welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

Poppy Jenkins

Senin, 14 Juni 2021

 One of the best lesbian romantic comedy i read. Poppy Jenkins karya Clare Ashton merupakan satu dari permata yang kutemukan sebelum pandemi, yang kubaca berulang-ulang di saat pandemi, dan saat ini menemani masa pasca putus hubungan kasih.


Ide tentang soulmate, atau happily after, masih merupakan khayalan naif yang membuatku menghindari genre buku seperti ini, terlalu tidak nyata buatku jadi lebih baik sekalian baca yang fantasi atau thriller psikologis atau misteri atau horor namun setelah Highland Fling (oleh Anna Larner) aku mulai membuka diri untuk novel asal Inggris terutama yang pedesaan. Kemudian aku menemukan tulisan Lee Winter (walaupun ini orang Australia) yaitu Red Files dan dari genre age-gap ini muncul Finding Jessica Lambert yang bercerita tentang diversity selain lesbian yaitu terkait penyakit saraf/jiwa yang saat ini sedang tenar. Di sinilah nama Clare Ashton kukenal, kemudian aku membaca That Certain Something oleh pengarang yang sama yang aku segera suka, dan Poppy Jenkins yang semula tidak kulirik karena genre-nya.


Sebagai penggemar slow burn romance, dan pecinta novel lesbian Amerika, Poppy Jenkins ini agak susah untuk menarik perhatianku di awal bab. Namun dialog dalam buku ini ditulis dengan adekuat oleh Ashton, selaras dengan kehidupan ala Wales yang membuatku menikmati kultur bumi yang tak pernah kukunjungi di dunia nyata. Meski kultur ini bukannya sangat jauh berbeda dari keseharianku namun terabanya kecintaan penulis terhadap kotanya membuat tulisan ini terasa "hangat". Seiring dengan berjalannya bab, buku ini membuka tirai demi tirai tanpa tergesa, membuatku kembali ingin membaca lagi setelah tamat kali pertama. Novel ini mengaduk emosi walau tidak secara ekstrim dan dengan telaten merajut rasa demi rasa kedua tokoh.


Buku ini menceritakan tentang bertemu kembalinya dua sahabat lama setelah 15 tahun terpisah, Poppy Jenkins dan Rosalyn Thorn. Rosalyn kembali ke Wells, yang ditinggali Poppy Jenkins dan kedua orang tua Rosalyn, untuk alasan yang tidak diketahui Poppy setelah meninggalkan kota ini 15 tahun lalu untuk alasan yang lebih misterius lagi. Rosalyn mencerabut paksa persahabatan mereka membuat Poppy dihantui keinginan untuk sebuah 'closure'. Kembalinya Rosalyn membuat Poppy bertekad untuk menemukan penutup yang ia cari selama ini namun sahabatnya justru ingin mewujudkan mimpi-mimpi persahabatan mereka dulu seolah tak pernah memutuskan untuk mengakhirinya. Akankah keinginan kedua sahabat ini bertemu di tengah-tengah?


Aku masih ingat ketika guruku bilang kalau Bahasa Inggris  itu bahasa orang munafik, menulisnya apa bacanya beda. Waktu itu aku tertawa dengan guyonan beliau, memang menurut sudut pandang orang Indonesia tulisan dan cara membaca Bahasa Inggris ini tidak sama. Tapi guruku ini pasti belum pernah main ke Wales di wilayah Kerajaan Inggris. Di sini tulisan dan bacaannya akan membingungkan orang London dan memudahkan orang Indonesia.


Sejujurnya aku masih harus membuka kamus bila membaca Poppy Jenkins ini supaya aku mengerti dengan baik apa yang berusaha disampaikan oleh pengarang karena kegagapanku dalam bacaan dengan gaya British. Hal ini bukan berarti Poppy Jenkins bacaan yang sulit, hanya saja karena tidak menyukai genre ini aku hanya membaca sekilas di awal, baru setelah menamatkan buku ini kali ketiga aku merasakan mengapa buku ini mendapatkan penghargaan Rainbow Award untuk Best Lesbian Contemporary & Erotic Romance dan menjadi pemenang ke-dua kategori Best Lesbian Book untuk penghargaan yang sama tahun 2016 dan mulai ingin tahu makna di setiap kata buku ini. Setelah menyesapi pelan-pelan novel ini, aku merasakan betapa sulit untuk membetot perhatianku kepada selain buku ini. Aku jatuh cinta pada bagaimana Ashton mengulang-alik cerita dari masa lalu ke masa sekarang. Jatuh cinta pada Wales, jatuh cinta pada plotnya yang sederhana, karakter tokoh-tokohnya yang kaya dan digulirkan tanpa belit-belit, tentu saja jatuh cinta dengan slow burn romance-nya, ide tentang soulmate ditemukan sejak jatuh cinta kali pertama, dan hal remeh seperti drama keluarga yang biasanya tidak terlalu kugubris pada novel-novel lainnya. Clare Ashton secara cerdas membuat hal sehari-hari tergambar tidak membosankan dengan pilihan katanya, dan yang paling kusukai adalah bagian dialog yang membuat buku ini benar-benar hidup.


Poppy Jenkins ini kurekomendasikan sekali!

0 komentar:

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates