Dua bulan awal setelah putus aku tidak pernah mengingatnya. Kukatakan pada diri sendiri, n1nna, take your time and grieve for her.
Apakah aku tidak mencintainya? Atau kurang mencintainya sehingga aku tak pernah mengingatnya lagi saat itu?
Aku akan mengingat diriku yang berjanji akan mengikuti ke mana hatinya pergi, mengikuti sejauh apapun ia melangkah dan seluruh keputusannya kecuali satu keputusan tentang anak yang dampak ke depannya sangat merusak. Akan kuingat diriku yang selalu mengikutinya di seluruh keputusan besar yang ia buat sendiri: menikah, pekerjaan, perpisahan. Dan kekecewaan yang ia tanam dan ia tuai. Apapun keputusan yang pernah ia buat, aku selalu hanya memandang lurus kepadanya, tak bergeming oleh berbagai hal di luar ia.
Sedari dulu aku memang tak suka membuat keputusan. Aku bukan orang yang berani mengabaikan konsukuensi atau suka bertaruh. Pekerjaanku berjalan menuju arah yang tak kusukai, dalam hati kuyakinkan selalu bahwa apa yang kusukai barangkali tak bagus untukku dan boleh jadi yang tak kusukai ternyata baik untukku. Dengan rasa percaya yang besar tentang hal itu, aku berjalan di sampingnya dengan kritikan panjang tentang gerak-geriknya disertai pemakluman yang besar pula. Aku adalah tipe pencatat yang tak segan mencoret-coret catatan saat menjumpai keanehan di sana.
Aku akan mengingat diriku yang sangat tidak toleran dan sangat toleran. Yang menuduh, yang mengamati, yang menginginkan penjelasan atas banyak hal namun hanya dijawab dengan: tugasmu hanyalah mengikutiku dan percaya.
Aku ingin percaya. Sungguh aku ingin.
Kini kujumpai kebenaran di luarmu ternyata lebih memabukkan. Bukan tentang kamu atau kisah cinta kita atau orang-orang di sekitar kita. Saat ini akan kuminta diriku yang berusaha memberi waktu diriku sendiri berkabung atasmu berhenti menjadi janda yang berusaha mengingat kebaikanmu sambil membayangkan betapa bahagia hidupmu kini karena kebebasan yang kau inginkan tercapai juga. Senangnya, aku pun kepingin sebebas kamu. Sebebas kamu dalam pikiran yang kubangun sendiri, bukan kenyataanmu apapun kenyataanmu saat ini.
Akan kukatakan pada diriku sendiri: stop. Stop untuk mempunyai rasa apapun, yang paling antah berantah sekalipun. Stop grieving, stop learning, stop processing. Just stop. Membekulah di tempat, n1nna. Membeku dan jangan pernah mencair lagi.
Stop. Just stop.
May Peace be Upon You
Rabu, 23 Desember 2015
"Oh, why you look so sad?
Tears are in your eyes
Come on and come to me now"
Mungkin cuma mimpi untuk memiliki seseorang yang peduli dan menemani di setiap lini masa dalam hidup, terutama di masa-masa sulit.
"Don't be ashamed to cry
Let me see you through
'cause I've seen the dark side too"
Seseorang yang menemani di setiap langkah yang kubuat, di setiap keputusan yang kujalani konsekuensinya. Sebelumnya aku percaya bahwa keabadian itu bisa dijalani berdua. Tapi ternyata aku salah.
"When the night falls on you
You don't know what to do
Nothing you confess
Could make me love you less"
Saat sepasang suami istri membutuhkan bantuanku di tempat kerja, tak jarang mendapati mereka bantah membantah di hadapanku. Dalam hati aku berharap mereka bersyukur bahwa sampai detik itu mereka tetap menjalani berdua meski satu sama lain terlihat muak. Setidaknya ada yang tetap bersamamu di saat-saat paling frustrasi dan paling menghancurkan hati. Tarik-ulur dan tarik menarik yang tak pernah berhasil dalam kehidupanku menjadi lesbian mereka lewati bersama.
"I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you"
Paling tidak aku mengerti kini, mereka yang dalam keluarganya mengalami keretakan pihak ketiga pun banyak yang tak mau belajar bagaimana mengendalikan perasaannya sendiri dan menghormati hubungan orang lain. Tentu akan kucerna pelajaranku sendiri, bagaimana aku akan sekuat tenaga mengendalikan perasaanku sendiri. Sebab aku mengerti perasaan orang yang telah rusak kepercayaannya. Dan aku memahami tak ada manusia yang sempurna. Seperti aku mengetahui bahwa keabadian cumalah milikku sendiri tanpa bisa kubagi.
"So if you're mad, get mad
Don't hold it all inside
Come on and talk to me now"
Jadi aku takkan pernah meminta kembali apa yang telah pergi. Kita membutuhkan seseorang dalam satu waktu yang punya batas keberadaan. Hari ini mereka sendirian dan melihatku mempunyai pasangan, hari lain aku sendirian dan melihat mereka berpasangan. Ada hari-hari aku dan mereka saling menabahkan, ada hari-hari aku dan mereka saling mengabaikan. People grow apart.
"Hey, what you got to hide?
I get angry too
Well I'm a lot like you"
Pada akhirnya akan kujumpai kisahku di kisah mereka, seperti kisah mereka pada kisahku. Dan masa lalu kubiarkan terus berlalu. Aku cuma ingin bahagia, kebahagiaan sederhana yang ingin kumiliki tanpa menghalalkan segala cara.
"When you're standing at the crossroads
And don't know which path to choose
Let me come along
'cause even if you're wrong
I'll stand by you"
Dan jika hal sederhana itu tak bisa kuraih dengan segera atau tanpa airmata dan tanpa jalan berliku, maka biarlah aku mendapatkannya dalam waktu lama atau dengan seluruh airmata dan jalan penuh liku. Akan kusiapkan diriku dengan kegagalan demi kegagalan dan keputusan buruk demi keputusan buruk. Akan kujalani setiap konsekuensi keputusanku, aku takkan menyerah untuk menjadi bahagia.
"Take me in, into your darkest hour
And I'll never desert you"
Akan kutemani diriku sendiri dalam proses keabadianku.
"And when...
When the night falls on you, baby
You're feeling all alone
You won't be on your own
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let nobody hurt you"
I'm here so you remember that you're not alone, dear n1nna. So, go...get your own happiness.
Maka aku harus bahagia.
Changed -Rascal Flatts
Kamis, 17 Desember 2015
I came up out of the water
Raised my hands up to the Father
Gave it all to him that day
Felt a new wind kiss my face
Walked away, Eyes wide open
Could finally see where I was going
It didn't matter where I'd been
I'm not the same man I was then
I got off track, I made mistakes
Back slid my way into that place where souls get lost
Lines get crossed
and the pain won’t go away
I hit my knees, Now here I stand
There I was, now here I am
Here I am
Changed
I got a lot of “Hey, I’m sorry”s
The things I’ve done
Man, that was not me
I wish that I could take it all back
I just want to tell em’ that
Tell 'em that
I got off track, I made mistakes
Back slid my way into that place where souls get lost
Lines get crossed
and the pain won’t go away
I hit my knees, Now here I stand
There I was, now here I am
Here I am
I'm changed for the better
More smiles, less bitter
I'm even starting to forgive myself
I hit my knee, I’m here I stand
There I was, now here I am
Here I am, Here I am, Here I am
Changed
Yes I am
I’m changed for the better.
Thank God I'm changed.
Label:
sing a song
Resolusi Akhir Tahun
Minggu, 06 Desember 2015
Mulai detik ini aku tidak akan pernah mencari kabarmu.
Kau pergi karena menganggap kita takkan lagi bahagia bersama. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu dan bahwa kau telah bebas menentukan pilihan dan siapa yang kau inginkan untuk dekat. Kau melepasku agar aku bahagia, maka aku harus bahagia bukan?
Mulai detik ini aku akan mengajari diriku untuk sekedar mengenangmu tanpa mencari tahu kabarmu kini. Mengajari diriku bahwa yang kurindukan adalah kenangan, bukan sosokmu. Akan kuajari hatiku berpuas diri tentang semua itu. Akan kuajari diriku untuk sanggup menempatkan dan menahan diri.
Mulai detik ini aku akan mencintai diriku yang mencintaimu, dan mensyukuri diriku yang melepaskanmu. Dan mulai detik ini aku akan mencintai keabadian milikku sendiri. Keabadian yang takkan pernah bisa dicerabut paksa oleh siapapun di dunia ini.
Semua akan kulakukan mulai detik ini.
Label:
perjalanan n1nna
White Flag -Dido
Rabu, 02 Desember 2015
I know you think that I shouldn't still love you,
Or tell you that.
But if I didn't say it, well I'd still have felt it
Where's the sense in that?
I promise I'm not trying to make your life harder
Or return to where we were
But I will go down with this ship
And I won't put my hands up and surrender
There will be no white flag above my door
I'm in love and always will be
I know I left too much mess and destruction
To come back again
And I caused nothing but trouble
I understand if you can't talk to me again
And if you live by the rules of "it's over"
Then I'm sure that that makes sense
I will go down with this ship
And I won't put my hands up and surrender
There will be no white flag above my door
I'm in love and always will be
And when we meet
Which I'm sure we will
All that was there
Will be there still
I'll let it pass
And hold my tongue
And you will think
That I've moved on....
I will go down with this ship
And I won't put my hands up and surrender
There will be no white flag above my door
I'm in love and always will be
I will go down with this ship
And I won't put my hands up and surrender
There will be no white flag above my door
I'm in love and always will be
I will go down with this ship
And I won't put my hands up and surrender
There will be no white flag above my door
I'm in love and always will be
Label:
bildnis einer trinkerin,
sing a song
Terjaga dan Hujan
Minggu, 29 November 2015
"Just because you can't understand something, it doesn't mean it's wrong." -Arthur (The Sword in the Stone).
Ingatanku memutar adegan di dalam mobil, pembicaraan tentang seorang teman yang orang tuanya terancam bercerai. Sang ibu minta tapi bapaknya menolak mentah-mentah. Ini terjadi karena sekali lagi si bapak kepergok selingkuh.
Si anak yang juga temanku ini bertanya padaku, gimana kalau aku jadi ibunya?
Aku tersenyum. Kalau aku jadi ibumu, aku tidak akan minta cerai. Aku akan terima bapakmu dan belajar bersabar. Sebab pernikahan bagiku lebih dari hubungan antara dua orang.
Aku bukan orang yang tutup mata bahwa dalam berhubungan jangka panjang orang bisa jatuh cinta pada orang lain selain pasangannya. Di situlah sebuah hubungan diuji dan keputusan tiap orang menentukan kuat atau tidak kuatnya seorang itu dalam ujian kesabaran.
Pernikahan tentu berbeda dengan pacaran atau berpasangan dengan komitmen dalam hidupku. Itulah kenapa aku merasa pernikahan itu sesuatu yang amat berat bila aku masih tergoda dengan perempuan dan tak utuh menyerahkan diri. Dulu saat 'Am memutuskanku karena tergoda dan jadian dengan orang yang jatuh cinta terhadapnya, aku melepasnya dengan hati dingin dan tak ingin kembali. Kini ia menikah dengan perempuan itu dan akan mempunyai dua anak. Melihat kebahagiaannya di akun pertemanan tak menghancurkan hatiku.
Kedua kalinya, saat Ivan selingkuh dan jadian dengan orang lain beberapa saat setelah putus dariku tidaklah mengejutkanku. Jika kali ketiga dan keempat terulang lagi, aku tahu aku telah berhasil melewati situasi yang sama sebelumnya, jadi aku tak perlu kuatir.
Bukan perihal baru bagiku bila pasanganku meninggalkanku untuk orang lain, meski aku tak pernah melakukan hal sama. Every body seems to moving on from me dan aku menikmati semua proses baik yang paling menyakitkan sekalipun. Cinta baru yang terlihat begitu menggoda takkan berhasil memikatku sebab aku percaya diri dengan kemampuanku mengontrol perasaanku. Dan aku tidak akan pernah mencari cinta baru sampai cinta yang lama selesai.
Tapi jika kamu bertanya, "Bagaimana bila ini terjadi pada pernikahanmu?" Aku akan menjawab bahwa aku tidak akan mau berpisah dengan suamiku. Karena aku mencintainya? Mungkin tidak. Aku lebih melihat bayaran yang kuterima nanti setelah hari pembalasan. Artinya, jika kamu suamiku kamu sangat bisa sesuka hati memperlakukanku, mendua ataupun hal lain-lain yang menyakitkan hati (jika kamu tidak takut hari pembalasan), dan aku akan selalu setia di sisimu dihargai maupun tidak dihargai.
Esensi kebahagiaan bagiku bukan cinta terbalaskan antara dua insan. Aku butuh lebih. Dan dunia ini sungguh tidak cukup untuk memenuhi keinginanku dalam mencintai. Karenanya aku bisa mengerti mengapa begitu sulit melangkah bersamaku dalam satu hubungan.
Lihatlah bapak temanku ini, yang sibuk dengan cinta baru dan cinta lama juga dengan cinta usang, berkacalah pada hati yang tak pernah puas. Untuk masalah cinta, Tuhan, puaskanlah hatiku. Biarkan mereka yang janjinya hanya di bibir saja terus mencari dan mencari dan mencari, cinta baru atau cinta lama atau cinta usang, terus dan terus jatuh pada orang baru seolah semua itu begitu indah dan seolah yang baru selalu lebih baik dari yang sebelumnya.
Terima kasih telah Kau beri ketetapan hati padaku.
"We'll stay forever this way, you are saved in my heart and my heart will go on and on..."*
*cuplikan lagu yang dipopulerkan oleh Celine Dion.
Label:
afternoon tea,
perjalanan n1nna
Hakuna Matata
Rabu, 25 November 2015
"Ternyata butuh waktu yg sangat lama untuk memahami sesuatu yg sederhana saja,...."
Kalimat di atas kuambil dari status terakhir suami teman yang baru meninggal bulan ini karena kecelakaan. Harus kuakui, ada makna dalam dan sisi penasaran tentang apa yang baru dipahaminya, yang mungkin tak pernah kutahu jawabannya tapi bisa mewakili hidupku di tahun ini.
Butuh waktu yang sangat lama untuk memahami apa yang kumengerti saat ini, dan aku bersyukur dapat menekuninya sebelum terlambat.
Beberapa bulan lalu aku dengan sinis mengatakan bahwa lesbian yang memutuskan untuk berhubungan dengan laki-laki setelah putus cinta itu konyol dan menggelikan. Saat ini, yang terngiang di kepalaku adalah kata-kata seorang ayah dalam sebuah cerita buku kepada anaknya, "Bagaimana kamu bisa mengharapkanku ikut bahagia untuk sesuatu yang punya potensi besar akan menyakitimu?" saat anaknya meminta izin untuk berhubungan dengan sesama perempuan.
Ayahku barangkali sudah meninggal, tapi kujumpai beliau di setiap langkah yang kulakukan. Kujumpai beliau di buku-buku, di ruangan tempatku rapat, di mobil saat aku berdebat dengan teman, di kamarku saat aku ingin sendiri, beliau berubah menjadi entitas yang hadir tanpa fisik.
Tahun ini begitu banyak kematian orang dekat, kehilangan partner, sahabat yang punya kekasih yang juga seorang sahabat yang mendadak menyatakan suka untuk melepas beban dan mematikan rasa sukanya padaku, sahabat yang pergi karena sikapku yang keras dan emosional, sahabat yang tak bisa ditemui lagi dalam keseharian karena telah bekerja di tempat lain. Ada begitu banyak kehilangan dan aku tak tahu nantinya akan berlanjut atau tidak. Orang-orang pergi untuk melanjutkan proses mereka sendiri, dan aku menjalani prosesku sendiri. Sering aku merasa tahun ini aku terlalu cepat harus menaiki anak tangga.
Saat ini, kudapati diriku menemukan suatu usulan yang lama kutentang dan dulu ingin kubuktikan bahwa itu salah: menjadi lesbian bukanlah pilihan yang rasional. Setidaknya untuk orang seperti aku yang selalu mengejar fragmen keabadian. Cinta sesama perempuan hanyalah jalinan rapuh yang bisa putus kapan saja. Yang sudah menikah saja bisa dicerai, apalagi yang hanya komitmen dalam mulut.
Kini aku menyadari betapa tidak rasionalnya aku bersikap selama ini dan aku jadi tahu alasan mengapa aku tak bahagia.
Barangkali alasan kenapa aku selalu tertarik dengan orang Katolik adalah karena aku menginginkan sebuah hubungan sekali yang selamanya. Aku mati-matian menahan diri dan belajar mengontrol perasaanku itu karena dalam rangka latihan untuk menyiapkan dia yang satu dan selamanya, dan berharap mendapat timbal balik yang serupa.
Barangkali benar kata seorang teman, aku terlalu keras terhadap diri sendiri, sehingga ketika aku begitu terhadap orang lain maka ia merasa tak sanggup dan beranjak pergi. Aku meyakini secara mutlak sesuatu yang ternyata diyakini orang lain secara separuh saja, dan pada akhirnya perbedaan itu memberikan tekanan besar yang membentangkan jarak yang jauh dan lapang.
Kini aku menyadari, betapa pentingnya menggaris bawahi setiap kata petuah dan nasehat yang orang berikan kepada kita. Tapi setelah mendapati hasil yang demikian dalam hidupku, aku takkan ragu-ragu melalui jalan panjang itu kembali jika waktu berputar kembali.
Tidak bisa tidak, ini jalan yang harus kulalui dan aku akan terus melangkah melewati kerikil demi kerikil, bebatuan demi bebatuan. Sebab kebetulan itu tak ada, yang ada hanyalah sesuatu yang tak mungkin terelakkan.
I'm disillusioned, but I'm...content.
Kalimat di atas kuambil dari status terakhir suami teman yang baru meninggal bulan ini karena kecelakaan. Harus kuakui, ada makna dalam dan sisi penasaran tentang apa yang baru dipahaminya, yang mungkin tak pernah kutahu jawabannya tapi bisa mewakili hidupku di tahun ini.
Butuh waktu yang sangat lama untuk memahami apa yang kumengerti saat ini, dan aku bersyukur dapat menekuninya sebelum terlambat.
Beberapa bulan lalu aku dengan sinis mengatakan bahwa lesbian yang memutuskan untuk berhubungan dengan laki-laki setelah putus cinta itu konyol dan menggelikan. Saat ini, yang terngiang di kepalaku adalah kata-kata seorang ayah dalam sebuah cerita buku kepada anaknya, "Bagaimana kamu bisa mengharapkanku ikut bahagia untuk sesuatu yang punya potensi besar akan menyakitimu?" saat anaknya meminta izin untuk berhubungan dengan sesama perempuan.
Ayahku barangkali sudah meninggal, tapi kujumpai beliau di setiap langkah yang kulakukan. Kujumpai beliau di buku-buku, di ruangan tempatku rapat, di mobil saat aku berdebat dengan teman, di kamarku saat aku ingin sendiri, beliau berubah menjadi entitas yang hadir tanpa fisik.
Tahun ini begitu banyak kematian orang dekat, kehilangan partner, sahabat yang punya kekasih yang juga seorang sahabat yang mendadak menyatakan suka untuk melepas beban dan mematikan rasa sukanya padaku, sahabat yang pergi karena sikapku yang keras dan emosional, sahabat yang tak bisa ditemui lagi dalam keseharian karena telah bekerja di tempat lain. Ada begitu banyak kehilangan dan aku tak tahu nantinya akan berlanjut atau tidak. Orang-orang pergi untuk melanjutkan proses mereka sendiri, dan aku menjalani prosesku sendiri. Sering aku merasa tahun ini aku terlalu cepat harus menaiki anak tangga.
Saat ini, kudapati diriku menemukan suatu usulan yang lama kutentang dan dulu ingin kubuktikan bahwa itu salah: menjadi lesbian bukanlah pilihan yang rasional. Setidaknya untuk orang seperti aku yang selalu mengejar fragmen keabadian. Cinta sesama perempuan hanyalah jalinan rapuh yang bisa putus kapan saja. Yang sudah menikah saja bisa dicerai, apalagi yang hanya komitmen dalam mulut.
Kini aku menyadari betapa tidak rasionalnya aku bersikap selama ini dan aku jadi tahu alasan mengapa aku tak bahagia.
Barangkali alasan kenapa aku selalu tertarik dengan orang Katolik adalah karena aku menginginkan sebuah hubungan sekali yang selamanya. Aku mati-matian menahan diri dan belajar mengontrol perasaanku itu karena dalam rangka latihan untuk menyiapkan dia yang satu dan selamanya, dan berharap mendapat timbal balik yang serupa.
Barangkali benar kata seorang teman, aku terlalu keras terhadap diri sendiri, sehingga ketika aku begitu terhadap orang lain maka ia merasa tak sanggup dan beranjak pergi. Aku meyakini secara mutlak sesuatu yang ternyata diyakini orang lain secara separuh saja, dan pada akhirnya perbedaan itu memberikan tekanan besar yang membentangkan jarak yang jauh dan lapang.
Kini aku menyadari, betapa pentingnya menggaris bawahi setiap kata petuah dan nasehat yang orang berikan kepada kita. Tapi setelah mendapati hasil yang demikian dalam hidupku, aku takkan ragu-ragu melalui jalan panjang itu kembali jika waktu berputar kembali.
Tidak bisa tidak, ini jalan yang harus kulalui dan aku akan terus melangkah melewati kerikil demi kerikil, bebatuan demi bebatuan. Sebab kebetulan itu tak ada, yang ada hanyalah sesuatu yang tak mungkin terelakkan.
I'm disillusioned, but I'm...content.
Label:
afternoon tea,
perjalanan n1nna
Langganan:
Postingan (Atom)
