Sonet 14:
[Kau dengar gumam jalan ini, benar?] Ya, ia
ingin kita selamanya melewatinya, seolah ada yang
bisa abadi. Kau tertawa, tentu saja.
...apakah kita pernah yakin ada cinta yang
bersikeras abadi?
Kepada: Anom
In the mood of love
Kita duduk pada jendela
Sesaat setelah matahari meleleh dibalut jingga
Aroma keju pada pasta
Segelas jus rasberi favoritku
Berbaur dengan parfum yang menguar pada jaketmu
Yang sedang kukenakan
Tiba-tiba sudah malam saja
Tanganku berulang kali kulepas dari gandengan
Orang bilang tanda jantung lemah adalah tangan yang basah
Tapi jantung ini, yang telah melewati puluhan kilometer lari
Barang kali satu kecuali
Dan kau satu kecuali lain yang membuatnya menjadi
Adrenaline junkie
Bibirku tak henti mengulum senyum
Dan tiba-tiba pagi terasa begitu panjang
Tanpamu
Kita duduk pada jendela
Sesaat setelah matahari meleleh dibalut jingga
Aroma keju pada pasta
Segelas jus rasberi favoritku
Berbaur dengan parfum yang menguar pada jaketmu
Yang sedang kukenakan
Tiba-tiba sudah malam saja
Tanganku berulang kali kulepas dari gandengan
Orang bilang tanda jantung lemah adalah tangan yang basah
Tapi jantung ini, yang telah melewati puluhan kilometer lari
Barang kali satu kecuali
Dan kau satu kecuali lain yang membuatnya menjadi
Adrenaline junkie
Bibirku tak henti mengulum senyum
Dan tiba-tiba pagi terasa begitu panjang
Tanpamu
Label:
tala134
Kepada: Depresi
Leave me alone, don't love me.
No one ever to love me.
I, myself, hate me every day
and each day a little bit more.
No one ever to love me.
I, myself, hate me every day
and each day a little bit more.
Label:
tala134
Kepada: Secangkir Kopi Malang yang Pahit
Kau bilang
Tak ada cinta yang bisa kau sesap ini hari
Aku bisa mengerti
Aku sendiri hanya bisa menonton dengan tawar
Drama percintaan seperti
Kekasih yang saling tampar, atau
Dua perempuan berebut satu lelaki, atau
Penonton yang panas berkomentar
Aku bisa mengerti (tentang)
(Perempuan) Perebut Perempuan Orang
(Walau sering justru karena perempuan kita yang doyan)
Kau bilang
Tak ada cinta yang bisa kau sesap ini hari
Kubilang
Karena ini hari kita menyesap karma
Sambil menyesap susu masing-masing
Kita matikan seluruh gawai
Tapi dalam keheningan
Tidak pula kita merasa damai
-Artotel 28/11/2017 17:31
Tak ada cinta yang bisa kau sesap ini hari
Aku bisa mengerti
Aku sendiri hanya bisa menonton dengan tawar
Drama percintaan seperti
Kekasih yang saling tampar, atau
Dua perempuan berebut satu lelaki, atau
Penonton yang panas berkomentar
Aku bisa mengerti (tentang)
(Perempuan) Perebut Perempuan Orang
(Walau sering justru karena perempuan kita yang doyan)
Kau bilang
Tak ada cinta yang bisa kau sesap ini hari
Kubilang
Karena ini hari kita menyesap karma
Sambil menyesap susu masing-masing
Kita matikan seluruh gawai
Tapi dalam keheningan
Tidak pula kita merasa damai
-Artotel 28/11/2017 17:31
Label:
tala134
Pantai Hutan Bakau (2)
Tak ada resah pada malam-malam
Setelahku mengenalmu
Tak ada rindu
Tak ada jejak pada pepasir yang gagal kubaca
Tapi kuacuhkan
Sampai aku mengerti pilunya sendiri
Setelah cinta lama yang penuh duri
Aku menjadi hutan dan kau
Menjelma lautan
Kita menepi di pesisir bakau
Orang sibuk mempertemukan kita
Tapi aku tak ingin mengincip badai segara
Dan kau terus mengikis batas
Musim semiku berlalu delapan tahun
Telah kau gulung habis pasirmu sendiri
Dan saat kau membanjir
Jiwaku sirna di akar-akar pohon bakau
Setelahku mengenalmu
Tak ada rindu
Tak ada jejak pada pepasir yang gagal kubaca
Tapi kuacuhkan
Sampai aku mengerti pilunya sendiri
Setelah cinta lama yang penuh duri
Aku menjadi hutan dan kau
Menjelma lautan
Kita menepi di pesisir bakau
Orang sibuk mempertemukan kita
Tapi aku tak ingin mengincip badai segara
Dan kau terus mengikis batas
Musim semiku berlalu delapan tahun
Telah kau gulung habis pasirmu sendiri
Dan saat kau membanjir
Jiwaku sirna di akar-akar pohon bakau
Label:
tala134
I miss you, dad...
All I could think about was all that had been lost
My heart ached for all the invitation for two
For us not sleeping side by side during symposium that he never attended
For the path that he never walked, his breath untaken by the view he never saw
It was all too sad for words
Everything fall apart today and I cry like a child
But from the day I lost you, daddy, I learned merely one thing: I will survive.
(You once told me) Build the bridge with your own hand, and grow up with your own pace.
For in my end is my beginning.
My heart ached for all the invitation for two
For us not sleeping side by side during symposium that he never attended
For the path that he never walked, his breath untaken by the view he never saw
It was all too sad for words
Everything fall apart today and I cry like a child
But from the day I lost you, daddy, I learned merely one thing: I will survive.
(You once told me) Build the bridge with your own hand, and grow up with your own pace.
For in my end is my beginning.
Stop
Sabtu, 02 Januari 2016
Dua bulan awal setelah putus aku tidak pernah mengingatnya. Kukatakan pada diri sendiri, n1nna, take your time and grieve for her.
Apakah aku tidak mencintainya? Atau kurang mencintainya sehingga aku tak pernah mengingatnya lagi saat itu?
Aku akan mengingat diriku yang berjanji akan mengikuti ke mana hatinya pergi, mengikuti sejauh apapun ia melangkah dan seluruh keputusannya kecuali satu keputusan tentang anak yang dampak ke depannya sangat merusak. Akan kuingat diriku yang selalu mengikutinya di seluruh keputusan besar yang ia buat sendiri: menikah, pekerjaan, perpisahan. Dan kekecewaan yang ia tanam dan ia tuai. Apapun keputusan yang pernah ia buat, aku selalu hanya memandang lurus kepadanya, tak bergeming oleh berbagai hal di luar ia.
Sedari dulu aku memang tak suka membuat keputusan. Aku bukan orang yang berani mengabaikan konsukuensi atau suka bertaruh. Pekerjaanku berjalan menuju arah yang tak kusukai, dalam hati kuyakinkan selalu bahwa apa yang kusukai barangkali tak bagus untukku dan boleh jadi yang tak kusukai ternyata baik untukku. Dengan rasa percaya yang besar tentang hal itu, aku berjalan di sampingnya dengan kritikan panjang tentang gerak-geriknya disertai pemakluman yang besar pula. Aku adalah tipe pencatat yang tak segan mencoret-coret catatan saat menjumpai keanehan di sana.
Aku akan mengingat diriku yang sangat tidak toleran dan sangat toleran. Yang menuduh, yang mengamati, yang menginginkan penjelasan atas banyak hal namun hanya dijawab dengan: tugasmu hanyalah mengikutiku dan percaya.
Aku ingin percaya. Sungguh aku ingin.
Kini kujumpai kebenaran di luarmu ternyata lebih memabukkan. Bukan tentang kamu atau kisah cinta kita atau orang-orang di sekitar kita. Saat ini akan kuminta diriku yang berusaha memberi waktu diriku sendiri berkabung atasmu berhenti menjadi janda yang berusaha mengingat kebaikanmu sambil membayangkan betapa bahagia hidupmu kini karena kebebasan yang kau inginkan tercapai juga. Senangnya, aku pun kepingin sebebas kamu. Sebebas kamu dalam pikiran yang kubangun sendiri, bukan kenyataanmu apapun kenyataanmu saat ini.
Akan kukatakan pada diriku sendiri: stop. Stop untuk mempunyai rasa apapun, yang paling antah berantah sekalipun. Stop grieving, stop learning, stop processing. Just stop. Membekulah di tempat, n1nna. Membeku dan jangan pernah mencair lagi.
Stop. Just stop.
Apakah aku tidak mencintainya? Atau kurang mencintainya sehingga aku tak pernah mengingatnya lagi saat itu?
Aku akan mengingat diriku yang berjanji akan mengikuti ke mana hatinya pergi, mengikuti sejauh apapun ia melangkah dan seluruh keputusannya kecuali satu keputusan tentang anak yang dampak ke depannya sangat merusak. Akan kuingat diriku yang selalu mengikutinya di seluruh keputusan besar yang ia buat sendiri: menikah, pekerjaan, perpisahan. Dan kekecewaan yang ia tanam dan ia tuai. Apapun keputusan yang pernah ia buat, aku selalu hanya memandang lurus kepadanya, tak bergeming oleh berbagai hal di luar ia.
Sedari dulu aku memang tak suka membuat keputusan. Aku bukan orang yang berani mengabaikan konsukuensi atau suka bertaruh. Pekerjaanku berjalan menuju arah yang tak kusukai, dalam hati kuyakinkan selalu bahwa apa yang kusukai barangkali tak bagus untukku dan boleh jadi yang tak kusukai ternyata baik untukku. Dengan rasa percaya yang besar tentang hal itu, aku berjalan di sampingnya dengan kritikan panjang tentang gerak-geriknya disertai pemakluman yang besar pula. Aku adalah tipe pencatat yang tak segan mencoret-coret catatan saat menjumpai keanehan di sana.
Aku akan mengingat diriku yang sangat tidak toleran dan sangat toleran. Yang menuduh, yang mengamati, yang menginginkan penjelasan atas banyak hal namun hanya dijawab dengan: tugasmu hanyalah mengikutiku dan percaya.
Aku ingin percaya. Sungguh aku ingin.
Kini kujumpai kebenaran di luarmu ternyata lebih memabukkan. Bukan tentang kamu atau kisah cinta kita atau orang-orang di sekitar kita. Saat ini akan kuminta diriku yang berusaha memberi waktu diriku sendiri berkabung atasmu berhenti menjadi janda yang berusaha mengingat kebaikanmu sambil membayangkan betapa bahagia hidupmu kini karena kebebasan yang kau inginkan tercapai juga. Senangnya, aku pun kepingin sebebas kamu. Sebebas kamu dalam pikiran yang kubangun sendiri, bukan kenyataanmu apapun kenyataanmu saat ini.
Akan kukatakan pada diriku sendiri: stop. Stop untuk mempunyai rasa apapun, yang paling antah berantah sekalipun. Stop grieving, stop learning, stop processing. Just stop. Membekulah di tempat, n1nna. Membeku dan jangan pernah mencair lagi.
Stop. Just stop.
Langganan:
Postingan (Atom)
