welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

jaringan parut

Sabtu, 03 Juli 2010


"Siapa cinta pertamamu ?", tanya seorang teman di tengah bingarnya Plasa Royal minggu malam itu. Aku tertegun sejenak. Pertanyaan itu terasa sama asingnya dengan cuaca Surabaya yang dingin malam itu, yang kusadari saat aku mengendarai mioku menuju plasa ini. Kutatap makananku yang tinggal separuh, pura-pura berpikir sambil meneguk segelas Teh Gopek dingin. Tentu ada satu nama yang muncul di kepalaku. Satu wajah yang familier tapi sekarang terasa asing. Tatapanku seperti fokus tapi pikiranku melayang ke masa itu, sepuluh tahun yang lalu, saat aku jatuh cinta pada seseorang yang benar-benar out of my league.
Aku masih ingat kacamatanya yang tak berbingkai, yang kubeli serupa bertahun-tahun sesudahnya tapi jarang kukenakan karena tidak pantas dengan wajahku. Aku masih ingat dengan kebiasaannya mengerutkan bibir saat berkonsentrasi, IQnya yang Very Superior Intelligence, warna iris matanya yang memudar di pinggirannya, jam tangan logam putih, tulisan tangan yang khas, pipinya yang penuh dan menggemaskan, suaranya yang khas, dialeknya, bau pemutih di seragamnya, begitu banyak yang bisa kuingat darinya meski cuma pusel-pusel yang tak lengkap. Dalam beberapa tahun aku akrab dan merekam semua tentangnya di benakku, kubawa di tahun-tahun sesudahnya. Di ingatanku dia tak menua, tak berubah. Semua terhenti di detik perpisahan dan dia tak tumbuh, tak menikah, tak mencintai orang lain. Itu di ingatanku.
Ada banyak hal yang kupelajari dari mencintainya. Sesuatu yang membiarkanku tumbuh dalam rasa aman sekaligus tidak aman. Sesuatu yang menuntunku menjadi aku yang sekarang. Aku yang dibenci diriku sendiri, sekaligus dicintai oleh diriku sendiri.
"Kamu," jawabku sambil tersenyum menggoda. Teman yang bertanya itu menjadi merah muka. Saat itu kudapati diriku meraba satu ruang yang sudah tertutup yang pintunya berupa celah kecil yang juga telah tertutup, berwarna lebih pucat daripada tempat lain di hatiku. Jaringan parut yang tak nyeri lagi.

~inspired by : vilkacis

0 komentar:

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates