welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

The Power of Goodbye

Senin, 23 November 2015

Jika kau bertemu (mantan) kekasihku dan terpesona padanya, kukatakan padamu: pesona itu hadir karena perpisahan kami.

Setelah hampir sembilan tahun bersama, lalu memutuskan berpisah, aku bisa memberi kesimpulan bahwa dia adalah pelajaran yang harus kutempuhi. Dan aku sudah menempuh 'sekolah pendidikan pertama' dengan dia menjadi 'wali kelas' seumur hidupku di sekolah, kemudian dia memutuskan melepaskanku beberapa bulan sebelum kelulusan.

Begitu banyak kulewati 'ujian' darinya, dan sebagai murid tentu saja aku memberinya banyak kesulitan juga.

Kami memulai 'kelas' dengan keadaan sekolah yang compang-camping. Banyak wali kelas dan murid yang bahkan tak bisa melewati tahun pertama sekolah, banyak murid yang berganti wali kelas, murid yang keluar dari sekolah, wali kelas yang menempuh pendidikan lanjutan atau pindah ikut pasangannya, atau pindah mengajar sekolah lain. Aku dari awal sebenarnya tak yakin mengikuti pendidikan di sekolah ini, tapi merasa pendidikan ini layak diperhitungkan.

Tahun-tahun kami lewati bersama, hasil pendidikan kami dilaporkan dan diamati secara berkesinambungan oleh sekolah, beberapa penilai memberikan opini positif dan tentu saja ada yang memberi nilai negatif. Apapun yang dirasakan orang luar, kami terus menjaga keutuhan kelas dengan segala daya dan upaya. Memberi bukti bahwa di sekolah ini ada kerjasama yang bertahan lama

Sekian tahun setelah kami selalu bersama menghadapi suka, duka dan selalu berdua di depan publik, orang-orang kemudian bertanya di mana wali kelasku saat melihatku sendirian di pertemuan antar kelas membahas wisuda setelah ujian akhir. Aku tertawa pada mereka lantas bilang, "Aku sudah lulus wajib belajar sembilan tahun, jadi kami memutuskan kerjasama."

Kami menyadari bahwa akan menghambat satu sama lain jika ingin memaksa terus menjadi wali kelas-murid, di mana dia tak memiliki kemampuan mengajar murid sekolah lanjutan dan aku tak bisa terus menutup diri dari dunia di luar kelas dalam sekolahnya. Seorang murid hanyalah seorang yang akan terus berproses menjadi tahu dari tidak tahu dan harus naik tingkat demi tingkat, sedangkan seorang wali kelas selamanya tinggal di sekolah yang memberinya pekerjaan sampai dia memutuskan untuk berhenti mengampu tanggung jawab.

Di pundaknya ada begitu banyak beban dan aku menyadari bahwa diriku menjadi salah satu beban yang dia pikul. Begitu banyak kesalahanku yang dia abaikan, di ruang guru tak jarang dia membelaku saat guru lain mencibir kelakuanku. Tak lantas dia menyuruhku menghadapnya untuk menjelaskan tindakanku, diberikannya waktu untuk diriku sendiri sambil dia sendiri berdoa memohon kesabaran selalu dilimpahkan dalam hidupnya dalam menghadapi murid. Ketika prestasiku mulai nampak, dia juga tak serta merta membusungkan dada atau banyak bicara di ruang guru untuk menyindir guru lain.

Semakin tahun tampak betapa dewasa dia menghadapiku, ketajamanku membidik gol juga belum tumpul dan terus berkilau berkat asahannya. Dia menjadi guru berprestasi seiring dengan waktu dan dapat kuraba jaringan parut demi jaringan parut di telapak tangannya yang ada karena ketabahannya menahan nyeri tajamnya pisauku yang menggoresnya dalam tak hanya satu atau dua kali.

Barangkali berita kelulusanku yang paling menyayatnya, hingga dia merasa tak mampu sembuh dari kabar duka ini dan memutuskan tak sanggup mengajarku lagi. Aku cuma tertegun saat dia menyampaikannya lewat satu pesan singkat tanpa penjelasan panjang lebar. Barangkali sebenarnya dia begitu membanggakanku sehingga ketika aku tak bisa menjadi bintang pelajar yang bisa menjadi kebanggaan final bagi dia, dia memutuskan untuk tidak membiarkan namanya tercantum di rapor terakhirku.

Sekolah tentu tak sabar untuk segera memasangkan dia dengan murid lain, berharap banyak prestasi serupa yang bisa mengikuti prestasi yang kami raih sebelumnya. Dan aku percaya akan banyak murid yang terbantu dengan tangan dinginnya, sebagaimana dia menata landasan hidupku yang membuatku siap dengan hal-hal baru dan melewati rintangan demi rintangan.

Kelulusan menjadi suka cita untuk banyak murid, berakhirnya masa sekolahku ini menjadi awal baru bagiku dan baginya. Supaya kami menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Perpisahan menjadi kekuatan baru untuk menjalani kerjasama kelas yang lebih baik lagi di sekolah baru.

Kepada wali kelasku, dalam hati kuhaturkan ribuan terima kasih dan kukirimkan satu pesan singkat yang kuharap bisa menjadi penutup catatan sekolah menengah pertamaku: "I wish that you would start anew and I'd like to be there to greet you."*


*dikutip dari Until the End of Time oleh Linna W.

Tiada Lagi Asmara

Jumat, 20 November 2015

Kelihatan jelas tandanya kita kini semakin jauhnya
Selalu saja mencari alasan tuk menyakiti hati

Ku mendengar, sepintas lalu, hatimu telah berperan ganda
Aku tak percaya
Lama-lama hati ini bertanya

Apa iya? dan siapakah dia? telah merebut hatimu
Menyiksa aku di sini
Membawa kau pergi jauh

Kini sudah tiada lagi ruang yang penuh canda
Seperti dulu kala
Tiada, tiada lagi asmara yang dulu bersemi
Di dalam rumah ini

*a song by Paramitha Rusady

Resensi Buku: Curious Wine oleh Katherine V. Forrest

Rabu, 18 November 2015

"Tidak akan ada satupun hal menarik yang mungkin bisa terjadi pada satu kabin berisi perempuan saja."

Menulis resensi buku satu ini bagaikan memutuskan mengejar orang yang menarik hati atau berdiam diri saja. Sebab novel satu ini merupakan karya klasik, menyenangkan dan cerita mengalir dengan baik bahkan untuk orang yang punya kemampuan Bahasa Inggris pas-pasan seperti aku, dalam hatiku ada kekhawatiran bahwa aku takkan bisa menulis resensi buku ini dengan baik tapi aku ingin berbagi pengalaman membacanya. Berkali-kali aku membaca buku ini, seperti tak pernah puas. Harus kutekankan, ini buku wajib baca!

Adegan diawali dengan kedatangan Diana dan Vivian, dalam sekali pandangan mata Diana mendapati dirinya luar biasa tertarik pada perempuan yang sedang duduk di dekat perapian, Lane. Mereka berdua diundang untuk liburan bersama di musim dingin; Diana supaya patah hatinya terobati, sedangkan Lane supaya tidak tenggelam dalam pekerjaannya sebagai pengacara. Perkenalan di antara ketujuh perempuan itu terasa hangat dan natural, semua tokoh telah dewasa dan mempunyai pekerjaan.

Peraturan yang dibuat oleh Liz, sang pemilik kabin, membuat Diana harus menempati kamar di lantai dua. Lane yang sebenarnya mengincar kamar itu bernegosiasi dengan Diana supaya mereka bisa bergantian menempatinya; Diana di malam itu kemudian ia di malam berikutnya. Setelah mengerti mengapa Lane begitu menginginkan kamar itu, Diana memutuskan untuk berbagi kamar saja tanpa harus bergantian.

Perlahan-lahan, keduanya menjadi dekat dan saling mengenal. Menemukan banyak hal yang ternyata saling mereka sukai dan benih cinta mulai tumbuh subur. Hal ini mendapatkan reaksi yang berbeda dari kedua tokoh inti dalam buku; satunya mendapati dirinya tak mungkin hidup tanpa perempuan, lainnya mendapati bahwa mempunyai hubungan dengan sesama perempuan merupakan hal yang bisa ia jadikan sebagai pilihan hidup yang alternatif.

Cerita antara kedua tokoh dibangun dengan intens, penulis menggambarkan renungan Diana dengan sangat baik, peka, pola pikir yang logis, tanpa mengesampingkan sisi emosional dalam pergulatan batin yang dialaminya.

Kedua tokoh inti diceritakan mempunyai luka batin masing-masing, namun hal itu malah menjadi katalisator yang makin mendewasakan proses mereka menemukan satu sama lain. Adegan percintaan ditulis sangat manis dan sangat perempuan.

Buku ini tak banyak menggali tokoh lain, hal ini bisa menjadi kekurangan sekaligus kelebihan buku. Kita bisa dengan tenang menikmati perjalanan Diana menapak tanah asing yang tak pernah ditelusurinya, ikut tenggelam dalam dilema dan merasakan ketakutan yang sama, namun di lain pihak kita seolah diberi energi baru untuk berusaha menemukan perempuan yang tepat seperti yang Diana temukan dalam diri Lane begitu pula sebaliknya.

Sedang patah hati atau sedang jatuh hati, buku ini tepat untuk mengiringi perjalanan emosi kita menjadi lesbian dan menikmati tiap pengajaran yang diberikan oleh tiap-tiap hubungan kita dengan sesama perempuan. Kuacungkan empat jempol untuk karya Katherine satu ini, meski terbit di tahun 70an buku ini merekam dengan akurat perjalanan lesbian yang benar-benar ingin belajar dewasa dalam relasinya dengan perempuan lain dan tak lekang oleh masa.

Be Without Her

Sabtu, 07 November 2015

You can't place your trust in people. In the end, the only one you can ever depend upon is yourself.

It's true that I myself can't even forget my own past. But I won't let it confusing me. It's my sworn duty not to dwell on my past.

I believe that if I were ever allowing myself to change and be the person she wanted me to be I'd be just like her, putting my fate in the hands of others. But at the same time, wanting everyone to focus only on me. I don't want to become that kind of person. So I let her go.

Dan malam ini aku tak ingin ingatan tentang apa yang pernah ada antara kami lebur dalam puing kemarahan. Malam ini kubiarkan diriku maklum. Sebab di atas semuanya, hanya maaf dan jutaan terima kasih yang kini bisa kuberikan padanya. Selebihnya? Itu cuma masa lalu.

Dan aku bukan orang yang terpaku pada masa lalu.

Magic Knight Rayearth I

Kamis, 05 November 2015

Boleh dibilang Magic Knight Rayearth ini termasuk manga/anime favoritku. Kisahnya yang tragis di buku/sesi pertama namun punya pungkasan yang bahagia di buku/sesi keduanya membuatku benci namun rindu dengan cerita yang punya latar dongeng, plot sederhana, namun nilai moralnya tidak remeh.

Tiga orang pelajar SMP tersedot dalam lantai Menara Tokyo saat tur belajar: Hikaru Shido, Umiryu Saki dan Fuu Hoji. Mereka mendapati diri sudah masuk ke dunia yang sama sekali asing, yaitu suatu negeri bernama Zephyr, berisi makhluk-makhluk gaib, manusia-manusia berpakaian unik, gunung yang mengapung di langit, dan banyak hal aneh lain yang tak bisa mereka temui sehari-hari di Tokyo, salah satunya adalah ilmu sihir yang harus mereka kuasai untuk mempertahankan hidup.

Dibekali pengetahuan oleh Guru Clef, rupanya mereka dipanggil oleh Puteri Emerald yang merupakan "tiang" dunia Zephyr untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran. Puteri Emerald sendiri digambarkan 'terperangkap' dalam buih yang dikelilingi oleh Zagard dan antek-anteknya. Segala upaya yang telah dilakukan oleh penduduk Zephyr untuk menembus pengawalan anak buah Zagard sia-sia, sehingga dalam keputusasaan Puteri Emerald memeras sisa tenaganya untuk memanggil tiga Pendekar Ajaib dalam legenda yang diramalkan bisa menyelamatkan Zephyr.

Saat dikenalkan ke dunia Zephyr, salah satu anak buah Zagard memaksa Clef mengungsikan tiga pendekar yang masih mentah ini dengan buru-buru. Perjalanan mereka menjadi Pendekar Ajaib dimulai berbekal pewarisan sihir yang belum lengkap, sedikit demi sedikit mereka selain berusaha mengenal satu sama lain mereka memutuskan untuk bahu membahu menyelesaikan misi panggilan mereka supaya dapat kembali pulang ke Tokyo.

Sayangnya mereka tak pernah mencoba mencari jawaban mengapa Zagard 'menyandera' Puteri Emerald dan tak pernah mencoba mencari tahu bagaimana peran mereka sebenarnya dalam menyelamatkan dunia sihir ini dalam legenda. Sampai mereka menyadari kekeliruan mereka dalam memberi makna 'menyelamatkan dunia' dan mereka kembali ke Tokyo dengan penyesalan yang dalam.

Salah satu yang kubenci dari banyak cerita manga/anime Jepang yaitu mengambil tokoh dengan usia muda di mana mereka dihadapkan pada pilihan sulit yang konsekuensinya harus mereka tanggung seumur hidup.

Beberapa episode terakhir, saat Zagard telah mati di tangan tiga Pendekar Ajaib, Puteri Emerald keluar dari buih yang memisahkannya dengan dunia luar. Seluruh jawaban tertumpah ruah di sini. Puteri Emerald yang doanya menjadi penyangga bagi Zephyr, negeri yang terkenal damai dan makmur, mendapati dirinya jatuh cinta pada Zagard sang kepala pengawal. Terbelah antara memikirkan negeri dan Zagard, kegelisahan Emerald serta merta terwujud menjadi gejala alam yang berbahaya bagi dunia Zephyr, di antaranya bencana alam dan monster-monster yang merusak kedamaian negeri. Zagard yang merasakan cinta yang sama, memberontak supaya sistem 'tiang' sebagai pengampu doa untuk seluruh negeri diganti karena merasa Emerald punya hak untuk jatuh cinta dan punya hak untuk bebas mencintai. Tak sanggup memilih antara Zagard atau negerinya, Emerald mengurung diri dalam buih dan memanggil tiga Pendekar Ajaib dalam legenda. Zagard yang tak mau menyerah berusaha untuk menghalangi Pendekar Ajaib menyelesaikan misi mereka yaitu membunuh sang "tiang" dan memilih membiarkan negerinya menderita karena sudah membiarkan sistem "tiang" terus berjalan.

Selepas musim pertama manga/anime ini aku ingat kalau aku menangis meraung-raung menyesali kematian Zagard. Aku menuduh Clef dan Emerald serta beberapa anteknya yang demikian tega memilin cerita Zagard-Emerald menjadi pemberontak-tawanan. Mereka dengan sengaja menutupi kenyataan bahwa tiga Pendekar Ajaib hanyalah algojo yang ditarik dari dunia luar untuk membunuh sang tiang, dan tak bergeming dari tujuan awal meski telah mendapati kenyataan bahwa para algojo itu masih berusia empat belas tahun. Aku ingat waktu mengikuti anime ini juga berusia di bawah lima belas, lalu menempatkan diri di posisi Hikaru Shido yang naif dan tak berpikir panjang, betapa penyesalan itu takkan pernah kulupakan seumur hidupku, diam-diam akan menggerogoti sanubariku.

Aku selalu merasa manga/anime sesi pertama ini terlalu kejam, dan mestinya sulit untuk memaafkan Clef maupun adik Plecea atau orang-orang yang punya pengetahuan tentang misi Pendekar Ajaib dan membiarkan itu tetap terjadi di tangan anak-anak empat belas tahun, tapi sesi kedua dari manga/anime ini (yang tidak akan kubahas sendiri) setidaknya bisa membuat aku sedikit (sedikiiiiit sekali) lega bahwa cita-cita Zagard menghapuskan sistem tiang tercapai atas prakarsa Hikaru yang amat sangat menyesal atas tragedi Zagard-Emerald.

Sesungguhnya di dunia ini yang paling berat adalah amanat. Tapi penyesalan, meski lebih ringan, bukan berarti ringan.

Blow the Cover 2

Jumat, 13 Februari 2015

Disclaimer: I don't own MaiHiME.

Yes, well, the plot's changing fast. Can't be done in two shots if you want me to take the sled and slide down slow.

XxxxX

"Natsuki, are you sure I didn't left my iPad in your car?"

"No, Shizuru. I've checked it and rechecked. It's positively not there." She settled the phone between her chin and shoulder. She rolled the cigarette in her hands.

"This is bad. I can't even log in to my e-mail from the laptop..." Shizuru's voice trailed away and the line went off.

"Natsuki, pass me your pot." Nao demanded while laying next to her.

"No."

"Dude! What's wrong with you?" Nao said an irritable tone.

"You don't have a headache!"

"That's for my depression treatment."

"Shut up, Nao." Natsuki puffed.

"What a waste!" Nao inhaled the transparent smoke escaped from Natsuki's mouth.

"I wish it can prevent the headaches, too. I'm sick of Depakote."

"Natsuki, what if...what if the government still says no even if the hypothesis of your mother's research is valid, important and applicable?"

"It has a high potential for abuse, I understand that. Even if it is valid, it's still a long way before we can abort our headache legally with this." She puffed again.

Nao glanced at Natsuki.

"What?" Natsuki barked in question.

"Did you know that Tomoe went to Minagi's house the other day?"

"So?"

"Did you know that Shizuru has a fans-club here in our school and Tomoe is the leader?"

"They have a leader?" She glance at Nao with amusement.

Nao sighed, "You, my friend, are dead fish. She met the older Minagi."

"I thought his last name was Kanzaki."

Nao gave a rueful grin, "Natsuki, what if he-"

"He won't spill the beans."

"Yeah, like you can guarantee that."

"Do not think of what you can't handle to think about," Natsuki laughed an ironic laughter, "All mom need is less scandal for her research."

"And here you are, breaking the law."

"Can't help it. We are minor. Exclusive criteria."

"What if, what if Kanzaki don't want this to be legal so he can run the-"

"I said stop it! I told you it's still a long way before we can legally smoking pot."

XxxxX

Natsuki listened to the beep before turned to leave. All the way to her locker, she tried to ignore the feeling of being the center of her friends' attention. She got that a lot, and much more when Shizuru became her best friend last year.

Chie came to her when she slammed her locker shut. "Natsuki, Takeda enjoyed the sexy Natsuki Kuga pictures so much that he had to be carried to the school clinic for excessive nose-bleeding."

Natsuki faced Chie with a frown.

"Go check the bulletin board," Chie snickered.

Natsuki walked toward the end of the hallway. She gaped at the pictures of her bare back on the bulletin board. Some of the pictures had been taken while she was kissing. She ripped the pictures and looked around bewilderedly. Her eyes caught Tomoe's smug smile.

"You!" Natsuki strode toward Tomoe. She was ready to punch her when she felt a hand seized her arm.

Shizuru's other hand slid around Natsuki's waist, keeping her at a safe distance from Tomoe. "Natsuki, stop!" She yelled.

Natsuki struggled. "This is your fault!" She shoved Shizuru off, pointing Shizuru with her pictures before flicking the light and burn them on the floor.

There's a strained silence as they looked at each other tensely.

XxxxX

They sat together in the detention room, waited for Mr. Sakomizu. Natsuki was ignoring Shizuru's dramatic plea and Tomoe saw her with a death glare.

Tomoe met Mr. Sakomizu first. "Kuga, you're next," he said it before trailed behind Tomoe.

"You're lucky he didn't suspend you," Shizuru said when Tomoe exited from Sakomizu's room.

"Yeah, consider me lucky enough to find your iPad in my car. And all those sex tapes," Tomoe said, her resentful was palpable.

Shizuru rose from her seat and squeezed Tomoe's arm. "Those pictures...they, they weren't coming from my e-mail."

"Bingo." Tomoe tried to free herself from Shizuru's grip.

"Listen to me Tomoe..." Shizuru's voice shaking, "Please, don't do something stupid. I..."

"Can I drive you to your part-time job?"

Shizuru looked into Tomoe's eyes. She then gave her a nod.

XxxxX

Author's note: Nah, it can't be two shots if you want to slow it down. Next chap: the student council president.

Blow the Cover

Rabu, 04 Februari 2015

AU. ShizNat. Rate M not for sex. I think.
Glad my government isn't blocking ffnet anymore.

Disclaimer: I don't own MaiHiME and I'm fine with that.


Natsuki walked over the cobbled street, blocks from her apartment. She stopped at the meeting point, flicked her light and puffed. An orange Nissan parked nearby. The driver blinked the headlights. Natsuki tossed her cigarette and strode to that car. As she neared, the driver window rolled down. Natsuki bent a little to talk with him.


XxxxX


Natsuki felt that it was just another day in her school. Dull lessons, dumb people, everything is boring.

She sat in the classroom behind the most popular girl in their school, Shizuru Fujino, for three years. Today would be one of their last classes together. Natsuki imagined what Shizuru's face would look like ten years from now. In Natsuki's opinion, Shizuru was the kind of girl who'd easily find someone to tie the knot with. Maybe right after she’d graduated from her university. Her modesty and tradition would make her stay in a stable, long-term relationship and maybe she'd got pregnant by 25. If someone hadn’t blew her cover. Natsuki had always felt that everything in the school was boring, until she met Shizuru Fujino.

At the end of their class, Shizuru passed Natsuki her notebook and asked if she'd free for the weekend and proposed if they could study together for the exam. Natsuki smiled and said with a mild enthusiasm, "It'll be too late if we wait for the weekend to study, Shizuru. The test is next week." She saw Shizuru tried to hide her smile. Natsuki rose from her seat, "I don't study in the weekend, anyway." she walked to the door when suddenly Chie Harada burst into the class and called her, "Natsuki!"

Natsuki frowned and curiously waited for the gossip girl next move.

"Oh my God, Natsuki, someone just sent this."

Natsuki looked at the picture in Chie’s hand and suddenly turned to pale.

"She said you're dating this orange Nissan driver. Is it true?"

Natsuki gaped at Chie. "Did...did they know who's driving?"

"Wow, Kuga, you're bad!"

"Is there something wrong, Natsuki?" A worried Shizuru intervened.

"No!" Chie and Natsuki said in unison. Put on an awkward smile, Natsuki turned to Shizuru, "Nothing is wrong. See you after class, Shizuru." Natsuki grabbed Chie's arm and pulled her out of the room.

"What did you know about it?" Natsuki shoved Chie to the empty corridor.

"Easy, tiger, you know how to keep my mouth shut." Chie’s business-mode, on.

"Nah, I don't care about the gossip at all."

"No?"

"But I’ll pay you for everything you know about the man who rides that orange Nissan."

Chie frowned, "You're dating an unknown guy?"

"I’ll see you again on Friday, Harada. Don't disappoint me," Natsuki turned to her next class.


XxxxX


Too absorbed in her thought, Natsuki jerked a little when Shizuru opened the passenger door. She seated herself next to Natsuki. Natsuki always gave her ride to her part-time job, few blocks from her house. Stopped at the red light, she decided to text, 'The bait had been swallowed,' and sent it.


XxxxX


Natsuki opened her locker and put her swimming suit in. An involuntary squeak escaped from her when Tomoe, out of nowhere, shoved it close.

"Kuga, have you considered my offer?"

"If you want me to consider your offer, you must first ask me nicely."

"Define nice."

Natsuki turned to face Tomoe, she sighed, "I'm not sure if Shizuru will agree about that."

"Why you even need to ask her permission? All you have to do is say no every time she asks for a lift."

"I don't know why you can’t just ask her. You can give her a ride to the dorm."

"I’ve already asked her thousands of time. She said no."

"And why is that?"

"She said she'd prefer walking. Walk, can you believe it?"

"She's in Ten-Thousand-Steps-A-Day campaign, I recalled."

"Horse shit! Did she say to you that she'd prefer graduate as virgin, too?"

"That, my friend, is none of my business."

"Look, Kuga, I'm begging you. Please..."

"The answer is still the same."

"Why, okay..."

"Okay?" Natsuki startled to see how easy Tomoe gave up. But she didn't like the glint in Tomoe's eyes.

"Okay then. I will spread the new gossip about you and the orange Nissan driver," Tomoe turned to leave, "Oh, by the way, Natsuki, I know him. But I don't know what you see in him, that womanizer. Gosh!"

"You what?! Wait. Tomoe, you know him? Okay, I won’t give Shizuru a ride, but tell me everything you know about him."

Tomoe stopped and tilted her head, "Really? Natsuki, really?"

"Yeah. Tell me." She grabbed Tomoe wrist and pulled her to an empty corridor. She halted suddenly when she saw Chie. "By the way, Chie, you're fired!" She shouted.


XxxxX


Chie looked at Natsuki and sighed heavily.

Natsuki poked the girl who was napping on the grass. "I've just found some info about him." Natsuki sat near the red head.

"Harada's fast."

"Nah, Tomoe told me. Do you know Mikoto Minagi?"

"Yes, I know her. I have some classes with her."

"His name is Reito Kanzaki, her half-brother. He's an officer in GND. Gang and Narcotics Division."

"He’s what?"

"Be careful, Nao. He'd warned you. Next time, he'll send you straight to the prison."

"Less rival, more money." Nao said in snit. "You bought from him last week."

"I need it. You better find another part-time job immediately, Nao."

"Natsuki, I'm getting late. Please, this time, give me a ride.”

"I can't Shizuru. I promised to Tomoe not to." Natsuki jabbed her key to the driver’s key hole and threw her bag on the passenger seat. "Tomoe will gladly drive you to your job." Natsuki glanced at Tomoe who was leaning to her luxury sedan, next to her beaten-up minivan.

Shizuru sniffed. Then suddenly she leaned over and kissed Natsuki in front of Tomoe.

Tomoe rushed to them and pulled Natsuki from Shizuru. "What the hell are you doing?!"

"Me? I'm only standing next to my car if you ask me." She anticipated for any harsh movement from Tomoe.

"You bitch! Go fuck Minagi's brother and leave Shizuru alone."

"Didn't you see what just happen? She’s the one who kissed me!"

"Stop it, Tomoe. Please. Thank you for your ride yesterday, but I'd prefer to go with Natsuki."

Tomoe looked at Shizuru, broken hearted. "I should've known the truth. I see you like Natsuki the way I like you."

"I'm sorry. I'm so sorry."

"Well, you better be." Tomoe then eyed Natsuki. "This isn't over." She stormed back to her car and drove off.

"You don't have to do that, you know," Natsuki snickered.

"I know. But I'm tired of her. This way she'd know I'm taken."

"You crazy woman. Get in."


XxxxX


Okay, first chap is about drug. Next is about sex tape. Two shots only.

 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates