welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

Emotional Affair

Kamis, 24 Mei 2012

Patah hati? Semua mengalaminya. Di suatu titik perjalanan hidup, dengan beberapa kali patah hati, seseorang bisa menoleh ke belakang merunuti kisah-kisahnya. Lalu memberi ramuan beberapa sudut pandang dan berbagai situasi yang mendewasakannya. Sehingga seperti membaca sebuah buku, ia bisa menyerap makna sambil belajar dari keping-keping hidupnya sendiri.

"I can see the pain living in your eyes
and I know how hard you try
you deserve to have so much more.

I can feel your heart and I sympathize
and I'll never criticize all you've ever meant to my life."

Barangkali harapan yang sama, yaitu belajar menjadi besar, juga dimiliki oleh mantan kekasihku saat mengantarku di terminal bus setelah kami memutuskan jalan sendiri-sendiri. Aku tak lagi berusaha merubahnya menjadi siapa yang aku mau, dia tak bisa merubahku menjadi siapa yang dia mau. Barangkali kami masih terlalu muda dan idealis, atau menuntut banyak.

Frustrasi dengan waktu bersama yang begitu sedikit karena long distance relationship (LDR). Juga kehadiran orang-orang baru yang bisa dibau dan dirasakan kehangatannya, menjadikan jenuh akan LDR semakin menjadi-jadi. Alasan yang tepatkah untuk si mantan menjadi jatuh cinta lagi selain kepadaku? Memulai hubungan baru tapi terlalu takut mengakhiri hubungan denganku dengan alasan yang dibuat-buat, lebih memilih sembunyi-sembunyi, meski akhirnya ketahuan.

Apa orang lupa, ada benang merah yang tercipta antara sepasang kekasih, yang dengan ajaib menghubungkan satu dengan yang lain. Perubahan sekecil apapun, termasuk arahnya cinta, dapat dilihat kekasih seakan dia memiliki mata yang mengawasi tiap gerak-gerik.

Aku selalu merasa, dialah yang bersalah, membuatku merasa tidak tenang di saat-saat aku menantinya, dia menantiku. Membuatku marah untuk alasan yang tidak kuketahui. Saat dia mulai bermain tidak jujur, betapa semua itu membuat segalanya berantakan. Pertengkaran demi pertengkaran lewat telepon dan teks tidak terhindarkan.

Yang terlewatkan olehku adalah akupun tak jarang terpikat orang baru. Rasa rindu yang tak pernah tuntas, perempuan-perempuan yang bermaksud baik menabahkan penantianku, yang mimik wajahnya yang simpatik turut bicara seperti manis kata-kata yang keluar dari bibirnya. Aku tercekat oleh perhatian di sekitarku. Barangkali justru dari sinilah bencana bermula. Aku tak merasa salah dengan menjadi akrab dengan beberapa perempuan. Menjadi karib dan bukannya tak tertarik, juga merasa tenang dengan berada dekat dan rindu. Komunikasi yang terjalin lebih bervariasi dan ceria, frekuensinya lebih sering daripada dengan si mantan.

Apa aku lupa, ada yang dinamakan emotional affair. Di detik aku menulis inipun aku masih enggan mengakui kemungkinan terjadinya hal satu itu di antara aku dengan mantan saat kami masih berpasangan. Dalam hati ada rasa enggan yang mungkin efek dari aku yang merasionalkan tindakanku setelah apa yang dilakukan mantan di belakangku. Pertanyaan lain bergulir, apakah bisa disebut selingkuh tanpa kontak fisik atau kebohongan (semacam pernyataan tertulis atau tidak, "aku single," atau, "aku nggak menduakanmu"), sehingga bisa membenarkan perbuatanku?

"I dont wanna let you down
I dont wanna lead you on
I dont wanna hold you back from where you might belong."

Setiap orang punya batas, kami merasa itu telah terlampaui. Ada hal yang kucintai dari mantanku, seperti halnya yang tak kusukai. Dan dalam mencintai sesama perempuan, ada hal-hal lain selain cinta untuk diperhatikan dan diperjuangkan. Barangkali kami masih terlalu muda, idealis dan penuntut. Mengatakan saat perpisahan, "cinta tidak harus saling memiliki," supaya ingat waktu kami saling mencintai dan berkorban. Ingatan yang bisa mengembangkan senyumku seperti teringat senyum manisnya.

Barangkali di terminal bus itu dia berdoa dalam hati, agar aku senantiasa belajar dan melangkah terus maju ke depan. Hanya melihat masa lalu sebagai lembar-lembar pembelajaran yang menguatkan. Apa yang tak berhasil membunuh kita justru akan membuat kita semakin kuat, kan? Dari patah hati olehnya, dan beberapa orang lain, aku belajar, cinta bukan perkara memiliki. Cinta melulu soal kekuatan. Cintanya telah menguatkanku selepasnya, membawaku melangkahi satu demi satu anak tangga menuju awal mula baru.

Maka saat kudengar suara Air Supply yang mengalun sedih,
"You deserve a change at the kind of love
I'm not sure I'm worthy of
Losing you is painful to me,"
yang kudengar seolah doa dari dia yang pernah mencintaiku. Yang menyemangati untuk terus maju dan maju. Kini aku masih terus menapaki tiap anak tangga, terima kasih kepadanya. Dalam perjalananku bersama pasanganku saat ini, sedang memupuk kebahagiaan dan masa depan, aku ingin dia tahu bahwa dia adalah keping pembelajaran penting dalam hidupku. Menjadikanku perempuan terhormat yang berharga dan tangguh. Dan tangis yang mengalir sejalan dengan lagu ini adalah tangis bahagia.
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates