
Ada hari yang seperti gerhana matahari bagiku. Gelap total. Menggores pedih yang familier. Yang kuingat adalah gambaran tentangmu sebelum cahaya terblokir semuanya. Yang kuingat tentangmu terhenti seketika itu juga. Manis dan pahit. Perasaan campur aduk yang kuakrabi. Semua tentangmu terhenti seketika itu. Hanya itu yang bisa kuingat darimu. Selebihnya gelap.
Itulah saat aku ingat tentangmu di suatu pagi. Seperti gerhana matahari pula. semuanya gelap. Hanya kau yang bercahaya. Hanya kau yang bercahaya terang. Tapi, masih, segalamu berhenti di saat itu. Rambutmu dengan panjang yang sama, Senyummu dengan kerutan kulit yang sama. Seperti gerhana matahari-gerhana matahari lain di waktu-waktu yang lain tentangmu. Mengingatmu akan membuatku nyengir seharian dan membuatku lupa yang lain. Hanya total padamu. Aku selalu memujamu bahkan untuk hal-hal yang tak kusuka tentangmu.
--sayang, ntar jadi/nggak ? -sms diterima
--iya, donk. ini kan tahun ke4 kita bersama -sms dikirim
Lamunanku terhenti sebentar untuk membalas sms. Bumi, perempuan yang selama empat tahun ini bersamaku. Aku mengenalnya enam tahun yang lalu, di kedai yang dulu sering kita gunakan untuk menghabiskan malam demi mengenyangkan perutku yang selalu kelaparan. Aku duduk di pojok sendiri, di antara teman-teman sesama L yang bercengkerama satu sama lain. Saat itu aku tidak bersama siapapun dan tiba-tiba dia menghampiriku, menawarkan botol yang katanya dia beli berlebih.
Dari situlah, akhirnya kami dekat satu sama lain. Aku mulai membuka hatiku dan diapun berusaha memasukinya. Dua tahun setelahnya kuputuskan untuk menerima tawaran tinggal bersamanya dan kami pindah ke tempat baru. Dan kami semakin kuat dalam empat tahun ini.
Jauh di lubuk hatiku aku tahu dia tahu bahwa aku tak pernah bisa melupakanmu. Meski mulutku telah terbiasa menyebut namanya dengan panggilan dan kata-kata yang paling mesra, aku tahu dia tahu bahwa aku tak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu. Terlebih di hari bergerhana matahari. Hari di mana dia akan membiarkanku sendiri dan tak menggangguku. Hari di mana aku hanya bisa melihatmu karena kau satu-satunya yang bercahaya, yang lain tak nampak. Tapi aku tidak ingin hari ini menjadi hari gerhana, tidak di hari di mana aku merayakan tahun ke empatku dengan Bumi.
Aku tak bisa berkutik saat Monik tiba-tiba menghampiriku di restoran itu. rRstoran di mana aku dan Bumi merayakan tahun ke empat kami. Biasanya aku lebih memilih untuk merayakannya di rumah, tapi entah hari ini tiba-tiba kami memutuskan untuk makan di luar. Di sana kami bertemu Monik, temanmu. Teman baikmu setelah aku. Rupanya Monik tahu tentang siapa Bumi bagiku dan dia tak menyinggung tentang kau sama sekali di depannya.
Tapi setelah Bumi pamit untuk ke toilet, Monik mengatakan tentang kabarmu bahwa dia bertemu denganmu hari ini, bahwa kali ini kau bermaksud untuk kembali tinggal di kota ini. Di kota yang sama denganku. Hatiku berdegup lebih keras dan lebih cepat dari biasanya. Lebih keras dan lebih cepat dari yang bisa dibuat oleh Bumi di malam-malam dia tawarkan kehangatannya padaku. Lebih jauh. Aku berusaha menetralisir debaranku dengan seteguk minuman. Gerhana matahariku tiba kembali. Monik bilang kau mempunyai rencana untuk mengumpulkan teman-teman kembali, untuk reuni kecil, dan bahwa kau mengundangku datang bersama pasangan.
Sudah berapa lama, ini ? Sudah berapa lama sejak aku tak melihatmu ? Sejak kita memilih jalan sendiri-sendiri dan kau pilih jalan yang lebih menjanjikan cahaya matahari. Kau sibuk keliri mimpi dengan crayon warna-warni. Aku harus akui, kau begitu mumpuni dengan jalan yang kau pilih itu. Tiba-tiba kau harus pergi dan hubungan kita berakhir di situ. Delapan tahun sesudahnya, rasa sakit itu masih ada, mengakrabiku dengan kepedihan yang familier. Cinta Bumi begitu besar, begitu menyembuhkan, tapi dia bukan kau sementara yang kuinginkan adalah kau. Meski aku begitu menyayanginya tapi aku menginginkan orang lain. Dan keinginan itu tak berhasil kuredam. Tak berhasil kupadamkan. Kabar tentangmu kudapatkan dari teman-teman perlahan-lahan. Sekali, dua kali. Lebih jarang daripada hari-hari bergerhana matahariku.
Akhirnya aku memang harus menghadapimu lagi. Tapi Bumi menggenggam tanganku, kini. Aku tersenyum menoleh ke arahnya sambil mencium bibirnya sekilas. Jelas aku yang paling tegang di pertemuan ini.
Kulihat kau berubah kini. Tak banyak. Tapi cukup berbeda dari gambaranku pada hari dengan gerhana matahari. Tentangmu benar-benar gerhana matahari bagiku. Kini matahari perlahan terbuka kembali, menampilkan cahaya yang lebih hangat. Kau tampak lebih dewasa. Lebih matang. Kematangan membuatmu jauh lebih menarik.
Aku tak bisa mengingkari pesonamu. Mataku tak henti mengekorimu. Jantungku tak henti berdebar-debar liar. Kulihat Bumi menemukan seorang temannya dan berbincang dengannya. Di saat itulah kau menghampiriku, hampir mematikan jantungku karena terlalu cepat memompa. Tubuhku bereaksi aneh saat kau memberiku pelukan bersahabat.
Tiba-tiba aku terjaga dari mimpi tentang masa lalu. Kupalingkan wajah dan kudapati pemandangan paling indah di dunia ini. Tubuh telanjangmu ditempa cahaya bulan, dengan selimut yang hanya menutup separuh tubuhmu. Matamu terpejam, dengan mulut yang sedikit terbuka dan tubuhmu miring menghadapku. Harus kuakui aku menyukai tubuhmu, meskipun itu bukanlah alasan mengapa aku bersamamu. Kadang aku terkejut sendiri, saat memelukmu, betapa menyenangkan rasanya.Kau menarikku ke tempat lain setelah memberiku pelukan bersahabat itu, pelukan yang kukira bersahabat itu, ke suatu tempat dengan sedikit orang, yang orang-orangnya tidak kukenal.
Kau tawarkan padaku segelas air minum sementara kau menikmati gelas lain sambil mempersilahkan duduk. Aku berdiri saja saat itu dan kikuk meresponmu. Kulihat kau tersenyum, senyuman paling misterius yang pernah kudapatkan darimu.
Kau bercerita tentang keadaanmu. Aku berbagi cerita tentang keadaanku. dan kau mengundangku sekali lagi untuk datang ke rumahmu lusa.
Kali kedua aku bertemu denganmu, jantungku masih belum letih memompa keras dan cepat. Debaran-debaran yang tak kudapatkan dari Bumi, yang dengan gamblang membenarkan perselingkuhan hatiku, tak bisa kukontrol apalagi kuajak kompromi. Tapi sepertinya semakin kikuk aku, semakin senang dirimu. Kali ini aku datang saat kau baru pulang kerja.
Red high heels, you come as you are. Aku tidak terlalu suka dengan perempuan ber-
high heels, tapi kau tak pernah tidak menjadi dirimu sendiri dan selalu melakukan apa yang kau suka dengan bebas, gamblang, jujur dan membuatku tak keberatan menerimamu apa adanya. Malah, kau begitu menarik bagiku.
Kau tawarkan padaku sesuatu yang membuatku gelisah berminggu-minggu setelahnya.
Bumi memberiku banyak hal yang begitu kuinginkan dalam hidup ini. Cinta, kesetiaan, rasa aman. Bersamamu, aku terlalu takut kehilangan. Toh, akhirnya aku kehilangan dirimu delapan tahun yang lalu.
Tapi saat kau tawarkan hal itu, aku tidak bisa untuk tidak tergoda. Untuk meninggalkan Bumi dan kembali padamu. Kau tak pernah menawarkan padaku hal yang berlebihan, bahkan kau tidak menjanjikan apa-apa. Tidak pula kau janjikan cinta yang selamanya. Tapi dari satu hal yang kau tawarkan, ada satu hal yang paling kuinginkan. Satu hal yang membuatku ragu untuk menjalani hidup bersama Bumi: cintamu. Meski apa yang terjadi delapan tahun lalu bisa terjadi kembali saat kau meninggalkanku, tapi tak bisa kusangkal kalau aku begitu menginginkan cintamu. Aku tidak mengerti dengan ketidaklogisanku tentang dirimu. Meski Bumi memberiku segalanya dan terbukti menepati janjinya, aku yang tak bisa menepati janjiku.
Kurangkul pinggangmu, mendekatkan diri.
Kau terbangun, membuka mata sedikit dan bergerak makin menutup jarak antara tubuh kita. Tubuhmu hangat. Tubuhku panas katamu. Aku tersenyum saat satu tanganmu menangkup satu sisi payudaraku, saat kau berikan sentuhan ringan di sepanjang tulang belakangku.
Melihat Bumi sekarang, aku merasa bersyukur meninggalkannya untuk bersamamu. Sebab dia temukan seseorang yang jauh lebih baik dariku dalam mencintainya. Mengetahui betapa stabilnya kehidupannya sekarang membuatku semakin yakin keputusanku tepat meski awalnya menyakitkan. Dan egois. Tapi bila aku memaksakan diri untuk memilih Bumi, tidakkah aku akan lebih egois bila membuatnya tetap mencintaiku tanpa bisa memberi timbal balik yang serupa, malah mencintai orang lain.
"Tinggalkan Bumi, kembalilah padaku," katamu saat itu.
Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kata-katamu itu. Ataupun hidupku bila aku masih dengan Bumi sampai saat ini. Aku sangat menghargai bhoomi dalam hidupku, yang mengajarkanku banyak hal manis dan pahit, maka dengan melepaskannya agar dia bahagialah ungkapan terima kasihku sebab aku tak bisa mencintainya dan tak bisa membuatnya bahagia.
Dan karena kau adalah terang, maka Bumi pun tak bisa terlihat karena hilang dalam terangmu. Kini hari-hari bergerhana matahariku lenyap entah di mana. Kini aku bisa melihatmu seperti halnya yang lain.
Bumi berteman denganmu lebih dekat daripada aku dengannya. Aneh, tapi kau selalu begitu. Ajaib. Kau katakan padaku betapa beruntungnya aku jika memilih Bumi daripada memilihmu.
"Tidak. Aku beruntung memilikimu," kataku.
"Oh, ya ?" katamu sambil menaikkan alis kirimu.
Kau ajarkan padaku lebih banyak hal, batinku. Cinta. Memaafkan. Tentang salah untuk diperbaiki dan kejujuran. Bahwa untuk diberi maaf kita harus percaya bahwa kita berdosa. Dan kejujuran itu membawa aku dan Bumi pada akhir yang bahagia.
Aku tersenyum sendiri dan aku bersyukur untuk cintamu. Untuk alasan apapun aku mencintaimu, minha sol bonita.