Destiny is a strange divine.
No, it's not a person's name. I was totally amazed by a chance meeting. Or, to be more exact, a chance chatting.
I had my first love contact on my Blackberry. I thought she had just went to France and put her picture with the Eiffel as her background in the profile photo. I didn't notice it before, I had stopped stalk her years ago. It turned out to be her 2012 or 2013 pics.
So, we chatted. Nothing more.
I told myself that day, what happen to the Aries? I am an Aries, two of my best friends are, too. And one of my ex. That day, we all got a message from our exes, ex lover or someone we loved in the past. My friends and ex told me that two of her exes messaged/called her.
It was eleven P.M., a rather inconvenient time to chat with a housewife. I was just finished my visit and waiting for the rain (I'm riding a motorcycle). Suddenly I got a message from her. That she wanted to add me to her Blackberry Messenger contact. I asked why, because I had already had her as mine. She told me she got a new cell.
It seems like everybody moving to android.
She told me she missed me so much. I said, yeah, you missed everybody, too. I was not that special, the last one I only added it in my mind.
I wondered, how can I be so in love with her for, like, five or seven years? It is something I can crush easily, right now. As though she doesn't even exist. It was so weird to have a conversation with her, like she was a total stranger, a stranger with memory. But there was a trace of carefulness in my part, as if I still cared about her.
I just don't love her like I did yesterday. Aries do not love those who can't love her.
She was just a part of distant memories. I cherish every bit of 'em, but I don't want her in my life right now. We're fine this way, with her in my rear view mirror.
Tampilkan postingan dengan label tjumalalu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tjumalalu. Tampilkan semua postingan
Aries(es) Do Not Love Those Who Can Not Love Her
Senin, 24 Maret 2014
Label:
afternoon tea,
perjalanan n1nna,
tjumalalu
andin2
Selasa, 04 September 2012
aku tidak ingat namanya andin atau andhin.
tapi aku ingat rasanya patah hati karena orang bernama itu.
""ah, the night...here it comes again"
its on with the jeans, the jacket and the shirt"
bukan, dia bukan tipe yang menggunakan jaket jins dan t-shirt. dia perempuan yang betul-betul bangga dengan keperempuanannya dan daya tarik itu dia manfaatkan dengan cerdik. persuasif dan manipulatif, khas perempuan jawa, yang juga selalu dia banggakan.
"howd i end up feeling so bad
for such a little girl"
dan dia cumalah adik kelas biasa kalau aku tak pernah single saat itu. dan aku takkan tahu betapa posesif, childish, cerdas, katolik nggak beres dan cewek jawanya dia.
"and i hold you close in the back of my mind
feels so good but damn it makes me hurt"
tapi aku ingat rasanya patah hati karena orang bernama itu.
""ah, the night...here it comes again"
its on with the jeans, the jacket and the shirt"
bukan, dia bukan tipe yang menggunakan jaket jins dan t-shirt. dia perempuan yang betul-betul bangga dengan keperempuanannya dan daya tarik itu dia manfaatkan dengan cerdik. persuasif dan manipulatif, khas perempuan jawa, yang juga selalu dia banggakan.
"howd i end up feeling so bad
for such a little girl"
dan dia cumalah adik kelas biasa kalau aku tak pernah single saat itu. dan aku takkan tahu betapa posesif, childish, cerdas, katolik nggak beres dan cewek jawanya dia.
"and i hold you close in the back of my mind
feels so good but damn it makes me hurt"
dan kenangan-kenangan bersamanya tidak akan berubah menyakitkan jika kami cuma sekedar kenal wajah dan nama. tidak akan ada rasa sakit saat melihatnya berjalan bersama teman kami, di saat bersamaan dia masih main mata denganku.
"and im too scared to know how i feel about you now
la cienega just smiled, "see ya around""
memang kami tak melewati perpisahan yang rumit, hanya saling sepakat menyudahi hubungan dan kami tahu satu sama lain pasti akan bertemu lagi.
sebelum aku tahu ternyata dia menghindariku dan kami takkan jumpa lagi. setidaknya tidak dalam dua tahun ke depan, saat dia menemani pasangan hidupnya di belahan lain dari bumi ini, yang memisah hingga dua belas jam mundur dari waktu indonesia barat.
"and raise my glass coz either way im dead
neither of you really help me to sleep anymore
one breaks my body and the other breaks my soul
la cienega just smiles as it waves goodbye"*
barangkali dua tahun ke depan aku bakal melihat senyumnya lagi, senyum yang memaafkan cerita kami di masa lalu, karena dia bilang belum memaafkanku. bukankah dia selalu tersenyum untuk hal pahit sekalipun? di saat itu pula aku ingin dia mengajariku tersenyum. dia dengan julukan yang dia beri sendiri, si cewek jawa, yang dia banggakan dan adat senyumnya. duh, ndin atau ndhin, tak tahukah kamu kalau aku punya satu lagu country khusus untuk mengenangmu?
*lagu la cienega just smile
"and im too scared to know how i feel about you now
la cienega just smiled, "see ya around""
memang kami tak melewati perpisahan yang rumit, hanya saling sepakat menyudahi hubungan dan kami tahu satu sama lain pasti akan bertemu lagi.
sebelum aku tahu ternyata dia menghindariku dan kami takkan jumpa lagi. setidaknya tidak dalam dua tahun ke depan, saat dia menemani pasangan hidupnya di belahan lain dari bumi ini, yang memisah hingga dua belas jam mundur dari waktu indonesia barat.
"and raise my glass coz either way im dead
neither of you really help me to sleep anymore
one breaks my body and the other breaks my soul
la cienega just smiles as it waves goodbye"*
barangkali dua tahun ke depan aku bakal melihat senyumnya lagi, senyum yang memaafkan cerita kami di masa lalu, karena dia bilang belum memaafkanku. bukankah dia selalu tersenyum untuk hal pahit sekalipun? di saat itu pula aku ingin dia mengajariku tersenyum. dia dengan julukan yang dia beri sendiri, si cewek jawa, yang dia banggakan dan adat senyumnya. duh, ndin atau ndhin, tak tahukah kamu kalau aku punya satu lagu country khusus untuk mengenangmu?
*lagu la cienega just smile
kita
Rabu, 08 Februari 2012
tak peduli betapa manisnya diksi untuk menggambarkanku
aku cuma seseorang di masa lalu
kau hanyalah kenanganku
sebagian ada yang kuingat dari mencintaimu
sebagian besar lupa
rasa manisnya masih kubawa
yang pedih telah diurai airmata
cinta tak jadi perjalanan akhir kita
biarlah begitu
biar saja membiru
cintai dia yang kini bersamamu
aku cuma seseorang di masa lalu
kau hanyalah kenanganku
sebagian ada yang kuingat dari mencintaimu
sebagian besar lupa
rasa manisnya masih kubawa
yang pedih telah diurai airmata
cinta tak jadi perjalanan akhir kita
biarlah begitu
biar saja membiru
cintai dia yang kini bersamamu
youre my high school babe!
Minggu, 14 Agustus 2011
high school….
is a time where we remember our past, and…
look back on it, hoping that we have nothing to regret.
Because regrets are something we can't afford to have in the future and on this day, the day we graduate from it, we shouldn't have any regrets! We…
..we shouldn't have to regret our decision to not apologize for the mean things we did to other people; all the swirlies and beatings we gave because, we really weren't loved as a child!
I felt bad for those poor kids coming to class with their hair wet every day. They should've just joined the swim team.
And…
We shouldn't regret never saying sorry for being such a stuck-up bitch to everybody because inside, we actually feel that we're worthless.
And…
We don't have to be ashamed, of admitting that we have an eating disorder.
And…
And for not telling even your best friend, who will love you no matter what, that you're gay.
Anyway…You all know who you are, and…
And…and you're not alone! Even…Even I have some things I don't want to regret, like, I don't want to regret, never saying...
For never saying that...I love you B*yyin*t*l Iro*a*i!
is a time where we remember our past, and…
look back on it, hoping that we have nothing to regret.
Because regrets are something we can't afford to have in the future and on this day, the day we graduate from it, we shouldn't have any regrets! We…
..we shouldn't have to regret our decision to not apologize for the mean things we did to other people; all the swirlies and beatings we gave because, we really weren't loved as a child!
I felt bad for those poor kids coming to class with their hair wet every day. They should've just joined the swim team.
And…
We shouldn't regret never saying sorry for being such a stuck-up bitch to everybody because inside, we actually feel that we're worthless.
And…
We don't have to be ashamed, of admitting that we have an eating disorder.
And…
And for not telling even your best friend, who will love you no matter what, that you're gay.
Anyway…You all know who you are, and…
And…and you're not alone! Even…Even I have some things I don't want to regret, like, I don't want to regret, never saying...
For never saying that...I love you B*yyin*t*l Iro*a*i!
yang tak kamu tahu
Selasa, 13 Juli 2010
kamu tidak tahu betapa aku cinta padamu. tawang, oktober tahun lalu, juni tahun ini.
hanya dengan sekali lihat pada gerombolan orang-orang itu, aku telah tahu kau ada atau tidak diantaranya. aku selalu bisa menangkap sosokmu.
lalu aku cuma menatapmu, berusaha menahan keinginan buat berlari ke arahmu untuk memelukmu. dan aku makin merasa kalau rasa ingin itu tak bisa kubendung lagi ketika kau tersenyum padaku dan aku tak sanggup berkata-kata lagi. ingin berlari ke arahmu, memelukmu, mengatakan bahwa aku mencintaimu
...tapi itu dulu.
21092004
hanya dengan sekali lihat pada gerombolan orang-orang itu, aku telah tahu kau ada atau tidak diantaranya. aku selalu bisa menangkap sosokmu.
lalu aku cuma menatapmu, berusaha menahan keinginan buat berlari ke arahmu untuk memelukmu. dan aku makin merasa kalau rasa ingin itu tak bisa kubendung lagi ketika kau tersenyum padaku dan aku tak sanggup berkata-kata lagi. ingin berlari ke arahmu, memelukmu, mengatakan bahwa aku mencintaimu
...tapi itu dulu.
21092004
apa yang kau yakini
Kamis, 08 Juli 2010

kau selalu sibuk
meyakinkan orang-orang bahkan dirimu sendiri
akan cintamu padaku
tanpa sadar ternyata ada hal lain darimu
yang sanggup menembakku mati
memusnahkan rasa yang seharusnya ada
dengan seketika
(though they say temptation destroyed our love)
perjalanan 2

namun perjalanan pagiku terhenti
saat di ujung jalan kudapati dia
tak lagi sendiri
hanya bingkai-bingkai kereta pada kota-
kota yang terlewati
kudapati gambaran sepi
tentang lara hati
seperti kota mati
tubuhku menggigil di musim panas yang panjang
lidahku kelu, jiwaku melayang tak pasti
seperti mengingkari kenyataan yang
baru kudapati
seperti deja vu tentang luka
dan angin seperti menari seperti bernyanyi
tentang kebodohanku
dalam mencintainya. kulihat di jendela kereta.
yang kudengar,
"when a man loves a woman
if she is playing him for a fool
he is the last one to know"
maka aku cuma ingin menangis
saat tak bisa lagi menangis
perjalanan

keretaku tiba pagi itu
pada sebuah gedung asing
dengan rongga raksasa di dalamnya
dan dua pintu tanpa gerbang
samar kudengar denting alarm
dari penanda kereta tiba
langkahku perlahan menyusuri
gerbong kereta yang sepi
seperti kisah sedih yang diceritakan
clara ng tentang kematian seorang nenek
kuikuti tubuh-tubuh asing
mencari pintu keluar
yang tak kutahu di mana
di ujung jalan akan kutemukan
perempuanku
katanya di sana dia menunggu
bertanya dalam hati
masihkah dia perempuanku yang sama ?
jaringan parut
Sabtu, 03 Juli 2010

"Siapa cinta pertamamu ?", tanya seorang teman di tengah bingarnya Plasa Royal minggu malam itu. Aku tertegun sejenak. Pertanyaan itu terasa sama asingnya dengan cuaca Surabaya yang dingin malam itu, yang kusadari saat aku mengendarai mioku menuju plasa ini. Kutatap makananku yang tinggal separuh, pura-pura berpikir sambil meneguk segelas Teh Gopek dingin. Tentu ada satu nama yang muncul di kepalaku. Satu wajah yang familier tapi sekarang terasa asing. Tatapanku seperti fokus tapi pikiranku melayang ke masa itu, sepuluh tahun yang lalu, saat aku jatuh cinta pada seseorang yang benar-benar out of my league.
Aku masih ingat kacamatanya yang tak berbingkai, yang kubeli serupa bertahun-tahun sesudahnya tapi jarang kukenakan karena tidak pantas dengan wajahku. Aku masih ingat dengan kebiasaannya mengerutkan bibir saat berkonsentrasi, IQnya yang Very Superior Intelligence, warna iris matanya yang memudar di pinggirannya, jam tangan logam putih, tulisan tangan yang khas, pipinya yang penuh dan menggemaskan, suaranya yang khas, dialeknya, bau pemutih di seragamnya, begitu banyak yang bisa kuingat darinya meski cuma pusel-pusel yang tak lengkap. Dalam beberapa tahun aku akrab dan merekam semua tentangnya di benakku, kubawa di tahun-tahun sesudahnya. Di ingatanku dia tak menua, tak berubah. Semua terhenti di detik perpisahan dan dia tak tumbuh, tak menikah, tak mencintai orang lain. Itu di ingatanku.
Ada banyak hal yang kupelajari dari mencintainya. Sesuatu yang membiarkanku tumbuh dalam rasa aman sekaligus tidak aman. Sesuatu yang menuntunku menjadi aku yang sekarang. Aku yang dibenci diriku sendiri, sekaligus dicintai oleh diriku sendiri.
"Kamu," jawabku sambil tersenyum menggoda. Teman yang bertanya itu menjadi merah muka. Saat itu kudapati diriku meraba satu ruang yang sudah tertutup yang pintunya berupa celah kecil yang juga telah tertutup, berwarna lebih pucat daripada tempat lain di hatiku. Jaringan parut yang tak nyeri lagi.
~inspired by : vilkacis
Label:
tjumalalu,
yang menetas di kepala
laki-laki 3 jam dari surabaya
Rabu, 23 Juni 2010

di antara semua laki-laki di seluruh dunia, cuma satu yang kuharapkan tidak akan kutemui di tempat 3 jam dari surabaya ini.
itulah. sometimes i know im wishing too much. jadinya aku malah ketemu orang itu di sini.
aku tidak menyapanya. tidak pula berpura-pura kenal dia, setelah sekian lama kupikir aku mengenalnya.
orang itu, guru saat aku sma. setidaknya orang lain tahunya begitu.
aku ingat aku begitu menyukai gayanya saat menerangkan di depan kelas, dasinya yang selalu langsing --dasi yang baru ngetren di tahun-tahun terakhir ini-. aku menyukai gayanya saat membenahi kacamata tanpa bingkainya, senyum berlesung pipit di kedua pipinya yang penuh.
aku juga suka mengamati tangannya saat dia menulis di hadapanku, saat dia memberiku pelajaran ekstra saat nilaiku jelek (dan nilaiku tetap terus menerus jelek supaya dapat pelajaran ekstra darinya).
orang itu hanya orang biasa-biasa.
lalu kutulis pada diariku saat itu...i met someone and i fell in love.
aku lupa seberapa sering dia melindungiku agar tidak masuk ruangan BP. aku lupa berapa pelajaran ekstra dia berikan untuk mengangkat nilai-nilaiku.
yang kuingat, aku jadi banyak menghabiskan waktu dengannya. di kelas, saat orang-orang telah mengosongkannya, di kantin saat kami berdua mendadak lapar atau bosan berada di kelas. aku biasa telat agar ditahan di depan pagar sekolah saat dia jaga piket menghukum anak-anak telat (bahkan orang tuaku hampir dipanggil kalau aku telat lagi). di sekolahku dulu diharuskan menulis kata-kata penyesalan sebanyak x lembar. x adalah berapa hari murid yang dihukum telat dalam cawu itu. kalau hari itu adalah kali ke 7 murid itu telat maka dia wajib menulis 7 lembar kata-kata penyesalan. biasanya aku sudah membuatnya sendiri di rumah, lalu tinggal menulis satu lembar di sana, hahaha.
kadang dia diam-diam membantuku menulis kata-kata penyesalan itu.
sometimes i become an ordinary girl.
saat itu aku merasa dia banyak membantuku. aku jadi punya banyak mimpi karena dia. seperti perempuan-perempuan dalam film superhero, perempuan itu jatuh hati pada hero yang menyelamatkannya. akupun.
dan kupikir aku mengenalnya.
aku salah.
tak pernah kulihat cincin di jari manis tangan kirinya. sebab cincin itu memang tak pernah ada meski ternyata dia milik orang lain. always belong to someone else.
sometimes we all are wishing too much.
beberapa tahun selepas sma aku mendengarnya bercerai dengan istrinya beberapa bulan setelah aku memutuskan komunikasi kami. beberapa saat kemudian kudengar dia menikah lagi dan beristri bukan orang surabaya. orang 3 jam dari surabaya. kudengar dia sekarang tinggal di surabaya dan banyak hal lain. kudengar dari yahoo messenger nya yang sering memberi kabar di nimbuzz ku.
aku tidak mungkin lupa hari terakhir di mana aku memutuskan untuk tidak lagi memiliki pelajaran ekstra dengannya dan tidak akan telat lagi saat hari piketnya.
aku tidak mungkin lupa hari di mana aku menutup cerita dengannya dan hari-hari di mana kami melihat drive-in di ajbs, senja di spionnya dan cerita yang mengalir dari mulut kami masing-masing. meski aku telah melupakan pernah mncintainya.
Label:
tjumalalu,
yang menetas di kepala
gerhana
Senin, 21 Juni 2010

Ada hari yang seperti gerhana matahari bagiku. Gelap total. Menggores pedih yang familier. Yang kuingat adalah gambaran tentangmu sebelum cahaya terblokir semuanya. Yang kuingat tentangmu terhenti seketika itu juga. Manis dan pahit. Perasaan campur aduk yang kuakrabi. Semua tentangmu terhenti seketika itu. Hanya itu yang bisa kuingat darimu. Selebihnya gelap.
Itulah saat aku ingat tentangmu di suatu pagi. Seperti gerhana matahari pula. semuanya gelap. Hanya kau yang bercahaya. Hanya kau yang bercahaya terang. Tapi, masih, segalamu berhenti di saat itu. Rambutmu dengan panjang yang sama, Senyummu dengan kerutan kulit yang sama. Seperti gerhana matahari-gerhana matahari lain di waktu-waktu yang lain tentangmu. Mengingatmu akan membuatku nyengir seharian dan membuatku lupa yang lain. Hanya total padamu. Aku selalu memujamu bahkan untuk hal-hal yang tak kusuka tentangmu.
--sayang, ntar jadi/nggak ? -sms diterima
--iya, donk. ini kan tahun ke4 kita bersama -sms dikirim
Lamunanku terhenti sebentar untuk membalas sms. Bumi, perempuan yang selama empat tahun ini bersamaku. Aku mengenalnya enam tahun yang lalu, di kedai yang dulu sering kita gunakan untuk menghabiskan malam demi mengenyangkan perutku yang selalu kelaparan. Aku duduk di pojok sendiri, di antara teman-teman sesama L yang bercengkerama satu sama lain. Saat itu aku tidak bersama siapapun dan tiba-tiba dia menghampiriku, menawarkan botol yang katanya dia beli berlebih.
Dari situlah, akhirnya kami dekat satu sama lain. Aku mulai membuka hatiku dan diapun berusaha memasukinya. Dua tahun setelahnya kuputuskan untuk menerima tawaran tinggal bersamanya dan kami pindah ke tempat baru. Dan kami semakin kuat dalam empat tahun ini.
Jauh di lubuk hatiku aku tahu dia tahu bahwa aku tak pernah bisa melupakanmu. Meski mulutku telah terbiasa menyebut namanya dengan panggilan dan kata-kata yang paling mesra, aku tahu dia tahu bahwa aku tak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu. Terlebih di hari bergerhana matahari. Hari di mana dia akan membiarkanku sendiri dan tak menggangguku. Hari di mana aku hanya bisa melihatmu karena kau satu-satunya yang bercahaya, yang lain tak nampak. Tapi aku tidak ingin hari ini menjadi hari gerhana, tidak di hari di mana aku merayakan tahun ke empatku dengan Bumi.
Aku tak bisa berkutik saat Monik tiba-tiba menghampiriku di restoran itu. rRstoran di mana aku dan Bumi merayakan tahun ke empat kami. Biasanya aku lebih memilih untuk merayakannya di rumah, tapi entah hari ini tiba-tiba kami memutuskan untuk makan di luar. Di sana kami bertemu Monik, temanmu. Teman baikmu setelah aku. Rupanya Monik tahu tentang siapa Bumi bagiku dan dia tak menyinggung tentang kau sama sekali di depannya.
Tapi setelah Bumi pamit untuk ke toilet, Monik mengatakan tentang kabarmu bahwa dia bertemu denganmu hari ini, bahwa kali ini kau bermaksud untuk kembali tinggal di kota ini. Di kota yang sama denganku. Hatiku berdegup lebih keras dan lebih cepat dari biasanya. Lebih keras dan lebih cepat dari yang bisa dibuat oleh Bumi di malam-malam dia tawarkan kehangatannya padaku. Lebih jauh. Aku berusaha menetralisir debaranku dengan seteguk minuman. Gerhana matahariku tiba kembali. Monik bilang kau mempunyai rencana untuk mengumpulkan teman-teman kembali, untuk reuni kecil, dan bahwa kau mengundangku datang bersama pasangan.
Sudah berapa lama, ini ? Sudah berapa lama sejak aku tak melihatmu ? Sejak kita memilih jalan sendiri-sendiri dan kau pilih jalan yang lebih menjanjikan cahaya matahari. Kau sibuk keliri mimpi dengan crayon warna-warni. Aku harus akui, kau begitu mumpuni dengan jalan yang kau pilih itu. Tiba-tiba kau harus pergi dan hubungan kita berakhir di situ. Delapan tahun sesudahnya, rasa sakit itu masih ada, mengakrabiku dengan kepedihan yang familier. Cinta Bumi begitu besar, begitu menyembuhkan, tapi dia bukan kau sementara yang kuinginkan adalah kau. Meski aku begitu menyayanginya tapi aku menginginkan orang lain. Dan keinginan itu tak berhasil kuredam. Tak berhasil kupadamkan. Kabar tentangmu kudapatkan dari teman-teman perlahan-lahan. Sekali, dua kali. Lebih jarang daripada hari-hari bergerhana matahariku.
Akhirnya aku memang harus menghadapimu lagi. Tapi Bumi menggenggam tanganku, kini. Aku tersenyum menoleh ke arahnya sambil mencium bibirnya sekilas. Jelas aku yang paling tegang di pertemuan ini.
Kulihat kau berubah kini. Tak banyak. Tapi cukup berbeda dari gambaranku pada hari dengan gerhana matahari. Tentangmu benar-benar gerhana matahari bagiku. Kini matahari perlahan terbuka kembali, menampilkan cahaya yang lebih hangat. Kau tampak lebih dewasa. Lebih matang. Kematangan membuatmu jauh lebih menarik.
Aku tak bisa mengingkari pesonamu. Mataku tak henti mengekorimu. Jantungku tak henti berdebar-debar liar. Kulihat Bumi menemukan seorang temannya dan berbincang dengannya. Di saat itulah kau menghampiriku, hampir mematikan jantungku karena terlalu cepat memompa. Tubuhku bereaksi aneh saat kau memberiku pelukan bersahabat.
Tiba-tiba aku terjaga dari mimpi tentang masa lalu. Kupalingkan wajah dan kudapati pemandangan paling indah di dunia ini. Tubuh telanjangmu ditempa cahaya bulan, dengan selimut yang hanya menutup separuh tubuhmu. Matamu terpejam, dengan mulut yang sedikit terbuka dan tubuhmu miring menghadapku. Harus kuakui aku menyukai tubuhmu, meskipun itu bukanlah alasan mengapa aku bersamamu. Kadang aku terkejut sendiri, saat memelukmu, betapa menyenangkan rasanya.
Kau menarikku ke tempat lain setelah memberiku pelukan bersahabat itu, pelukan yang kukira bersahabat itu, ke suatu tempat dengan sedikit orang, yang orang-orangnya tidak kukenal.
Kau tawarkan padaku segelas air minum sementara kau menikmati gelas lain sambil mempersilahkan duduk. Aku berdiri saja saat itu dan kikuk meresponmu. Kulihat kau tersenyum, senyuman paling misterius yang pernah kudapatkan darimu.
Kau bercerita tentang keadaanmu. Aku berbagi cerita tentang keadaanku. dan kau mengundangku sekali lagi untuk datang ke rumahmu lusa.
Kali kedua aku bertemu denganmu, jantungku masih belum letih memompa keras dan cepat. Debaran-debaran yang tak kudapatkan dari Bumi, yang dengan gamblang membenarkan perselingkuhan hatiku, tak bisa kukontrol apalagi kuajak kompromi. Tapi sepertinya semakin kikuk aku, semakin senang dirimu. Kali ini aku datang saat kau baru pulang kerja. Red high heels, you come as you are. Aku tidak terlalu suka dengan perempuan ber-high heels, tapi kau tak pernah tidak menjadi dirimu sendiri dan selalu melakukan apa yang kau suka dengan bebas, gamblang, jujur dan membuatku tak keberatan menerimamu apa adanya. Malah, kau begitu menarik bagiku.
Kau tawarkan padaku sesuatu yang membuatku gelisah berminggu-minggu setelahnya.
Bumi memberiku banyak hal yang begitu kuinginkan dalam hidup ini. Cinta, kesetiaan, rasa aman. Bersamamu, aku terlalu takut kehilangan. Toh, akhirnya aku kehilangan dirimu delapan tahun yang lalu.
Tapi saat kau tawarkan hal itu, aku tidak bisa untuk tidak tergoda. Untuk meninggalkan Bumi dan kembali padamu. Kau tak pernah menawarkan padaku hal yang berlebihan, bahkan kau tidak menjanjikan apa-apa. Tidak pula kau janjikan cinta yang selamanya. Tapi dari satu hal yang kau tawarkan, ada satu hal yang paling kuinginkan. Satu hal yang membuatku ragu untuk menjalani hidup bersama Bumi: cintamu. Meski apa yang terjadi delapan tahun lalu bisa terjadi kembali saat kau meninggalkanku, tapi tak bisa kusangkal kalau aku begitu menginginkan cintamu. Aku tidak mengerti dengan ketidaklogisanku tentang dirimu. Meski Bumi memberiku segalanya dan terbukti menepati janjinya, aku yang tak bisa menepati janjiku.
Kurangkul pinggangmu, mendekatkan diri.
Kau terbangun, membuka mata sedikit dan bergerak makin menutup jarak antara tubuh kita. Tubuhmu hangat. Tubuhku panas katamu. Aku tersenyum saat satu tanganmu menangkup satu sisi payudaraku, saat kau berikan sentuhan ringan di sepanjang tulang belakangku.
Melihat Bumi sekarang, aku merasa bersyukur meninggalkannya untuk bersamamu. Sebab dia temukan seseorang yang jauh lebih baik dariku dalam mencintainya. Mengetahui betapa stabilnya kehidupannya sekarang membuatku semakin yakin keputusanku tepat meski awalnya menyakitkan. Dan egois. Tapi bila aku memaksakan diri untuk memilih Bumi, tidakkah aku akan lebih egois bila membuatnya tetap mencintaiku tanpa bisa memberi timbal balik yang serupa, malah mencintai orang lain.
"Tinggalkan Bumi, kembalilah padaku," katamu saat itu.
Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kata-katamu itu. Ataupun hidupku bila aku masih dengan Bumi sampai saat ini. Aku sangat menghargai bhoomi dalam hidupku, yang mengajarkanku banyak hal manis dan pahit, maka dengan melepaskannya agar dia bahagialah ungkapan terima kasihku sebab aku tak bisa mencintainya dan tak bisa membuatnya bahagia.
Dan karena kau adalah terang, maka Bumi pun tak bisa terlihat karena hilang dalam terangmu. Kini hari-hari bergerhana matahariku lenyap entah di mana. Kini aku bisa melihatmu seperti halnya yang lain.
Bumi berteman denganmu lebih dekat daripada aku dengannya. Aneh, tapi kau selalu begitu. Ajaib. Kau katakan padaku betapa beruntungnya aku jika memilih Bumi daripada memilihmu.
"Tidak. Aku beruntung memilikimu," kataku.
"Oh, ya ?" katamu sambil menaikkan alis kirimu.
Kau ajarkan padaku lebih banyak hal, batinku. Cinta. Memaafkan. Tentang salah untuk diperbaiki dan kejujuran. Bahwa untuk diberi maaf kita harus percaya bahwa kita berdosa. Dan kejujuran itu membawa aku dan Bumi pada akhir yang bahagia.
Aku tersenyum sendiri dan aku bersyukur untuk cintamu. Untuk alasan apapun aku mencintaimu, minha sol bonita.
Label:
tjumalalu,
yang menetas di kepala
Langganan:
Postingan (Atom)
