
di antara semua laki-laki di seluruh dunia, cuma satu yang kuharapkan tidak akan kutemui di tempat 3 jam dari surabaya ini.
itulah. sometimes i know im wishing too much. jadinya aku malah ketemu orang itu di sini.
aku tidak menyapanya. tidak pula berpura-pura kenal dia, setelah sekian lama kupikir aku mengenalnya.
orang itu, guru saat aku sma. setidaknya orang lain tahunya begitu.
aku ingat aku begitu menyukai gayanya saat menerangkan di depan kelas, dasinya yang selalu langsing --dasi yang baru ngetren di tahun-tahun terakhir ini-. aku menyukai gayanya saat membenahi kacamata tanpa bingkainya, senyum berlesung pipit di kedua pipinya yang penuh.
aku juga suka mengamati tangannya saat dia menulis di hadapanku, saat dia memberiku pelajaran ekstra saat nilaiku jelek (dan nilaiku tetap terus menerus jelek supaya dapat pelajaran ekstra darinya).
orang itu hanya orang biasa-biasa.
lalu kutulis pada diariku saat itu...i met someone and i fell in love.
aku lupa seberapa sering dia melindungiku agar tidak masuk ruangan BP. aku lupa berapa pelajaran ekstra dia berikan untuk mengangkat nilai-nilaiku.
yang kuingat, aku jadi banyak menghabiskan waktu dengannya. di kelas, saat orang-orang telah mengosongkannya, di kantin saat kami berdua mendadak lapar atau bosan berada di kelas. aku biasa telat agar ditahan di depan pagar sekolah saat dia jaga piket menghukum anak-anak telat (bahkan orang tuaku hampir dipanggil kalau aku telat lagi). di sekolahku dulu diharuskan menulis kata-kata penyesalan sebanyak x lembar. x adalah berapa hari murid yang dihukum telat dalam cawu itu. kalau hari itu adalah kali ke 7 murid itu telat maka dia wajib menulis 7 lembar kata-kata penyesalan. biasanya aku sudah membuatnya sendiri di rumah, lalu tinggal menulis satu lembar di sana, hahaha.
kadang dia diam-diam membantuku menulis kata-kata penyesalan itu.
sometimes i become an ordinary girl.
saat itu aku merasa dia banyak membantuku. aku jadi punya banyak mimpi karena dia. seperti perempuan-perempuan dalam film superhero, perempuan itu jatuh hati pada hero yang menyelamatkannya. akupun.
dan kupikir aku mengenalnya.
aku salah.
tak pernah kulihat cincin di jari manis tangan kirinya. sebab cincin itu memang tak pernah ada meski ternyata dia milik orang lain. always belong to someone else.
sometimes we all are wishing too much.
beberapa tahun selepas sma aku mendengarnya bercerai dengan istrinya beberapa bulan setelah aku memutuskan komunikasi kami. beberapa saat kemudian kudengar dia menikah lagi dan beristri bukan orang surabaya. orang 3 jam dari surabaya. kudengar dia sekarang tinggal di surabaya dan banyak hal lain. kudengar dari yahoo messenger nya yang sering memberi kabar di nimbuzz ku.
aku tidak mungkin lupa hari terakhir di mana aku memutuskan untuk tidak lagi memiliki pelajaran ekstra dengannya dan tidak akan telat lagi saat hari piketnya.
aku tidak mungkin lupa hari di mana aku menutup cerita dengannya dan hari-hari di mana kami melihat drive-in di ajbs, senja di spionnya dan cerita yang mengalir dari mulut kami masing-masing. meski aku telah melupakan pernah mncintainya.

0 komentar:
Posting Komentar