welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

A Year in Our Life: How Do You Measure A Year?

Jumat, 02 April 2021

 How do measure a year in life of a woman or a man?

Hampir ulang tahunku, dalam setahun ini apakah yang paling berkesan dalam hidupku?

    Tentu wabah dunia bernama COVID-19. Dan orang-orang yang terenggut oleh virus yang sangat menular yang merubah kehidupan dunia. Setahun tak bisa bertemu kekasih. Namun juga setahun yang mempertemukan aku kembali dengan seseorang yang kukira takkan pernah kutemui secara fisik dalam tahunan panjang. Xapi. Satu dari mantan kekasih yang menjadi 'sahabat pena' terbaik ketika aku mengalami stress emosional, bukan karena sugestinya yang ciamik sehingga aku selalu menoleh padanya di saat-saat buruk, tapi karena ia tidak sempurna. Ia tak senantiasa menunjukkan ia suci atau tanpa cela. Ia memberiku privasi juga. Dan ia ada di saat paling burukku 2016. Empat tahun kemudian aku mendapat kehormatan mengantar Ayahnya berpulang.


Do you measure a year in her life in truth that she learned? Or in time that she cried? In bridges she burned?


Aku ingat persahabatanku dengan Setya. Saat itu kami 4n6, ketika akan masuk ruangan tiba-tiba dia histeris mengabarkan bapaknya sedang sakit keras. Lalu dia menutup diri, tidak membiarkan satu orang pun masuk sampai Bapaknya pergi.

Sebagai sahabat tentu kita berusaha memahami apa yang diinginkan orang yang kita sayangi, sambil meraba kebutuhannya. Aku merasa tak bisa memberi keduanya pada Setya. Ada kebingungan yang tak bisa kami bicarakan karena Setya sangat introvert. Dan aku bukan pangeran berkuda putih ataupun SJW (social justice warrior). Tidak pernah ingin menjadi pangeran berkuda putih untuk siapapun. Walau dalam hati aku mempertanyakan di manakah dia meletakkanku dalam persahabatan.


Do you measure a year in her life in daylights? In sunsets? In midnights? In inches? In miles? In laughter? In strife?


    Selanjutnya aku terbiasa dicampakkan dengan pintu yang mendadak tertutup di hadapanku. Kita berduka dengan cara kita sendiri-sendiri, aku bisa mengerti. Namun ada bagian dari diriku yang ingin mengatakan, "Kita bisa jadi orang lain nanti, tapi hari ini mari kita bersandar sebentar." Ada yang patah di diriku, dulu, dan ketika aku meraih orang yang tepat dan dia mau meluangkan waktu, ternyata semua bisa menjadi satu titik balik krusial.

Tahun lalu kubilang, "Don't shut me out." Aku memang pernah membiarkannya sendiri saat ia keguguran, karena aku bukan pangeran berkuda putih dan aku harus menjaga perasaan kekasihku waktu itu, walau ternyata kekasih itu tidak layak mendapat kesetiaanku. Kali ini aku ingin mengambil bagian dalam menghormati Ayahnya, walau ia tak tampak membutuhkanku seperti saat ia keguguran dulu. Pada malam di mana Ayahnya pulang selamanya, kami bertemu tepat 4 tahun (kurang sehari) dari pertemuan kami sebelumnya di mana saat itu aku merasa diriku adalah puncak segala kegagalan tentang cinta, studi, persahabatan, dan anak yang gagal mewujudkan cita-cita orang tua. Empat tahun sebelumnya itu menjadi satu dari sekian alasan aku mencoba lagi, sampai tiba di sini. Dan di sini, aku ingin menghormati Ayah perempuan yang kucintai di satu waktu tertentu, dan menjadi sahabat di waktu lain.

Aku sungguh berterima kasih padanya yang telah membuka pintu untuk melakukan apa yang telah kulakukan kemarin. Sungguh suatu kehormatan bisa menjadi satu orang yang bisa tahlil pasca pemakaman, tak bisa kubayangkan aku tanpa itu di pemakamanku. Bisa menjadi salah satu yang berdiri mendirikan sholat jenazah, yang mengirimkan bacaan-bacaan mewakili putrinya saat beliau sakit, dan saat beliau telah meninggal. Mungkin aku takkan pernah jadi sahabat yang belanja bareng, yang menemani di saat ia gelisah atau kepingin nongkrong, aku takkan pernah jadi sahabat pilihan hatinya untuk mengalami kegembiraan atau kesedihan. Di hari lain ia akan jadi orang lain, namun di saat seperti ini... let me handle this with care.


Pada setahun dalam hidupku, aku belajar bahwa in the end only kindness matter. Ketika aku tak ada di sisinya saat ia perlu ia tak membalasku demikian saat aku perlu. Dan aku akan selalu ingat, dan berterima kasih akan hal itu.

Selingkuh

Senin, 08 Februari 2021

Ketika seseorang yang bersama kita ternyata berselingkuh, kita sendiri dan orang di sekitar kita tiba-tiba meraba-raba tanda. Kemudian kita membodoh-bodohkan diri sendiri, atau menyalahkan diri atau orang lain menyalahkan kita dengan kecurigaan “Mungkin sebenarnya dia tahu tapi dibiarkan saja.”


Tidak tahu pasangan kita berselingkuh tidak ada hubungannya dengan kepintaran kita. Kita bisa saja ilmuwan nuklir atau pasca phD Universitas Tokyo atau peraih gelar Master dari Oxford di mana tak ada orang yang bilang kita bodoh namun tetap jadi korban perselingkuhan. Dan kita masih bisa menjadi korban pendapat “Milih si A sih, bukannya dia udah tahu kalau A kegatelan” atau “Milih si B sih, bukannya dulu pernah ketahuan selingkuh” dari orang lain atau orang terdekat. Yang seperti itu adalah kebutuhan manusiawi, seolah dengan memilih pasangan yang tidak gatel dan tidak pernah selingkuh menjadi kunci tidak terjadi pembodohan pasangan. Orang menyalahkan korban dengan menghubungkan kepintaran dan kemampuan meraba tanda-tanda perselingkuhan.


Fokuskan kesalahan pada peselingkuh yang berselingkuh. Mungkin kepada ketidakmampuannya menyelesaikan masalah hingga memilih jalan belakang. Orang seperti ini tentu kita pertanyakan kemampuannya menempatkan sesuatu pada porsinya, misalnya kecerdasan dia seharusnya di letakkan pada hal-hal yang baik, contohnya pada penyelesaian masalah bukan kepada sesuatu yang malah punya risiko memperburuk keadaan. Karena sesungguhnya hanya satu orang yang benar-benar tahu apa yang telah dia lakukan dan mengapa.


So stop telling how stupid you are, or thinking you should’ve seen it coming. Tak ada yang salah dengan mempercayai seseorang, apalagi pasangan kita. Jadikan pelajaran supaya kita tak menjadi mereka yang menyakiti kita.


-catatan sambil nunggu kuliah pagi

Catatan Akhir Tahun 2020

Kamis, 31 Desember 2020

Kusaksikan begitu banyak orang menjadi lebih buruk dari orang yang pernah menyakiti mereka.


Di tempatku belajar dulu, di mana kakak kelas punya kuasa ini-itu terhadap adik kelasnya, seseorang di bawah berusaha menyalakan api pemberontakan. Jauh dalam hatiku ada kecurigaan dia akan menjelma lebih buruk dari kakak kelasnya dalam menyikapi adik kelas, dan ternyata memang demikian.


Seseorang dulu dikhianati oleh kekasihnya, yang sekarang menjadi pasangan hidupnya. Dia membenarkan perselingkuhan-perselingkuhannya dengan awal alasan dendam. Sampai sekarang dia tak bisa mengontrol perasaan, atau nafsunya, dan selalu mencari pembenaran.



Seorang yang lain ditinggalkan oleh kekasihnya begitu saja. Namun kekasihnya itu telah ada saat ia membutuhkan dan si mantan sudah tahu risiko apa yang dia hadapi dengan mencintai kekasihnya itu. Beberapa tahun bersama kekasih baru, dia meninggalkan kekasih barunya saat di saat ia membutuhkan support luar biasa.


Kusaksikan begitu banyak orang yang berkata memaafkan tapi semuanya hanya di bibir. Persis seperti seseorang yang menjalani LDR yang selalu meminta kabar kepada kekasihnya, minta supaya ‘melapor’ sedang di mana-sama siapa-sampai jam berapa. Tapi saat kekasihnya datang ke kotanya ia tetap bekerja waktu penuh bahkan lembur dan mematikan gawai, tak ada pertanyaan bahkan sekedar sudah makan belum apalagi pertanyaan ‘ingin kuantar ke mana?’ Perhatian semu. Pun maaf itu sebagian besar palsu. Kusaksikan mereka slowly became the people they swore they’d never become.


Karenanya resolusi akhir tahunku masih sama sejak bertahun lalu: don’t become those who hurt you. Jangan menjelma menjadi orang yang menyakitimu. Sebab kau akan melakukannya lebih buruk, seolah orang yang kau sakiti memang layak mendapatkannya.


Mereka yang mengenakan jaringan parutnya malah kulihat lebih baik dalam menjaga diri agar orang yang ia cintai tidak jatuh pada lubangnya terjatuh ketimbang mereka yang menutupinya dengan alasan ingin menyederhanakan segalanya atau alasan seagamis apapun.


Dan ketika kamu lelah memperbaiki diri, ingatlah bahwa rasa lelah itu sementara dan menjadi orang yang lebih baik itu selamanya. If no one is proud of you, be proud of yourself.

19 Juli 2020

Minggu, 19 Juli 2020

Sapardi berpulang.

Barang kali nama itu bisa jadi satu dari berita kematian yang sudah terlalu biasa didengar di masa pandemi Covid-19 ini, namun bagiku nama ini terlalu penting.

Sapardi itu penulis puisi favoritku. Pilihan kata dan gaya sederhana, yang memanusiakan benda-benda di sekeliling, yang selalu memiliki aura romantis tanpa menye-menye.

Sebelas hari sebelumnya, yaitu 8 Juli 2020, aktris yang memerankan Santana Lopez di serial televisi Glee dikabarkan menghilang saat berenang di Danau Piru, California. Tanggal 13 Juli 2020 ditemukan mayat yang diduga kuat sebagai Naya Rivera, sang aktris yang hilang tersebut.

Kalau ingat lagu favoritku dari The Band Perry, If I Die Young, yang dinyanyikan ulang oleh Santana saat episode obituari untuk Finn Hudson (diperankan Cory Monteith yang meninggal pada 13 Juli 2013 di tengah Glee sedang kejar tayang) maka liriknya seolah menggambarkan kematian Naya.

If I die young bury me in satin
Lay me down on a bed of roses
Sink me in the river at dawn
Send me away with the words of a love song

Rivera tenggelam di Danau Piru, diduga saat berenang ia mengalami masalah dengan tumbuhan/pohon atau arus dalam danau buatan tersebut. Sesaat sebelum meninggal, diperkirakan ia mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menaikkan satu-satunya anaknya ke perahu agar selamat. A mother's love.

Naya Rivera sebagai Santana Lopez menyanyikan If I Die Young (dipopulerkan oleh The Band Perry) pada serial televisi Glee musim 5 episode 3, The Quarterback.

Kalau ingat zaman Glee masih tayang, Santana merupakan karakter favoritku. Santana menjadi peran yang sangat membumi untuk kebanyakan lesbian yang berperang dengan dirinya sendiri ketika menyadari orientasi seksnya, penokohan yang sangat penting dibangun mulai awal tanpa diduga-duga, dan berakhir dengan pernikahannya dengan kekasih SMA-nya yaitu Brittany S. Pierce. Indahnya. Aku juga pingin, tapi enggak sepingin itu. Lagu If I Die Young mengingatkan aku pada Xapi saat dia mengalami keguguran, mengingatkanku juga saat aku akan digugurkan karena saran dokter kandungan. Berapapun umurku saat aku mati nanti, I think I've had just enough time.

Seasons of Love oleh Glee.

Terus terang lagu favoritku tentang kematian seseorang bukanlah If I Die Young. Aku lebih suka Stars yang dibawakan Grace Potter and The Nocturnals dan Seasons of Love versi Glee yang aslinya dinyanyikan oleh RENT.

525600 minutes, 525000 moments so dear
525600 minutes, how do you measure-- measure a year?
in daylights? in sunsets? in midnights? in cups of coffee?
in inches? in miles? in laughters? in strives?

Lagu Seasons of Love lebih pada merayakan kehidupan seseorang yang telah meninggal itu, kepedihannya, kebahagiaannya, hidupnya...
Sedangkan Stars tentang kepedihan ditinggal seseorang yang sangat penting dalam kehidupan kita.

I lit a fire with the love you left behind
It burned wild and crept up the mountain side
I can't look at the window, I can't look at the stars
Make me wonder where you are
If I knew you at all, I knew you've gone too far...

Kedua lagu ini mengingatkanku pada Bapak. Dan segala hal yang tak ingin kujumpai lagi karena harus kulepas pergi.

Stars oleh Grace Potter and The Nocturnals.

Akhirnya beberapa hari aku hanya mengubur diri dengan Highland Fling milik Anna Larner, merasakan kepedihan kehilangan dan harapan untuk hidup hari demi hari. I love you Moira Burns.

You Are The Only Exception -Paramore

Kamis, 30 April 2020

When I was younger I saw my daddy cry And curse at the wind He broke his own heart and I watched As he tried to reassemble it And my momma swore That she would never let herself forget And that was the day that I promised I'd never sing of love if it does not exist But darling, You are the only exception

Maybe I know somewhere Deep in my soul That love never lasts And we've got to find other ways To make it alone Or keep a straight face And I've always lived like this Keeping a comfortable distance And up until now I've sworn to myself That I'm content with loneliness Because none of it was ever worth the risk Well you are the only exception I've got a tight grip on reality But I can't let go of what's in front of me here I know you're leaving in the morning When you wake up Leave me with some kind of proof it's not a dream You are the only exception And I'm on my way to believing Oh, and I'm on my way to believing

Refleksi 8 April 2020

Rabu, 29 April 2020

Glenn meninggal.

Sebagian diriku bilang hidup terus berjalan, sebagian lagi terlempar ke masa lalu. Glenn ini spesialis lagu galau. Salah satu mantan yang berdarah Maluku bangga sekali dengan penyanyi satu ini.

Selain latar belakang cewek-cewek yang berusaha dia gebet dan suara desahan yang menjijikkan, sebenarnya aku enggak begitu tidak suka dengan Glenn. Malah, beberapa lagunya kena banget di saat terpurukku. Terpuruk karena cinta, wkwkwk, lebih tepatnya karena tidak punya uang dan diperparah ditinggalkan orang-orang yang katanya mencintaiku. Love sucks, tapi hati yang sentimentil bisa tetap tinggal bertahun-tahun bahkan setelah cinta itu sudah tak terasa adekuat lagi.

Adanya perintah untuk tinggal di rumah saja karena Covid-19 ini, pasti banyak orang yang diam-diam menghubungi orang-orang di masa lalu. Old flames juga mungkin tiba-tiba teringat kita dan kita teringat mereka. Kadang ingat saja tidak cukup buat beberapa orang. Berbeda dengan mantan-mantan yang suka ngumpulin orang-orang di sekitarnya --siapa tau mereka berguna nanti, politik orang yang merasa dia akan hidup selamanya seperti drakula-- aku sih tidak berteman dengan mantan, namun sering cekikikan dengan Caca mengingat kelucuan-kelucuan di masa dia dengan mantannya dan aku dengan mantanku. Caca ini satu-satunya teman yang tersisa di masa deNL, selain Rani yang terlalu serius dan terlalu 'semesta'.

Sebenarnya aku juga masih sibuk, bukan hanya bekerja dari rumah tapi aku juga harus bekerja ke luar rumah. Namun kesibukan ini bukan kesibukan biasanya yang bisa membuatku berhenti menulis. Sebenarnya kerja yang seperti ini impian, tapi aku orang yang susah mencambuk diri sendiri, akan banyak pekerjaan birokratif yang enggak selesai kalau aku bekerja di rumah karena sudah biasa untuk menyelesaikan segalanya di kantor.

"Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih, aku bukan pilihan."*


Kembali ke cekikikan karena masa lalu, aku ingat saat aku hidup di rumah Icha, saat itu dia sedang menyetir Honda-nya, kami kembali dari mengantar kekasih Icha di sekitaran Bungurasih. Waktu itu lagu Tega mengalun lewat radio, ya si Glenn Fredly ini, kemudian aku nyeletuk, "Dulu kalo weekend aku seneng banget, soalnya ada orang yang kutunggu-tunggu bakal datang." Si Icha menggodaku dengan detil-detil tentang mantan setelah celetukanku. Barang kali itu adalah satu dari kenangan yang kuingat dari Icha. Tega itu lagu yang lumayan akurat untuk menggambarkan sakit hatiku karena perpisahan dengan mantan di sekitar 2015 (atau 2014, aku sudah agak lupa).

"..yang tega menipuku..."**


Kematian Glenn, tentu mengingatkanku pada mantan-mantan karena panjang karir dan keaktivan Glenn di dunia musik. Sebut saja Sekali Ini Saja dan Januari, ini akan membuatku ingat mantan yang sekarang di Bandung, Tega untuk mantan yang dulu 9 tahun bersama (sangat suka aku saat Glenn dengan emosional berulang kali menegaskan "..yang tega menipuku..."), Yang Terlupakan (versi Glenn di Prambanan Jazz 2016, aslinya milik Iwan Fals) untuk 'Am yang sekarang sudah beranak dua. Tentu saja aku sangat menikmati terdampar dalam lagu-lagu itu yang dinyanyikan secara langsung dan Jazz yang saksofon-nya terasa agak-agak nge-funk (The Bakuucakar) di saat-saat banyak berada di rumah ini.

Selamat jalan, Glenn. Empatiku untukmu di perjalananmu selanjutnya.

"Putus lagi cintaku, putus lagi jalinan kasih sayangku dengannya
Cuma karena rupiah lalu engkau berpaling muka tak mau menatap lagi
Kecewa, kecewa hatiku
Terluka karena cinta"***

*Glenn Fredly (Aku Bukan Pilihan oleh Iwan Fals) dalam NET. ONE Anniversary -Trio Lestari- Medley Lagu Iwan Fals menit 00:27
**Glenn Fredly dalam Glenn Fredly -Tega @ JJF 2018 menit 04:57
***Glenn Fredly (Sakit Gigi oleh Meggy Z.) dalam Trio Lestari Kolaborasi Music Joke Entertainment (Malang Jazz Festival 2016) menit 04:26


catatan ulang tahun ini tahun

Minggu, 19 April 2020

we don't always survive the cracks of a relationship*

Di FB sedang bertebaran status tentang dikhianati kekasih. Ini tentu membuatku ingat masa-masa sulit itu, di mana cinta dan persahabatan terlalu sulit untuk dipertahankan.

there will come a time when your desire to hold something will exceed your capacity to keep it*

Ada saat di mana kepedihan terlalu sulit dikomunikasikan, kepergian seseorang yang paling kucintai yaitu Bapak menjadi pemicu yang merubah hidupku beberapa tahun setelahnya.

love is a very strong force, but it's still capable of dying**

Saat itu aku tak percaya ada yang sama buruk dengan kepergian Bapak. Rupanya aku salah. Perlahan-lahan mereka yang bilang mencintaiku pergi di saat aku membutuhkan uluran tangan. Orang yang kupikir akan ada di saat suka dan duka ternyata tak sanggup menghadapi kepedihanku.

i used to justify people's departures by finding faults in myself and creating false narratives about me that validate their inability to stay***

Barang kali sampai detik ini mereka masih berpikir bahwa apa yang mereka lakukan benar. Tapi aku membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa apa yang mereka lakukan mungkin benar...benar-benar menamparku untuk lebih mencintai diri sendiri. Menyibukkan diri untuk memperbaiki diri sendiri, aku berlari maraton dan mengikuti perjalanan ke kota-kota lain dengan vespa, memperkaya diri dengan pengalaman dan orang-orang baru. Tak mengapa bila orang melihatku selalu sendirian, toh aku telah membuktikan bahwa cinta dan persahabatan itu sama rapuhnya.

love yourself enough that people's departures don't feel like funerals***

Tapi dunia ini memang tempat penuh kejutan. Pertemuan demi pertemuan memaksa luka terlupa. Hari ini adalah bukti bahwa aku tetap bisa mendapatkan segalanya tanpa mereka memilihku dulu. Dan hari ini adalah bukti bahwa aku bisa bahagia. Aku tak harus membangun lagi koneksi dengan mereka hanya untuk membuktikan sesuatu, aku tak butuh validasi apapun tentang how to wear my feelings.

don't put resistance towards anything outgrowing you. let it outgrow you, don't prolong its inevitable departure***

i just want to thank all those who've destroyed me into i am today


*overlyxclusive
**winter pennington dalam raven mask
***iambrillyant
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates