
well, judulnya tidak menyenangkan karena saya tidak senang mengaku menanti film ini. dua film prekuelnya saya caci maki habis-habisan di depan teman-teman, apa kata mereka kalau mereka tahu saya menantikan seri penghabisan dari twilight saga ini ?
mengapa saya mencaci maki dua prekuelnya ?
well, dalam benak saya, film vampir harus selalu full of body contactm all about blood, sunburn, sexy scenes and women crazy in love with the count of dracula. saat saya ke bioskop dengan sejuta pengharapan film action, eee, ternyata filmnya persisi buatan bollywood (saya tidak bilang film bollywood jelek, hanya saya kurang minat terhadap film drama. kebanyakan film bollywood adalah film drama). mati saya, saya mual dan nyaris muntah di dalam bioskop. teman-teman memuja si pattison ganteng abis, sementara saya merinding liat pattison yang putih abis, jelek kek orang dengan panu merata, kurus, kek orang penyakitan, mayat lagi.
pada filmnya yang kedua, saya mulai bisa menikmati karena ada serigala-serigala keren dengan tato, tubuh gede, kulit cokelat lagi. yummy. tapi tetep kecewa karena ketidaksesuaian antara promosi dan kenyataan yang saya lihat di bioskop. promosi yang katanya menjanjikan sekuel keduanya bernuansa "lebih gelap", tapi yah tetep aja bollywood punya. tapi kantong muntah saya tidak saya gunakan berkat serigala-serigala macho itu, malah mual saya tinggal 50% dari film yang pertama.
jadi, kumohon Tuhan, jadikan twilight ke 3 ini seperti yang mereka promosikan : full of body contact, blood, women crazy in love, sexy scenes, etc. sebab pecinta film vampir seperti saya bisa kecewa kalo vampir hidup dalam dunia kasih sayang, sebab vampir sendiri merupakan satu bentuk "chaos" di mana "chaos" ini saya artikan sebagai keluar dari hukum alam yang ada. dead men/women walking. manusia memakan darah sesama. "chaos" yang akan selalu menimbulkan ke"chaos"an, seperti perang, seperti kebencian juga seperti dendam, ketidakjujuran dan rasa ingin menyakiti.

0 komentar:
Posting Komentar