welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

Yang Kupelajari di Pelajaran Bahasa Indonesia saat SMA

Jumat, 31 Oktober 2014

Pertama kali mengenalkan pacarku kepada teman-teman, termasuk guru Bahasa Indonesia yang dekat dengan teman-temanku, tanggapan paling kuingat adalah: nggak nyangka aku yang begitu kompleks  memilih orang yang sederhana.

Aku pribadi tak mengerti kenapa disebut kompleks. Apa karena itu kali pertama guruku mendapati muridnya mengaku bingung dengan perasaannya pada sesama murid perempuan atau bagaimana (tapi pacar yang kukenalkan bukan perempuan). Atau mungkin karena aku anak IPA yang sebenarnya pingin masuk Bahasa (aneh karena di SMAku yang pingin masuk Bahasa cuma delapan anak, aku salah satu yang di luar dugaan melamar ke Bahasa tapi ditolak).

Saat masuk ke fakultas yang bisa dibilang favorit di Universitas almamaterku, saat ditanya kenapa memilih jurusan ini lalu kujawab, "Karena saya nggak diterima di jurusan Bahasa," orang-orang pada ketawa. Aku juga ikut tertawa, sebab memang terdengar lucu tanpa berniat melawak.

Suatu titik dalam hidup, kita dihadapkan memilih bak dua sisi koin: apa yang kita inginkan atau apa yang kita butuhkan.

Sebagai manusia, kita diberi kebebasan yang luas. Sebagai manusia yang beriman, kebebasan dibatasi (katanya) supaya tidak bablas. Dalam kebebasan, sulit menentukan yang mana yang lebih baik buat kita untuk ke depannya.

Saat kita mencintai seseorang, sesuatu yang tadinya berharga tak lagi mempunyai arti. Jika kamu jatuh cinta, apa sih yang tidak kamu berikan kepada si dia?

Tapi aku mencintai seseorang, atau sesuatu, tidak sampai pada batas tak ingin melepasnya pergi. Guru Bahasa Indonesiakulah yang mengajariku melepas dengan penuh cinta. Saat aku menyadari bahwa aku jatuh cinta dengan sesama murid perempuan waktu itu, aku memutuskan untuk melepas perasaanku pergi setelah belajar darinya bagaimana memilih.

Sejak saat itu aku tak takut memilih, meski aku tak suka memberikan keputusan. Aku lebih baik belajar berbuat salah daripada terus berlindung dalam zona nyaman.

Aku belajar mencintai dengan tidak menggebu-gebu. Cinta adalah sesuatu yang harus dirawat agar panjang usianya, jangan habiskan energinya di muka. Aku belajar cinta tak harus memiliki. Juga bahwa cinta adalah keberanian untuk merelakan seseorang, atau sesuatu, pergi. Berlalu dari hidup kita.

Sebab dari sesama murid perempuan di SMAku itu aku belajar, segala sesuatu milik kita bukanlah milik kita (ya, kan, Ro?).



*mengenang guru Bahasa Indonesiaku di SMA (eh, belum meninggal, lho, ya) dan masa-masa SMAku di bulan Bahasa ini, I miss those times so much
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates