=
Stranded, without help or hope of recovery (kamus antah-berantah).
Sept, 25th 2013.
Rabu, 1.25 am
She left her high and dry.
Begitu kesimpulanku terhadap patah hatinya temanku, ERS. Mulai dari kunci sepeda motor yang ketinggalan, masih menempel pada motor saat kutemukan di tempat parkir (dan sialnya itu adalah motorku yang kupinjamkan padanya), sampai janjian nonton bioskop dan dia masuk mall yang salah. Belum lagi dia menjadi hobi nyasar dan kehilangan minat mengerjakan tugas ini-itu.
Cukup sudah.
Kalau secara fisik boleh kutampar dia, akan kutampar dia bolak-balik. Kadang takut juga saat dia mengendarai motor lalu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena tidak konsentrasi menyetir.
Awalnya kukira jatuh cinta bagus untuknya, sekian lama dia dipermainkan orang-orang tak bertanggung jawab, kupikir ini saatnya membuka diri terhadap calon "teman dekat" yang dibawa teman-teman. Salah satunya calon "teman dekat"-nya ERS. Maksudku begini, di antara kami semua akulah yang paling susah menerima orang baru. Wajahku bisa terlihat berlipat-lipat jadi seratus kalau ada teman yang membawa orang baru. Jutek abis. Nggak nganggep sebelah mata, deh. "I generally dont like people I dont know," kalau aku boleh pinjam kata-katanya Erica Hahn. Tapi, demi melihat beberapa teman yang jomblo tiada usai, aku mulai menurunkan kadar kejutekanku terhadap orang-orang baru, dengan harapan mereka nggak takut pada kami dan kami punya lebih banyak kans untuk kenal mereka lalu memberi pendapat pada empunya hajat.
Jatuh cinta memang membuat ERS high and dry. Lovestoned, keracunan cinta, seperti melayang tinggi akibat ganja. Tapi, hampir selalu alur percintaan temanku satu itu berakhir dipermainkan. Mulai pacaran dengan ABG (anak baru gede) tua sampai yang beneran muda. Sering kudapati dia terlalu tinggi menilai seseorang, sering aku tak percaya dengan penilaian-penilaiannya terhadap si calon, tapi aku juga merasa kalau kesinisanku itu nggak enak diutarakan, apalagi didengar.
25 Oktober 2013
Jumat
01.55
Lantas ERS bilang padaku, dia sudah jadian sama orang baru. Kutanya pada dia, sudahkah melakukan closure pada mantan terakhir, dia bilang belum.
Cerita mengalir tentang perkenalan dan bagaimana dia jadian dengan orang baru dan aku geram. Sekali lagi, kalau bisa dia sungguhan kutampar bolak-balik, akan kutampar dia bolak-balik. Batas antara orang baik sama orang tolol sama orang naif itu tipis, aku kurang suka dengan mereka yang terlalu positive thinking. Di satu sisi mereka baik, bak malaikat, di sisi lain kupikir mereka dungu. Setidaknya keputusan ERS kali ini adalah satu dari sekian yang amat kusayangkan.
Berkecimpung di dunia perempuan dan perempuan selama sepuluh tahun dan menyelami beragam pertemanan, membuatku amat sangat menghargai arti seorang teman yang baik. Teman-teman yang berenergi positif dan membuat sekitarnya nyaman. Mereka jarang ada, sekali mereka terlihat dan memiliki keterikatan yang sama, aku akan berupaya mempertahankan mereka.
Pembelaan yang besar terhadap teman yang positif ini, tak jarang membuat mereka merasa aku naksir mereka. Itu hak mereka, sih, aku memang kadang sangat peduli. Mereka yang sangat dekat denganku mengerti watakku satu ini dan sudah bebas dari rasa Ge-eR yang menyesatkan.
ERS ini sepertinya pecinta daun muda. Aku adalah orang yang pesimis terhadap mereka yang lebih muda untuk urusan cinta. Seumur hidup hanya sekali pedekate dengan manusia yang lebih muda, itupun karena suatu kekuatan yang antah berantah, love at the first sight. Terbukti, keputusan kami tak bisa bersama itu memberi ketenangan batin dalam hati meski antara kami seharusnya ada closure.
ERS ini bolak-balik ditipu ababil, kata kasarku sih. Sering berstatus galau dan puitis, kadang bikin aku mual karena ke-positive thinking-annya. Dia yakin orang bisa berubah, yakin masa lalu cuma masa lalu, yakin terhadap kekuatan cinta, yakin usia tak menunjukkan kematangan, dll. Iya kalau dia bertemu dengan orang yang tepat, yang bisa sesuai dengan harapan muluk-muluknya tadi, kalau enggak? Sejauh ini, dia selalu ketemu orang yang salah.
Barang kali saat ini aku masih marah dengan keputusannya sampai aku menuliskan ini. I just love her so much, so i cant help but hate her, too. Seharusnya aku tahu bahwa ada orang yang harus jatuh berkali-kali sebelum menemukan titik terang. Kuharap tak perlu lama lagi aku harus melihat kejatuhannya. I hope life treats her kind.
