never meant to feel this way
dont wanna be alone tonight
what can i do to make you mine
falling so hard, so fast this time
what did i say?
what did you do?
how did i fall in love with you
i hear your voice
and i start to tremble
brings back the child
i resemble
i can not pretend
that we can still be friend
dont wanna be alone tonight
i wanna tell you this right
and it has to be tonight
just need you to know
i dont wanna live this life
i dont wanna say goodbye
with you i wanna stand
the rest of my life
everything's changed
we'll never knew how did i fall in love with you...
*remembering my first love
the best of friends like sisters and brothers
we understand, we'll never be alone
now that days are gone
and i want you so much
the night is long
and i need your touch
dont know what to say
never meant to feel this way
dont wanna be alone tonight
what can i do to make you mine
falling so hard, so fast this time
what did i say?
what did you do?
how did i fall in love with you
i hear your voice
and i start to tremble
brings back the child
i resemble
i can not pretend
that we can still be friend
dont wanna be alone tonight
i wanna tell you this right
and it has to be tonight
just need you to know
i dont wanna live this life
i dont wanna say goodbye
with you i wanna stand
the rest of my life
everything's changed
we'll never knew how did i fall in love with you...
*remembering my first love
Label:
shakuntala,
sing a song
sajak rindu?
Kamis, 21 Juli 2011
"dan senja datang mengusik rinduku
berteman angin dan derunya ombak
seakan berbisik tentang cerita cinta
menyibak tirai kerinduan"
ah, sayang, kau gambarkan seperti itu gelisah?
itu gambaranmu tentang rindu?
tak kusoalkan mana yang lebih merindu dari kita
tak jadi masalah apakah aku atau kamu yang lebih tersesat
aku ingin menjadi senja
aku mau menjadi angin,
ombak,
menjadi apapun yang bisa mengerti tentang rindu yang kau bawa
aku ingin menggenangi pipimu dengan butir keharuan
tentang laporan hitungan hari ini aku merindumu
kubuat serupa kurva-kurva manis dan kutuliskan cumbu rayu
di tiap-tiap tabel tengah halaman
kau tak bisa bilang tak cinta padaku
kau yang selalu tanya cintakah aku padamu
berteman angin dan derunya ombak
seakan berbisik tentang cerita cinta
menyibak tirai kerinduan"
ah, sayang, kau gambarkan seperti itu gelisah?
itu gambaranmu tentang rindu?
tak kusoalkan mana yang lebih merindu dari kita
tak jadi masalah apakah aku atau kamu yang lebih tersesat
aku ingin menjadi senja
aku mau menjadi angin,
ombak,
menjadi apapun yang bisa mengerti tentang rindu yang kau bawa
aku ingin menggenangi pipimu dengan butir keharuan
tentang laporan hitungan hari ini aku merindumu
kubuat serupa kurva-kurva manis dan kutuliskan cumbu rayu
di tiap-tiap tabel tengah halaman
kau tak bisa bilang tak cinta padaku
kau yang selalu tanya cintakah aku padamu
Label:
room 311
babe
Rabu, 18 Mei 2011
baby,
sometimes i get tired answering my cell
only to find your voice on the line
baby,
sometimes its hard to get over
things that has brought us here, together
but baby,
not that i dont mind if i lose you
things just out of my control and i feel so weak
i need to wake up, sometime, without you
and i need to cry
i feel myself dying and something kills me inside
oh, baby, i wish you
i wish you
i wish you could set me free from this pain
its tearing up my heart when im with you
but when we are apart i feel it, too
sometimes i get tired answering my cell
only to find your voice on the line
baby,
sometimes its hard to get over
things that has brought us here, together
but baby,
not that i dont mind if i lose you
things just out of my control and i feel so weak
i need to wake up, sometime, without you
and i need to cry
i feel myself dying and something kills me inside
oh, baby, i wish you
i wish you
i wish you could set me free from this pain
its tearing up my heart when im with you
but when we are apart i feel it, too
Label:
perjalanan n1nna
my gentle, crazy heart
for every atom of my craving i
need to hear sweet words of love from thee
set a drift
there are some beautiful scenes
some bring tears
make me down to knees
break down and cry
never thought id see
moment when you come back to my life
for good
good
never felt this dilemma before
it has taken its tool on me
damn
need to hear sweet words of love from thee
set a drift
there are some beautiful scenes
some bring tears
make me down to knees
break down and cry
never thought id see
moment when you come back to my life
for good
good
never felt this dilemma before
it has taken its tool on me
damn
Label:
perjalanan n1nna
perjalanan n1nna 2
Selasa, 22 Februari 2011
ada persimpangan yang berusaha kuputuskan jalan mana yang kupilih. begitu emosional, begitu egois, tapi aku tahu aku ingin jalan yang satu ini. untuk kali ini aku ingin memikirkan diriku sendiri.
its wrong, but yet it feels so right.
tuhan, maafkan aku, ya. kali ini aku ingin memilih jalan yang salah. maaf.
its wrong, but yet it feels so right.
tuhan, maafkan aku, ya. kali ini aku ingin memilih jalan yang salah. maaf.
Label:
perjalanan n1nna
back for good -take that
Selasa, 25 Januari 2011
i guess now is time for me to give up
i feel its time
got a picture of u beside me, got ur lipstick mark still on ur coffee cup
got the first of pure emotion, gotta head of shattered dreams
gotta leave it, gotta leave it all behind, now
unawared but underlined, i figure out this story
it wasnt good
but in the corner of my mind i celebrated glory
but that was not to be
in the twist of separation
u excelled at being free
cant u find a little room inside for me ?
whatever i said, whatever i did, i didnt mean it
i just want u back for good
want u back, want u back, want u back for good
whenever im wrong, please tell me this song
then i'll sing it, u'll be right and understood
want u back, want u back, want u back for good
and we'll be together this time is forever
we'll be fighting and forever we will be so complete
in our love we will never be uncovered again
i guess now is time for u come back for good
i feel its time
got a picture of u beside me, got ur lipstick mark still on ur coffee cup
got the first of pure emotion, gotta head of shattered dreams
gotta leave it, gotta leave it all behind, now
unawared but underlined, i figure out this story
it wasnt good
but in the corner of my mind i celebrated glory
but that was not to be
in the twist of separation
u excelled at being free
cant u find a little room inside for me ?
whatever i said, whatever i did, i didnt mean it
i just want u back for good
want u back, want u back, want u back for good
whenever im wrong, please tell me this song
then i'll sing it, u'll be right and understood
want u back, want u back, want u back for good
and we'll be together this time is forever
we'll be fighting and forever we will be so complete
in our love we will never be uncovered again
i guess now is time for u come back for good
Label:
sing a song
from the bottom of my broken heart -britney spears
Sabtu, 08 Januari 2011
"Never look back," we said
How was I to know I'd miss you so?
Loneliness up ahead, emptiness behind
Where do I go?
And you didn't hear
All my joy through my tears
All my hopes through my fears
Did you know, still I miss you somehow
[CHORUS:]
From the bottom of my broken heart
There's just a thing or two I'd like you to know
You were my first love, you were my true love
From the first kisses to the very last rose
From the bottom of my broken heart
Even though time may find me somebody new
You were my real love, I never knew love
'Til there was you
From the bottom of my broken heart
"Baby," I said, "please stay.
Give our love a chance for one more day"
We could have worked things out
Taking time is what love's all about
But you put a dart
Through my dreams through my heart
And I'm back where I started again
Never thought it would end
[Repeat CHORUS]
You promised yourself
But to somebody else
And you made it so perfectly clear
Still I wish you were here
[Repeat CHORUS]
"Never look back," we said
How was I to know I'd miss you so?
How was I to know I'd miss you so?
Loneliness up ahead, emptiness behind
Where do I go?
And you didn't hear
All my joy through my tears
All my hopes through my fears
Did you know, still I miss you somehow
[CHORUS:]
From the bottom of my broken heart
There's just a thing or two I'd like you to know
You were my first love, you were my true love
From the first kisses to the very last rose
From the bottom of my broken heart
Even though time may find me somebody new
You were my real love, I never knew love
'Til there was you
From the bottom of my broken heart
"Baby," I said, "please stay.
Give our love a chance for one more day"
We could have worked things out
Taking time is what love's all about
But you put a dart
Through my dreams through my heart
And I'm back where I started again
Never thought it would end
[Repeat CHORUS]
You promised yourself
But to somebody else
And you made it so perfectly clear
Still I wish you were here
[Repeat CHORUS]
"Never look back," we said
How was I to know I'd miss you so?
Label:
sing a song
apa yang Tuhan ajarkan
Senin, 03 Januari 2011
Tuhan mengajarkan padaku bahwa segalanya hanyalah milikNya. Maka, aku tidak takut untuk kehilanganmu. Bagaimana aku bisa merasa kehilangan atas sesuatu yang tak pernah kumiliki ? Sesungguhnya Tuhan mengajarkanku demikian agar aku tak terluka.
wondering
wondering bout you sends a specific pain to my chest
I feel numb to my arm by its ruthness
then I'm gasping for some air of truth
it feels like an ulcer in my stomach
driving me mad by its pain
I can't eat, I can't sleep, I can't even to wake up from my bed
I feel numb to my arm by its ruthness
then I'm gasping for some air of truth
it feels like an ulcer in my stomach
driving me mad by its pain
I can't eat, I can't sleep, I can't even to wake up from my bed
Label:
shakuntala,
tala134
Langganan:
Postingan (Atom)
