Ketika seseorang yang bersama kita ternyata berselingkuh, kita sendiri dan orang di sekitar kita tiba-tiba meraba-raba tanda. Kemudian kita membodoh-bodohkan diri sendiri, atau menyalahkan diri atau orang lain menyalahkan kita dengan kecurigaan “Mungkin sebenarnya dia tahu tapi dibiarkan saja.”
Tidak tahu pasangan kita berselingkuh tidak ada hubungannya dengan kepintaran kita. Kita bisa saja ilmuwan nuklir atau pasca phD Universitas Tokyo atau peraih gelar Master dari Oxford di mana tak ada orang yang bilang kita bodoh namun tetap jadi korban perselingkuhan. Dan kita masih bisa menjadi korban pendapat “Milih si A sih, bukannya dia udah tahu kalau A kegatelan” atau “Milih si B sih, bukannya dulu pernah ketahuan selingkuh” dari orang lain atau orang terdekat. Yang seperti itu adalah kebutuhan manusiawi, seolah dengan memilih pasangan yang tidak gatel dan tidak pernah selingkuh menjadi kunci tidak terjadi pembodohan pasangan. Orang menyalahkan korban dengan menghubungkan kepintaran dan kemampuan meraba tanda-tanda perselingkuhan.
Fokuskan kesalahan pada peselingkuh yang berselingkuh. Mungkin kepada ketidakmampuannya menyelesaikan masalah hingga memilih jalan belakang. Orang seperti ini tentu kita pertanyakan kemampuannya menempatkan sesuatu pada porsinya, misalnya kecerdasan dia seharusnya di letakkan pada hal-hal yang baik, contohnya pada penyelesaian masalah bukan kepada sesuatu yang malah punya risiko memperburuk keadaan. Karena sesungguhnya hanya satu orang yang benar-benar tahu apa yang telah dia lakukan dan mengapa.
So stop telling how stupid you are, or thinking you should’ve seen it coming. Tak ada yang salah dengan mempercayai seseorang, apalagi pasangan kita. Jadikan pelajaran supaya kita tak menjadi mereka yang menyakiti kita.
-catatan sambil nunggu kuliah pagi

0 komentar:
Posting Komentar