Disclaimer: bagi yang berusaha menebak, ya tepat sekali, ini adalah Fanfiction Mai-HiME dan X-Files. Fox Mulder di sini adalah Natsuki Kuga dan Dana Scully menjadi Shizuru Fujino. Meskipun mereka out of characters, baik dari Mai-HiME maupun dari X-Files, tapi ide Fanfic ini berasal dari kedua film itu, dan film-film lain yang kulihat saat aku masih muda.
Natsuki duduk di depan meja bar Resto and Bar favoritnya, Takumi Tokiha menyambutnya hangat.
"Menu seperti biasa," pinta Natsuki. Dia bergerak gelisah di sebelah Shizuru yang sedang memilih menu.
"Teh hijau saja," putus Shizuru.
"Ramen. Keluarga Tokiha punya Ramen paling enak seantero kota," saran Natsuki. Shizuru menoleh pada partnernya.
"Oke, ramen satu," kata Shizuru.
"Bagaimana kabar kakakmu?" tanya Natsuki pada Takumi, adik Mai.
"Masih sedih," jawab Takumi pendek. Natsuki membaca kesedihan yang sama dirasakannya di mata Takumi.
"Hey, Natsuki!" Akira memecah keheningan yang mendadak tercipta. "Vespa klasikmu keren sekali, kapan-kapan pinjam lagi, ya?", Akira menyeringai.
"Kapan-kapan kita tur kota sama Mikoto juga, oke?" Natsuki mengangkat gelas minumannya menyaluti Akira yang kembali sibuk membuatkan pesanan mereka berdua.
"Saya dengar berita tentang kecelakaan keluarga Tate," kata Shizuru membuka pembicaraan.
"Mai sahabat dekatku. Kami kenal sejak kelas 10. Takumi itu tadi adik Mai, Akira yang sedang menyiapkan makanan kita itu istrinya."
"Dan Mikoto itu, apakah maksudnya Mikoto Minagi?"
"Yup. Mikoto teman Akira dan Takumi. Aktivis LGBT yang bekerja di bagian Juvenile Crime and Behavior. Pernikahannya dengan Nao Yuuki adalah pernikahan same-sex agen negara pertama yang diakui negara. Meskipun aku berpikir kalau mereka masih terlalu muda untuk memutuskan menikah, mereka teman baikku juga."
Shizuru menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum pada Akira yang menyerahkan teh hijau pesanannya.
"Mikoto dan Nao memberi advokasi yang bagus pada anak-anak bermasalah, terutama mereka yang juga bermasalah dengan identitas seksual. Bahkan menurutku mereka yang terbaik di bidangnya. Tak ada yang lebih baik dari mereka yang pernah mengalaminya."
"Menurutmu, mengapa Homura menyerang Gereja Katolik?", Shizuru mengalihkan pembicaraan.
"Itu pertanyaan besar yang mesti dijawab, mengingat Sister Yukariko Sanada adalah pendukung kebebasan beragama yang pernah mengatakan bahwa ia menghormati pemeluk kepercayaan HiME Star."
"Sister Yukariko Sanada?"
"Yup, Sister kepala di Gereja Katolik Distrik 10."
"Oh..."
"Ngomong-ngomong, ini kartu namaku. Boleh minta kartu namamu?" Natsuki heran kenapa dia bisa begitu relaks berbicara dengan Shizuru, yang merupakan orang baru baginya.
"Ah, ya, hampir lupa. Tapi ini masih kartu dengan alamat lama. Saya tinggal di Apartemen J kamar 311, di pusat kota."
"Tak seberapa jauh dari tempatku."
"Ah, itu Mikoto dan Nao. Mikoto!" seru Natsuki. Shizuru tersedak oleh makanan yang sedang dia nikmati, meneguk teh favoritnya untuk meredakan penderitaannya.
"Natsuki!" balas Mikoto, "Shizuru?!", kejut Mikoto.
"Hai, Mikoto," sapa Shizuru.
"Kalian kenal satu sama lain?" tanya Natsuki heran.
"Yup! Kami sering bertemu di acara-aca..."
"Acara-acara seminar nasional Juvenile Crime and Behavior. Saya dulu tertarik mendalami bagian itu," tukas Shizuru memotong pembicaraan Mikoto. Mikoto tertegun sebentar menatap Shizuru, berusaha mengartikan maksud perempuan berambut coklat itu.
"Ah, ya...Shizuru Fujino yang dipuji thesisnya oleh atasan kami," kata Nao dengan antusiasme yang ringan. Mereka berdua duduk di sebelah Natsuki, segera disambut oleh Takumi.
Shizuru beranjak menuju toilet, diikuti oleh Nao.
"Kabar kepindahanmu baru kudengar, sepuluh menit kemudian kita sudah bertemu."
"Apa kabar, Nao?" kata Shizuru sambil memeluk Nao ringan.
"Tomoe akhirnya melepaskanmu?"
"Tidak. Saya pindah karena merasa terganggu dengan kelakuan Tomoe."
"Mantan partner kerjamu itu memang satu contoh lesbian psycho yang paling bagus," ujar Nao.
"No comment."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar