"Just because you can't understand something, it doesn't mean it's wrong." -Arthur (The Sword in the Stone).
Ingatanku memutar adegan di dalam mobil, pembicaraan tentang seorang teman yang orang tuanya terancam bercerai. Sang ibu minta tapi bapaknya menolak mentah-mentah. Ini terjadi karena sekali lagi si bapak kepergok selingkuh.
Si anak yang juga temanku ini bertanya padaku, gimana kalau aku jadi ibunya?
Aku tersenyum. Kalau aku jadi ibumu, aku tidak akan minta cerai. Aku akan terima bapakmu dan belajar bersabar. Sebab pernikahan bagiku lebih dari hubungan antara dua orang.
Aku bukan orang yang tutup mata bahwa dalam berhubungan jangka panjang orang bisa jatuh cinta pada orang lain selain pasangannya. Di situlah sebuah hubungan diuji dan keputusan tiap orang menentukan kuat atau tidak kuatnya seorang itu dalam ujian kesabaran.
Pernikahan tentu berbeda dengan pacaran atau berpasangan dengan komitmen dalam hidupku. Itulah kenapa aku merasa pernikahan itu sesuatu yang amat berat bila aku masih tergoda dengan perempuan dan tak utuh menyerahkan diri. Dulu saat 'Am memutuskanku karena tergoda dan jadian dengan orang yang jatuh cinta terhadapnya, aku melepasnya dengan hati dingin dan tak ingin kembali. Kini ia menikah dengan perempuan itu dan akan mempunyai dua anak. Melihat kebahagiaannya di akun pertemanan tak menghancurkan hatiku.
Kedua kalinya, saat Ivan selingkuh dan jadian dengan orang lain beberapa saat setelah putus dariku tidaklah mengejutkanku. Jika kali ketiga dan keempat terulang lagi, aku tahu aku telah berhasil melewati situasi yang sama sebelumnya, jadi aku tak perlu kuatir.
Bukan perihal baru bagiku bila pasanganku meninggalkanku untuk orang lain, meski aku tak pernah melakukan hal sama. Every body seems to moving on from me dan aku menikmati semua proses baik yang paling menyakitkan sekalipun. Cinta baru yang terlihat begitu menggoda takkan berhasil memikatku sebab aku percaya diri dengan kemampuanku mengontrol perasaanku. Dan aku tidak akan pernah mencari cinta baru sampai cinta yang lama selesai.
Tapi jika kamu bertanya, "Bagaimana bila ini terjadi pada pernikahanmu?" Aku akan menjawab bahwa aku tidak akan mau berpisah dengan suamiku. Karena aku mencintainya? Mungkin tidak. Aku lebih melihat bayaran yang kuterima nanti setelah hari pembalasan. Artinya, jika kamu suamiku kamu sangat bisa sesuka hati memperlakukanku, mendua ataupun hal lain-lain yang menyakitkan hati (jika kamu tidak takut hari pembalasan), dan aku akan selalu setia di sisimu dihargai maupun tidak dihargai.
Esensi kebahagiaan bagiku bukan cinta terbalaskan antara dua insan. Aku butuh lebih. Dan dunia ini sungguh tidak cukup untuk memenuhi keinginanku dalam mencintai. Karenanya aku bisa mengerti mengapa begitu sulit melangkah bersamaku dalam satu hubungan.
Lihatlah bapak temanku ini, yang sibuk dengan cinta baru dan cinta lama juga dengan cinta usang, berkacalah pada hati yang tak pernah puas. Untuk masalah cinta, Tuhan, puaskanlah hatiku. Biarkan mereka yang janjinya hanya di bibir saja terus mencari dan mencari dan mencari, cinta baru atau cinta lama atau cinta usang, terus dan terus jatuh pada orang baru seolah semua itu begitu indah dan seolah yang baru selalu lebih baik dari yang sebelumnya.
Terima kasih telah Kau beri ketetapan hati padaku.
"We'll stay forever this way, you are saved in my heart and my heart will go on and on..."*
*cuplikan lagu yang dipopulerkan oleh Celine Dion.

0 komentar:
Posting Komentar