welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

Terjaga dan Hujan

Minggu, 29 November 2015

"Just because you can't understand something, it doesn't mean it's wrong." -Arthur (The Sword in the Stone).

Hujan senantiasa melemparkanku pada masa lalu. Terutama kenangan sedih atau pembicaraan yang penuh dilema dengan teman. Kunikmati tiap kepedihan yang ada.

Ingatanku memutar adegan di dalam mobil, pembicaraan tentang seorang teman yang orang tuanya terancam bercerai. Sang ibu minta tapi bapaknya menolak mentah-mentah. Ini terjadi karena sekali lagi si bapak kepergok selingkuh.

Si anak yang juga temanku ini bertanya padaku, gimana kalau aku jadi ibunya?

Aku tersenyum. Kalau aku jadi ibumu, aku tidak akan minta cerai. Aku akan terima bapakmu dan belajar bersabar. Sebab pernikahan bagiku lebih dari hubungan antara dua orang.

Aku bukan orang yang tutup mata bahwa dalam berhubungan jangka panjang orang bisa jatuh cinta pada orang lain selain pasangannya. Di situlah sebuah hubungan diuji dan keputusan tiap orang menentukan kuat atau tidak kuatnya seorang itu dalam ujian kesabaran.

Pernikahan tentu berbeda dengan pacaran atau berpasangan dengan komitmen dalam hidupku. Itulah kenapa aku merasa pernikahan itu sesuatu yang amat berat bila aku masih tergoda dengan perempuan dan tak utuh menyerahkan diri. Dulu saat 'Am memutuskanku karena tergoda dan jadian dengan orang yang jatuh cinta terhadapnya, aku melepasnya dengan hati dingin dan tak ingin kembali. Kini ia menikah dengan perempuan itu dan akan mempunyai dua anak. Melihat kebahagiaannya di akun pertemanan tak menghancurkan hatiku.

Kedua kalinya, saat Ivan selingkuh dan jadian dengan orang lain beberapa saat setelah putus dariku tidaklah mengejutkanku. Jika kali ketiga dan keempat terulang lagi, aku tahu aku telah berhasil melewati situasi yang sama sebelumnya, jadi aku tak perlu kuatir.

Bukan perihal baru bagiku bila pasanganku meninggalkanku untuk orang lain, meski aku tak pernah melakukan hal sama. Every body seems to moving on from me dan aku menikmati semua proses baik yang paling menyakitkan sekalipun. Cinta baru yang terlihat begitu menggoda takkan berhasil memikatku sebab aku percaya diri dengan kemampuanku mengontrol perasaanku. Dan aku tidak akan pernah mencari cinta baru sampai cinta yang lama selesai.

Tapi jika kamu bertanya, "Bagaimana bila ini terjadi pada pernikahanmu?" Aku akan menjawab bahwa aku tidak akan mau berpisah dengan suamiku. Karena aku mencintainya? Mungkin tidak. Aku lebih melihat bayaran yang kuterima nanti setelah hari pembalasan. Artinya, jika kamu suamiku kamu sangat bisa sesuka hati memperlakukanku, mendua ataupun hal lain-lain yang menyakitkan hati (jika kamu tidak takut hari pembalasan), dan aku akan selalu setia di sisimu dihargai maupun tidak dihargai.

Esensi kebahagiaan bagiku bukan cinta terbalaskan antara dua insan. Aku butuh lebih. Dan dunia ini sungguh tidak cukup untuk memenuhi keinginanku dalam mencintai. Karenanya aku bisa mengerti mengapa begitu sulit melangkah bersamaku dalam satu hubungan.

Lihatlah bapak temanku ini, yang sibuk dengan cinta baru dan cinta lama juga dengan cinta usang, berkacalah pada hati yang tak pernah puas. Untuk masalah cinta, Tuhan, puaskanlah hatiku. Biarkan mereka yang janjinya hanya di bibir saja terus mencari dan mencari dan mencari, cinta baru atau cinta lama atau cinta usang, terus dan terus jatuh pada orang baru seolah semua itu begitu indah dan seolah yang baru selalu lebih baik dari yang sebelumnya.

Terima kasih telah Kau beri ketetapan hati padaku.

"We'll stay forever this way, you are saved in my heart and my heart will go on and on..."*


*cuplikan lagu yang dipopulerkan oleh Celine Dion.

Hakuna Matata

Rabu, 25 November 2015

"Ternyata butuh waktu yg sangat lama untuk memahami sesuatu yg sederhana saja,...."

Kalimat di atas kuambil dari status terakhir suami teman yang baru meninggal bulan ini karena kecelakaan. Harus kuakui, ada makna dalam dan sisi penasaran tentang apa yang baru dipahaminya, yang mungkin tak pernah kutahu jawabannya tapi bisa mewakili hidupku di tahun ini.

Butuh waktu yang sangat lama untuk memahami apa yang kumengerti saat ini, dan aku bersyukur dapat menekuninya sebelum terlambat.

Beberapa bulan lalu aku dengan sinis mengatakan bahwa lesbian yang memutuskan untuk berhubungan dengan laki-laki setelah putus cinta itu konyol dan menggelikan. Saat ini, yang terngiang di kepalaku adalah kata-kata seorang ayah dalam sebuah cerita buku kepada anaknya, "Bagaimana kamu bisa mengharapkanku ikut bahagia untuk sesuatu yang punya potensi besar akan menyakitimu?" saat anaknya meminta izin untuk berhubungan dengan sesama perempuan.

Ayahku barangkali sudah meninggal, tapi kujumpai beliau di setiap langkah yang kulakukan. Kujumpai beliau di buku-buku, di ruangan tempatku rapat, di mobil saat aku berdebat dengan teman, di kamarku saat aku ingin sendiri, beliau berubah menjadi entitas yang hadir tanpa fisik.

Tahun ini begitu banyak kematian orang dekat, kehilangan partner, sahabat yang punya kekasih yang juga seorang sahabat yang mendadak menyatakan suka untuk melepas beban dan mematikan rasa sukanya padaku, sahabat yang pergi karena sikapku yang keras dan emosional, sahabat yang tak bisa ditemui lagi dalam keseharian karena telah bekerja di tempat lain. Ada begitu banyak kehilangan dan aku tak tahu nantinya akan berlanjut atau tidak. Orang-orang pergi untuk melanjutkan proses mereka sendiri, dan aku menjalani prosesku sendiri. Sering aku merasa tahun ini aku terlalu cepat harus menaiki anak tangga.

Saat ini, kudapati diriku menemukan suatu usulan yang lama kutentang dan dulu ingin kubuktikan bahwa itu salah: menjadi lesbian bukanlah pilihan yang rasional. Setidaknya untuk orang seperti aku yang selalu mengejar fragmen keabadian. Cinta sesama perempuan hanyalah jalinan rapuh yang bisa putus kapan saja. Yang sudah menikah saja bisa dicerai, apalagi yang hanya komitmen dalam mulut.

Kini aku menyadari betapa tidak rasionalnya aku bersikap selama ini dan aku jadi tahu alasan mengapa aku tak bahagia.

Barangkali alasan kenapa aku selalu tertarik dengan orang Katolik adalah karena aku menginginkan sebuah hubungan sekali yang selamanya. Aku mati-matian menahan diri dan belajar mengontrol perasaanku itu karena dalam rangka latihan untuk menyiapkan dia yang satu dan selamanya, dan berharap mendapat timbal balik yang serupa.

Barangkali benar kata seorang teman, aku terlalu keras terhadap diri sendiri, sehingga ketika aku begitu terhadap orang lain maka ia merasa tak sanggup dan beranjak pergi. Aku meyakini secara mutlak sesuatu yang ternyata diyakini orang lain secara separuh saja, dan pada akhirnya perbedaan itu memberikan tekanan besar yang membentangkan jarak yang jauh dan lapang.

Kini aku menyadari, betapa pentingnya menggaris bawahi setiap kata petuah dan nasehat yang orang berikan kepada kita. Tapi setelah mendapati hasil yang demikian dalam hidupku, aku takkan ragu-ragu melalui jalan panjang itu kembali jika waktu berputar kembali.

Tidak bisa tidak, ini jalan yang harus kulalui dan aku akan terus melangkah melewati kerikil demi kerikil, bebatuan demi bebatuan. Sebab kebetulan itu tak ada, yang ada hanyalah sesuatu yang tak mungkin terelakkan.

I'm disillusioned, but I'm...content.

The Power of Goodbye

Senin, 23 November 2015

Jika kau bertemu (mantan) kekasihku dan terpesona padanya, kukatakan padamu: pesona itu hadir karena perpisahan kami.

Setelah hampir sembilan tahun bersama, lalu memutuskan berpisah, aku bisa memberi kesimpulan bahwa dia adalah pelajaran yang harus kutempuhi. Dan aku sudah menempuh 'sekolah pendidikan pertama' dengan dia menjadi 'wali kelas' seumur hidupku di sekolah, kemudian dia memutuskan melepaskanku beberapa bulan sebelum kelulusan.

Begitu banyak kulewati 'ujian' darinya, dan sebagai murid tentu saja aku memberinya banyak kesulitan juga.

Kami memulai 'kelas' dengan keadaan sekolah yang compang-camping. Banyak wali kelas dan murid yang bahkan tak bisa melewati tahun pertama sekolah, banyak murid yang berganti wali kelas, murid yang keluar dari sekolah, wali kelas yang menempuh pendidikan lanjutan atau pindah ikut pasangannya, atau pindah mengajar sekolah lain. Aku dari awal sebenarnya tak yakin mengikuti pendidikan di sekolah ini, tapi merasa pendidikan ini layak diperhitungkan.

Tahun-tahun kami lewati bersama, hasil pendidikan kami dilaporkan dan diamati secara berkesinambungan oleh sekolah, beberapa penilai memberikan opini positif dan tentu saja ada yang memberi nilai negatif. Apapun yang dirasakan orang luar, kami terus menjaga keutuhan kelas dengan segala daya dan upaya. Memberi bukti bahwa di sekolah ini ada kerjasama yang bertahan lama

Sekian tahun setelah kami selalu bersama menghadapi suka, duka dan selalu berdua di depan publik, orang-orang kemudian bertanya di mana wali kelasku saat melihatku sendirian di pertemuan antar kelas membahas wisuda setelah ujian akhir. Aku tertawa pada mereka lantas bilang, "Aku sudah lulus wajib belajar sembilan tahun, jadi kami memutuskan kerjasama."

Kami menyadari bahwa akan menghambat satu sama lain jika ingin memaksa terus menjadi wali kelas-murid, di mana dia tak memiliki kemampuan mengajar murid sekolah lanjutan dan aku tak bisa terus menutup diri dari dunia di luar kelas dalam sekolahnya. Seorang murid hanyalah seorang yang akan terus berproses menjadi tahu dari tidak tahu dan harus naik tingkat demi tingkat, sedangkan seorang wali kelas selamanya tinggal di sekolah yang memberinya pekerjaan sampai dia memutuskan untuk berhenti mengampu tanggung jawab.

Di pundaknya ada begitu banyak beban dan aku menyadari bahwa diriku menjadi salah satu beban yang dia pikul. Begitu banyak kesalahanku yang dia abaikan, di ruang guru tak jarang dia membelaku saat guru lain mencibir kelakuanku. Tak lantas dia menyuruhku menghadapnya untuk menjelaskan tindakanku, diberikannya waktu untuk diriku sendiri sambil dia sendiri berdoa memohon kesabaran selalu dilimpahkan dalam hidupnya dalam menghadapi murid. Ketika prestasiku mulai nampak, dia juga tak serta merta membusungkan dada atau banyak bicara di ruang guru untuk menyindir guru lain.

Semakin tahun tampak betapa dewasa dia menghadapiku, ketajamanku membidik gol juga belum tumpul dan terus berkilau berkat asahannya. Dia menjadi guru berprestasi seiring dengan waktu dan dapat kuraba jaringan parut demi jaringan parut di telapak tangannya yang ada karena ketabahannya menahan nyeri tajamnya pisauku yang menggoresnya dalam tak hanya satu atau dua kali.

Barangkali berita kelulusanku yang paling menyayatnya, hingga dia merasa tak mampu sembuh dari kabar duka ini dan memutuskan tak sanggup mengajarku lagi. Aku cuma tertegun saat dia menyampaikannya lewat satu pesan singkat tanpa penjelasan panjang lebar. Barangkali sebenarnya dia begitu membanggakanku sehingga ketika aku tak bisa menjadi bintang pelajar yang bisa menjadi kebanggaan final bagi dia, dia memutuskan untuk tidak membiarkan namanya tercantum di rapor terakhirku.

Sekolah tentu tak sabar untuk segera memasangkan dia dengan murid lain, berharap banyak prestasi serupa yang bisa mengikuti prestasi yang kami raih sebelumnya. Dan aku percaya akan banyak murid yang terbantu dengan tangan dinginnya, sebagaimana dia menata landasan hidupku yang membuatku siap dengan hal-hal baru dan melewati rintangan demi rintangan.

Kelulusan menjadi suka cita untuk banyak murid, berakhirnya masa sekolahku ini menjadi awal baru bagiku dan baginya. Supaya kami menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Perpisahan menjadi kekuatan baru untuk menjalani kerjasama kelas yang lebih baik lagi di sekolah baru.

Kepada wali kelasku, dalam hati kuhaturkan ribuan terima kasih dan kukirimkan satu pesan singkat yang kuharap bisa menjadi penutup catatan sekolah menengah pertamaku: "I wish that you would start anew and I'd like to be there to greet you."*


*dikutip dari Until the End of Time oleh Linna W.

Tiada Lagi Asmara

Jumat, 20 November 2015

Kelihatan jelas tandanya kita kini semakin jauhnya
Selalu saja mencari alasan tuk menyakiti hati

Ku mendengar, sepintas lalu, hatimu telah berperan ganda
Aku tak percaya
Lama-lama hati ini bertanya

Apa iya? dan siapakah dia? telah merebut hatimu
Menyiksa aku di sini
Membawa kau pergi jauh

Kini sudah tiada lagi ruang yang penuh canda
Seperti dulu kala
Tiada, tiada lagi asmara yang dulu bersemi
Di dalam rumah ini

*a song by Paramitha Rusady

Resensi Buku: Curious Wine oleh Katherine V. Forrest

Rabu, 18 November 2015

"Tidak akan ada satupun hal menarik yang mungkin bisa terjadi pada satu kabin berisi perempuan saja."

Menulis resensi buku satu ini bagaikan memutuskan mengejar orang yang menarik hati atau berdiam diri saja. Sebab novel satu ini merupakan karya klasik, menyenangkan dan cerita mengalir dengan baik bahkan untuk orang yang punya kemampuan Bahasa Inggris pas-pasan seperti aku, dalam hatiku ada kekhawatiran bahwa aku takkan bisa menulis resensi buku ini dengan baik tapi aku ingin berbagi pengalaman membacanya. Berkali-kali aku membaca buku ini, seperti tak pernah puas. Harus kutekankan, ini buku wajib baca!

Adegan diawali dengan kedatangan Diana dan Vivian, dalam sekali pandangan mata Diana mendapati dirinya luar biasa tertarik pada perempuan yang sedang duduk di dekat perapian, Lane. Mereka berdua diundang untuk liburan bersama di musim dingin; Diana supaya patah hatinya terobati, sedangkan Lane supaya tidak tenggelam dalam pekerjaannya sebagai pengacara. Perkenalan di antara ketujuh perempuan itu terasa hangat dan natural, semua tokoh telah dewasa dan mempunyai pekerjaan.

Peraturan yang dibuat oleh Liz, sang pemilik kabin, membuat Diana harus menempati kamar di lantai dua. Lane yang sebenarnya mengincar kamar itu bernegosiasi dengan Diana supaya mereka bisa bergantian menempatinya; Diana di malam itu kemudian ia di malam berikutnya. Setelah mengerti mengapa Lane begitu menginginkan kamar itu, Diana memutuskan untuk berbagi kamar saja tanpa harus bergantian.

Perlahan-lahan, keduanya menjadi dekat dan saling mengenal. Menemukan banyak hal yang ternyata saling mereka sukai dan benih cinta mulai tumbuh subur. Hal ini mendapatkan reaksi yang berbeda dari kedua tokoh inti dalam buku; satunya mendapati dirinya tak mungkin hidup tanpa perempuan, lainnya mendapati bahwa mempunyai hubungan dengan sesama perempuan merupakan hal yang bisa ia jadikan sebagai pilihan hidup yang alternatif.

Cerita antara kedua tokoh dibangun dengan intens, penulis menggambarkan renungan Diana dengan sangat baik, peka, pola pikir yang logis, tanpa mengesampingkan sisi emosional dalam pergulatan batin yang dialaminya.

Kedua tokoh inti diceritakan mempunyai luka batin masing-masing, namun hal itu malah menjadi katalisator yang makin mendewasakan proses mereka menemukan satu sama lain. Adegan percintaan ditulis sangat manis dan sangat perempuan.

Buku ini tak banyak menggali tokoh lain, hal ini bisa menjadi kekurangan sekaligus kelebihan buku. Kita bisa dengan tenang menikmati perjalanan Diana menapak tanah asing yang tak pernah ditelusurinya, ikut tenggelam dalam dilema dan merasakan ketakutan yang sama, namun di lain pihak kita seolah diberi energi baru untuk berusaha menemukan perempuan yang tepat seperti yang Diana temukan dalam diri Lane begitu pula sebaliknya.

Sedang patah hati atau sedang jatuh hati, buku ini tepat untuk mengiringi perjalanan emosi kita menjadi lesbian dan menikmati tiap pengajaran yang diberikan oleh tiap-tiap hubungan kita dengan sesama perempuan. Kuacungkan empat jempol untuk karya Katherine satu ini, meski terbit di tahun 70an buku ini merekam dengan akurat perjalanan lesbian yang benar-benar ingin belajar dewasa dalam relasinya dengan perempuan lain dan tak lekang oleh masa.

Be Without Her

Sabtu, 07 November 2015

You can't place your trust in people. In the end, the only one you can ever depend upon is yourself.

It's true that I myself can't even forget my own past. But I won't let it confusing me. It's my sworn duty not to dwell on my past.

I believe that if I were ever allowing myself to change and be the person she wanted me to be I'd be just like her, putting my fate in the hands of others. But at the same time, wanting everyone to focus only on me. I don't want to become that kind of person. So I let her go.

Dan malam ini aku tak ingin ingatan tentang apa yang pernah ada antara kami lebur dalam puing kemarahan. Malam ini kubiarkan diriku maklum. Sebab di atas semuanya, hanya maaf dan jutaan terima kasih yang kini bisa kuberikan padanya. Selebihnya? Itu cuma masa lalu.

Dan aku bukan orang yang terpaku pada masa lalu.

Magic Knight Rayearth I

Kamis, 05 November 2015

Boleh dibilang Magic Knight Rayearth ini termasuk manga/anime favoritku. Kisahnya yang tragis di buku/sesi pertama namun punya pungkasan yang bahagia di buku/sesi keduanya membuatku benci namun rindu dengan cerita yang punya latar dongeng, plot sederhana, namun nilai moralnya tidak remeh.

Tiga orang pelajar SMP tersedot dalam lantai Menara Tokyo saat tur belajar: Hikaru Shido, Umiryu Saki dan Fuu Hoji. Mereka mendapati diri sudah masuk ke dunia yang sama sekali asing, yaitu suatu negeri bernama Zephyr, berisi makhluk-makhluk gaib, manusia-manusia berpakaian unik, gunung yang mengapung di langit, dan banyak hal aneh lain yang tak bisa mereka temui sehari-hari di Tokyo, salah satunya adalah ilmu sihir yang harus mereka kuasai untuk mempertahankan hidup.

Dibekali pengetahuan oleh Guru Clef, rupanya mereka dipanggil oleh Puteri Emerald yang merupakan "tiang" dunia Zephyr untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran. Puteri Emerald sendiri digambarkan 'terperangkap' dalam buih yang dikelilingi oleh Zagard dan antek-anteknya. Segala upaya yang telah dilakukan oleh penduduk Zephyr untuk menembus pengawalan anak buah Zagard sia-sia, sehingga dalam keputusasaan Puteri Emerald memeras sisa tenaganya untuk memanggil tiga Pendekar Ajaib dalam legenda yang diramalkan bisa menyelamatkan Zephyr.

Saat dikenalkan ke dunia Zephyr, salah satu anak buah Zagard memaksa Clef mengungsikan tiga pendekar yang masih mentah ini dengan buru-buru. Perjalanan mereka menjadi Pendekar Ajaib dimulai berbekal pewarisan sihir yang belum lengkap, sedikit demi sedikit mereka selain berusaha mengenal satu sama lain mereka memutuskan untuk bahu membahu menyelesaikan misi panggilan mereka supaya dapat kembali pulang ke Tokyo.

Sayangnya mereka tak pernah mencoba mencari jawaban mengapa Zagard 'menyandera' Puteri Emerald dan tak pernah mencoba mencari tahu bagaimana peran mereka sebenarnya dalam menyelamatkan dunia sihir ini dalam legenda. Sampai mereka menyadari kekeliruan mereka dalam memberi makna 'menyelamatkan dunia' dan mereka kembali ke Tokyo dengan penyesalan yang dalam.

Salah satu yang kubenci dari banyak cerita manga/anime Jepang yaitu mengambil tokoh dengan usia muda di mana mereka dihadapkan pada pilihan sulit yang konsekuensinya harus mereka tanggung seumur hidup.

Beberapa episode terakhir, saat Zagard telah mati di tangan tiga Pendekar Ajaib, Puteri Emerald keluar dari buih yang memisahkannya dengan dunia luar. Seluruh jawaban tertumpah ruah di sini. Puteri Emerald yang doanya menjadi penyangga bagi Zephyr, negeri yang terkenal damai dan makmur, mendapati dirinya jatuh cinta pada Zagard sang kepala pengawal. Terbelah antara memikirkan negeri dan Zagard, kegelisahan Emerald serta merta terwujud menjadi gejala alam yang berbahaya bagi dunia Zephyr, di antaranya bencana alam dan monster-monster yang merusak kedamaian negeri. Zagard yang merasakan cinta yang sama, memberontak supaya sistem 'tiang' sebagai pengampu doa untuk seluruh negeri diganti karena merasa Emerald punya hak untuk jatuh cinta dan punya hak untuk bebas mencintai. Tak sanggup memilih antara Zagard atau negerinya, Emerald mengurung diri dalam buih dan memanggil tiga Pendekar Ajaib dalam legenda. Zagard yang tak mau menyerah berusaha untuk menghalangi Pendekar Ajaib menyelesaikan misi mereka yaitu membunuh sang "tiang" dan memilih membiarkan negerinya menderita karena sudah membiarkan sistem "tiang" terus berjalan.

Selepas musim pertama manga/anime ini aku ingat kalau aku menangis meraung-raung menyesali kematian Zagard. Aku menuduh Clef dan Emerald serta beberapa anteknya yang demikian tega memilin cerita Zagard-Emerald menjadi pemberontak-tawanan. Mereka dengan sengaja menutupi kenyataan bahwa tiga Pendekar Ajaib hanyalah algojo yang ditarik dari dunia luar untuk membunuh sang tiang, dan tak bergeming dari tujuan awal meski telah mendapati kenyataan bahwa para algojo itu masih berusia empat belas tahun. Aku ingat waktu mengikuti anime ini juga berusia di bawah lima belas, lalu menempatkan diri di posisi Hikaru Shido yang naif dan tak berpikir panjang, betapa penyesalan itu takkan pernah kulupakan seumur hidupku, diam-diam akan menggerogoti sanubariku.

Aku selalu merasa manga/anime sesi pertama ini terlalu kejam, dan mestinya sulit untuk memaafkan Clef maupun adik Plecea atau orang-orang yang punya pengetahuan tentang misi Pendekar Ajaib dan membiarkan itu tetap terjadi di tangan anak-anak empat belas tahun, tapi sesi kedua dari manga/anime ini (yang tidak akan kubahas sendiri) setidaknya bisa membuat aku sedikit (sedikiiiiit sekali) lega bahwa cita-cita Zagard menghapuskan sistem tiang tercapai atas prakarsa Hikaru yang amat sangat menyesal atas tragedi Zagard-Emerald.

Sesungguhnya di dunia ini yang paling berat adalah amanat. Tapi penyesalan, meski lebih ringan, bukan berarti ringan.
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates