ada hal-hal yang menghancurkan hatimu tapi memperbaiki pandangan hidupmu.
Bertemu dengan seorang teman yang beberapa tahun lalu (sekitar 3 tahun) perdarahan otak luas. Satu sisi bagian tubuhnya mati dan dia harus konsumsi obat anti kejang bertahun-tahun karena komplikasi jangka panjang penyakit yang diderita. Dia bertanya, "bukankah dokter harus bertanya padaku dan meminta persetujuan kalau akan mengoperasi otakku dulu?" Aku ingat bahwa saat terkena serangan dia mengalami turun kesadaran, keluarganya mengambil alih seluruh persetujuan tindakan medis. Saat itu operasi untuknya dipertimbangkan sebagai penyelamatan nyawa, bukan penyembuhan.
Temanku ini menjadi orang yang lebih pahit dari dia yang dulu. Dulu dia bisa kerja keras dan mengabaikan kesehatan, mendapatkan istri cantik yang jadi rebutan laki-laki bahkan mengalahkan sesama teman kami yang ganteng abis. Punya anak dari istri itu. Kini dia punya keinginan bekerja tapi menulis kata dengan benar saja tidak bisa pada ketikan media sosial. Konon dia dulu kerja desain. Istrinya meninggalkan dia tak lama pasca perdarahan otak dan anak mereka ikut si Bapak alias temanku ini.
Pengetahuan seperti ini membuatku mensyukuri betapa sehat tubuhku saat berbagai peristiwa mendera meski psikisku harus tertatih mengejar. Termasuk 7-8 tahun yang lalu dan bertahun-tahun setelahnya. Betapa beruntung aku karena tidak harus mengalami pengambilan pelajaran yang menyempitkan hati dan akal-pikiran.
Beberapa malam lalu aku berkunjung ke teman lain sesama teman SMA, perempuan bersuami dan beranak 3, dan salah satu pembicaraan kami membahas mengenai teman kami yang pasca perdarahan otak itu. Tentu kehancuran rumah tangga dan sikap sang istri jadi sorotannya. Aku bilang aku belum bersuami, tak berani banyak komentar. Temanku ini bilang bahwa istri itu pekerjanya pemerintah, cukupanlah mestinya paling tidak membawa anak mereka kalau tak mau merawat suami yang tidak bekerja dan bukan pegawai negeri.
'people go but how they left always stays'
orang-orang pergi tapi bagaimana cara mereka pergi itu membekas.
Ada hal yang tak bisa lupa walau telah bertukar maaf. Ada banyak hal setelah kata maaf itu sendiri, bukan hanya sekedar rekonsiliasi masa lalu, namun menjadikan diri sendiri lebih baik dari sebelumnya. Kalau tidak, maaf itu di kata-kata saja, tidak perlu didengar, dibaca, atau bahkan dipedulikan sebab cuma serupa janji manis yang keluar dari mulut berbisa. Ada kalanya aku berpikir bahwa aku layak mendapatkan 'maaf' yang lebih baik, 'goodbye' yang lebih baik, tapi menoleh ke belakang aku merasa beruntung dicerabut paksa.
Kini dan kelak, bila ingin membuka pintu untuk seseorang baik teman ataupun kekasih, ingatkan diri tentang menyaring kedekatan lebih jeli lagi, ingatkan diri pernah menangis pada malam-malam tak sanggup memungkasi hari dengan ketenangan tidur. Ingatkan diri tentang pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab dan punggung-punggung mereka yang telah merelakanmu terpuruk dan tertunduk pilu.
Pemberian maaf itu adalah mahkota orang-orang yang mulia. Bukan berarti lupa, bukan berarti tak mengambil pelajaran. Kita bisa saja menolak mengambil peran pertemanan kembali apalagi bersahabat, cukup kenal saja. Dan dari pelajaran relasi perkawanan atau percintaan yang telah dilalui bertahun-tahun lama ada catatan penting yang bisa digarisbawahi: kamu tak harus melukai orang lain untuk move on. Berilah orang lain, terlebih kawan baikmu, perpisahan yang lebih baik.

0 komentar:
Posting Komentar