Dan benar sekali, di usia yang belum tiga puluh, kudengar banyak teman yang akan bercerai atau selingkuh. Ada yang sudah pacaran lama, ternyata usia perkawinannya gak lebih lama dari masa pacaran.
Seringkali orang kesulitan mengatasi rasa bosan. Saat teman bilang bahwa mereka iri dengan usia percintaanku dengan Hening yang sekarang menempuhi tahun ke tujuh, aku tidak yakin mereka iri juga dengan apa yang telah kami lalui.
Kebosanan tak bosan-bosannya menyerang kami.
Sebenarnya kami pasangan biasa, sama seperti yang lain. Saat orang lain berkata "Wow", aku selalu bilang "biasa aja". Saat orang lain meremehkan, aku menantang mereka apakah mampu mempertahankan hubungan seperti kami. Banyak yang tak mampu meski tak sedikit yang lebih berhasil dari kami.
Kupikir, kalau kita tak berhasil mengatasi rasa bosan, hubungan paling lama bertahan mungkin lima tahun. Apa mau cari pasangan terus tiap lima tahun?
Kalau masalah bosan dan ingin selingkuh, aku selalu mengulang kembali pernyataan Andin (orang yang selalu dicemburui oleh Hening), "Itu kan karena dia orang baru."
Yup, lima tahun kemudian dia hanya akan menjadi orang lama yang membosankan dan kamu akan mencari orang baru lain. Ya, kan? Jadi, tiap kali aku merasa tertarik dengan orang lain, mantra Andin ini selalu kuucapkan dalam hati, "Cuma orang baru, cuma orang baru," dan kemampuanku untuk menahan diri alias "ngempet" dari jatuh cinta sama teman, sama pacarnya teman, sama temannya teman, sama tetangganya teman dan sama selingkuhannya temanpun naik level demi level.
Kembali ke gosip atau isu sampai kenyataan tak menyenangkan tentang teman-temanku, ini teman-teman hetero bukan homo. Yang homo malah rata-rata punya hubungan lebih singkat lagi. Bahkan beberapa yang mengatakan ingin serius dan setia pada yang satu ini berakhir menjilat ludah sendiri, jijik kan aku jadinya?
Bukannya ingin mengata-ngatai karena lagi sewot ini malam, tapi aku memang sudah muak sama hubungan antar homo yang terasa sah-sah saja berselingkuh dan flirting sana-sini akibat tak bisa menikah resmi. Jangan salahkan sistem, dong, ngaca dan lihat diri sendiri. Kalau hubungan ala ababil dibawa ke jenjang pernikahan dan berakhir banyak perceraian, homo akan semakin terinjak nista dan nggak salah yang ngejek-ngejek. Mentang-mentang gak bisa punya anak sendiri serasa tidak punya karma, jangan lantas menjadikannya alasan yang tidak dewasa untuk membenarkan kelakuan kita yang nggak bener.
Sebenarnya sama seperti perempuan lain, aku juga punya banyak godaan untuk selingkuh. Teman-temanku hetero banyak yang gak jelas, dalam arti bahwa mereka ada kemungkinan untuk tertarik padaku. Di luar sana aku adalah jomblo baik hati, sedikit tomboy, setia kawan, pembela yang lemah, dan banyak hal positif yang lain, meski kadang dicurigai lesbian. Tak jarang ada yang ingin menjodohkanku dengan adiknya, dengan sahabatnya, dengan saudara jauhnya, dan kadang ibu-ibu mulai ibu-ibu tetangganya Hening sampai ibu-ibu langganan tempatku bekerja menjodohkanku dengan anaknya. Aku gak cantik, tapi ibu mantan cowok-cowokku selalu berakhir takluk menyerahkan anaknya pada serigala berbulu domba ini. Plus, hampir seluruh lingkaran teman lesbianku pernah punya sejarah jatuh hati padaku. I'm a high quality jomblo, man! Dengan banyaknya pilihan, tentu saja godaannya dahsyat. Karena biasa angkuh, tentu saja aku gak mau hubunganku kandas dan diketawain banyak orang, dibikinin syukuran lagi (karena banyak yang sirik dan benci).
Nah, kalau aku saja yang manusia biasa bisa bertahan lama pacaran (karena gak ada legalitas nikah), masa' kamu mau kalah? Ntar kukata-katai pakai pilihan kata seenak udel yang jumlah dan luasnya bisa kamu tanyakan ke teman-teman yang mengenalku.
So, belajarlah mencintai dengan benar, lalu mempertahankan hubungan dengan benar. Kalau toh hubungan kamu gagal, to meet only to let go, jadikan itu pembelajaran yang benar, bukan menjadikannya alasan untuk mencintai orang lain dengan kesalahannya yang sama.
Masalahnya, elo mau belajar kagak?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar