welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

High and Dry

Jumat, 25 Oktober 2013

High and dry
=
Stranded, without help or hope of recovery (kamus antah-berantah).

Sept, 25th 2013.
Rabu, 1.25 am

She left her high and dry.

Begitu kesimpulanku terhadap patah hatinya temanku, ERS. Mulai dari kunci sepeda motor yang ketinggalan, masih menempel pada motor saat kutemukan di tempat parkir (dan sialnya itu adalah motorku yang kupinjamkan padanya), sampai janjian nonton bioskop dan dia masuk mall yang salah. Belum lagi dia menjadi hobi nyasar dan kehilangan minat mengerjakan tugas ini-itu.

Cukup sudah.

Kalau secara fisik boleh kutampar dia, akan kutampar dia bolak-balik. Kadang takut juga saat dia mengendarai motor lalu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena tidak konsentrasi menyetir.

Awalnya kukira jatuh cinta bagus untuknya, sekian lama dia dipermainkan orang-orang tak bertanggung jawab, kupikir ini saatnya membuka diri terhadap calon "teman dekat" yang dibawa teman-teman. Salah satunya calon "teman dekat"-nya ERS. Maksudku begini, di antara kami semua akulah yang paling susah menerima orang baru. Wajahku bisa terlihat berlipat-lipat jadi seratus kalau ada teman yang membawa orang baru. Jutek abis. Nggak nganggep sebelah mata, deh. "I generally dont like people I dont know," kalau aku boleh pinjam kata-katanya Erica Hahn. Tapi, demi melihat beberapa teman yang jomblo tiada usai, aku mulai menurunkan kadar kejutekanku terhadap orang-orang baru, dengan harapan mereka nggak takut pada kami dan kami punya lebih banyak kans untuk kenal mereka lalu memberi pendapat pada empunya hajat.

Jatuh cinta memang membuat ERS high and dry. Lovestoned, keracunan cinta, seperti melayang tinggi akibat ganja. Tapi, hampir selalu alur percintaan temanku satu itu berakhir dipermainkan. Mulai pacaran dengan ABG (anak baru gede) tua sampai yang beneran muda. Sering kudapati dia terlalu tinggi menilai seseorang, sering aku tak percaya dengan penilaian-penilaiannya terhadap si calon, tapi aku juga merasa kalau kesinisanku itu nggak enak diutarakan, apalagi didengar.


25 Oktober 2013
Jumat
01.55

Lantas ERS bilang padaku, dia sudah jadian sama orang baru. Kutanya pada dia, sudahkah melakukan closure pada mantan terakhir, dia bilang belum.

Cerita mengalir tentang perkenalan dan bagaimana dia jadian dengan orang baru dan aku geram. Sekali lagi, kalau bisa dia sungguhan kutampar bolak-balik, akan kutampar dia bolak-balik. Batas antara orang baik sama orang tolol sama orang naif itu tipis, aku kurang suka dengan mereka yang terlalu positive thinking. Di satu sisi mereka baik, bak malaikat, di sisi lain kupikir mereka dungu. Setidaknya keputusan ERS kali ini adalah satu dari sekian yang amat kusayangkan.

Berkecimpung di dunia perempuan dan perempuan selama sepuluh tahun dan menyelami beragam pertemanan, membuatku amat sangat menghargai arti seorang teman yang baik. Teman-teman yang berenergi positif dan membuat sekitarnya nyaman. Mereka jarang ada, sekali mereka terlihat dan memiliki keterikatan yang sama, aku akan berupaya mempertahankan mereka.

Pembelaan yang besar terhadap teman yang positif ini, tak jarang membuat mereka merasa aku naksir mereka. Itu hak mereka, sih, aku memang kadang sangat peduli. Mereka yang sangat dekat denganku mengerti watakku satu ini dan sudah bebas dari rasa Ge-eR yang menyesatkan.

ERS ini sepertinya pecinta daun muda. Aku adalah orang yang pesimis terhadap mereka yang lebih muda untuk urusan cinta. Seumur hidup hanya sekali pedekate dengan manusia yang lebih muda, itupun karena suatu kekuatan yang antah berantah, love at the first sight. Terbukti, keputusan kami tak bisa bersama itu memberi ketenangan batin dalam hati meski antara kami seharusnya ada closure.

ERS ini bolak-balik ditipu ababil, kata kasarku sih. Sering berstatus galau dan puitis, kadang bikin aku mual karena ke-positive thinking-annya. Dia yakin orang bisa berubah, yakin masa lalu cuma masa lalu, yakin terhadap kekuatan cinta, yakin usia tak menunjukkan kematangan, dll. Iya kalau dia bertemu dengan orang yang tepat, yang bisa sesuai dengan harapan muluk-muluknya tadi, kalau enggak? Sejauh ini, dia selalu ketemu orang yang salah.

Barang kali saat ini aku masih marah dengan keputusannya sampai aku menuliskan ini. I just love her so much, so i cant help but hate her, too. Seharusnya aku tahu bahwa ada orang yang harus jatuh berkali-kali sebelum menemukan titik terang. Kuharap tak perlu lama lagi aku harus melihat kejatuhannya. I hope life treats her kind.

How to be BFF with Your Mother

Sabtu, 29 Juni 2013

"Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa"

Kalau memenuhi keinginan Nick tentang sebuah lagu yang berisi lirik BFF dengan ibu, sebagai pengganti Neni yang merasa topik ini terlalu membuatnya mengerutkan kening, maka aku menunjuk lagu "I Turn to You" sebagai nyanyian hati.

Tapi, seperti janjiku, aku cuma penutup topik bulan ini. Dan masing-masing penulis tidak pernah bisa tergantikan. Adapun tulisan di alinea sebelumnya hanyalah sekelumit kerinduan terhadap tulisan Neni.

Mari lanjutkan.

Kalau kasih ibu sepanjang masa dijadikan cerita horor, Mama terasa amat manusiawi untuk ukuran pecinta monster. Sedangkan Mama Minta Pulsa bisa dijadikan pengobat kerinduan terhadap Mak Lampir, entah di manapun anaknya berada, yang pasti ini emak betul-betul BFF sama anaknya karena anaknya rajin beliin dia pulsa bukan kebalikannya.

Sering saat berteman dengan seseorang aku turut mengenal ibunya. Ada ibu yang lebih memuja anak laki-lakinya, sehingga teman perempuanku yang kebetulan punya ibu tipe begini harus tumbuh dan berkembang dengan pernyataan yang lebih mirip tuntutan: "you are my mother, you are supposed to love me." Teman perempuan lain punya tipe ibu yang sama, hanya saja ibunya punya satu anak laki-laki favorit sedangkan dia punya dua saudara laki-laki. Alhasil, dia bersekutu dengan kakak laki-laki yang bukan kesayangan itu, dan dia tumbuh menjadi perempuan posesif yang tidak mau berbagi dan punya tekad harus mendapatkan apa yang dia inginkan.

Lain ibu lain tipe. Ibuku juga punya anak favorit, kakak laki-lakiku. Aku harus puas dicap anak bungsu yang paling nyleneh oleh ibu. Mulai dari ogah mengambil raportku sampai selalu menjadikanku tameng untuk menghadapi bapak membuatku tumbuh menjauhi ibu. Baru beberapa tahun ini aku berusaha memperbaiki hubungan dengan ibu, mensyukuri bahwa sampai detik ini beliau masih sehat, memberiku kasih sayang surgawi, dan arah masa depan. Aku tidak  menunggu jawaban Tuhan terhadap doaku untuk menentukan arah kehidupanku, cukup kutanyakan pada ibu jalan mana yang beliau inginkan kutempuh. Aku percaya saja, berjalan saja, seperti aku percaya bahwa surga berada di bawah telapaknya.

Tampaknya, tahun-tahun aku mengalah dan berusaha memperbaiki hubungan dengan ibuku telah membuahkan hasil. Aku yang dikenal kedua orang tuaku sebagai anak yang "negativisme" ternyata justru tumbuh menjadi yang mengindahkan saran orang tua.

Apa saja yang sudah kulakukan untuk memperbaiki hubungan?

Sadar diri.
Sadar diri bahwa memiliki orang tua jauh lebih baik daripada sendiri. Ada kasih sayang yang tanpa meminta balasan, ada tubuh untuk dipeluk, ada doa-doa yang selalu menyertai. Dan ada banyak hal lain.

Berbicara dengan nada yang lembut.
Tak peduli berasal dari suku apapun, mulailah belajar berbicara dengan nada yang lembut meski bersuara keras atau tegas. Pilih juga diksi yang sopan. Membiasakan diri dengan mulai berkurangnya pendengaran orang tua merupakan tantangan yang pasti bisa diselesaikan oleh perempuan manapun, yang benar-benar dewasa.

Bila berdebat, biarkan ibu menang.
Meski keras kepala, ibu manusia juga, ibu juga berpikir. Beri ibu waktu untuk mengurai perdebatan barusan. Saat emosi dan mentok, baiknya menahan diri dari berdebat sengit. Setelah amarah reda barulah bicara baik-baik. Jika belum berhasil juga, cari waktu lain lagi. Begitu terus, jangan menyerah.

Cemburu.
Ibu sering melimpahkan perhatian dan kasih sayang pada anak tertentu, menimbulkan sibling rivalry, yang parah mungkin anak itu nantinya membenci ibunya. Cemburu itu perlu, itu bukti kita mencintai ibu. Cinta seringkali posesif. Ada rasa ingin memiliki. Ini adalah hal paling sulit yang selama dua puluh lima tahun lebih baru bisa dengan legowo kuterima. Kuterima bahwa ibuku juga manusia, hatinya cuma bisa menampung beberapa orang. Bukan berarti hatinya tidak menampungku, tapi semakin banyak orang maka akan semakin sedikit mendapat perbagiannya. Kakak laki-lakiku kebetulan dapat jatah persen yang tidak terbagikan, dan aku harus merasa cukup dengan porsiku. Suatu waktu aku berhenti menuntut cinta ibuku dan memulai langkah-langkah sadar diri, berbicara dengan nada lembut dan membiarkan ibu menang berdebat lalu aku mendapatkan lebih daripada radang cemburu. Aku mendapat respek ibuku dan ibuku memberiku jatah persen lebih daripada sebelumnya. Mungkin lebih baik kita tanyakan apa yang bisa kita berikan pada ibu, bukan apa yang ibu bisa berikan pada kita.

Mungkin tips di atas hanya pengulangan tips-tips teman lain, atau pernah anda lakukan dan tidak berhasil. Beberapa orang mungkin memang takkan pernah bisa menjadi BFF dengan ibunya. Tak mengapa, jangan dipaksa, asalkan tetap menghormati, santun dan mendoakan ibu (orang tua) doa-doa baik, itu saja adalah bekal berharga untuk belajar menjadi BFF dengan ibu.

Belajarlah ngempet, saudari-saudari!

Jumat, 17 Mei 2013

Dan benar sekali, di usia yang belum tiga puluh, kudengar banyak teman yang akan bercerai atau selingkuh. Ada yang sudah pacaran lama, ternyata usia perkawinannya gak lebih lama dari masa pacaran.

Seringkali orang kesulitan mengatasi rasa bosan. Saat teman bilang bahwa mereka iri dengan usia percintaanku dengan Hening yang sekarang menempuhi tahun ke tujuh, aku tidak yakin mereka iri juga dengan apa yang telah kami lalui.

Kebosanan tak bosan-bosannya menyerang kami.

Sebenarnya kami pasangan biasa, sama seperti yang lain. Saat orang lain berkata "Wow", aku selalu bilang "biasa aja". Saat orang lain meremehkan, aku menantang mereka apakah mampu mempertahankan hubungan seperti kami. Banyak yang tak mampu meski tak sedikit yang lebih berhasil dari kami.

Kupikir, kalau kita tak berhasil mengatasi rasa bosan, hubungan paling lama bertahan mungkin lima tahun. Apa mau cari pasangan terus tiap lima tahun?

Kalau masalah bosan dan ingin selingkuh, aku selalu mengulang kembali pernyataan Andin (orang yang selalu dicemburui oleh Hening), "Itu kan karena dia orang baru."

Yup, lima tahun kemudian dia hanya akan menjadi orang lama yang membosankan dan kamu akan mencari orang baru lain. Ya, kan? Jadi, tiap kali aku merasa tertarik dengan orang lain, mantra Andin ini selalu kuucapkan dalam hati, "Cuma orang baru, cuma orang baru," dan kemampuanku untuk menahan diri alias "ngempet" dari jatuh cinta sama teman, sama pacarnya teman, sama temannya teman, sama tetangganya teman dan sama selingkuhannya temanpun naik level demi level.

Kembali ke gosip atau isu sampai kenyataan tak menyenangkan tentang teman-temanku, ini teman-teman hetero bukan homo. Yang homo malah rata-rata punya hubungan lebih singkat lagi. Bahkan beberapa yang mengatakan ingin serius dan setia pada yang satu ini berakhir menjilat ludah sendiri, jijik kan aku jadinya?

Bukannya ingin mengata-ngatai karena lagi sewot ini malam, tapi aku memang sudah muak sama hubungan antar homo yang terasa sah-sah saja berselingkuh dan flirting sana-sini akibat tak bisa menikah resmi. Jangan salahkan sistem, dong, ngaca dan lihat diri sendiri. Kalau hubungan ala ababil dibawa ke jenjang pernikahan dan berakhir banyak perceraian, homo akan semakin terinjak nista dan nggak salah yang ngejek-ngejek. Mentang-mentang gak bisa punya anak sendiri serasa tidak punya karma, jangan lantas menjadikannya alasan yang tidak dewasa untuk membenarkan kelakuan kita yang nggak bener.

Sebenarnya sama seperti perempuan lain, aku juga punya banyak godaan untuk selingkuh. Teman-temanku hetero banyak yang gak jelas, dalam arti bahwa mereka ada kemungkinan untuk tertarik padaku. Di luar sana aku adalah jomblo baik hati, sedikit tomboy, setia kawan, pembela yang lemah, dan banyak hal positif yang lain, meski kadang dicurigai lesbian. Tak jarang ada yang ingin menjodohkanku dengan adiknya, dengan sahabatnya, dengan saudara jauhnya, dan kadang ibu-ibu mulai ibu-ibu tetangganya Hening sampai ibu-ibu langganan tempatku bekerja menjodohkanku dengan anaknya. Aku gak cantik, tapi ibu mantan cowok-cowokku selalu berakhir takluk menyerahkan anaknya pada serigala berbulu domba ini. Plus, hampir seluruh lingkaran teman lesbianku pernah punya sejarah jatuh hati padaku. I'm a high quality jomblo, man! Dengan banyaknya pilihan, tentu saja godaannya dahsyat. Karena biasa angkuh, tentu saja aku gak mau hubunganku kandas dan diketawain banyak orang, dibikinin syukuran lagi (karena banyak yang sirik dan benci).

Nah, kalau aku saja yang manusia biasa bisa bertahan lama pacaran (karena gak ada legalitas nikah), masa' kamu mau kalah? Ntar kukata-katai pakai pilihan kata seenak udel yang jumlah dan luasnya bisa kamu tanyakan ke teman-teman yang mengenalku.

So, belajarlah mencintai dengan benar, lalu mempertahankan hubungan dengan benar. Kalau toh hubungan kamu gagal, to meet only to let go, jadikan itu pembelajaran yang benar, bukan menjadikannya alasan untuk mencintai orang lain dengan kesalahannya yang sama.

Masalahnya, elo mau belajar kagak?

My deNL sisterhood

Jumat, 12 April 2013

Aku tak ingat cuaca hari itu. Kami, aku dan Nick, duduk berhadapan di sebuah warung bakso murah di kampungku. Jauh sebelum aku termakan isu bakso daging tikus. Pembicaraan mengalir, dari yang ringan sampai agak berat. Wajahku mulai jutek saat Nick mulai menanyakan ini-itu, seperti anak-anak yang terpesona oleh toko mainan.

Memutuskan tidak tambah porsi, aku dan Nick menikmati isi di gelas masing-masing. Akupun lupa minuman yang kami pesan. Juga simpang-siur apa yang kami bicarakan. Seingatku kemudian kami membicarakan tentang pekerjaan.

"Kenapa nggak jadi pegawai negeri saja, sih, Nick?" Tanyaku tiba-tiba.
"Tantangannya kurang," jawab Nick singkat. Aku menghela nafas, tak setuju.

Aku magang di salah satu bidang kerja milik negara, bekerja di bawah dan bersama pegawai negeri. Kadang membawahi mereka juga. Yang kutangkap dari mereka, karena pekerjaan berkutat hanya itu-itu saja tiap hari, selama bertahun-tahun, barangkali tantangan paling mengerikan adalah kebosanan. Bosan yang akhirnya membuat mereka jarang tersenyum, seolah lupa yang mereka tawarkan adalah jasa. Mereka tak ada target, tak butuh pelanggan karena yakin pelanggan yang butuh mereka. Coba bayangkan anda mengantre di customer service sebuah provider jaringan telepon seluler, bukan antre yang sebentar, lalu mendapati sang petugas berwajah jutek dan berbicara judes. Seperti muka masamku pada Nick yang tadi kugambarkan, lebih mungkin anda tak sesabar atau secuek Nick.

"Kalau menurutku, jadi pegawai negeri tantangannya besar. Aku belum tentu nanti mau jadi pegawai negeri, rasanya gak sanggup," kunyatakan pendapatku pada Nick yang sedang sibuk mengaduk-aduk gelasnya.

Aku bukan orang yang berpikir panjang atau berniat kaya. Pekerjaan tetap, gaji tetap dan cukup, dan tidak bergantung pada orang lain adalah gol jangka panjang di benakku. Itu harus jadi nyata. Teman-teman lesbian dalam lingkaran kecilku kuharapkan punya impian sederhana yang sama, lesbian mandiri yang meruntuhkan stigma buruk lesbian. Bila aku bisa mengungkit semangat mereka dengan menjadi contoh mewujudkan impian, atau sekedar mendorong mereka untuk mewujudkan impian yang sama, bukan mustahil pertemanan lesbian yang biasanya menye-menye atau penuh intrik menjadi penuh keuntungan dan energi positif.

Mari beralih pada teman lesbianku yang lain bernama Erna. Erna itu lumayan cakep, tidak menghabiskan tempat tidur kalau bobok bareng alias mungil, martir karena suka masalah lesbian yang ruwet binti mbulet, keren dalam berorganisasi, tapi sering dibodohi ABG (anak baru gede) yang labil karena dia selalu percaya setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik. Intinya dia terlalu baik. Pemberontakan berarti dalam hidupnya cuma coming out ke keluarga dan ingin hidup mandiri, artinya berkelana mencari ilmu dan kerja jauh dari keluarga, melawan kepercayaan orang tuanya tentang perempuan itu tergantung suami.

Kesamaan Nick dan Erna: keduanya bertahan hidup dengan baik. Namun, mereka meninggalkan bangku sekolah demi kecintaan mereka. Nick untuk menghidupi keluarganya, yang tak cukup dari kerja paruh waktu, sedang Erna fokus pada lembaga pengayom lesbian.

Lagi-lagi pertanyaan sama kulontarkan pada Erna, tentang kenapa tidak mencoba menjadi pegawai negeri. Namun pertanyaan itu seolah menjadi bumerang pertanyaan lain kepada diriku sendiri. Untuk menjadi pegawai negeri, dibutuhkan selembar ijasah. Mereka tak punya. Artinya pertanyaan itu sia-sia, kalau toh mereka mau, menjadi bagian yang benar dari institusi pemerintah untuk perbaikan sistem negara, mereka tetap tak memenuhi syarat.

"Kalian sekolah lagi aja," kataku pada mereka berdua. Suatu kali, berkali-kali.

Bulan lalu, Nick dan Erna mendatangi sebuah universitas negeri di kota kami. Akan mendaftar menjadi mahasiswi kata mereka. Setelah berkutat dalam dunia kerja, dengan pengalaman kerja dan kemampuan mereka yang di atas rata-rata namun oleh bos belum dihargai layak karena terganjal selembar ijasah. Konon, pekerjaan dihargai sesuai dengan tingkat pendidikan terakhir. Tidak semua, sih, tapi ijasah bisa meningkatkan kesejahteraan.

Ada satu istilah dalam bahasa Inggris, 'birds of a feather flock together'. Setelah mengalami pasang-surut pertemanan, akhirnya akan terkumpul juga yang punya satu tujuan. Dengan tujuan dan niat yang baik dari semua pihak semoga menjadi proses dan keluaran yang baik pula. Banyak pertemanan atau persaudaraan lesbian tumbuh, berkembang, layu, mati, hidup kembali, didaur ulang, mati suri, bangkit lagi, dan sebagainya. Niscaya, percaya atau tidak, mereka yang tetap dalam kesatuan didorong oleh kepentingan yang sama. Aku, Nick, Erna sampai saat ini punya mimpi sama, entah sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Tapi pertemanan yang memberi manfaat baik, saling mengingat dan mengingatkan, bahu-membahu mencapai impian, toleransi, dan memberi ruang untuk tumbuh dewasa akan menjadi cerita nyata yang dibanggakan di kemudian hari.

27 februari 2012, 28 februari 2013

Kamis, 28 Februari 2013

kemarin, di tengah hujan dan petir menyambar, tiga orang --satu lelaki dua perempuan--- duduk di perpustakaan alias perpus. salah satunya adalah aku, dua orang yang lain bercerita tentang hantu di ruang kelas yang berada tiga meter dari perpus.

dan...sekarang aku sendirian di perpus (di mana penjaga perpustakaan (yang bukan setan, lho ya) ini??? gak tau apa kalo aku takuuut...). menatap layar laptop dan tidak berharap sosok lain menumpang ngaca.

takut.

takut adalah sesuatu yang manusiawi. bersifat manusia sekali. manusia harus melewati ketakutan demi ketakutan untuk menjadi dia yang sekarang.

takut adalah yang diajarkan Tuhan padaku di detik aku menulis ini (sambil bulu kuduk berdiri).

bayangkan saja kamu mendengar radio saat bermobil di dini hari, sendirian, jalanan lengang. sesekali curi pandang ke spion tengah, adakah sosok "lain" yang ikut menumpang? apalagi yang kau dengarkan di radio adalah cerita tentang hantu.

sudah mulai merasa tidak nyaman?

kalo kita tilik definisi nyeri dari segi pandang ilmu kedokteran saraf, garis besarnya sajalah, nyeri adalah perasaan tidak nyaman dan terkait emosi serta pengalaman. benang merahnya di sini, nyeri dan takut berasal dari perasaan tidak nyaman. membuat gelisah.

satu dari mereka yang tadi kubilang duduk di perpus sambil cerita setan adalah temanku yang punya indera keenam yang cukup peka. katakanlah dia "berbakat". dia gambarkan sosok hantu atau setan secara gamblang. juga hantu/setan lain yang ada di lingkungan sekolah/kerja kami dan hantu kosnya. dan begitu pula di tempat sekolah/kerja kami, kubilang dia punya kapsul terhadap lingkungan sekitar. cenderung menutup diri, sehingga orang lain tak tahu banyak tentangnya. sering, kabar yang beredar hanya berita tidak menyenangkan yang dia lakukan, yang entah benar atau tidak aku juga tidak tahu.

kubayangkan mereka yang memiliki bakat adalah orang yang gelisah.

kalo kuamati, dia seakan mampu mengendus aura orang sekitarnya. mereka yang auranya bersahabat dengan miliknya membuatnya merasa nyaman. apakah dia merasa nyeri atau takut, aku tidak tahu, aku tidak pernah memiliki "bakat" itu. bahkan soal gaydar sekalipun aku payah.

bayangkan saja kau sendirian di perpus, kau lihat berbagai makhluk yang tak orang lain lihat. sebagian makhluk itu tahu kau bisa melihat mereka lalu menggodamu dengan berbagai bentuk yang tidak asyik dinikmati. atau kau duduk di sebuah kafe, de javu dari mimpi yang kau lihat semalam, kecelakaan beruntun terjadi di hadapanmu dan kau hafal wajah-wajah orang yang berhimpitan penuh darah karena mimpi semalam adalah kenyataan kini. kau tahu sesuatu akan terjadi dan barangkali bukan gambaran gamblang yang hadir mengingatkanmu, cuma firasat, tapi sama tidak bisa dihindari.

dan kau menyalahkan diri, atau merasa tak nyaman serta gaduh gelisah dengan "bakat"mu.

sekarang begini, bayangkan dirimu tanpa rasa nyeri. tanganmu terbakar dan kau tak terasa apa-apa. jika seluruh manusia seperti itu, barangkali definisi perempuan cantik saat ini adalah sesuatu yang sangat sederhana, cantik itu tidak cacat.

nyeri dan takut adalah salah satu tameng perlindungan manusia. saat kita menyentuh sesuatu yang panas, refleks menghindar akan melindungi kita dari kerusakan yang lebih parah. rasa takut membawa kewaspadaan agar terhindar dari apa yang kita takutkan. proteksi. meski ada juga rasa takut yang justru membahayakan, semisal lari dari kejaran anjing tanpa melihat lalu lalang kendaraan sekitar. atau nyeri yang tidak lagi berfungsi sebagai pelindung, seperti nyeri patah hati yang berlebihan.

"bakat" yang menjadikan temanku peka ini bagai pedang bermata dua. beberapa minggu ini kami dekat, aku tidak tahu apa yang membuatnya betah padahal mulutku kacau, otakku ngaco. ada rasa takut salah bicara/bertindak menyangkut dia. beberapa teman memahami betapa gelisahnya dia, bersikap hati-hati kepadanya. tapi, tetap aku ingin menjadi diriku sendiri, sementara juga menjadi teman baginya. tidak perlu teman yang sangat dekat, tidak perlu amat akrab. cukup dia tahu bahwa dia bisa mengandalkanku, bukan dalam hal segalanya tapi dalam segala hal yang aku bisa. kalo aku tidak bisa memecahkan masalahnya, cukuplah aku jadi pendengar. kalo aku tak bisa membuatnya tersenyum saat dia gelisah, cukuplah dia tahu dia tak sendiri. cukuplah dia gelisah pada hal lain, tak perlu menggelisahiku.

bersyukur terhadap apa yang telah diberi, termasuk "bakat", termasuk nyeri, termasuk rasa takut. perlahan-lahan ketakutan terlampaui, nyeri pudar, seperti halnya pertemanan. lama kelamaan akan tersaring mereka yang benar-benar teman.



NB: dan mereka-mereka yang "berbakat" hendaknya melakukan pemeriksaan electroencephalography, terutama saat mendapat firasat. barangkali firasat atau apa yang dilihat/dengar itu ternyata bentuk kejang dan kepekaan yang ada adalah perubahan tingkah laku karena kejang tersebut.

Kepada: Sisi

Kamis, 07 Februari 2013

Saat hatiku biru oleh rasa asing, antara ingin menangis dan kelegaan luar biasa, biasanya aku mendengar sebuah lagu dan enggan didekati.

But, now we're standing face to face, isn't this world a crazy place? Just when i thought our chance had passed, you go and save the best for last.

Save the best for last. Barangkali banyak di antara kita yang merasakan dilemmanya cinta. Duh, Tuhan, apa salah saya hingga harus menyetujui perpisahan (dulu)?

Seringkali kita mesti melepaskan seseorang yang kita cintai, untuk bersama orang lain supaya dia bahagia. Tak peduli rasa apapun yang pernah kalian bagi, semua cuma masa lalu dan kita cuma sanggup tersenyum, getir, menyadari apa yang telah kita lepaskan.

Jika kamu pernah mencintai seseorang, dekat dengannya, terlalu takut mengatakan perasaanmu, berbagi banyak hal, melepasnya agar dia bahagia lalu tiba-tiba ia mengatakan bahwa ia mencintaimu (sejak dulu) tapi sekarang ia tak lagi sendiri, maka selamat termenung menikmati lagu yang dibawakan Vanessa Williams dengan lembut ini. You never know what you got until it's gone. Ia tak pernah tahu ia mencintaimu sampai kamu melepaskannya. Dan kamu sesali kesempatan yang tak pernah kamu ambil.

Dalam cinta selalu ada rasa takut kehilangan. Itu yang berusaha kubunuh sekian tahun supaya aku tak terlalu cinta. Tapi ada rasa asing yang selalu memperangkapku, membuatku sulit bernafas. Semakin jauh meninggalkan jejak masa lalu tak disangka semakin terkejar langkahku. Rasa pening yang sulit kuungkapkan karena apa, sebab jika ia cuma sekedar masa lalu, mengapa aku mesti tertegun menyesali apa yang telah kurelakan bertahun-tahun yang lalu? Kenapa rasa sakitnya masih sama dan menyesakkan dada?

Sometimes the very thing you're looking for is the one thing you can't see. Itu yang selalu kuteriakkan di hatiku saat kau memilih dia waktu itu. Tapi waktu berlalu begitu cepat, dari manusia tumbuh kedewasaan dengan cara pandang yang luas dan berbeda-beda. Beberapa orang seperti aku, hanya ingin bahagia.

Namun, yakinlah, aku tak ingin bahagia sendiri. Aku ingin berbagi dengannya.

Close range wound

Selasa, 20 November 2012

Lukiskanlah serupa apapun pilu yang tiba di pelupukku
Sejenak terhisap kelabu, senyummu bias
Tak bisa kutebak: luka atau lainnya

Jangan terusik deburan janji yang pernah terucap
Terdengar bertubi-tubi, membanjiri pasir waktu
Membunuh jejak, ukiran nama, makin gelap kian pasang
Seakan kau lupa apa yang pernah kau tulis di sana

Bau kopi, sofa yang nyaman dan ringkasan cerita kau buat
Memberiku sore penuh pelukan lalu
Kau tumpahkan garam ke lukaku yang terbuka
Tak kau sengaja, sayang?

Kutata dalam kotak sepatu rasa takut
Tiap kita mesti melewati lorong kedap
Yang memisah dunia luar dari kepedihan sendiri
Hanya aku memapah seorang aku
Dan kau lesat seperti peluru
Mematri kelim jelaga di kulitku
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates