Ini adalah novel terakhir yang sudah kubaca. Awalnya aku tertarik karena judulnya benar-benar merupakan sindiran untuk mantan pacarku. Cintai orang yang bersamamu. Tapi saat aku membaca buku ini, secara tidak langsung buku inipun menyindirku. Aku sering sekali bertanya "What if...?" pada diriku sendiri mengenai perpisahanku dengan mantan, dan buku ini seakan-akan menjawab rasa penasaran itu. Buku ini memberiku suatu jawaban lama namun seakan-akan baru. Seperti menamparku.
Bahwa masa lalu itu memang susah dilepaskan, dan bahwasanya kita harus mencintai orang yang bersama kita bila kita memutuskan untuk bersama seseorang.
If you can't forget the one who got away, can you love the one you're with ?
Itu pertanyaan paling dasar, yang membuatku memikirkan ulang kedekatanku tanpa cinta dengan seseorang. Menurutku, kami klik, namun aku belum jatuh hati padanya. Kusadari kemudian kalau aku masih mencintai mantan. Sebut saja mantanku Leo, sama seperti nama tokoh mantan dalam buku ini, aku sudah malas menyebut nama mantan.
Actually I sucked when I was with Leo...she made me needy, spineless, insecure & one-dimensional. No friend knew me for who I was.
Yet the more I tried to entrench myself in that relationship, the more insecure I become.
I mostly saw Leo for what she was --a past love who was never coming back, & I saw myself as a wiser, more complete woman for having lost her.
Namun, perkawanan dengan sejumlah teman yang kudapat dari mengenal Leo agaknya akan menjadi jembatan pertemuan kembali kami pula, sedang aku orang yang tidak bersahabat dengan mantan. Melihat mantan, secara langsung ataupun tidak, saat ini bagiku cuma membangkitkan dendam yang masih membara.
I never really understood those people who are all buddy-buddy with their exes.
It's always tough to let go of the past.
And although one broken heart doesn't make me an expert in the subject, I believe you need both things --time & an emotional replacement-- to fully mend one.
Dalam hati tertantang juga untuk membuktikan bahwa saat ini she means nothing for me. Setelah apa yang dia lakukan padaku.
Everyone needs to get dumped once --it's part of life.
sort of what every girl dreams of when she's dumped. That the guy/girl will someday feel regret and come back and tell her all about it...and the beauty of it is...you have no regrets whatsoever.
Despite the fact that I have no regrets about how things turned out in my life, I still can't help wanting to understand my intense relationship with Leo.
But I'm a mature, stable, happily single woman. So, what is the big deal about seeing an ex-girlfriend, having a little polite conversation ?
Ke depannya, aku ingin menjalin perkawanan dengan kawan-kawan yang kukenal bersama mantan, perkawanan yang tidak menyisakan aku sebagai mantan Leo di benak mereka. Sehingga mereka benar-benar melihatku sebagai aku.
I felt like the exact same person I had always been. I was just exposed to more.
I will look into Leo's eyes, feeling heartbroken, but resolved, and somehow freed. I'm going to follow my heart wherever it leads. I owe it to myself. I owe it to everyone...as a reminder that love is the sum of our choices, the strength of our commitments, the ties that bind us together. You don't have to be nailing each other willy-nilly on the kitchen counters & hardwood floors to have a solid physical connection. Love as a verb. Love as commitment.
Saat aku lemah dan teringat Leo aku akan selalu teringat buku ini pula, yang membantuku menegakkan pemikiran tentang mantan dan cinta yang nantinya akan kutemui suatu hari, bahwa untuk bersama seseorang aku harus mencintainya. Agar aku senantiasa mencintai orang yang bersamaku dan ingat bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, seberapa besarnya aku mencintai Leo, perpisahan kami adalah hal terbaik dalam hubungan kami, dan aku bersyukur akan semua yang telah terjadi.
Tetap melangkah ke depan dan jangan menyesal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar