welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

My deNL sisterhood

Jumat, 12 April 2013

Aku tak ingat cuaca hari itu. Kami, aku dan Nick, duduk berhadapan di sebuah warung bakso murah di kampungku. Jauh sebelum aku termakan isu bakso daging tikus. Pembicaraan mengalir, dari yang ringan sampai agak berat. Wajahku mulai jutek saat Nick mulai menanyakan ini-itu, seperti anak-anak yang terpesona oleh toko mainan.

Memutuskan tidak tambah porsi, aku dan Nick menikmati isi di gelas masing-masing. Akupun lupa minuman yang kami pesan. Juga simpang-siur apa yang kami bicarakan. Seingatku kemudian kami membicarakan tentang pekerjaan.

"Kenapa nggak jadi pegawai negeri saja, sih, Nick?" Tanyaku tiba-tiba.
"Tantangannya kurang," jawab Nick singkat. Aku menghela nafas, tak setuju.

Aku magang di salah satu bidang kerja milik negara, bekerja di bawah dan bersama pegawai negeri. Kadang membawahi mereka juga. Yang kutangkap dari mereka, karena pekerjaan berkutat hanya itu-itu saja tiap hari, selama bertahun-tahun, barangkali tantangan paling mengerikan adalah kebosanan. Bosan yang akhirnya membuat mereka jarang tersenyum, seolah lupa yang mereka tawarkan adalah jasa. Mereka tak ada target, tak butuh pelanggan karena yakin pelanggan yang butuh mereka. Coba bayangkan anda mengantre di customer service sebuah provider jaringan telepon seluler, bukan antre yang sebentar, lalu mendapati sang petugas berwajah jutek dan berbicara judes. Seperti muka masamku pada Nick yang tadi kugambarkan, lebih mungkin anda tak sesabar atau secuek Nick.

"Kalau menurutku, jadi pegawai negeri tantangannya besar. Aku belum tentu nanti mau jadi pegawai negeri, rasanya gak sanggup," kunyatakan pendapatku pada Nick yang sedang sibuk mengaduk-aduk gelasnya.

Aku bukan orang yang berpikir panjang atau berniat kaya. Pekerjaan tetap, gaji tetap dan cukup, dan tidak bergantung pada orang lain adalah gol jangka panjang di benakku. Itu harus jadi nyata. Teman-teman lesbian dalam lingkaran kecilku kuharapkan punya impian sederhana yang sama, lesbian mandiri yang meruntuhkan stigma buruk lesbian. Bila aku bisa mengungkit semangat mereka dengan menjadi contoh mewujudkan impian, atau sekedar mendorong mereka untuk mewujudkan impian yang sama, bukan mustahil pertemanan lesbian yang biasanya menye-menye atau penuh intrik menjadi penuh keuntungan dan energi positif.

Mari beralih pada teman lesbianku yang lain bernama Erna. Erna itu lumayan cakep, tidak menghabiskan tempat tidur kalau bobok bareng alias mungil, martir karena suka masalah lesbian yang ruwet binti mbulet, keren dalam berorganisasi, tapi sering dibodohi ABG (anak baru gede) yang labil karena dia selalu percaya setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik. Intinya dia terlalu baik. Pemberontakan berarti dalam hidupnya cuma coming out ke keluarga dan ingin hidup mandiri, artinya berkelana mencari ilmu dan kerja jauh dari keluarga, melawan kepercayaan orang tuanya tentang perempuan itu tergantung suami.

Kesamaan Nick dan Erna: keduanya bertahan hidup dengan baik. Namun, mereka meninggalkan bangku sekolah demi kecintaan mereka. Nick untuk menghidupi keluarganya, yang tak cukup dari kerja paruh waktu, sedang Erna fokus pada lembaga pengayom lesbian.

Lagi-lagi pertanyaan sama kulontarkan pada Erna, tentang kenapa tidak mencoba menjadi pegawai negeri. Namun pertanyaan itu seolah menjadi bumerang pertanyaan lain kepada diriku sendiri. Untuk menjadi pegawai negeri, dibutuhkan selembar ijasah. Mereka tak punya. Artinya pertanyaan itu sia-sia, kalau toh mereka mau, menjadi bagian yang benar dari institusi pemerintah untuk perbaikan sistem negara, mereka tetap tak memenuhi syarat.

"Kalian sekolah lagi aja," kataku pada mereka berdua. Suatu kali, berkali-kali.

Bulan lalu, Nick dan Erna mendatangi sebuah universitas negeri di kota kami. Akan mendaftar menjadi mahasiswi kata mereka. Setelah berkutat dalam dunia kerja, dengan pengalaman kerja dan kemampuan mereka yang di atas rata-rata namun oleh bos belum dihargai layak karena terganjal selembar ijasah. Konon, pekerjaan dihargai sesuai dengan tingkat pendidikan terakhir. Tidak semua, sih, tapi ijasah bisa meningkatkan kesejahteraan.

Ada satu istilah dalam bahasa Inggris, 'birds of a feather flock together'. Setelah mengalami pasang-surut pertemanan, akhirnya akan terkumpul juga yang punya satu tujuan. Dengan tujuan dan niat yang baik dari semua pihak semoga menjadi proses dan keluaran yang baik pula. Banyak pertemanan atau persaudaraan lesbian tumbuh, berkembang, layu, mati, hidup kembali, didaur ulang, mati suri, bangkit lagi, dan sebagainya. Niscaya, percaya atau tidak, mereka yang tetap dalam kesatuan didorong oleh kepentingan yang sama. Aku, Nick, Erna sampai saat ini punya mimpi sama, entah sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Tapi pertemanan yang memberi manfaat baik, saling mengingat dan mengingatkan, bahu-membahu mencapai impian, toleransi, dan memberi ruang untuk tumbuh dewasa akan menjadi cerita nyata yang dibanggakan di kemudian hari.

0 komentar:

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates