I encountered a Taurus on her journey (of finding love). Somehow within days she had caught my soft side of heart.
Dan hari berlari.
Yang kemudian kusadari adalah aku pada lini masa yang dilematis. Ketidaksesuaian kata dan sikap membuatku menyikapinya dengan ragu-ragu pula.
Sampai akhirnya aku mengerti betapa rapuhnya pertemanan dalam lesbian, tak hanya masalah percintaan.
Kita, seumur hidup kita, akan memiliki kesepakatan sendiri-sendiri dengan diri kita sendiri. Tidak ada celah untuk pertimbangan orang lain. Yang mungkin bisa bernegosiasi dengannya hanyalah kekasih pilihan hati. Dan aku hanya orang lain, bukan kekasih. Dan dia juga orang lain, bukan kekasih.
It was a lovely morning when I left her. And it was a lukewarm memory I love to cherish, while drinking my green tea.
I was her amber, and some one else's her shade of gold.
Ada waktu di mana kita ingin menanyakan tempat kita di hati seseorang. Bukan untuk menagih cinta, tapi sekedar ingin tahu bagaimana ia menyikapi hati kita yang mudah pecah. Dalam hidup, jatuh cinta tidaklah pernah menjadi ukuran yang kuperhitungkan sebab aku bisa saja jatuh cinta pada pantai, aku bisa jatuh cinta pada puisi, aku bisa jatuh cinta pada lagu atau masakan. Tapi penting bagiku untuk membalas seseorang dengan sikap yang seimbang, atau mengacuhkannya bila aku tak sanggup. Tak ada pertemuan yang tak ada makna di baliknya. Seluruh pertemuan adalah tak terelakkan. I always grateful for lessons she gave me. I cried for times I lost her company, she's stronghead, I watched her stunned, confused, pained, let go, and gathered her own life back together again. She's beautiful in her own struggle and I celebrated her life by writing this story of her.
We might not in love in one another, we might not find love in one another. I encountered a Taurus on her journey (of finding love). Now I turn around and find that goodbye can taste bitter in the moment, but the after taste can be so sweet.
Lawu 2018 dan Pengumuman Hari ini
Rabu, 01 Agustus 2018
It's been 16 years...
Aku ingat sekali, setelah pengumuman penerimaan mahasiswa baru saat aku masuk ke Fakultas dan Universitas pilihan pertamaku, aku merenungi alasan kenapa aku diterima di sana. Renungan ini kubawa sampai ke pos-pos pendakian Lawu. Sebab walaupun aku mendapatkan yang kuinginkan, hal itu bukanlah keinginanku. Saat itu aku ingin gagal, agar bisa memilih jurusan yang benar-benar kuinginkan tahun depan.
Aku tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan. Hal ini berlaku pada kisah cintaku, pekerjaanku, kuliahku, dan hal-hal penting lain yang merubah diriku menjadi aku di masa kini.
Namun, bila kulihat ke belakang di mana saat ini aku telah mencapai puncak, tak ada perjalanan yang sia-sia bagiku.
Saat aku pulang dari sebuah kota di timur Jawa kelas 4 SD karena kakakku tidak tahan dengan kenakalanku (kenakalan yang kumaksud adalah aku masih mengompol sampai kelas 6 SD, hahahah...), aku masuk SD pinggiran yang hampir seluruh muridnya merupakan anak orang-orang menengah ke bawah. Sejak tahun kemarin, alumni tahun angkatanku di SD pinggiran ini sedang getol-getolnya ngumpul dan ribut banget di grup Whatsapp (kontras dengan alumni SDku sebelumnya, yang berisi orang-orang menengah ke atas, yang adem ayem). Aku sempat berpikir, sampai saat ini aku belum menemukan kegunaanku sekolah di SD itu (kenapa waktu itu Tuhan kasih aku sekolah di situ) karena aku tidak menemukan manfaat yang membedakan sekolah itu dengan sekolahku sebelumnya.
Hari ini aku bertemu seorang teman sesama alumni SD pinggiran itu, dan kini aku mengerti. Saat kupikir teman-teman SDku itu tak bermanfaat, seketika aku ditamparNya dan itu membuatku memahami rencanaNya dengan lebih baik.
Tidaklah Dia menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Tidak pula saat Dia ciptakan perjalananku.
Seluruh perpisahan adalah campur tanganNya, semua pertemuan hanyalah perjumpaan yang tak terhindarkan. Saat aku menginginkan sesuatu dan Dia memberiku sesuatu yang lain adalah pelajaran yang tak kuketahui sampai aku berada di masa depan dan dengan legowo menerima kehendakNya.
Maka bila pengumuman hari ini mengharuskanku jadi mahasiswa kembali... Maka, selamat malam, Jogja...
Aku ingat sekali, setelah pengumuman penerimaan mahasiswa baru saat aku masuk ke Fakultas dan Universitas pilihan pertamaku, aku merenungi alasan kenapa aku diterima di sana. Renungan ini kubawa sampai ke pos-pos pendakian Lawu. Sebab walaupun aku mendapatkan yang kuinginkan, hal itu bukanlah keinginanku. Saat itu aku ingin gagal, agar bisa memilih jurusan yang benar-benar kuinginkan tahun depan.
Aku tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan. Hal ini berlaku pada kisah cintaku, pekerjaanku, kuliahku, dan hal-hal penting lain yang merubah diriku menjadi aku di masa kini.
Namun, bila kulihat ke belakang di mana saat ini aku telah mencapai puncak, tak ada perjalanan yang sia-sia bagiku.
Saat aku pulang dari sebuah kota di timur Jawa kelas 4 SD karena kakakku tidak tahan dengan kenakalanku (kenakalan yang kumaksud adalah aku masih mengompol sampai kelas 6 SD, hahahah...), aku masuk SD pinggiran yang hampir seluruh muridnya merupakan anak orang-orang menengah ke bawah. Sejak tahun kemarin, alumni tahun angkatanku di SD pinggiran ini sedang getol-getolnya ngumpul dan ribut banget di grup Whatsapp (kontras dengan alumni SDku sebelumnya, yang berisi orang-orang menengah ke atas, yang adem ayem). Aku sempat berpikir, sampai saat ini aku belum menemukan kegunaanku sekolah di SD itu (kenapa waktu itu Tuhan kasih aku sekolah di situ) karena aku tidak menemukan manfaat yang membedakan sekolah itu dengan sekolahku sebelumnya.
Hari ini aku bertemu seorang teman sesama alumni SD pinggiran itu, dan kini aku mengerti. Saat kupikir teman-teman SDku itu tak bermanfaat, seketika aku ditamparNya dan itu membuatku memahami rencanaNya dengan lebih baik.
Tidaklah Dia menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Tidak pula saat Dia ciptakan perjalananku.
Seluruh perpisahan adalah campur tanganNya, semua pertemuan hanyalah perjumpaan yang tak terhindarkan. Saat aku menginginkan sesuatu dan Dia memberiku sesuatu yang lain adalah pelajaran yang tak kuketahui sampai aku berada di masa depan dan dengan legowo menerima kehendakNya.
Maka bila pengumuman hari ini mengharuskanku jadi mahasiswa kembali... Maka, selamat malam, Jogja...
Label:
afternoon tea,
perjalanan n1nna
Cry
Rabu, 18 Juli 2018
I wish you the bluest sky
...and love
wherever you are
and for me to be strong
and let go.
I hope the stars fill the night
wherever you are
and I wish myself to be brave
and begin again.
I wish you the dream you've been longing for
whoever help you to sleep
and for my heart to rest
and heal.
So much you can't tell
I read it in your eyes
As they cease to shine
I wish I was misreading
But word has lost its language
I cry you a river, cry you a river
And I'm drowning in it
I'm drowning in a lone journey
To the dark abyss
Still I cry
Baby, I cry...
(once, you told me to remember
today you want to erase it all by one click)
...and love
wherever you are
and for me to be strong
and let go.
I hope the stars fill the night
wherever you are
and I wish myself to be brave
and begin again.
I wish you the dream you've been longing for
whoever help you to sleep
and for my heart to rest
and heal.
So much you can't tell
I read it in your eyes
As they cease to shine
I wish I was misreading
But word has lost its language
I cry you a river, cry you a river
And I'm drowning in it
I'm drowning in a lone journey
To the dark abyss
Still I cry
Baby, I cry...
(once, you told me to remember
today you want to erase it all by one click)
Label:
bildnis einer trinkerin,
tala134
Antara Civil War, Infinity War, Komunis, dan Pak Hatta
Senin, 07 Mei 2018
Ada kebosanan yang walaupun itu tidak mengganggu ketertarikanku menonton film superhero di minggu pertama film bersangkutan tayang di teater bioskop lokal, namun cukup menggangguku saat aku keluar dari gedung bioskop.
Kebosanan itu dipicu dari satu logika yang kubangun sendiri, dan tentu dibumbui oleh pengalaman, curhat dari mantan gebetan, dan banyak kejadian yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Kusebut itu sindrom pangeran berkuda putih.
Yang akan kubahas adalah soal sang pangeran, bukan sang puterinya. Derajat sindrom ini bisa ringan sampai berat.
Bioskop-bioskop akhir-akhir ini sangat menarik. Subtema yang sangat humanis diterapkan dalam kerangka film-film mulai film tentang dunia medis (yang tentu sangat dekat dengan aspek ini), horror, thriller, sampai film tentang perang dan manusia berkemampuan superhuman. Sejujurnya aku suka kecenderungan film yang semakin ke arah manusiawi, tapi menitik beratkannya dengan terlalu berat justru membuatku semakin merasakan arogansi manusia.
Derajat ringan dari sindrom pangeran berkuda putih, atau sindrom superhero, atau arogansi manusia, kutemukan dalam pengalaman pribadiku dan curhat mantan gebetan. Pernah dengar atau merasakan diputus oleh pacar karena hati pacar sebenarnya telah mendua (walau itu diingkarinya mati-matian) karena pacar merasa kita tidak membutuhkan dia dan dia lebih memilih orang yang membutuhkan dia? Selamat, anda sudah menemukan sesosok 'pangeran berkuda putih' bagi puteri lain. Alasan seperti "Kamu lebih kuat dan mandiri dari si A, karena itu aku milih mutusin kamu", atau "She needs me more than you do", atau "Kamu lebih baik tanpaku" adalah alasan klise untuk membenarkan kelakuan ataupun menyerah pada keadaan yang sudah tidak mendukung. Tentu memulai kisah baru lebih mudah dan melegakan daripada memperbaiki apa yang ada, dan lagi si pacar yang berubah jadi mantan mendapatkan perlakuan istimewa dari orang lain, superhero bagi orang lain.
Derajat beratnya kutemukan pada film-film superhero, yang sedang hangat tai ayam tentu persaingan pahlawan super dari semesta DC dan Marvel. Dan Avengers 3: Infinity War membuat kebosananku terhadap sindrom ini berlipat-lipat lagi hingga muak.
Dalam segi cerita dan penggarapan karakternya, Infinity War mencapai titik yang sulit diikuti oleh film yang diangkat dari DC, namun keduanya mengipasi semangat yang sama: manusia dengan segala kelemahannya adalah the new god.
Karena menghembuskan napas 'manusiawi' ke tubuh-tubuh superhuman, dunia superhero membuka jalan untuk kita (penonton yang sudah pasti adalah manusia) masuk ke dalam semesta buatan mereka dan merasa karib. Hal ini membuat kita juga merasa sah-sah saja saat permasalahan yang timbul karena kekuatan super mereka diselesaikan dengan kekuatan super pula (plus nalar-nalar yang manusia banget).
Ketika bertaruh dengan seorang teman tentang siapa yang bakal menang di film Batman V Superman: Dawn of Justice, aku dengan bulat dan ringan nyeletuk: sudah pasti Batman. Kenapa? Karena Batman manusia. Karena film-film sejenis selalu memenangkan manusia, menjago-jagokan jargon 'save yourself first' atau 'tidak ada yang manusia tidak bisa lakukan' yang mungkin berasal dari film masa kanak-kanak garapan Walt Disney yang gaungnya terasa sampai di film yang bukan untuk kanak-kanak lagi.
Pada masa kanak-kanak, ide 'kamu bisa mencapai apapun cita-citamu' itu sangat bagus untuk merangsang motivasi menghadapi fase hidup yang lebih lanjut. Tapi ketika diterapkan pada masa dewasa, jurang arogansi, ego, dan ambisi berlebihan membuat penonton seperti aku takut kesandung dan jatuh.
Betapa tidak, taruhan saja kalau Vision di film Avengers (atau film lain dalam semesta Marvel) yang notebenenya merupakan ciptaan Tony Stark yang diisi oleh Jarvis, Ultron, bahkan salah satu batu Infinity, dapat hidup selayaknya manusia tanpa batu tersebut. Bayangkan, manusia menciptakan manusia. Logika seperti ini tentu tidak masuk dalam otak manusiawiku. Logika macam 'manusia bisa melakukan segalanya, mengalahkan segala tantangan di hadapannya' bagiku tak perlu ditunggangi oleh kemampuan menciptakan kehidupan karena sudah jelas 'kesombongan' itu bukan ranah milik kita. Lihat juga siapa yang lebih banyak tidak matinya daripada yang mati? Bangsa manusia biasa, kan? Karakter yang berkekuatan tertentu kebanyakan hangus jadi abu. Kalau berpikir "mau ngelawan Thanos pake apa?" tentu ini sangat menarik, tapi kalau berpikir pada domain 'manusia adalah tuhan baru' hal seperti ini sudah pasti cuma nanggepin pake roll eye. Sambil mbenerin roll rambut.
Infinity War dibanding Civil War milik Captain America bagiku sudah merupakan penurunan kelas untuk segi peperangannya, tak peduli sebanyak dan seluarbiasa apapun pahlawan-pahlawan super yang diboyong ke dalam film Avengers. Tak ada yang bisa membantah bahwa perang ideologi telah membuat genosida di muka bumi ini di dunia nyata. Diangkatlah peperangan ideologi ini ke dalam Infinity War dalam bentuk kado remeh dengan bungkus luar biasa cantik. Dengan musuh dan ideologi yang jelas (jelas salah), Infinity War membuat makanan yang tampak nikmat menjadi tak berasa. Berbeda dengan Civil War, atau bahkan dengan Hunger Games, peperangan walaupun telah usai tidak akan membuat kedua belah pihak tidur nyenyak.
Civil War bagiku merupakan puncak keemasan dari film dalam semesta Marvel sejauh ini, di mana nilai-nilai manusia benar-benar hidup dan ada. Film ini, seperti halnya trilogi Spiderman milik Sam Raimi, konsisten imbang dalam segala aspek. Perang ideologi Captain Steve Roger dengan Tony tidaklah ditutup dengan kemenangan atau setidaknya rasa puas. Civil War sangat politik. Mana kala satu ideologi bersikeras mengungguli ideologi lain, salah satu memang harus besar hati memilih. Tony memilih untuk mentaati regulasi yang dibuat pihak lain karena tak biasa membatasi diri, setelah moralnya terguncang oleh konsekuensi dari kemampuan super yang dimiliki kelompoknya. Steve ingin mempertahankan ketidakberpihakan. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh politik negara mereka sendiri yang kejam, yang dengan massal membunuh orang dari ideologi lain (di negara lain).
Tentu saja hal seperti ini dipahami oleh mata-mata macam Nat dan Clint yang bekerja kotor untuk negara. Ada kekuatan yang lebih tangguh dari negara yang bisa membuat tidur tenang dan bisa mendesak kebijakan negara apabila keluar jalur, kenapa mesti ditundukkan oleh undang-undang, kembali bekerja kotor, dan saling curiga? Tentu saran Tony, yang punya uang dan koneksi politik seperti jaring laba-laba, dimuntahkan mentah-mentah mengingat status imunitas Tony.
Ingat sejarah negara kita sendiri? Amerika mensyaratkan ideologi komunis angkat kaki dari Indonesia sebelum mengakui kita sebagai sebuah negara, hal ini dijawab Hatta selaku perdana menteri kita dengan tangan dingin. Setahun kemudian Indonesia tak diutak-atik lagi oleh negara sekutu. Ingat ketika Soekarno membawa kita terlalu kiri? CIA diamini Soeharto campur tangan dalam skenario rakyat membunuh rakyat sendiri yang menjadi penutup masa kuasa sang putera fajar dan melahirkan orde baru. Ketika komunisme tenang dalam tidur, politik menjadi menarik sekaligus memuakkan. Menarik karena ketidakjelasan protagonis-antagonis seperti ramalan Soekarno, memuakkan karena yang digodok sampai mendidih saat ini adalah masalah agama. Tapi ya memang itulah bagian-bagian dari politik yang tak bisa dipilah-pilih.
Steve, seperti Hatta, jelas. Bahwa persoalan Avengers harus dirumuskan sendiri dan tidak condong. Mencampurkannya dengan negara hanya akan menjadikannya aset sepihak yang mengorbankan moral, pemikiran, dan keunikan tumbuh kembang masing-masing individu dalam grup. Hatta menangkap politik luar negeri Amerika dengan meredam komunis dalam negeri secara 'sipil', demikian akan jauh berbeda hasilnya dengan cara 'militer' Untung dan tanggapan Soeharto yang menghasilkan genosida. Hal ini selaras dengan cara Thanos yang (seakan) tepat sasaran tapi kurang belas kasihan dan minus penghargaan terhadap nilai-nilai yang membentuk manusia dan kehidupan yang menyokong manusia itu sendiri karena dibutakan kekuatan dan kesegeraan dalam mewujudkan cita-cita.
Yang kusayangkan dalam Civil War adalah bagaimana Steve semudah itu melepaskan Avengers tanpa deklarasi pesaing, kemungkinan besar karena Steve masih merasa menjadi bagian dari Avengers walau bukan anggota aktifnya. Hal ini terkonfirmasi dalam Infinity War saat Steve menyebut markas Avengers sebagai rumah. Steve memutuskan bahwa menyerahkan urusan rumah tangga resmi Avengers ke tangan Tony adalah kompromi yang 'korbannya' lebih sedikit.
Di luar semua itu, Infinity War adalah tontonan ciamik yang terlalu seru untuk dilewatkan.
Ketika dalam hidup diharuskan memilih pilihan dilematis, jika pilihanmu membuatmu lega, hidup tenang, dan berhenti mencari kesalahan dalam diri, maka kritisi dirimu sendiri benarkah pilihan itu tepat? Memilih dengan pilihan sulit bagiku akan menjadi kenangan tersendiri yang membuatku seperti tersetrum saat akan mengulangi perbuatan yang itu-itu saja, atau saat teringat. Akan membuatku sulit tidur karena merenungkan pelajaran pahit, dan dan menjaga langkah di kemudian hari. Thanos di akhir Avengers 3: Infinity War demikian merasa benar dengan pengorbanan demi cita-citanya, aku yakin selanjutnya ia akan tertampar dengan pelajaran tentang 'merasa paling benar'.
Berhati-hatilah dalam tinggi menilai diri sendiri tapi juga jangan merendahkan diri sendiri.
Dan meski aku menertawakan betapa kanak-kanaknya Star Lord dan logika neuron adik T'Challa (karena dengan berapapun trilyunan sinaps neuron dan listrik-listriknya, robot takkan pernah menjadi manusia) yang sama mengada-adanya dengan logika mantan kekasihku saat memutuskanku, intinya aku cumalah menertawakan diri sendiri --yang berlagak puteri yang percaya dengan pangeran berkuda putih yang kelak jika menjadi raja niscaya akan menyunting puteri-puteri lain-- yang tetap mengikuti film ini (dan tetap dengan antusias menonton di minggu pertama).
Namanya juga perempuan.
Kebosanan itu dipicu dari satu logika yang kubangun sendiri, dan tentu dibumbui oleh pengalaman, curhat dari mantan gebetan, dan banyak kejadian yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Kusebut itu sindrom pangeran berkuda putih.
Yang akan kubahas adalah soal sang pangeran, bukan sang puterinya. Derajat sindrom ini bisa ringan sampai berat.
Bioskop-bioskop akhir-akhir ini sangat menarik. Subtema yang sangat humanis diterapkan dalam kerangka film-film mulai film tentang dunia medis (yang tentu sangat dekat dengan aspek ini), horror, thriller, sampai film tentang perang dan manusia berkemampuan superhuman. Sejujurnya aku suka kecenderungan film yang semakin ke arah manusiawi, tapi menitik beratkannya dengan terlalu berat justru membuatku semakin merasakan arogansi manusia.
Derajat ringan dari sindrom pangeran berkuda putih, atau sindrom superhero, atau arogansi manusia, kutemukan dalam pengalaman pribadiku dan curhat mantan gebetan. Pernah dengar atau merasakan diputus oleh pacar karena hati pacar sebenarnya telah mendua (walau itu diingkarinya mati-matian) karena pacar merasa kita tidak membutuhkan dia dan dia lebih memilih orang yang membutuhkan dia? Selamat, anda sudah menemukan sesosok 'pangeran berkuda putih' bagi puteri lain. Alasan seperti "Kamu lebih kuat dan mandiri dari si A, karena itu aku milih mutusin kamu", atau "She needs me more than you do", atau "Kamu lebih baik tanpaku" adalah alasan klise untuk membenarkan kelakuan ataupun menyerah pada keadaan yang sudah tidak mendukung. Tentu memulai kisah baru lebih mudah dan melegakan daripada memperbaiki apa yang ada, dan lagi si pacar yang berubah jadi mantan mendapatkan perlakuan istimewa dari orang lain, superhero bagi orang lain.
Derajat beratnya kutemukan pada film-film superhero, yang sedang hangat tai ayam tentu persaingan pahlawan super dari semesta DC dan Marvel. Dan Avengers 3: Infinity War membuat kebosananku terhadap sindrom ini berlipat-lipat lagi hingga muak.
Dalam segi cerita dan penggarapan karakternya, Infinity War mencapai titik yang sulit diikuti oleh film yang diangkat dari DC, namun keduanya mengipasi semangat yang sama: manusia dengan segala kelemahannya adalah the new god.
Karena menghembuskan napas 'manusiawi' ke tubuh-tubuh superhuman, dunia superhero membuka jalan untuk kita (penonton yang sudah pasti adalah manusia) masuk ke dalam semesta buatan mereka dan merasa karib. Hal ini membuat kita juga merasa sah-sah saja saat permasalahan yang timbul karena kekuatan super mereka diselesaikan dengan kekuatan super pula (plus nalar-nalar yang manusia banget).
Ketika bertaruh dengan seorang teman tentang siapa yang bakal menang di film Batman V Superman: Dawn of Justice, aku dengan bulat dan ringan nyeletuk: sudah pasti Batman. Kenapa? Karena Batman manusia. Karena film-film sejenis selalu memenangkan manusia, menjago-jagokan jargon 'save yourself first' atau 'tidak ada yang manusia tidak bisa lakukan' yang mungkin berasal dari film masa kanak-kanak garapan Walt Disney yang gaungnya terasa sampai di film yang bukan untuk kanak-kanak lagi.
Pada masa kanak-kanak, ide 'kamu bisa mencapai apapun cita-citamu' itu sangat bagus untuk merangsang motivasi menghadapi fase hidup yang lebih lanjut. Tapi ketika diterapkan pada masa dewasa, jurang arogansi, ego, dan ambisi berlebihan membuat penonton seperti aku takut kesandung dan jatuh.
Betapa tidak, taruhan saja kalau Vision di film Avengers (atau film lain dalam semesta Marvel) yang notebenenya merupakan ciptaan Tony Stark yang diisi oleh Jarvis, Ultron, bahkan salah satu batu Infinity, dapat hidup selayaknya manusia tanpa batu tersebut. Bayangkan, manusia menciptakan manusia. Logika seperti ini tentu tidak masuk dalam otak manusiawiku. Logika macam 'manusia bisa melakukan segalanya, mengalahkan segala tantangan di hadapannya' bagiku tak perlu ditunggangi oleh kemampuan menciptakan kehidupan karena sudah jelas 'kesombongan' itu bukan ranah milik kita. Lihat juga siapa yang lebih banyak tidak matinya daripada yang mati? Bangsa manusia biasa, kan? Karakter yang berkekuatan tertentu kebanyakan hangus jadi abu. Kalau berpikir "mau ngelawan Thanos pake apa?" tentu ini sangat menarik, tapi kalau berpikir pada domain 'manusia adalah tuhan baru' hal seperti ini sudah pasti cuma nanggepin pake roll eye. Sambil mbenerin roll rambut.
Infinity War dibanding Civil War milik Captain America bagiku sudah merupakan penurunan kelas untuk segi peperangannya, tak peduli sebanyak dan seluarbiasa apapun pahlawan-pahlawan super yang diboyong ke dalam film Avengers. Tak ada yang bisa membantah bahwa perang ideologi telah membuat genosida di muka bumi ini di dunia nyata. Diangkatlah peperangan ideologi ini ke dalam Infinity War dalam bentuk kado remeh dengan bungkus luar biasa cantik. Dengan musuh dan ideologi yang jelas (jelas salah), Infinity War membuat makanan yang tampak nikmat menjadi tak berasa. Berbeda dengan Civil War, atau bahkan dengan Hunger Games, peperangan walaupun telah usai tidak akan membuat kedua belah pihak tidur nyenyak.
Civil War bagiku merupakan puncak keemasan dari film dalam semesta Marvel sejauh ini, di mana nilai-nilai manusia benar-benar hidup dan ada. Film ini, seperti halnya trilogi Spiderman milik Sam Raimi, konsisten imbang dalam segala aspek. Perang ideologi Captain Steve Roger dengan Tony tidaklah ditutup dengan kemenangan atau setidaknya rasa puas. Civil War sangat politik. Mana kala satu ideologi bersikeras mengungguli ideologi lain, salah satu memang harus besar hati memilih. Tony memilih untuk mentaati regulasi yang dibuat pihak lain karena tak biasa membatasi diri, setelah moralnya terguncang oleh konsekuensi dari kemampuan super yang dimiliki kelompoknya. Steve ingin mempertahankan ketidakberpihakan. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh politik negara mereka sendiri yang kejam, yang dengan massal membunuh orang dari ideologi lain (di negara lain).
Tentu saja hal seperti ini dipahami oleh mata-mata macam Nat dan Clint yang bekerja kotor untuk negara. Ada kekuatan yang lebih tangguh dari negara yang bisa membuat tidur tenang dan bisa mendesak kebijakan negara apabila keluar jalur, kenapa mesti ditundukkan oleh undang-undang, kembali bekerja kotor, dan saling curiga? Tentu saran Tony, yang punya uang dan koneksi politik seperti jaring laba-laba, dimuntahkan mentah-mentah mengingat status imunitas Tony.
Ingat sejarah negara kita sendiri? Amerika mensyaratkan ideologi komunis angkat kaki dari Indonesia sebelum mengakui kita sebagai sebuah negara, hal ini dijawab Hatta selaku perdana menteri kita dengan tangan dingin. Setahun kemudian Indonesia tak diutak-atik lagi oleh negara sekutu. Ingat ketika Soekarno membawa kita terlalu kiri? CIA diamini Soeharto campur tangan dalam skenario rakyat membunuh rakyat sendiri yang menjadi penutup masa kuasa sang putera fajar dan melahirkan orde baru. Ketika komunisme tenang dalam tidur, politik menjadi menarik sekaligus memuakkan. Menarik karena ketidakjelasan protagonis-antagonis seperti ramalan Soekarno, memuakkan karena yang digodok sampai mendidih saat ini adalah masalah agama. Tapi ya memang itulah bagian-bagian dari politik yang tak bisa dipilah-pilih.
Steve, seperti Hatta, jelas. Bahwa persoalan Avengers harus dirumuskan sendiri dan tidak condong. Mencampurkannya dengan negara hanya akan menjadikannya aset sepihak yang mengorbankan moral, pemikiran, dan keunikan tumbuh kembang masing-masing individu dalam grup. Hatta menangkap politik luar negeri Amerika dengan meredam komunis dalam negeri secara 'sipil', demikian akan jauh berbeda hasilnya dengan cara 'militer' Untung dan tanggapan Soeharto yang menghasilkan genosida. Hal ini selaras dengan cara Thanos yang (seakan) tepat sasaran tapi kurang belas kasihan dan minus penghargaan terhadap nilai-nilai yang membentuk manusia dan kehidupan yang menyokong manusia itu sendiri karena dibutakan kekuatan dan kesegeraan dalam mewujudkan cita-cita.
Yang kusayangkan dalam Civil War adalah bagaimana Steve semudah itu melepaskan Avengers tanpa deklarasi pesaing, kemungkinan besar karena Steve masih merasa menjadi bagian dari Avengers walau bukan anggota aktifnya. Hal ini terkonfirmasi dalam Infinity War saat Steve menyebut markas Avengers sebagai rumah. Steve memutuskan bahwa menyerahkan urusan rumah tangga resmi Avengers ke tangan Tony adalah kompromi yang 'korbannya' lebih sedikit.
Di luar semua itu, Infinity War adalah tontonan ciamik yang terlalu seru untuk dilewatkan.
Ketika dalam hidup diharuskan memilih pilihan dilematis, jika pilihanmu membuatmu lega, hidup tenang, dan berhenti mencari kesalahan dalam diri, maka kritisi dirimu sendiri benarkah pilihan itu tepat? Memilih dengan pilihan sulit bagiku akan menjadi kenangan tersendiri yang membuatku seperti tersetrum saat akan mengulangi perbuatan yang itu-itu saja, atau saat teringat. Akan membuatku sulit tidur karena merenungkan pelajaran pahit, dan dan menjaga langkah di kemudian hari. Thanos di akhir Avengers 3: Infinity War demikian merasa benar dengan pengorbanan demi cita-citanya, aku yakin selanjutnya ia akan tertampar dengan pelajaran tentang 'merasa paling benar'.
Berhati-hatilah dalam tinggi menilai diri sendiri tapi juga jangan merendahkan diri sendiri.
Dan meski aku menertawakan betapa kanak-kanaknya Star Lord dan logika neuron adik T'Challa (karena dengan berapapun trilyunan sinaps neuron dan listrik-listriknya, robot takkan pernah menjadi manusia) yang sama mengada-adanya dengan logika mantan kekasihku saat memutuskanku, intinya aku cumalah menertawakan diri sendiri --yang berlagak puteri yang percaya dengan pangeran berkuda putih yang kelak jika menjadi raja niscaya akan menyunting puteri-puteri lain-- yang tetap mengikuti film ini (dan tetap dengan antusias menonton di minggu pertama).
Namanya juga perempuan.
Label:
afternoon tea,
perjalanan n1nna
Elixir: 24
Sabtu, 24 Maret 2018
We'll end up splitting up because I'm a witch,...
I'll cry sorrowfully..
I'll miss you so much..
But even though I miss you..
I'll be strong and return to a normal every day life
Maybe we'll meet someone else
But the sadness won't go away
And once more, I'll find myself constantly yearning for you...
But one day..
If I'm not by your side..
Maybe I'll be completely forgotten
-Si Yeon
..constantly yearning for you...
..constantly...
yearning for you...
Apakah selalu hanya yang sedang jatuh cinta
Yang butuh kepastian?
Dan tak butuh airmata
Untuk monolog yang gegar
Dan tak butuh cinta
Untuk memulai sebuah perjalanan melupakan
Seteguk eleksir
Untuk kisah yang usai sebelum babak pertama
Dan untuk puluhan kilometer di antara kita
Yang semakin lebar
I'll cry sorrowfully..
I'll miss you so much..
But even though I miss you..
I'll be strong and return to a normal every day life
Maybe we'll meet someone else
But the sadness won't go away
And once more, I'll find myself constantly yearning for you...
But one day..
If I'm not by your side..
Maybe I'll be completely forgotten
-Si Yeon
..constantly yearning for you...
..constantly...
yearning for you...
Apakah selalu hanya yang sedang jatuh cinta
Yang butuh kepastian?
Dan tak butuh airmata
Untuk monolog yang gegar
Dan tak butuh cinta
Untuk memulai sebuah perjalanan melupakan
Seteguk eleksir
Untuk kisah yang usai sebelum babak pertama
Dan untuk puluhan kilometer di antara kita
Yang semakin lebar
Label:
perjalanan n1nna,
tala134
Patah
Jumat, 23 Maret 2018
Aku bukan ilalang
Yang tak bisa pergi ke mana kau berada
Saat rindu
Jadi bila aku tak datang
Anggap saja aku tak ingin
Karena aku juga tak mau jadi belalang
Yang melompat dari satu hati ke lain hati
Hanya supaya aku tak merasa sepi
Sendiri adalah ruang berbeda
Untuk kita
Aku sudah ingin berbagi
Tapi kau masih belum lupa rasa disakiti
Tentu satu hari kau
Pasti tersenyum lagi
Kalau toh aku mesti patah ini kali
Jangan ada di antara kita yang disesali
Label:
tala134
Kau Datang -Krakatau
Selasa, 13 Maret 2018
Kurindukan suasana baru
Harapkan merubah hidupku
Mengisi kehampaan diri
'Tuk mengganti yang tlah pergi
Kau datang seketika
Membuatku terpana
Sehingga ku terlena
Walau 'tuk sementara
Kau datang
Demi kebahagiaanku
Yang kucari
Harapkan merubah hidupku
Mengisi kehampaan diri
'Tuk mengganti yang tlah pergi
Kau datang seketika
Membuatku terpana
Sehingga ku terlena
Walau 'tuk sementara
Kau datang
Demi kebahagiaanku
Yang kucari
Label:
sing a song
Langganan:
Postingan (Atom)

