
kata zodiak, aku berjodoh dengan orang sesama aries, leo dan sagitarius.
tapi itu cuma ramalan jaman majapahit, bagiku. buktinya, aku sedang naksir sagitarius sekarang tapi tidak berjodoh dengannya. perjodohan yang maknanya bagiku adalah bertemu. dia orang yang paling pandai menghilang di saat aku ingin bertemu dengannya. di saat aku paling mungkin bertemu dengannya.
tapi ada satu tempat yang aku pasti menemukannya. tempat yang sudah pasti dia takkan menemukanku kecuali hari ini, hari yang terpaksa kugunakan untuk pergi ke tempat itu karena besok adalah hari terakhir mengumpulkan tugas literatur. dia selalu duduk di sudut yang sama. tak berwajah sini seperti rangga dalam ada apa dengan cinta ? wajahnya khusyuk merunuti yang dibacanya. aku selalu lemah terhadap orang yang khusyuk melakukan sesuatu. jadi aku memandangnya dari kejauhan, konsentrasi mencari literaturku terpecah oleh mengamatinya. apa yang dilakukan oleh maniak belajar (atau membaca) semacam dia dan orang yang terlalu malas melakukan apa-apa macam aku ini bersama di perpustakaan ini ? bernafas satu ruangan bersamanya saja sudah membuatku sesak.
oke, berlebihan. memang aku merasa sesak dan hidungku berair, tapi itu karena aku mempunyai alergi terhadap debu, makanya aku tidak akan pernah berada di perpustakaan kecuali terpaksa sebab terlalu banyak debu di perpus. alergiku membatasiku ke sini padahal aku menyukai suasana di dalam perpustakaan : orang-orang yang khusyuk.
di kelas bu ratna aku akan bertemu dengannya, besok, saat pengumpulan tugas literatur ini.
tapi seperti biasa, dia selalu bisa menghilang begitu saja dari kelas kami. padahal pada presensi kudapatkan parafnya. benar-benar aneh. bagaimana dia bisa hadir dan tidak hadir sekaligus ? aku tidak bisa berkonsentrasi pada kuliah itu.
akhirnya aku sampai pada titik di mana rasa penasaranku tak terbendung lagi.
kuputuskan hari itu aku akan memata-matainya. sebab aku penasaran, di saat seharusnya kami satu ruang pada mata kuliah bu ratna, satu-satunya kelas di mana aku bisa mencuri pandang dan menikmatinya, dia selalu menghilang (padahal itu satu-satunya mata kuliah yang mempertemukan aku dan dia) namun presensi selalu penuh. aku tahu persis itu paraf aslinya. bagaimana aku tahu ? well, anggap saja itu intuisi seorang secret admirer, begitu.
akhirnya hari itu perpustakaan pada jam akan tutup. dia menjadi pengunjung terakhir yang keluar dari perpustakaan. aku mengamatinya dari jarak tak jauh darinya. tampak olehku dia seperti sedang menunggu sesuatu, menyibukkan diri dengan membenahi buku-buku dalam tasnya. sebuah CRV hitam berhenti di dekatnya, jendelanya terbuka perlahan, menampakkan wajah berumur akhir 30-an yang kukenal senantiasa berada di depan kelas kami. bu ratna.
"hai, sayang," sapa bu ratna dengan ringan namun mesra kepada si sagitarius. mulutku menganga.

0 komentar:
Posting Komentar