"Ternyata butuh waktu yg sangat lama untuk memahami sesuatu yg sederhana saja,...."
Kalimat di atas kuambil dari status terakhir suami teman yang baru meninggal bulan ini karena kecelakaan. Harus kuakui, ada makna dalam dan sisi penasaran tentang apa yang baru dipahaminya, yang mungkin tak pernah kutahu jawabannya tapi bisa mewakili hidupku di tahun ini.
Butuh waktu yang sangat lama untuk memahami apa yang kumengerti saat ini, dan aku bersyukur dapat menekuninya sebelum terlambat.
Beberapa bulan lalu aku dengan sinis mengatakan bahwa lesbian yang memutuskan untuk berhubungan dengan laki-laki setelah putus cinta itu konyol dan menggelikan. Saat ini, yang terngiang di kepalaku adalah kata-kata seorang ayah dalam sebuah cerita buku kepada anaknya, "Bagaimana kamu bisa mengharapkanku ikut bahagia untuk sesuatu yang punya potensi besar akan menyakitimu?" saat anaknya meminta izin untuk berhubungan dengan sesama perempuan.
Ayahku barangkali sudah meninggal, tapi kujumpai beliau di setiap langkah yang kulakukan. Kujumpai beliau di buku-buku, di ruangan tempatku rapat, di mobil saat aku berdebat dengan teman, di kamarku saat aku ingin sendiri, beliau berubah menjadi entitas yang hadir tanpa fisik.
Tahun ini begitu banyak kematian orang dekat, kehilangan partner, sahabat yang punya kekasih yang juga seorang sahabat yang mendadak menyatakan suka untuk melepas beban dan mematikan rasa sukanya padaku, sahabat yang pergi karena sikapku yang keras dan emosional, sahabat yang tak bisa ditemui lagi dalam keseharian karena telah bekerja di tempat lain. Ada begitu banyak kehilangan dan aku tak tahu nantinya akan berlanjut atau tidak. Orang-orang pergi untuk melanjutkan proses mereka sendiri, dan aku menjalani prosesku sendiri. Sering aku merasa tahun ini aku terlalu cepat harus menaiki anak tangga.
Saat ini, kudapati diriku menemukan suatu usulan yang lama kutentang dan dulu ingin kubuktikan bahwa itu salah: menjadi lesbian bukanlah pilihan yang rasional. Setidaknya untuk orang seperti aku yang selalu mengejar fragmen keabadian. Cinta sesama perempuan hanyalah jalinan rapuh yang bisa putus kapan saja. Yang sudah menikah saja bisa dicerai, apalagi yang hanya komitmen dalam mulut.
Kini aku menyadari betapa tidak rasionalnya aku bersikap selama ini dan aku jadi tahu alasan mengapa aku tak bahagia.
Barangkali alasan kenapa aku selalu tertarik dengan orang Katolik adalah karena aku menginginkan sebuah hubungan sekali yang selamanya. Aku mati-matian menahan diri dan belajar mengontrol perasaanku itu karena dalam rangka latihan untuk menyiapkan dia yang satu dan selamanya, dan berharap mendapat timbal balik yang serupa.
Barangkali benar kata seorang teman, aku terlalu keras terhadap diri sendiri, sehingga ketika aku begitu terhadap orang lain maka ia merasa tak sanggup dan beranjak pergi. Aku meyakini secara mutlak sesuatu yang ternyata diyakini orang lain secara separuh saja, dan pada akhirnya perbedaan itu memberikan tekanan besar yang membentangkan jarak yang jauh dan lapang.
Kini aku menyadari, betapa pentingnya menggaris bawahi setiap kata petuah dan nasehat yang orang berikan kepada kita. Tapi setelah mendapati hasil yang demikian dalam hidupku, aku takkan ragu-ragu melalui jalan panjang itu kembali jika waktu berputar kembali.
Tidak bisa tidak, ini jalan yang harus kulalui dan aku akan terus melangkah melewati kerikil demi kerikil, bebatuan demi bebatuan. Sebab kebetulan itu tak ada, yang ada hanyalah sesuatu yang tak mungkin terelakkan.
I'm disillusioned, but I'm...content.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar