
malam ini adalah malam yang kesekian aku tidak sanggup tidur. bukannya tidak bisa, tapi tidak mampu. beberapa hari lalu pintu kamarku rontok (beneran, rontok ! kayunya berjatuhan begitu pula tripleknya), nyamuk keluar-masuk dengan bebas, kipas angin tidak berdaya mengusirnya. alhasil, tiap malam kamarku menjadi medan laga pertempuranku dengan nyamuk.
kemarin nginep di rara, jadi lumayan terbebas dari nyamuk. di sana bersama mandra dan meta. acara nobar (nonton bareng) piala dunia portugal vs brazil (minus kaka) berlanjut menjadi sleep-over (tanpa pijama).
lalu di tengah malam kami nonton lake mungo (aku jadi merinding, karena teringat scene-scene di film ini, menulis ini di tengah malam ini), horor keluaran afterdark horror festival 4 dari negara australia. aku jatuh cinta dengan film ini, mulai dari pengambilan gambarnya, kejernihan dvd bajakannya (aku tidak menemukan yang asli, tak ada rotan raam punjabi, eh, akar pun jadi), editing nya, juga ceritanya.
aku harus menunggu sekian lama untuk mendapat suguhan film horor bagus dari barat yang tak melulu tikam-menikam (bukan berarti film horor indonesia lebih bagus, sih _ _!), tapi mendapatkan film dengan nilai "bagus" di hampir setiap infra struktur yang membangun sebuah film horor kurasa itu bukan hal yang gampang.
dan film indie ini membuatku tercengang.
tak mengejutkan bila hollywood berencana membuat ini film dalam versinya.
yang kutanyakan adalah, kapan film lesbian punya film seri bagus ? aku kecewa dengan l word yang begitu mengasyikkan untuk sebagian lesbian dan begitu mengerikan untuk sebagian lesbian lain, seperti aku.
waktu pertama melihat seri ini (dengan mantan), aku tertidur di sebelahnya. apa yang membuatku tertidur ? aku merasa malu, lesbian begitu dieksploitasi di sini, iya kalo dieksploitasi dengan baik, lha kalo yang dieksploitasi mengenai hal-hal seksuil dengan begitu bebasnya jelas aku rada risih. di sana semua orang lesbian (well, hampir semuanya sih), atau paling tidak mereka mau-lah diajak "ini-itu" sesama perempuan. lalu, semua hal selalu dikaitkan dengan seksualitas (well, hampir semuanya sih) dan kebebasannya dalam mengekspresikan termasuk kebebasan yang keterlaluan seperti perempuan x ketemu perempuan y pertama kali langsung ml, lalu bette dan lingkungannya tentang seni dan, lagi-lagi, seksualitas (kuakui, seksualitas dalam seni tertentu, contohnya seni kedokteran, sangat mempengaruhi kehidupan manusia dan ilmu pengetahuan).
kenapa, sih, film seri lesbian (yang pertama dan masih yang termutakhir) ini menitik beratkan pada sesuatu yang "besar" ? seperti cerita yang dibuat sefantastis mungkin, pakaian yang dibuat semodis mungkin, persahabatan yang dibuat seasyik mungkin, percintaan yang dibuat serumit mungkin, kenapa semua menitik beratkan pada issue yang besar ? kenapa tidak menitikberatkan pada infrastrukturnya, seperti editor film (aku belum lihat yang episode limb from limb, yang mendapatkan penghargaan best editor dari leo awards) yang mumpuni (aku selalu sebal dengan editan film l word, coba sekali-sekali perhatian posisi tubuh/organ tertentu dari aktris dengan 2 angle yang berbeda, keliatan banget kalo itu 2 pengambilan gambar dijadikan satu), atau suatu kriteria lain yang memungkinkan untuk mendapat piala dari penghargaan film seri yang bergengsi lah, sehingga l word bukan hanya dikenang sebagai film seri pertama mengenai lesbian sepanjang 6 musim tapi juga dikenang akan kebrilyanannya merebut beberapa kriteria emmy awards (well, aku tahu l word menyabet beberapa penghargaan, tapi why not emmy awards ? atau lebih tepatnya, kenapa cuma merebut satu emmy awards saja selama 6 seasonnya ?).
well, aku ini penikmat film, film genre lesbian merupakan film menarik bagiku karena perasaan "dekat"nya. kuharap ke depannya film-film lesbian (seri/tidak), yang kebanyakan oleh orang-orang lesbian, meraih banyak penghargaan akan infrastrukturnya sehingga film itu tak hanya bisa dinikmati oleh sesama lesbian, tapi juga mempengaruhi pelajar-pelajar film yang pastinya banyak menonton film dengan infrasturktur bagus, menjadi inspirasi yang akhirnya menggelitik umum untuk mengakui adanya lesbian-lesbian dengan film-film lesbian yang "hebat" yang bisa dijadikan rujukan, teladan dan nilai moral yang luhur.
sebab aku orang yang teramat peduli dengan pendidikan (karenanya aku selalu belajar, belajar menjadi "besar").