welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

Kereta Malam III: Season of Fireworks

Jumat, 21 Februari 2014

Salah satu yang unik dari kota ini adalah adanya jalan layang di atas salah satu stasiun tengah kota. Shizuru sudah membayangkan untuk menikmati pemandangan malam stasiun ini dari atas tadi pagi saat dia tiba, dan kini dia mendapatkan lebih dari apa yang dia inginkan. Natsuki membawanya kemari, Shizuru duduk di boncengan Vespa Natsuki, menikmati kereta yang berjalan menjauh dari stasiun. Natsuki memberinya sebotol dingin teh kesukaannya, dia membalas dengan membagi makanan yang tadi dibelinya di festival sebelum bertemu Natsuki.

Handphone Natsuki berbunyi. Ia membaca sejenak pesan yang masuk, membalas dengan cepat, lalu kembali melempar pandangan pada stasiun yang lengang. Udara dingin, Shizuru menyesal tak membekali diri dengan jaket. Dia sangka di tengah kota ini masih memiliki suhu yang hangat di malam hari. Cuaca tak bisa ditebak akhir-akhir ini dan perkiraan Shizuru meleset.

"Mai bilang jangan pulang terlalu malam. Takut besok bangun kesiangan," kata Natsuki sambil tetap menatap pemandangan stasiun.
"Aku datang untuk melihat Natsuki naik ke panggung menerima ijasah. Kalau Natsuki bolos, kedatanganku rasanya percuma," wajah Shizuru seperti kecewa, tapi dalam pikirannya membayangkan Fumi memanggil-manggil nama Natsuki sedang Natsuki sibuk di belakang panggung. Sibuk mencorat-coret baju seragamnya dengan sesama tukang bolos lain. Membuat album kenangan edisi Natsuki, sudah pasti Nao takkan melewatkannya, dituliskannya kata-kata yang akan membuat wajah Natsuki merah padam di seragam Natsuki. Natsuki mungkin akan membalasnya tahun depan saat Nao lulus.

Peluit panjang membubarkan lamunan Shizuru, kereta malam tiba. Shizuru mengenali warna gerbong-gerbongnya, kereta ini yang membawanya mendekat dan menjauh dari Natsuki. Pagi tadi, kereta ini mengantarkannya kembali pada Natsuki, perempuan yang duduk di vespa bersamanya saat ini. Shizuru melirik pada perempuan di sebelahnya. Rambutnya yang legam terurai angin, ikat rambutnya pasti hilang entah di mana. Shizuru ingat harus membeli banyak ikat rambut untuk Natsuki karena selalu hilang setiap saat. Untuk rambut yang sama seperti pemiliknya, tak bisa terikat.

"Itu kereta yang biasanya kamu gunakan, bukan?" tanya Natsuki. Shizuru mengangguk sambil bersiap meneguk teh dalam botol.
"Aku ingat kereta itu. Jadwalnya belum berubah," ujar Natsuki lagi.
"Aku ingat Shizuru melambai-lambai, persis film India," kali ini Shizuru tersedak mendengar kata-kata Natsuki.
"Astaga, bukan aku saja yang nangis bombay, lho, Natsuki!" tukas Shizuru sambil menepuk lengan Natsuki.
"Ngomong-ngomong soal film India, aku punya Kuch Kuch Ho Ta Hai. Mau nonton bareng?" kata Shizuru, tersenyum sambil mengangkat satu alis.
Natsuki tersenyum, "Kuch Kuch Ho Ta Hai...," ia membeo. Film itu adalah film India pertama Natsuki, film India pertama yang Natsuki dan Shizuru tonton bersama. Dibawa oleh Chie, menggunakan kamar Aoi untuk berkumpul mengadakan nonton bareng. Meski Haruka bilang sudah menontonnya berkali-kali tapi tetap juga ikut bergabung. Yukino harus mengingatkannya berkali-kali untuk tidak membocorkan jalan cerita. Di luar dugaan, Nao dan Natsuki adalah yang pertama kali menangis sepanjang jalan cerita film ini. Mikoto berhasil mengabadikannya lewat kamera saku Mai dan hal itu menjadi bahan godaan mereka saat berkumpul bersama di kemudian hari. Juga di kemudian harinya lagi. Terus di kemudian hari.

"Sebenarnya, Shizuru tak perlu repot-repot ke sini untuk acara kelulusanku," kata Natsuki datar.
Shizuru tak bisa membaca emosi Natsuki saat ini, dia berusaha memilih kata untuk menjawab Natsuki. "Aneh rasanya kalau aku tidak datang di hari kelulusan Natsuki. Kita ini deket banget," Shizuru memutuskan menjawab tanpa menatap Natsuki. "Atau Natsuki lebih ingin Takeda yang datang?"
"Kalau Shizuru tak datang, takkan ada foto-foto kenangan saat kelulusanku nanti," Natsuki menghela napas, lalu tersenyum kecil.
"Berarti Natsuki memang niat membolos," Shizuru merasa lega karena Natsuki tak menanggapi bahasan tentang Takeda.
"Bukan membolos kalau kamu sudah dinyatakan lulus. Itu cuma formalitas," sanggah Natsuki.

Ibu Natsuki telah lama meninggal. Ayahnya menikah lagi dan Natsuki menolak untuk diajak tinggal bersama di luar negeri. Natsuki tidak memberitahu ayahnya perihal acara kelulusannya. Shizuru memahami mengapa dia dan Mai bisa menjadi sahabat bagi Natsuki yang penyendiri, ada dahaga akan sosok seorang ibu dalam diri Natsuki dan kepribadian Shizuru dan Mai yang keibuan memberi rasa nyaman tersendiri bagi Natsuki.

Tiba-tiba terdengar suara letusan, Shizuru dan Natsuki menatap langit yang mendadak bertebaran cahaya. Natsuki benar, kembang api dari sini terlihat cantik. Langit seperti layar televisi pribadi mereka. Shizuru menyandarkan kepala ke samping, ke tubuh Natsuki, seolah teringat rasa lelah setelah perjalanan dan tugas kuliahnya. Tubuh Natsuki kaku sesaat, lalu Shizuru merasakan pelukan satu lengan Natsuki di punggungnya. Keduanya membisu menikmati gemerlapnya malam.


NB: oke, aku bohong lagi, belum selesai. Yang keempat itu yang terakhir. Beneran!


Kereta Malam II: Festival Sushi

Sabtu, 04 Januari 2014


Kereta tiba di stasiun yang dijanjikan. Shizuru menghirup bau udara lama yang terasa baru di ingatan olfaktori-nya. Kepalanya sakit, disertai pusing dan sedikit mual akibat memaksakan diri mengerjakan tugas kuliah di atas kereta. Shizuru masih punya satu hari untuk istirahat cukup dan mengerjakan sisa tugas.

Sambil mempersiapkan hati sebelum bertemu Natsuki.

Shizuru memesan taksi. Sesampainya di penginapan, Shizuru baru sadar kalau handphone-nya mati, lalu mencolokkannya pada sumber energi. Dia mengurungkan niat menghubungi Natsuki. Meletakkan tas-tas begitu saja, dia berbaring menatap langit-langit. "Natsuki...," Shizuru mendesah dalam pikiran sendiri. Perlahan-lahan rasa lelah menuntunnya pada stadium-stadium tidur.

Matahari tepat di atas kepala saat Shizuru terjaga, yang pertama kali dia rasakan adalah lapar yang menggigit. Shizuru menimbang-nimbang, makan sebelum mandi atau mandi sebelum makan. Dia meraih handphone untuk mengetahui waktu, melepaskan sambungan listrik lalu memeriksa beberapa pesan yang masuk. Ada yang dari Natsuki. Sisanya dari dosen yang memintanya memberi asistensi untuk beberapa adik kelas. Shizuru membalas dengan mengingatkan bahwa dia sudah ijin tidak bisa memberi asistensi minggu ini karena harus mengurus beberapa berkas ijasah di sekolah lama. Sambil menghadiri kelulusan Natsuki, batinnya. Tapi Shizuru tak membalas pesan Natsuki. Dia letakkan handphone di tempat tidur, mencari sebutir antasida di kantong tasnya dan mengunyah pelan. Nyeri di ulu hati berkurang, tapi tidak di kepalanya.

Shizuru memutuskan berbaring lagi, membiasakan diri terhadap nyeri di kepalanya. Ditatapnya kembali langit-langit yang semalam telah diakrabinya. Shizuru teringat sepotong roti yang dia simpan pagi tadi, mengambilnya tanpa bangkit dari tempat tidur, lalu memasukkannya secubit demi secubit ke dalam mulut.

Setelah nyeri di kepalanya reda, Shizuru meraih tugas-tugasnya. Dia bersikeras untuk menyelesaikannya hari ini juga, tak banyak yang harus dia kerjakan, dia telah mencicilnya sedikit demi sedikit. Sedikit lagi, batin Shizuru.

Hari menjelang malam saat Shizuru menyelesaikan tugas kuliah. Beristirahat sejenak, dia membuat secangkir teh dan meregangkan diri. Shizuru teringat untuk memesan tiket kembali ke kotanya, meski hatinya berkata kota inilah yang terasa sebagai rumah, Shizuru memilih kembali dengan kereta malam. Tangannya membuat gerakan seolah memperkirakan berat handphone di genggamannya setelah dia mengkonfirmasi tiket, memutuskan inilah saat menghubungi Natsuki.

Suara di seberang begitu familiar, Shizuru nyaris melupakan nyeri di kepalanya saat Natsuki menjawab panggilannya. Seperti rasa lega pulang ke rumah setelah perjalanan panjang, batin Shizuru di sela percakapan dengan Natsuki. Ia terkejut oleh kabar Shizuru berada di penginapan beberapa blok dari tempat tinggalnya, lalu mengomeli Shizuru panjang lebar karena tidak menginap di tempatnya saja.

"Nanti capek, malah tak bisa istirahat. Kamar Natsuki kan berantakan," tandas Shizuru teringat kebiasaannya membantu membersihkan tempat Natsuki saat weekend, supaya dia sendiri tak gerah melihat segalanya berantakan saat menikmati waktu berdua. Dia membayangkan wajah Natsuki yang seketika akan merah karena malu mendengarnya, Shizuru belum kehabisan stok godaan untuk Natsuki.

Natsuki mengajaknya makan malam tapi Shizuru menolaknya. "Simpan mantera sihirnya untuk besok," batin Shizuru. Dia sudah memutuskan untuk jalan-jalan malam di kota ini sendirian, malam ini, menikmati festival yang sedang berlangsung. Ada satu restoran sushi baru di dekat perayaan festival yang ingin Shizuru coba. Dia ingin meletakkan sumpit dan memakannya dengan tangan, seperti kebiasaan bar-bar Natsuki tapi minus mayo, dan itu hanya bisa dia lakukan bila tak seorangpun mengenalnya di tempat makan tersebut. Shizuru menyanggupi bertemu Natsuki sebelum perayaan wisuda besok di akhir percakapan mereka.

Setelah menyegarkan tubuhnya di bawah pancuran air, Shizuru berjalan menuju festival beberapa blok dari penginapannya. Saat melewati tempat tinggal Natsuki, Shizuru berhenti sebentar menatap jendela kamar perempuan berambut gelap itu. Shizuru melanjutkan perjalanan setelah melawan keinginannya untuk mampir ke tempat Natsuki. Keramaian festival belum mampu mengenyahkan rasa sendiri dalam hati Shizuru. Dia tersenyum pada penjual makanan kecil yang dibelinya, berterima kasih setelah membayar. Alih-alih memakannya, Shizuru malah mengantongi makanan tersebut karena tak menemukan tempat duduk. Shizuru ingin menikmati festival sampai larut nanti, sampai pesta kembang api, tapi terlebih dulu dia harus mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan.

"Shi...zuru?" Shizuru menoleh pada suara yang memanggilnya.
"Ara... Natsuki," Shizuru berusaha meredam keterkejutannya. Aneh sekali melihat Natsuki dan festival. Dua-duanya sama membuat hati Shizuru bergairah, gairah yang berbeda tentunya, tapi keduanya susah dipertemukan. Natsuki benci keramaian. Dulu jika Shizuru mengajak Natsuki berkencan, meski itu hanya istilah pribadi Shizuru, Natsuki selalu menolak tempat-tempat ramai. Sebenarnya Shizuru justru senang, kebutuhan 'privacy' Natsuki memungkinkannya mempunyai waktu berdua saja dengan Natsuki, hanya saja Shizuru merasa lebih sulit untuk menahan diri. Supaya tidak memuntahkan perasaannya begitu saja dan membuat sisanya berantakan. Shizuru akhirnya mengutarakan perasaan di hari kelulusannya dan seperti tebakannya, berantakan.

Natsuki mengajak Shizuru menjauh dari keramaian. Ke tempat yang lebih tinggi untuk melihat kembang api, kata Natsuki.
"Tapi perutku lapar, Natsuki," tukas Shizuru. Giliran Natsuki terkejut. Biasanya yang menggerutu tentang lapar di antara mereka adalah Natsuki.

Shizuru dan Natsuki duduk saling berhadapan. Mereka sudah memesan satu paket sushi yang sekarang sudah diletakkan di antara mereka. Shizuru tersenyum melihat Natsuki makan seperti biasa dengan acuh tak acuh. Dikesampingkannya sumpitnya, Shizuru mengikuti cara makan ala Natsuki dan mereka tersenyum-senyum geli terhadap satu sama lain. Dua perempuan androgini itu seperti berada dalam dunia yang mereka cipta bersama. Seperti di masa lalu, Natsuki menumpahkan teh yang tersenggol tangan kanannya saat meraih makanan. Shizuru lupa mengingatkan diri untuk memindahkan gelas minum Natsuki sebelum ia mulai makan. Seperti di masa lalu, Shizuru dan Natsuki buru-buru menegakkan gelas Natsuki dan tangan mereka bersentuhan, kali ini keempat mata mereka bertatapan. Saat itu seperti saat ini, pipi Natsuki yang mudah memerah mulai menunjukkan semburat warna, tapi kali ini Natsuki tak buru-buru menarik tangannya. Hati Shizuru berdebar-debar, denyut jantungnya meningkat, namun yang tampak di wajahnya hanya senyuman. Shizuru menggenggam tangan Natsuki, berbagai harapan kembali tumbuh subur, dua hal ini terjadi bersamaan tanpa bisa dia cegah.


NB: saya berubah pikiran, cerita ini jadi three shots. Sori.

Kereta Malam I

Jumat, 29 November 2013

Ini adalah cerita AU dari MaiHiME/otome. Shiznat. Two short shots. Saya tidak memiliki Mai HiME.

Panggilan terakhir untuk penumpang kereta yang ditumpangi Shizuru. Kemacetan di jalan depan stasiun membuat penumpang harus setengah berlari menuju kereta yang akan segera berangkat. Shizuru menyesap teh di gelas kertas, memandang barisan penumpang yang sedang menaiki kereta dari jendelanya. Dia sendiri sudah duduk dengan posisi yang nyaman, menghabiskan sedikit demi sedikit teh favoritnya. Tempat duduk di sebelahnya masih kosong, Shizuru berharap tidak akan ada orang yang duduk di sana  mengingat perjalanannya masih di hari kerja.

Perkiraan Shizuru benar, penumpang sepi, tempat duduk lengang di mana-mana. Merapatkan jaket, dia tengah membiasakan diri dengan udara dingin dalam kereta. Shizuru menutup mata, baru 10 menit kereta berjalan, tapi benaknya sudah membayangkan senyum seseorang yang akan dia temui di kota pemberhentian terakhir kereta ini. Shizuru memfokuskan diri pada sorot mata orang yang dia bayangkan, selain rindu dia juga berusaha melawan rasa mual. Banyak kendaraan memberi sensasi tak menyenangkan di kepala dan perut Shizuru, terutama bila dia menikmati pemandangan dari kaca samping kendaraan yang dia naiki.

Neurolog langganan Shizuru bilang itu hanya sedikit efek samping dari kecerdasan Shizuru, dia menjadi peka terhadap perubahan apapun di sekelilingnya. Perubahan secara visual contohnya, dan dokter tersebut menyarankan Shizuru melihat ke kaca depan kendaraan dan menghindari kaca samping. Shizuru kesulitan mempraktekkannya di kereta.

Perubahan. Apa yang kira-kira berubah dari Natsuki, ya? Batin Shizuru

Dua tahun lalu, Shizuru memutuskan untuk kuliah di kota yang berjarak empat ratus sekian kilometer dari Natsuki, meninggalkan Natsuki dan kebimbangannya. Beberapa saat setelah hari kelulusan Shizuru, sebelum dia mengikuti tes masuk mahasiswa baru, Natsuki memberi jawaban terhadap pernyataan cintanya. Natsuki mengatakan bahwa ia tak memiliki perasaan yang sama. Ia menyayangi Shizuru sebagai sahabat terbaiknya, menghancurkan hati Shizuru berkeping-keping dan menghentikan harapan Shizuru selama hampir dua tahun. Berkali-kali Shizuru menyesali telah mengungkapkan perasaannya, dan karena merasa tak sanggup terus berinteraksi hanya sebagai sahabat dengan Natsuki, Shizuru memilih mencerabut paksa kehadiran Natsuki di kehidupannya. Dia menjauh pergi untuk menenangkan diri dan berusaha menjadikan Natsuki hanya sebagai sahabat. Dia punya cita-cita dan universitasnya kini adalah yang terbaik di bidang yang diinginkan Shizuru.

Pikiran Shizuru beralih pada rasa mual yang masih mengganggunya. Dia berusaha mengalihkannya kembali pada kelanjutan ingatan dua tahun yang lalu.

Dua tahun lalu Shizuru juga menggunakan kereta malam untuk pindah dari kota tempat dia bersekolah SMA ke kota tempat bersekolahnya sekarang. Shizuru merasa langit mendadak mendung saat kereta penjemputnya tiba di stasiun. Tiupan peluit menandai kedatangan berton-ton besi yang mengguncang-guncang tanah pijakan. Shizuru  naik ke keretanya setelah panggilan terakhir dikumandangkan, menikmati saat-saat bersama Natsuki yang mungkin untuk terakhir kali di tahun itu. Shizuru tak punya rencana untuk kembali ke kota itu sampai tahun depan, saat ulang tahun Natsuki. Dia berdiri dan melambaikan tangan pada Natsuki untuk sekian kali di pintu kereta, sampai pintu kereta tertutup, tiba-tiba merasa dibutakan oleh kesedihan yang berusaha dia pendam. Kereta berjalan perlahan mulanya, seperti airmata Shizuru.

Shizuru berterima kasih dalam hati kepada kereta malam saat itu, dia duduk sendiri dan menangis sepuasnya sampai pagi tanpa banyak orang yang memperhatikan.

Shizuru juga menggunakan kereta malam untuk mengunjungi keluarganya di tanah kelahirannya. Akhirnya dia menikmati perjalanan-perjalanannya dengan kereta malam, dengan privasi yang diberikan oleh rasa kantuk penumpang lain, Shizuru menikmati pemandangan malam kota-kota yang dilewati keretanya. Lengang, silih berganti, kadang disinari lampu kekuningan sehingga tercipta gambar seperti foto lama dalam frame.

Perjalanan ribuan kilometer yang telah dilewati Shizuru bersama kereta malam-lah yang juga membuatnya kembali tersenyum. Senyum yang datang dari lubuk hati. Kesedihan pasca patah hatinya terobati. Tidak seketika, tapi lukanya perlahan menjadi jaringan parut yang warnanya memucat. Shizuru merasakannya di sela-sela suara Natsuki di telepon, rasa terjaganya terhadap panggilan dari Natsuki perlahan memudar. Keingintahuannya terhadap kisah sehari-hari Natsuki menjadi terlupakan oleh rutinitas sebagai mahasiswa. Orang-orang baru dan janjinya terhadap diri sendiri untuk membuka diri terhadap lingkungan baru memberinya obat tambahan yang bersinergi baik dengan keinginannya sembuh dari sakit cinta terhadap Natsuki. Meski kadang muncul rindu yang sekonyong-konyong, tak bisa dia cegah.

Dua tahun sudah dan lusa adalah hari kelulusan Natsuki.

Bohong bila Shizuru sudah sama sekali tak merasakan debaran di dadanya terhadap sesuatu yang berkaitan dengan Natsuki. Perempuan berambut gelap itu adalah cinta pertama Shizuru. Shizuru teringat pada malam-malam di mana dia sulit memejamkan mata, pikirannya selalu tentang Natsuki. Teringat bagaimana kemudian dia sesali keputusannya pergi dari sisi Natsuki begitu saja. Ego Shizuru yang besar tak bisa menerima kenyataan bahwa Natsuki menolaknya begitu saja. Harapan dalam hatinya adalah Natsuki merasa kehilangan dia, bahwa kepergiannya memberi bekas yang permanen di hati Natsuki seperti apa yang dia rasakan terhadap Natsuki. Nantinya dia sadari, di antara mereka Natsuki-lah yang paling terluka. Di antara mereka, Natsuki-lah yang melesat dewasa.

Terlepas dari betapa gila perasaannya dulu pada Natsuki, Shizuru menjadi orang yang lebih bijak kini. Kontrol dirinya yang semenjak dulu memang baik, menjadi lebih baik lagi. Namun saat Natsuki mengatakan sedang mempertimbangkan untuk menjadi mahasiswa baru di universitas Shizuru, harapan itu muncul kembali di hatinya. Harapan untuk membawa kisah yang berbeda di kesempatan ke dua, walaupun itu cuma harapan dan kesempatan dari diri Shizuru sendiri. Intuisi Shizuru biasanya tepat, dan dia was-was bila kali ini adalah satu dari sedikit yang meleset.

Lagi pula ada Takeda.

Takeda, seperti Shizuru, mengejar-kejar Natsuki mulai kelas 2 SMA. Bedanya, Takeda terang-terangan sedangkan Shizuru hanya bisa menyamarkan keinginannya. Hadirlah dia sebagai salah satu teman Natsuki yang kemudian menjadi sahabat terbaiknya. Berulang kali Shizuru harus menahan diri saat dia melihat Takeda berusaha meluluhkan hati Natsuki, Shizuru tertolong oleh sikap acuh tak acuh Natsuki terhadap Takeda saat mereka masih bersekolah bersama dulu. Kini Takeda di tahun kedua universitas yang sama dengan sekolah SMA mereka, kans Takeda selama dua tahun lalu lebih terbuka lebar dari pada Shizuru yang berbeda kota. Shizuru bukannya tak memikirkan hal itu, tapi dia sungguh bertekad untuk melepaskan Natsuki. Sekarang, memikirkan apa yang telah terjadi antara Natsuki dengan Takeda kembali memberi Shizuru sensasi yang tidak menyenangkan.

Mungkin dia terlalu banyak berharap. Shizuru menarik napas, berusaha mengendalikan perasaannya yang tiba-tiba kembali meluap terhadap Natsuki. Terlalu berharap sering memberi dampak merugikan. Shizuru maklum mengenai kenyataan bahwa cinta pertama tertinggal selamanya. Ke mana pun Shizuru melangkah, ada bagian dari dirinya yang membawa Natsuki turut serta. Bagian dari dirinya yang mencintai Natsuki. Tapi Shizuru tak bisa memaafkan diri sendiri mengenai harapan-harapan baru yang mendadak lahir menyambut berita "dia dan Natsuki akan satu kota lagi" yang belum tentu pasti.

Shizuru menghela napas seakan beban di hatinya akan larut bersama udara yang keluar dari paru-parunya.

Demi menghindari pikirannya yang semakin sulit dia kontrol, Shizuru membuka laptopnya. Ada beberapa tugas mata kuliah yang harus dia selesaikan dan dia tak mau waktu bersama Natsuki berkurang hanya karena dia mendadak kesulitan membagi waktu. Karena banyak melamun, tandas Shizuru pada diri sendiri. Dia menghadiahi senyuman untuk kekonyolan pikirannya, lalu menghabiskan sisa perjalanan kereta untuk mengerjakan tugas.

High and Dry

Jumat, 25 Oktober 2013

High and dry
=
Stranded, without help or hope of recovery (kamus antah-berantah).

Sept, 25th 2013.
Rabu, 1.25 am

She left her high and dry.

Begitu kesimpulanku terhadap patah hatinya temanku, ERS. Mulai dari kunci sepeda motor yang ketinggalan, masih menempel pada motor saat kutemukan di tempat parkir (dan sialnya itu adalah motorku yang kupinjamkan padanya), sampai janjian nonton bioskop dan dia masuk mall yang salah. Belum lagi dia menjadi hobi nyasar dan kehilangan minat mengerjakan tugas ini-itu.

Cukup sudah.

Kalau secara fisik boleh kutampar dia, akan kutampar dia bolak-balik. Kadang takut juga saat dia mengendarai motor lalu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena tidak konsentrasi menyetir.

Awalnya kukira jatuh cinta bagus untuknya, sekian lama dia dipermainkan orang-orang tak bertanggung jawab, kupikir ini saatnya membuka diri terhadap calon "teman dekat" yang dibawa teman-teman. Salah satunya calon "teman dekat"-nya ERS. Maksudku begini, di antara kami semua akulah yang paling susah menerima orang baru. Wajahku bisa terlihat berlipat-lipat jadi seratus kalau ada teman yang membawa orang baru. Jutek abis. Nggak nganggep sebelah mata, deh. "I generally dont like people I dont know," kalau aku boleh pinjam kata-katanya Erica Hahn. Tapi, demi melihat beberapa teman yang jomblo tiada usai, aku mulai menurunkan kadar kejutekanku terhadap orang-orang baru, dengan harapan mereka nggak takut pada kami dan kami punya lebih banyak kans untuk kenal mereka lalu memberi pendapat pada empunya hajat.

Jatuh cinta memang membuat ERS high and dry. Lovestoned, keracunan cinta, seperti melayang tinggi akibat ganja. Tapi, hampir selalu alur percintaan temanku satu itu berakhir dipermainkan. Mulai pacaran dengan ABG (anak baru gede) tua sampai yang beneran muda. Sering kudapati dia terlalu tinggi menilai seseorang, sering aku tak percaya dengan penilaian-penilaiannya terhadap si calon, tapi aku juga merasa kalau kesinisanku itu nggak enak diutarakan, apalagi didengar.


25 Oktober 2013
Jumat
01.55

Lantas ERS bilang padaku, dia sudah jadian sama orang baru. Kutanya pada dia, sudahkah melakukan closure pada mantan terakhir, dia bilang belum.

Cerita mengalir tentang perkenalan dan bagaimana dia jadian dengan orang baru dan aku geram. Sekali lagi, kalau bisa dia sungguhan kutampar bolak-balik, akan kutampar dia bolak-balik. Batas antara orang baik sama orang tolol sama orang naif itu tipis, aku kurang suka dengan mereka yang terlalu positive thinking. Di satu sisi mereka baik, bak malaikat, di sisi lain kupikir mereka dungu. Setidaknya keputusan ERS kali ini adalah satu dari sekian yang amat kusayangkan.

Berkecimpung di dunia perempuan dan perempuan selama sepuluh tahun dan menyelami beragam pertemanan, membuatku amat sangat menghargai arti seorang teman yang baik. Teman-teman yang berenergi positif dan membuat sekitarnya nyaman. Mereka jarang ada, sekali mereka terlihat dan memiliki keterikatan yang sama, aku akan berupaya mempertahankan mereka.

Pembelaan yang besar terhadap teman yang positif ini, tak jarang membuat mereka merasa aku naksir mereka. Itu hak mereka, sih, aku memang kadang sangat peduli. Mereka yang sangat dekat denganku mengerti watakku satu ini dan sudah bebas dari rasa Ge-eR yang menyesatkan.

ERS ini sepertinya pecinta daun muda. Aku adalah orang yang pesimis terhadap mereka yang lebih muda untuk urusan cinta. Seumur hidup hanya sekali pedekate dengan manusia yang lebih muda, itupun karena suatu kekuatan yang antah berantah, love at the first sight. Terbukti, keputusan kami tak bisa bersama itu memberi ketenangan batin dalam hati meski antara kami seharusnya ada closure.

ERS ini bolak-balik ditipu ababil, kata kasarku sih. Sering berstatus galau dan puitis, kadang bikin aku mual karena ke-positive thinking-annya. Dia yakin orang bisa berubah, yakin masa lalu cuma masa lalu, yakin terhadap kekuatan cinta, yakin usia tak menunjukkan kematangan, dll. Iya kalau dia bertemu dengan orang yang tepat, yang bisa sesuai dengan harapan muluk-muluknya tadi, kalau enggak? Sejauh ini, dia selalu ketemu orang yang salah.

Barang kali saat ini aku masih marah dengan keputusannya sampai aku menuliskan ini. I just love her so much, so i cant help but hate her, too. Seharusnya aku tahu bahwa ada orang yang harus jatuh berkali-kali sebelum menemukan titik terang. Kuharap tak perlu lama lagi aku harus melihat kejatuhannya. I hope life treats her kind.

How to be BFF with Your Mother

Sabtu, 29 Juni 2013

"Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa"

Kalau memenuhi keinginan Nick tentang sebuah lagu yang berisi lirik BFF dengan ibu, sebagai pengganti Neni yang merasa topik ini terlalu membuatnya mengerutkan kening, maka aku menunjuk lagu "I Turn to You" sebagai nyanyian hati.

Tapi, seperti janjiku, aku cuma penutup topik bulan ini. Dan masing-masing penulis tidak pernah bisa tergantikan. Adapun tulisan di alinea sebelumnya hanyalah sekelumit kerinduan terhadap tulisan Neni.

Mari lanjutkan.

Kalau kasih ibu sepanjang masa dijadikan cerita horor, Mama terasa amat manusiawi untuk ukuran pecinta monster. Sedangkan Mama Minta Pulsa bisa dijadikan pengobat kerinduan terhadap Mak Lampir, entah di manapun anaknya berada, yang pasti ini emak betul-betul BFF sama anaknya karena anaknya rajin beliin dia pulsa bukan kebalikannya.

Sering saat berteman dengan seseorang aku turut mengenal ibunya. Ada ibu yang lebih memuja anak laki-lakinya, sehingga teman perempuanku yang kebetulan punya ibu tipe begini harus tumbuh dan berkembang dengan pernyataan yang lebih mirip tuntutan: "you are my mother, you are supposed to love me." Teman perempuan lain punya tipe ibu yang sama, hanya saja ibunya punya satu anak laki-laki favorit sedangkan dia punya dua saudara laki-laki. Alhasil, dia bersekutu dengan kakak laki-laki yang bukan kesayangan itu, dan dia tumbuh menjadi perempuan posesif yang tidak mau berbagi dan punya tekad harus mendapatkan apa yang dia inginkan.

Lain ibu lain tipe. Ibuku juga punya anak favorit, kakak laki-lakiku. Aku harus puas dicap anak bungsu yang paling nyleneh oleh ibu. Mulai dari ogah mengambil raportku sampai selalu menjadikanku tameng untuk menghadapi bapak membuatku tumbuh menjauhi ibu. Baru beberapa tahun ini aku berusaha memperbaiki hubungan dengan ibu, mensyukuri bahwa sampai detik ini beliau masih sehat, memberiku kasih sayang surgawi, dan arah masa depan. Aku tidak  menunggu jawaban Tuhan terhadap doaku untuk menentukan arah kehidupanku, cukup kutanyakan pada ibu jalan mana yang beliau inginkan kutempuh. Aku percaya saja, berjalan saja, seperti aku percaya bahwa surga berada di bawah telapaknya.

Tampaknya, tahun-tahun aku mengalah dan berusaha memperbaiki hubungan dengan ibuku telah membuahkan hasil. Aku yang dikenal kedua orang tuaku sebagai anak yang "negativisme" ternyata justru tumbuh menjadi yang mengindahkan saran orang tua.

Apa saja yang sudah kulakukan untuk memperbaiki hubungan?

Sadar diri.
Sadar diri bahwa memiliki orang tua jauh lebih baik daripada sendiri. Ada kasih sayang yang tanpa meminta balasan, ada tubuh untuk dipeluk, ada doa-doa yang selalu menyertai. Dan ada banyak hal lain.

Berbicara dengan nada yang lembut.
Tak peduli berasal dari suku apapun, mulailah belajar berbicara dengan nada yang lembut meski bersuara keras atau tegas. Pilih juga diksi yang sopan. Membiasakan diri dengan mulai berkurangnya pendengaran orang tua merupakan tantangan yang pasti bisa diselesaikan oleh perempuan manapun, yang benar-benar dewasa.

Bila berdebat, biarkan ibu menang.
Meski keras kepala, ibu manusia juga, ibu juga berpikir. Beri ibu waktu untuk mengurai perdebatan barusan. Saat emosi dan mentok, baiknya menahan diri dari berdebat sengit. Setelah amarah reda barulah bicara baik-baik. Jika belum berhasil juga, cari waktu lain lagi. Begitu terus, jangan menyerah.

Cemburu.
Ibu sering melimpahkan perhatian dan kasih sayang pada anak tertentu, menimbulkan sibling rivalry, yang parah mungkin anak itu nantinya membenci ibunya. Cemburu itu perlu, itu bukti kita mencintai ibu. Cinta seringkali posesif. Ada rasa ingin memiliki. Ini adalah hal paling sulit yang selama dua puluh lima tahun lebih baru bisa dengan legowo kuterima. Kuterima bahwa ibuku juga manusia, hatinya cuma bisa menampung beberapa orang. Bukan berarti hatinya tidak menampungku, tapi semakin banyak orang maka akan semakin sedikit mendapat perbagiannya. Kakak laki-lakiku kebetulan dapat jatah persen yang tidak terbagikan, dan aku harus merasa cukup dengan porsiku. Suatu waktu aku berhenti menuntut cinta ibuku dan memulai langkah-langkah sadar diri, berbicara dengan nada lembut dan membiarkan ibu menang berdebat lalu aku mendapatkan lebih daripada radang cemburu. Aku mendapat respek ibuku dan ibuku memberiku jatah persen lebih daripada sebelumnya. Mungkin lebih baik kita tanyakan apa yang bisa kita berikan pada ibu, bukan apa yang ibu bisa berikan pada kita.

Mungkin tips di atas hanya pengulangan tips-tips teman lain, atau pernah anda lakukan dan tidak berhasil. Beberapa orang mungkin memang takkan pernah bisa menjadi BFF dengan ibunya. Tak mengapa, jangan dipaksa, asalkan tetap menghormati, santun dan mendoakan ibu (orang tua) doa-doa baik, itu saja adalah bekal berharga untuk belajar menjadi BFF dengan ibu.

Belajarlah ngempet, saudari-saudari!

Jumat, 17 Mei 2013

Dan benar sekali, di usia yang belum tiga puluh, kudengar banyak teman yang akan bercerai atau selingkuh. Ada yang sudah pacaran lama, ternyata usia perkawinannya gak lebih lama dari masa pacaran.

Seringkali orang kesulitan mengatasi rasa bosan. Saat teman bilang bahwa mereka iri dengan usia percintaanku dengan Hening yang sekarang menempuhi tahun ke tujuh, aku tidak yakin mereka iri juga dengan apa yang telah kami lalui.

Kebosanan tak bosan-bosannya menyerang kami.

Sebenarnya kami pasangan biasa, sama seperti yang lain. Saat orang lain berkata "Wow", aku selalu bilang "biasa aja". Saat orang lain meremehkan, aku menantang mereka apakah mampu mempertahankan hubungan seperti kami. Banyak yang tak mampu meski tak sedikit yang lebih berhasil dari kami.

Kupikir, kalau kita tak berhasil mengatasi rasa bosan, hubungan paling lama bertahan mungkin lima tahun. Apa mau cari pasangan terus tiap lima tahun?

Kalau masalah bosan dan ingin selingkuh, aku selalu mengulang kembali pernyataan Andin (orang yang selalu dicemburui oleh Hening), "Itu kan karena dia orang baru."

Yup, lima tahun kemudian dia hanya akan menjadi orang lama yang membosankan dan kamu akan mencari orang baru lain. Ya, kan? Jadi, tiap kali aku merasa tertarik dengan orang lain, mantra Andin ini selalu kuucapkan dalam hati, "Cuma orang baru, cuma orang baru," dan kemampuanku untuk menahan diri alias "ngempet" dari jatuh cinta sama teman, sama pacarnya teman, sama temannya teman, sama tetangganya teman dan sama selingkuhannya temanpun naik level demi level.

Kembali ke gosip atau isu sampai kenyataan tak menyenangkan tentang teman-temanku, ini teman-teman hetero bukan homo. Yang homo malah rata-rata punya hubungan lebih singkat lagi. Bahkan beberapa yang mengatakan ingin serius dan setia pada yang satu ini berakhir menjilat ludah sendiri, jijik kan aku jadinya?

Bukannya ingin mengata-ngatai karena lagi sewot ini malam, tapi aku memang sudah muak sama hubungan antar homo yang terasa sah-sah saja berselingkuh dan flirting sana-sini akibat tak bisa menikah resmi. Jangan salahkan sistem, dong, ngaca dan lihat diri sendiri. Kalau hubungan ala ababil dibawa ke jenjang pernikahan dan berakhir banyak perceraian, homo akan semakin terinjak nista dan nggak salah yang ngejek-ngejek. Mentang-mentang gak bisa punya anak sendiri serasa tidak punya karma, jangan lantas menjadikannya alasan yang tidak dewasa untuk membenarkan kelakuan kita yang nggak bener.

Sebenarnya sama seperti perempuan lain, aku juga punya banyak godaan untuk selingkuh. Teman-temanku hetero banyak yang gak jelas, dalam arti bahwa mereka ada kemungkinan untuk tertarik padaku. Di luar sana aku adalah jomblo baik hati, sedikit tomboy, setia kawan, pembela yang lemah, dan banyak hal positif yang lain, meski kadang dicurigai lesbian. Tak jarang ada yang ingin menjodohkanku dengan adiknya, dengan sahabatnya, dengan saudara jauhnya, dan kadang ibu-ibu mulai ibu-ibu tetangganya Hening sampai ibu-ibu langganan tempatku bekerja menjodohkanku dengan anaknya. Aku gak cantik, tapi ibu mantan cowok-cowokku selalu berakhir takluk menyerahkan anaknya pada serigala berbulu domba ini. Plus, hampir seluruh lingkaran teman lesbianku pernah punya sejarah jatuh hati padaku. I'm a high quality jomblo, man! Dengan banyaknya pilihan, tentu saja godaannya dahsyat. Karena biasa angkuh, tentu saja aku gak mau hubunganku kandas dan diketawain banyak orang, dibikinin syukuran lagi (karena banyak yang sirik dan benci).

Nah, kalau aku saja yang manusia biasa bisa bertahan lama pacaran (karena gak ada legalitas nikah), masa' kamu mau kalah? Ntar kukata-katai pakai pilihan kata seenak udel yang jumlah dan luasnya bisa kamu tanyakan ke teman-teman yang mengenalku.

So, belajarlah mencintai dengan benar, lalu mempertahankan hubungan dengan benar. Kalau toh hubungan kamu gagal, to meet only to let go, jadikan itu pembelajaran yang benar, bukan menjadikannya alasan untuk mencintai orang lain dengan kesalahannya yang sama.

Masalahnya, elo mau belajar kagak?

My deNL sisterhood

Jumat, 12 April 2013

Aku tak ingat cuaca hari itu. Kami, aku dan Nick, duduk berhadapan di sebuah warung bakso murah di kampungku. Jauh sebelum aku termakan isu bakso daging tikus. Pembicaraan mengalir, dari yang ringan sampai agak berat. Wajahku mulai jutek saat Nick mulai menanyakan ini-itu, seperti anak-anak yang terpesona oleh toko mainan.

Memutuskan tidak tambah porsi, aku dan Nick menikmati isi di gelas masing-masing. Akupun lupa minuman yang kami pesan. Juga simpang-siur apa yang kami bicarakan. Seingatku kemudian kami membicarakan tentang pekerjaan.

"Kenapa nggak jadi pegawai negeri saja, sih, Nick?" Tanyaku tiba-tiba.
"Tantangannya kurang," jawab Nick singkat. Aku menghela nafas, tak setuju.

Aku magang di salah satu bidang kerja milik negara, bekerja di bawah dan bersama pegawai negeri. Kadang membawahi mereka juga. Yang kutangkap dari mereka, karena pekerjaan berkutat hanya itu-itu saja tiap hari, selama bertahun-tahun, barangkali tantangan paling mengerikan adalah kebosanan. Bosan yang akhirnya membuat mereka jarang tersenyum, seolah lupa yang mereka tawarkan adalah jasa. Mereka tak ada target, tak butuh pelanggan karena yakin pelanggan yang butuh mereka. Coba bayangkan anda mengantre di customer service sebuah provider jaringan telepon seluler, bukan antre yang sebentar, lalu mendapati sang petugas berwajah jutek dan berbicara judes. Seperti muka masamku pada Nick yang tadi kugambarkan, lebih mungkin anda tak sesabar atau secuek Nick.

"Kalau menurutku, jadi pegawai negeri tantangannya besar. Aku belum tentu nanti mau jadi pegawai negeri, rasanya gak sanggup," kunyatakan pendapatku pada Nick yang sedang sibuk mengaduk-aduk gelasnya.

Aku bukan orang yang berpikir panjang atau berniat kaya. Pekerjaan tetap, gaji tetap dan cukup, dan tidak bergantung pada orang lain adalah gol jangka panjang di benakku. Itu harus jadi nyata. Teman-teman lesbian dalam lingkaran kecilku kuharapkan punya impian sederhana yang sama, lesbian mandiri yang meruntuhkan stigma buruk lesbian. Bila aku bisa mengungkit semangat mereka dengan menjadi contoh mewujudkan impian, atau sekedar mendorong mereka untuk mewujudkan impian yang sama, bukan mustahil pertemanan lesbian yang biasanya menye-menye atau penuh intrik menjadi penuh keuntungan dan energi positif.

Mari beralih pada teman lesbianku yang lain bernama Erna. Erna itu lumayan cakep, tidak menghabiskan tempat tidur kalau bobok bareng alias mungil, martir karena suka masalah lesbian yang ruwet binti mbulet, keren dalam berorganisasi, tapi sering dibodohi ABG (anak baru gede) yang labil karena dia selalu percaya setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik. Intinya dia terlalu baik. Pemberontakan berarti dalam hidupnya cuma coming out ke keluarga dan ingin hidup mandiri, artinya berkelana mencari ilmu dan kerja jauh dari keluarga, melawan kepercayaan orang tuanya tentang perempuan itu tergantung suami.

Kesamaan Nick dan Erna: keduanya bertahan hidup dengan baik. Namun, mereka meninggalkan bangku sekolah demi kecintaan mereka. Nick untuk menghidupi keluarganya, yang tak cukup dari kerja paruh waktu, sedang Erna fokus pada lembaga pengayom lesbian.

Lagi-lagi pertanyaan sama kulontarkan pada Erna, tentang kenapa tidak mencoba menjadi pegawai negeri. Namun pertanyaan itu seolah menjadi bumerang pertanyaan lain kepada diriku sendiri. Untuk menjadi pegawai negeri, dibutuhkan selembar ijasah. Mereka tak punya. Artinya pertanyaan itu sia-sia, kalau toh mereka mau, menjadi bagian yang benar dari institusi pemerintah untuk perbaikan sistem negara, mereka tetap tak memenuhi syarat.

"Kalian sekolah lagi aja," kataku pada mereka berdua. Suatu kali, berkali-kali.

Bulan lalu, Nick dan Erna mendatangi sebuah universitas negeri di kota kami. Akan mendaftar menjadi mahasiswi kata mereka. Setelah berkutat dalam dunia kerja, dengan pengalaman kerja dan kemampuan mereka yang di atas rata-rata namun oleh bos belum dihargai layak karena terganjal selembar ijasah. Konon, pekerjaan dihargai sesuai dengan tingkat pendidikan terakhir. Tidak semua, sih, tapi ijasah bisa meningkatkan kesejahteraan.

Ada satu istilah dalam bahasa Inggris, 'birds of a feather flock together'. Setelah mengalami pasang-surut pertemanan, akhirnya akan terkumpul juga yang punya satu tujuan. Dengan tujuan dan niat yang baik dari semua pihak semoga menjadi proses dan keluaran yang baik pula. Banyak pertemanan atau persaudaraan lesbian tumbuh, berkembang, layu, mati, hidup kembali, didaur ulang, mati suri, bangkit lagi, dan sebagainya. Niscaya, percaya atau tidak, mereka yang tetap dalam kesatuan didorong oleh kepentingan yang sama. Aku, Nick, Erna sampai saat ini punya mimpi sama, entah sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Tapi pertemanan yang memberi manfaat baik, saling mengingat dan mengingatkan, bahu-membahu mencapai impian, toleransi, dan memberi ruang untuk tumbuh dewasa akan menjadi cerita nyata yang dibanggakan di kemudian hari.
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates