Kalau memenuhi keinginan Nick tentang sebuah lagu yang berisi lirik BFF dengan ibu, sebagai pengganti Neni yang merasa topik ini terlalu membuatnya mengerutkan kening, maka aku menunjuk lagu "I Turn to You" sebagai nyanyian hati.
Tapi, seperti janjiku, aku cuma penutup topik bulan ini. Dan masing-masing penulis tidak pernah bisa tergantikan. Adapun tulisan di alinea sebelumnya hanyalah sekelumit kerinduan terhadap tulisan Neni.
Mari lanjutkan.
Kalau kasih ibu sepanjang masa dijadikan cerita horor, Mama terasa amat manusiawi untuk ukuran pecinta monster. Sedangkan Mama Minta Pulsa bisa dijadikan pengobat kerinduan terhadap Mak Lampir, entah di manapun anaknya berada, yang pasti ini emak betul-betul BFF sama anaknya karena anaknya rajin beliin dia pulsa bukan kebalikannya.
Sering saat berteman dengan seseorang aku turut mengenal ibunya. Ada ibu yang lebih memuja anak laki-lakinya, sehingga teman perempuanku yang kebetulan punya ibu tipe begini harus tumbuh dan berkembang dengan pernyataan yang lebih mirip tuntutan: "you are my mother, you are supposed to love me." Teman perempuan lain punya tipe ibu yang sama, hanya saja ibunya punya satu anak laki-laki favorit sedangkan dia punya dua saudara laki-laki. Alhasil, dia bersekutu dengan kakak laki-laki yang bukan kesayangan itu, dan dia tumbuh menjadi perempuan posesif yang tidak mau berbagi dan punya tekad harus mendapatkan apa yang dia inginkan.
Lain ibu lain tipe. Ibuku juga punya anak favorit, kakak laki-lakiku. Aku harus puas dicap anak bungsu yang paling nyleneh oleh ibu. Mulai dari ogah mengambil raportku sampai selalu menjadikanku tameng untuk menghadapi bapak membuatku tumbuh menjauhi ibu. Baru beberapa tahun ini aku berusaha memperbaiki hubungan dengan ibu, mensyukuri bahwa sampai detik ini beliau masih sehat, memberiku kasih sayang surgawi, dan arah masa depan. Aku tidak menunggu jawaban Tuhan terhadap doaku untuk menentukan arah kehidupanku, cukup kutanyakan pada ibu jalan mana yang beliau inginkan kutempuh. Aku percaya saja, berjalan saja, seperti aku percaya bahwa surga berada di bawah telapaknya.
Tampaknya, tahun-tahun aku mengalah dan berusaha memperbaiki hubungan dengan ibuku telah membuahkan hasil. Aku yang dikenal kedua orang tuaku sebagai anak yang "negativisme" ternyata justru tumbuh menjadi yang mengindahkan saran orang tua.
Apa saja yang sudah kulakukan untuk memperbaiki hubungan?
Sadar diri.
Sadar diri bahwa memiliki orang tua jauh lebih baik daripada sendiri. Ada kasih sayang yang tanpa meminta balasan, ada tubuh untuk dipeluk, ada doa-doa yang selalu menyertai. Dan ada banyak hal lain.
Berbicara dengan nada yang lembut.
Tak peduli berasal dari suku apapun, mulailah belajar berbicara dengan nada yang lembut meski bersuara keras atau tegas. Pilih juga diksi yang sopan. Membiasakan diri dengan mulai berkurangnya pendengaran orang tua merupakan tantangan yang pasti bisa diselesaikan oleh perempuan manapun, yang benar-benar dewasa.
Bila berdebat, biarkan ibu menang.
Meski keras kepala, ibu manusia juga, ibu juga berpikir. Beri ibu waktu untuk mengurai perdebatan barusan. Saat emosi dan mentok, baiknya menahan diri dari berdebat sengit. Setelah amarah reda barulah bicara baik-baik. Jika belum berhasil juga, cari waktu lain lagi. Begitu terus, jangan menyerah.
Cemburu.
Ibu sering melimpahkan perhatian dan kasih sayang pada anak tertentu, menimbulkan sibling rivalry, yang parah mungkin anak itu nantinya membenci ibunya. Cemburu itu perlu, itu bukti kita mencintai ibu. Cinta seringkali posesif. Ada rasa ingin memiliki. Ini adalah hal paling sulit yang selama dua puluh lima tahun lebih baru bisa dengan legowo kuterima. Kuterima bahwa ibuku juga manusia, hatinya cuma bisa menampung beberapa orang. Bukan berarti hatinya tidak menampungku, tapi semakin banyak orang maka akan semakin sedikit mendapat perbagiannya. Kakak laki-lakiku kebetulan dapat jatah persen yang tidak terbagikan, dan aku harus merasa cukup dengan porsiku. Suatu waktu aku berhenti menuntut cinta ibuku dan memulai langkah-langkah sadar diri, berbicara dengan nada lembut dan membiarkan ibu menang berdebat lalu aku mendapatkan lebih daripada radang cemburu. Aku mendapat respek ibuku dan ibuku memberiku jatah persen lebih daripada sebelumnya. Mungkin lebih baik kita tanyakan apa yang bisa kita berikan pada ibu, bukan apa yang ibu bisa berikan pada kita.
Mungkin tips di atas hanya pengulangan tips-tips teman lain, atau pernah anda lakukan dan tidak berhasil. Beberapa orang mungkin memang takkan pernah bisa menjadi BFF dengan ibunya. Tak mengapa, jangan dipaksa, asalkan tetap menghormati, santun dan mendoakan ibu (orang tua) doa-doa baik, itu saja adalah bekal berharga untuk belajar menjadi BFF dengan ibu.

0 komentar:
Posting Komentar