How do measure a year in life of a woman or a man?
Hampir ulang tahunku, dalam setahun ini apakah yang paling berkesan dalam hidupku?
Tentu wabah dunia bernama COVID-19. Dan orang-orang yang terenggut oleh virus yang sangat menular yang merubah kehidupan dunia. Setahun tak bisa bertemu kekasih. Namun juga setahun yang mempertemukan aku kembali dengan seseorang yang kukira takkan pernah kutemui secara fisik dalam tahunan panjang. Xapi. Satu dari mantan kekasih yang menjadi 'sahabat pena' terbaik ketika aku mengalami stress emosional, bukan karena sugestinya yang ciamik sehingga aku selalu menoleh padanya di saat-saat buruk, tapi karena ia tidak sempurna. Ia tak senantiasa menunjukkan ia suci atau tanpa cela. Ia memberiku privasi juga. Dan ia ada di saat paling burukku 2016. Empat tahun kemudian aku mendapat kehormatan mengantar Ayahnya berpulang.
Do you measure a year in her life in truth that she learned? Or in time that she cried? In bridges she burned?
Aku ingat persahabatanku dengan Setya. Saat itu kami 4n6, ketika akan masuk ruangan tiba-tiba dia histeris mengabarkan bapaknya sedang sakit keras. Lalu dia menutup diri, tidak membiarkan satu orang pun masuk sampai Bapaknya pergi.
Sebagai sahabat tentu kita berusaha memahami apa yang diinginkan orang yang kita sayangi, sambil meraba kebutuhannya. Aku merasa tak bisa memberi keduanya pada Setya. Ada kebingungan yang tak bisa kami bicarakan karena Setya sangat introvert. Dan aku bukan pangeran berkuda putih ataupun SJW (social justice warrior). Tidak pernah ingin menjadi pangeran berkuda putih untuk siapapun. Walau dalam hati aku mempertanyakan di manakah dia meletakkanku dalam persahabatan.
Do you measure a year in her life in daylights? In sunsets? In midnights? In inches? In miles? In laughter? In strife?
Selanjutnya aku terbiasa dicampakkan dengan pintu yang mendadak tertutup di hadapanku. Kita berduka dengan cara kita sendiri-sendiri, aku bisa mengerti. Namun ada bagian dari diriku yang ingin mengatakan, "Kita bisa jadi orang lain nanti, tapi hari ini mari kita bersandar sebentar." Ada yang patah di diriku, dulu, dan ketika aku meraih orang yang tepat dan dia mau meluangkan waktu, ternyata semua bisa menjadi satu titik balik krusial.
Tahun lalu kubilang, "Don't shut me out." Aku memang pernah membiarkannya sendiri saat ia keguguran, karena aku bukan pangeran berkuda putih dan aku harus menjaga perasaan kekasihku waktu itu, walau ternyata kekasih itu tidak layak mendapat kesetiaanku. Kali ini aku ingin mengambil bagian dalam menghormati Ayahnya, walau ia tak tampak membutuhkanku seperti saat ia keguguran dulu. Pada malam di mana Ayahnya pulang selamanya, kami bertemu tepat 4 tahun (kurang sehari) dari pertemuan kami sebelumnya di mana saat itu aku merasa diriku adalah puncak segala kegagalan tentang cinta, studi, persahabatan, dan anak yang gagal mewujudkan cita-cita orang tua. Empat tahun sebelumnya itu menjadi satu dari sekian alasan aku mencoba lagi, sampai tiba di sini. Dan di sini, aku ingin menghormati Ayah perempuan yang kucintai di satu waktu tertentu, dan menjadi sahabat di waktu lain.
Aku sungguh berterima kasih padanya yang telah membuka pintu untuk melakukan apa yang telah kulakukan kemarin. Sungguh suatu kehormatan bisa menjadi satu orang yang bisa tahlil pasca pemakaman, tak bisa kubayangkan aku tanpa itu di pemakamanku. Bisa menjadi salah satu yang berdiri mendirikan sholat jenazah, yang mengirimkan bacaan-bacaan mewakili putrinya saat beliau sakit, dan saat beliau telah meninggal. Mungkin aku takkan pernah jadi sahabat yang belanja bareng, yang menemani di saat ia gelisah atau kepingin nongkrong, aku takkan pernah jadi sahabat pilihan hatinya untuk mengalami kegembiraan atau kesedihan. Di hari lain ia akan jadi orang lain, namun di saat seperti ini... let me handle this with care.
Pada setahun dalam hidupku, aku belajar bahwa in the end only kindness matter. Ketika aku tak ada di sisinya saat ia perlu ia tak membalasku demikian saat aku perlu. Dan aku akan selalu ingat, dan berterima kasih akan hal itu.