welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

so hard to breath walk with me, maybe...

Jumat, 18 Juni 2021

love is not enough


nasehat yang diketawain anak usia 4 tahun dan orang tua 84 tahun


di tengah keduanya, aku, sulit sekali mencari yang cinta saja cukup selebihnya let's fix it. gagal menyederhanakan keinginan, perasaan, ambisi, nafsu


cinta itu meteor, jadikan ia berpijar sebentar pada kejatuhannya lantas mati...seandainya juga bisa sesederhana itu...so you don't have to lay awake recollecting memories you shared and cry all night long. so you don't have to stay single for even a second, you take live as it comes and never say regret. so you can simply love other human being as fun as the needs between your legs





Poppy Jenkins

Senin, 14 Juni 2021

 One of the best lesbian romantic comedy i read. Poppy Jenkins karya Clare Ashton merupakan satu dari permata yang kutemukan sebelum pandemi, yang kubaca berulang-ulang di saat pandemi, dan saat ini menemani masa pasca putus hubungan kasih.


Ide tentang soulmate, atau happily after, masih merupakan khayalan naif yang membuatku menghindari genre buku seperti ini, terlalu tidak nyata buatku jadi lebih baik sekalian baca yang fantasi atau thriller psikologis atau misteri atau horor namun setelah Highland Fling (oleh Anna Larner) aku mulai membuka diri untuk novel asal Inggris terutama yang pedesaan. Kemudian aku menemukan tulisan Lee Winter (walaupun ini orang Australia) yaitu Red Files dan dari genre age-gap ini muncul Finding Jessica Lambert yang bercerita tentang diversity selain lesbian yaitu terkait penyakit saraf/jiwa yang saat ini sedang tenar. Di sinilah nama Clare Ashton kukenal, kemudian aku membaca That Certain Something oleh pengarang yang sama yang aku segera suka, dan Poppy Jenkins yang semula tidak kulirik karena genre-nya.


Sebagai penggemar slow burn romance, dan pecinta novel lesbian Amerika, Poppy Jenkins ini agak susah untuk menarik perhatianku di awal bab. Namun dialog dalam buku ini ditulis dengan adekuat oleh Ashton, selaras dengan kehidupan ala Wales yang membuatku menikmati kultur bumi yang tak pernah kukunjungi di dunia nyata. Meski kultur ini bukannya sangat jauh berbeda dari keseharianku namun terabanya kecintaan penulis terhadap kotanya membuat tulisan ini terasa "hangat". Seiring dengan berjalannya bab, buku ini membuka tirai demi tirai tanpa tergesa, membuatku kembali ingin membaca lagi setelah tamat kali pertama. Novel ini mengaduk emosi walau tidak secara ekstrim dan dengan telaten merajut rasa demi rasa kedua tokoh.


Buku ini menceritakan tentang bertemu kembalinya dua sahabat lama setelah 15 tahun terpisah, Poppy Jenkins dan Rosalyn Thorn. Rosalyn kembali ke Wells, yang ditinggali Poppy Jenkins dan kedua orang tua Rosalyn, untuk alasan yang tidak diketahui Poppy setelah meninggalkan kota ini 15 tahun lalu untuk alasan yang lebih misterius lagi. Rosalyn mencerabut paksa persahabatan mereka membuat Poppy dihantui keinginan untuk sebuah 'closure'. Kembalinya Rosalyn membuat Poppy bertekad untuk menemukan penutup yang ia cari selama ini namun sahabatnya justru ingin mewujudkan mimpi-mimpi persahabatan mereka dulu seolah tak pernah memutuskan untuk mengakhirinya. Akankah keinginan kedua sahabat ini bertemu di tengah-tengah?


Aku masih ingat ketika guruku bilang kalau Bahasa Inggris  itu bahasa orang munafik, menulisnya apa bacanya beda. Waktu itu aku tertawa dengan guyonan beliau, memang menurut sudut pandang orang Indonesia tulisan dan cara membaca Bahasa Inggris ini tidak sama. Tapi guruku ini pasti belum pernah main ke Wales di wilayah Kerajaan Inggris. Di sini tulisan dan bacaannya akan membingungkan orang London dan memudahkan orang Indonesia.


Sejujurnya aku masih harus membuka kamus bila membaca Poppy Jenkins ini supaya aku mengerti dengan baik apa yang berusaha disampaikan oleh pengarang karena kegagapanku dalam bacaan dengan gaya British. Hal ini bukan berarti Poppy Jenkins bacaan yang sulit, hanya saja karena tidak menyukai genre ini aku hanya membaca sekilas di awal, baru setelah menamatkan buku ini kali ketiga aku merasakan mengapa buku ini mendapatkan penghargaan Rainbow Award untuk Best Lesbian Contemporary & Erotic Romance dan menjadi pemenang ke-dua kategori Best Lesbian Book untuk penghargaan yang sama tahun 2016 dan mulai ingin tahu makna di setiap kata buku ini. Setelah menyesapi pelan-pelan novel ini, aku merasakan betapa sulit untuk membetot perhatianku kepada selain buku ini. Aku jatuh cinta pada bagaimana Ashton mengulang-alik cerita dari masa lalu ke masa sekarang. Jatuh cinta pada Wales, jatuh cinta pada plotnya yang sederhana, karakter tokoh-tokohnya yang kaya dan digulirkan tanpa belit-belit, tentu saja jatuh cinta dengan slow burn romance-nya, ide tentang soulmate ditemukan sejak jatuh cinta kali pertama, dan hal remeh seperti drama keluarga yang biasanya tidak terlalu kugubris pada novel-novel lainnya. Clare Ashton secara cerdas membuat hal sehari-hari tergambar tidak membosankan dengan pilihan katanya, dan yang paling kusukai adalah bagian dialog yang membuat buku ini benar-benar hidup.


Poppy Jenkins ini kurekomendasikan sekali!

Metanoia

Minggu, 30 Mei 2021

'some things break your heart BUT fix your vision'
ada hal-hal yang menghancurkan hatimu tapi memperbaiki pandangan hidupmu.

Bertemu dengan seorang teman yang beberapa tahun lalu (sekitar 3 tahun) perdarahan otak luas. Satu sisi bagian tubuhnya mati dan dia harus konsumsi obat anti kejang bertahun-tahun karena komplikasi jangka panjang penyakit yang diderita. Dia bertanya, "bukankah dokter harus bertanya padaku dan meminta persetujuan kalau akan mengoperasi otakku dulu?" Aku ingat bahwa saat terkena serangan dia mengalami turun kesadaran, keluarganya mengambil alih seluruh persetujuan tindakan medis. Saat itu operasi untuknya dipertimbangkan sebagai penyelamatan nyawa, bukan penyembuhan.

Temanku ini menjadi orang yang lebih pahit dari dia yang dulu. Dulu dia bisa kerja keras dan mengabaikan kesehatan, mendapatkan istri cantik yang jadi rebutan laki-laki bahkan mengalahkan sesama teman kami yang ganteng abis. Punya anak dari istri itu. Kini dia punya keinginan bekerja tapi menulis kata dengan benar saja tidak bisa pada ketikan media sosial. Konon dia dulu kerja desain. Istrinya meninggalkan dia tak lama pasca perdarahan otak dan anak mereka ikut si Bapak alias temanku ini.

Pengetahuan seperti ini membuatku mensyukuri betapa sehat tubuhku saat berbagai peristiwa mendera meski psikisku harus tertatih mengejar. Termasuk 7-8 tahun yang lalu dan bertahun-tahun setelahnya. Betapa beruntung aku karena tidak harus mengalami pengambilan pelajaran yang menyempitkan hati dan akal-pikiran.

Beberapa malam lalu aku berkunjung ke teman lain sesama teman SMA, perempuan bersuami dan beranak 3, dan salah satu pembicaraan kami membahas mengenai teman kami yang pasca perdarahan otak itu. Tentu kehancuran rumah tangga dan sikap sang istri jadi sorotannya. Aku bilang aku belum bersuami, tak berani banyak komentar. Temanku ini bilang bahwa istri itu pekerjanya pemerintah, cukupanlah mestinya paling tidak membawa anak mereka kalau tak mau merawat suami yang tidak bekerja dan bukan pegawai negeri.

'people go but how they left always stays'
orang-orang pergi tapi bagaimana cara mereka pergi itu membekas.

Ada hal yang tak bisa lupa walau telah bertukar maaf. Ada banyak hal setelah kata maaf itu sendiri, bukan hanya sekedar rekonsiliasi masa lalu, namun menjadikan diri sendiri lebih baik dari sebelumnya. Kalau tidak, maaf itu di kata-kata saja, tidak perlu didengar, dibaca, atau bahkan dipedulikan sebab cuma serupa janji manis yang keluar dari mulut berbisa. Ada kalanya aku berpikir bahwa aku layak mendapatkan 'maaf' yang lebih baik, 'goodbye' yang lebih baik, tapi menoleh ke belakang aku merasa beruntung dicerabut paksa.

Kini dan kelak, bila ingin membuka pintu untuk seseorang baik teman ataupun kekasih, ingatkan diri tentang menyaring kedekatan lebih jeli lagi, ingatkan diri pernah menangis pada malam-malam tak sanggup memungkasi hari dengan ketenangan tidur. Ingatkan diri tentang pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab dan punggung-punggung mereka yang telah merelakanmu terpuruk dan tertunduk pilu.

Pemberian maaf itu adalah mahkota orang-orang yang mulia. Bukan berarti lupa, bukan berarti tak mengambil pelajaran. Kita bisa saja menolak mengambil peran pertemanan kembali apalagi bersahabat, cukup kenal saja. Dan dari pelajaran relasi perkawanan atau percintaan yang telah dilalui bertahun-tahun lama ada catatan penting yang bisa digarisbawahi: kamu tak harus melukai orang lain untuk move on. Berilah orang lain, terlebih kawan baikmu, perpisahan yang lebih baik.

A Year in Our Life: How Do You Measure A Year?

Jumat, 02 April 2021

 How do measure a year in life of a woman or a man?

Hampir ulang tahunku, dalam setahun ini apakah yang paling berkesan dalam hidupku?

    Tentu wabah dunia bernama COVID-19. Dan orang-orang yang terenggut oleh virus yang sangat menular yang merubah kehidupan dunia. Setahun tak bisa bertemu kekasih. Namun juga setahun yang mempertemukan aku kembali dengan seseorang yang kukira takkan pernah kutemui secara fisik dalam tahunan panjang. Xapi. Satu dari mantan kekasih yang menjadi 'sahabat pena' terbaik ketika aku mengalami stress emosional, bukan karena sugestinya yang ciamik sehingga aku selalu menoleh padanya di saat-saat buruk, tapi karena ia tidak sempurna. Ia tak senantiasa menunjukkan ia suci atau tanpa cela. Ia memberiku privasi juga. Dan ia ada di saat paling burukku 2016. Empat tahun kemudian aku mendapat kehormatan mengantar Ayahnya berpulang.


Do you measure a year in her life in truth that she learned? Or in time that she cried? In bridges she burned?


Aku ingat persahabatanku dengan Setya. Saat itu kami 4n6, ketika akan masuk ruangan tiba-tiba dia histeris mengabarkan bapaknya sedang sakit keras. Lalu dia menutup diri, tidak membiarkan satu orang pun masuk sampai Bapaknya pergi.

Sebagai sahabat tentu kita berusaha memahami apa yang diinginkan orang yang kita sayangi, sambil meraba kebutuhannya. Aku merasa tak bisa memberi keduanya pada Setya. Ada kebingungan yang tak bisa kami bicarakan karena Setya sangat introvert. Dan aku bukan pangeran berkuda putih ataupun SJW (social justice warrior). Tidak pernah ingin menjadi pangeran berkuda putih untuk siapapun. Walau dalam hati aku mempertanyakan di manakah dia meletakkanku dalam persahabatan.


Do you measure a year in her life in daylights? In sunsets? In midnights? In inches? In miles? In laughter? In strife?


    Selanjutnya aku terbiasa dicampakkan dengan pintu yang mendadak tertutup di hadapanku. Kita berduka dengan cara kita sendiri-sendiri, aku bisa mengerti. Namun ada bagian dari diriku yang ingin mengatakan, "Kita bisa jadi orang lain nanti, tapi hari ini mari kita bersandar sebentar." Ada yang patah di diriku, dulu, dan ketika aku meraih orang yang tepat dan dia mau meluangkan waktu, ternyata semua bisa menjadi satu titik balik krusial.

Tahun lalu kubilang, "Don't shut me out." Aku memang pernah membiarkannya sendiri saat ia keguguran, karena aku bukan pangeran berkuda putih dan aku harus menjaga perasaan kekasihku waktu itu, walau ternyata kekasih itu tidak layak mendapat kesetiaanku. Kali ini aku ingin mengambil bagian dalam menghormati Ayahnya, walau ia tak tampak membutuhkanku seperti saat ia keguguran dulu. Pada malam di mana Ayahnya pulang selamanya, kami bertemu tepat 4 tahun (kurang sehari) dari pertemuan kami sebelumnya di mana saat itu aku merasa diriku adalah puncak segala kegagalan tentang cinta, studi, persahabatan, dan anak yang gagal mewujudkan cita-cita orang tua. Empat tahun sebelumnya itu menjadi satu dari sekian alasan aku mencoba lagi, sampai tiba di sini. Dan di sini, aku ingin menghormati Ayah perempuan yang kucintai di satu waktu tertentu, dan menjadi sahabat di waktu lain.

Aku sungguh berterima kasih padanya yang telah membuka pintu untuk melakukan apa yang telah kulakukan kemarin. Sungguh suatu kehormatan bisa menjadi satu orang yang bisa tahlil pasca pemakaman, tak bisa kubayangkan aku tanpa itu di pemakamanku. Bisa menjadi salah satu yang berdiri mendirikan sholat jenazah, yang mengirimkan bacaan-bacaan mewakili putrinya saat beliau sakit, dan saat beliau telah meninggal. Mungkin aku takkan pernah jadi sahabat yang belanja bareng, yang menemani di saat ia gelisah atau kepingin nongkrong, aku takkan pernah jadi sahabat pilihan hatinya untuk mengalami kegembiraan atau kesedihan. Di hari lain ia akan jadi orang lain, namun di saat seperti ini... let me handle this with care.


Pada setahun dalam hidupku, aku belajar bahwa in the end only kindness matter. Ketika aku tak ada di sisinya saat ia perlu ia tak membalasku demikian saat aku perlu. Dan aku akan selalu ingat, dan berterima kasih akan hal itu.

Selingkuh

Senin, 08 Februari 2021

Ketika seseorang yang bersama kita ternyata berselingkuh, kita sendiri dan orang di sekitar kita tiba-tiba meraba-raba tanda. Kemudian kita membodoh-bodohkan diri sendiri, atau menyalahkan diri atau orang lain menyalahkan kita dengan kecurigaan “Mungkin sebenarnya dia tahu tapi dibiarkan saja.”


Tidak tahu pasangan kita berselingkuh tidak ada hubungannya dengan kepintaran kita. Kita bisa saja ilmuwan nuklir atau pasca phD Universitas Tokyo atau peraih gelar Master dari Oxford di mana tak ada orang yang bilang kita bodoh namun tetap jadi korban perselingkuhan. Dan kita masih bisa menjadi korban pendapat “Milih si A sih, bukannya dia udah tahu kalau A kegatelan” atau “Milih si B sih, bukannya dulu pernah ketahuan selingkuh” dari orang lain atau orang terdekat. Yang seperti itu adalah kebutuhan manusiawi, seolah dengan memilih pasangan yang tidak gatel dan tidak pernah selingkuh menjadi kunci tidak terjadi pembodohan pasangan. Orang menyalahkan korban dengan menghubungkan kepintaran dan kemampuan meraba tanda-tanda perselingkuhan.


Fokuskan kesalahan pada peselingkuh yang berselingkuh. Mungkin kepada ketidakmampuannya menyelesaikan masalah hingga memilih jalan belakang. Orang seperti ini tentu kita pertanyakan kemampuannya menempatkan sesuatu pada porsinya, misalnya kecerdasan dia seharusnya di letakkan pada hal-hal yang baik, contohnya pada penyelesaian masalah bukan kepada sesuatu yang malah punya risiko memperburuk keadaan. Karena sesungguhnya hanya satu orang yang benar-benar tahu apa yang telah dia lakukan dan mengapa.


So stop telling how stupid you are, or thinking you should’ve seen it coming. Tak ada yang salah dengan mempercayai seseorang, apalagi pasangan kita. Jadikan pelajaran supaya kita tak menjadi mereka yang menyakiti kita.


-catatan sambil nunggu kuliah pagi

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates