welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

The Power of Goodbye

Senin, 23 November 2015

Jika kau bertemu (mantan) kekasihku dan terpesona padanya, kukatakan padamu: pesona itu hadir karena perpisahan kami.

Setelah hampir sembilan tahun bersama, lalu memutuskan berpisah, aku bisa memberi kesimpulan bahwa dia adalah pelajaran yang harus kutempuhi. Dan aku sudah menempuh 'sekolah pendidikan pertama' dengan dia menjadi 'wali kelas' seumur hidupku di sekolah, kemudian dia memutuskan melepaskanku beberapa bulan sebelum kelulusan.

Begitu banyak kulewati 'ujian' darinya, dan sebagai murid tentu saja aku memberinya banyak kesulitan juga.

Kami memulai 'kelas' dengan keadaan sekolah yang compang-camping. Banyak wali kelas dan murid yang bahkan tak bisa melewati tahun pertama sekolah, banyak murid yang berganti wali kelas, murid yang keluar dari sekolah, wali kelas yang menempuh pendidikan lanjutan atau pindah ikut pasangannya, atau pindah mengajar sekolah lain. Aku dari awal sebenarnya tak yakin mengikuti pendidikan di sekolah ini, tapi merasa pendidikan ini layak diperhitungkan.

Tahun-tahun kami lewati bersama, hasil pendidikan kami dilaporkan dan diamati secara berkesinambungan oleh sekolah, beberapa penilai memberikan opini positif dan tentu saja ada yang memberi nilai negatif. Apapun yang dirasakan orang luar, kami terus menjaga keutuhan kelas dengan segala daya dan upaya. Memberi bukti bahwa di sekolah ini ada kerjasama yang bertahan lama

Sekian tahun setelah kami selalu bersama menghadapi suka, duka dan selalu berdua di depan publik, orang-orang kemudian bertanya di mana wali kelasku saat melihatku sendirian di pertemuan antar kelas membahas wisuda setelah ujian akhir. Aku tertawa pada mereka lantas bilang, "Aku sudah lulus wajib belajar sembilan tahun, jadi kami memutuskan kerjasama."

Kami menyadari bahwa akan menghambat satu sama lain jika ingin memaksa terus menjadi wali kelas-murid, di mana dia tak memiliki kemampuan mengajar murid sekolah lanjutan dan aku tak bisa terus menutup diri dari dunia di luar kelas dalam sekolahnya. Seorang murid hanyalah seorang yang akan terus berproses menjadi tahu dari tidak tahu dan harus naik tingkat demi tingkat, sedangkan seorang wali kelas selamanya tinggal di sekolah yang memberinya pekerjaan sampai dia memutuskan untuk berhenti mengampu tanggung jawab.

Di pundaknya ada begitu banyak beban dan aku menyadari bahwa diriku menjadi salah satu beban yang dia pikul. Begitu banyak kesalahanku yang dia abaikan, di ruang guru tak jarang dia membelaku saat guru lain mencibir kelakuanku. Tak lantas dia menyuruhku menghadapnya untuk menjelaskan tindakanku, diberikannya waktu untuk diriku sendiri sambil dia sendiri berdoa memohon kesabaran selalu dilimpahkan dalam hidupnya dalam menghadapi murid. Ketika prestasiku mulai nampak, dia juga tak serta merta membusungkan dada atau banyak bicara di ruang guru untuk menyindir guru lain.

Semakin tahun tampak betapa dewasa dia menghadapiku, ketajamanku membidik gol juga belum tumpul dan terus berkilau berkat asahannya. Dia menjadi guru berprestasi seiring dengan waktu dan dapat kuraba jaringan parut demi jaringan parut di telapak tangannya yang ada karena ketabahannya menahan nyeri tajamnya pisauku yang menggoresnya dalam tak hanya satu atau dua kali.

Barangkali berita kelulusanku yang paling menyayatnya, hingga dia merasa tak mampu sembuh dari kabar duka ini dan memutuskan tak sanggup mengajarku lagi. Aku cuma tertegun saat dia menyampaikannya lewat satu pesan singkat tanpa penjelasan panjang lebar. Barangkali sebenarnya dia begitu membanggakanku sehingga ketika aku tak bisa menjadi bintang pelajar yang bisa menjadi kebanggaan final bagi dia, dia memutuskan untuk tidak membiarkan namanya tercantum di rapor terakhirku.

Sekolah tentu tak sabar untuk segera memasangkan dia dengan murid lain, berharap banyak prestasi serupa yang bisa mengikuti prestasi yang kami raih sebelumnya. Dan aku percaya akan banyak murid yang terbantu dengan tangan dinginnya, sebagaimana dia menata landasan hidupku yang membuatku siap dengan hal-hal baru dan melewati rintangan demi rintangan.

Kelulusan menjadi suka cita untuk banyak murid, berakhirnya masa sekolahku ini menjadi awal baru bagiku dan baginya. Supaya kami menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Perpisahan menjadi kekuatan baru untuk menjalani kerjasama kelas yang lebih baik lagi di sekolah baru.

Kepada wali kelasku, dalam hati kuhaturkan ribuan terima kasih dan kukirimkan satu pesan singkat yang kuharap bisa menjadi penutup catatan sekolah menengah pertamaku: "I wish that you would start anew and I'd like to be there to greet you."*


*dikutip dari Until the End of Time oleh Linna W.

0 komentar:

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates