welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

Pada Suatu Kereta

Senin, 09 Juni 2014


Kereta adalah kendaraan favoritku.

Ya, ada mabuk kendaraan yang kurasakan saat menaikinya. Saat kereta berjalan berupa gerakan lamban ke kanan dan ke kiri, gerakan aneh yang akan membujuk otakku untuk menimbulkan kesalahan persepsi. Ilusi mulai menggerogoti pandanganku.

Gambar yang dipicu oleh pijar lampu jalanan di kaca jendela. Suara yang asing. Seperti melewati episode hidupku dalam kilatan cahaya, membuatku mual dan akhirnya aku muntah juga. Lalu mual lagi, dan muntah. Mual lagi.

Ada satu bagian di otak kecilku yang bersikeras untuk belajar saat aku kewalahan seperti itu. Aku begitu muak dengan rasa mual, tapi ia tetap menyesap pembelajaran yang ada tanpa kenal kompromi. Tak peduli betapa peliknya dadaku menyimpan semua rasa, muak ataupun mual. Tak peduli meski hati pucat pasi.

Menyadarkanku bahwa aku bukan pemimpi, karena manusia akan senantiasa belajar. Meski hidup keras menempanya dalam satu ketimpangan, manusia akan kembali mencari keseimbangan.

Perjalanan kali ini selesai jua, aku sampai pada tujuan.

Keringat dingin tersapu oleh angin, kini aku berpijak di atas tanah dan harus mengulang siklus yang sama sedari awal. Akan kulewati langkah demi langkah: mual-muntah-pucat-keringat dingin. Proses yang sama, berulang-ulang, dan aku terus belajar. Aku takkan pernah berhenti belajar. Siapa kau yang berusaha menghentikanku dari belajar? Aku akan menghadapinya dengan mata terbuka dan percaya, bahwa tiap kali aku putus asa Dia akan menyambungkan tali asa itu kembali. Supaya aku tetap berani melakukan perjalan demi perjalanan dengan kereta ataupun tanpa.


“There’s a battle ahead, many battles are lost
But you’ll never see the end of the road while you’re traveling with me…”
-Don’t dream it’s over

Kereta Malam IV: Kelulusan

Rabu, 26 Maret 2014

Ada hal-hal tertentu yang membuat Shizuru sulit untuk mengawiti tidur karena terlalu keras memikirkannya, salah satunya perkara Natsuki.

Sebenarnya malam ini sempurna untuk Shizuru, kalau mereka berdua berakhir bersama di salah satu tempat. Tidak terjadi apa-apa setelah pesta kembang api tadi, Natsuki mengantarkannya kembali ke penginapan lalu pulang. Shizuru berpikir apa yang salah, yang membuatnya berakhir biasa-biasa padahal Shizuru merasakan sikap Natsuki yang berbeda. Shizuru merasa terhempas, barangkali harapannya sendiri yang membutakan kemampuannya membaca sikap Natsuki. Barangkali rindu yang dia kira baca dari mata Natsuki hanyalah rindu seorang teman yang telah lama tak jumpa. Barangkali, tapi Shizuru tak pernah seyakin ini. Shizuru menghela napas berkali-kali dengan kesal. Kalau masalah cinta, Shizuru selalu kehabisan kesabaran untuk menunggu.

Dia mencintai Natsuki bukannya ingin menjadi pengganti ibu atau sesosok kakak baginya. Itu tak pernah cukup untuk Shizuru. Dan sudah berkali-kali Shizuru mencoba melupakan perasaannya terhadap Natsuki, api di hatinya redup tanpa kehadiran Natsuki, dia pikir akhirnya dia pasti bisa menganggap Natsuki hanya sebagai teman, tapi detik ini dia buktikan pikirannya salah kaprah. Rasa frustrasinya memuncak dan dia kesulitan tidur ini malam.

Mungkin seharusnya aku tak datang besok, diam-diam kembali asrama universitas, batin Shizuru.

Dan kekesalan Shizuru berlanjut sampai keesokan harinya, makin bertambah parah. Seperti yang dia takutkan, Takeda datang dengan seringai anehnya yang menyebalkan. Shizuru mencuri pandang pada Natsuki yang sedang berbincang dengan Takeda. Dua tahun berpisah, Shizuru tak terkejut mendapati Natsuki sekarang mampu mengontrol diri menghadapi lelaki pengagumnya. Shizuru bertanya dalam hati, berapa banyak teman sekelas, adik kelas atau kakak kelas yang jatuh cinta pada wajah rupawan Natsuki? Berapa banyak lagi yang jatuh cinta karena kebaikan hatinya yang ditutupi oleh sikap acuh tak acuh?

Banyak yang harus dipetakan Shizuru mengenai perubahan perempuan yang sedang dia amati dengan ujung mata. Shizuru menghela napas untuk ke seratus tiga puluh empat kalinya, Shizuru merasa mungkin dia tidak mau tahu perubahan-perubahan Natsuki. Dia memiliki Natsuki dalam ingatannya, yang tak menua, tak berubah, tak mencintai orang lain. Tak mencintai orang lain, termasuk Shizuru sendiri. Selama ini Shizuru selalu berpikir bahwa ketakutannya yang paling besar adalah Natsuki menolak cintanya, rupanya perubahan Natsuki kini lebih menakutkan dari yang dia bayangkan. Shizuru menyesal harus datang hari ini.

Tanpa dia sadari, dia sudah berjalan menuju taman sekolah tempat dia bertemu Natsuki kali pertama. Shizuru kemudian memaklumi diri, mungkin di sini dia bisa mendapatkan penghiburan dari rasa kehilangan Natsuki. Di sini dia temukan Natsukinya, Natsuki dengan seragam rok biru, akan menggenggam bunga untuk menghancurkannya dengan telapak tangan saat Shizuru menengahi kemarahan Natsuki terhadap dunia.

"Wah, dunia sempit ya, ketua OSIS?"
Shizuru menatap Nao yang sedang duduk di atas rantai tebal di sekeliling kolam yang airnya surut karena kemarau panjang, merokok dan menyeringai. Di buangnya rokok yang telah habis ia hisap, mendekati Shizuru sambil mengulurkan satu pak rokok yang segera ditolak Shizuru, "Aku tidak merokok."
"Oh, ya? Uh, aku juga," katanya sambil mengantongi kembali rokoknya. "Kau tidak akan menyita rokokku, kan? Jabatan ketua OSISmu sudah kadaluarsa."
Shizuru mengamati adik kelas Natsuki itu dengan ujung matanya.
"Eh, belum tahu upload-an foto terbaru dari Chie si ratu gosip?" tanya Nao dengan kerlingan yang tidak disukai Shizuru. Nao membuka smartphonenya, terdengar klik-klik beberapa saat sebelum ia tunjukkan foto yang ia maksud. Natsuki mencium pipi Takeda.

Shizuru tertegun tapi bibirnya masih tersenyum. Di kejauhan dia mendengar kegaduhan acara wisuda, Shizuru tahu dia tak sanggup menyelesaikan perannya menemani Natsuki hari ini.

NB: ahahaha...aku bener-bener pembohong yang kebangetan! Satu chapter lagi ya...

Aries(es) Do Not Love Those Who Can Not Love Her

Senin, 24 Maret 2014

Destiny is a strange divine.

No, it's not a person's name. I was totally amazed by a chance meeting. Or, to be more exact, a chance chatting.

I had my first love contact on my Blackberry. I thought she had just went to France and put her picture with the Eiffel as her background in the profile photo. I didn't notice it before, I had stopped stalk her years ago. It turned out to be her 2012 or 2013 pics.

So, we chatted. Nothing more.

I told myself that day, what happen to the Aries? I am an Aries, two of my best friends are, too. And one of my ex. That day, we all got a message from our exes, ex lover or someone we loved in the past. My friends and ex told me that two of her exes messaged/called her.

It was eleven P.M., a rather inconvenient time to chat with a housewife. I was just finished my visit and waiting for the rain (I'm riding a motorcycle). Suddenly I got a message from her. That she wanted to add me to her Blackberry Messenger contact. I asked why, because I had already had her as mine. She told me she got a new cell.

It seems like everybody moving to android.

She told me she missed me so much. I said, yeah, you missed everybody, too. I was not that special, the last one I only added it in my mind.

I wondered, how can I be so in love with her for, like, five or seven years? It is something I can crush easily, right now. As though she doesn't even exist. It was so weird to have a conversation with her, like she was a total stranger, a stranger with memory. But there was a trace of carefulness in my part, as if I still cared about her.

I just don't love her like I did yesterday. Aries do not love those who can't love her.

She was just a part of distant memories. I cherish every bit of 'em, but I don't want her in my life right now. We're fine this way, with her in my rear view mirror.

Do Not Fall In Love with Those Who Can Not Love You

Sabtu, 01 Maret 2014

The first time I heard about this statement was when I watched Return of the Condor Hero.

I learned so hard, to never fall in love with those who can't love me, but I failed often. It broke me into pieces.

But being never whole, I learned not to walk backward. There was no point in searching the whole me in the past, I was never whole in the first place. I'm collecting every piece and hold it together, some day in the future I'll complete the picture of mine.

I've been in too many sinking ships. I've been drowned and never met the surface. I took curtsy and bow, I took the blame and the blow, I tasted the pain and sorrow. In order to be strong and steady, to be wise and discreet, to be grateful and perseverance.


And I have no regret, to fall in love with those who can not love me.

Kereta Malam III: Season of Fireworks

Jumat, 21 Februari 2014

Salah satu yang unik dari kota ini adalah adanya jalan layang di atas salah satu stasiun tengah kota. Shizuru sudah membayangkan untuk menikmati pemandangan malam stasiun ini dari atas tadi pagi saat dia tiba, dan kini dia mendapatkan lebih dari apa yang dia inginkan. Natsuki membawanya kemari, Shizuru duduk di boncengan Vespa Natsuki, menikmati kereta yang berjalan menjauh dari stasiun. Natsuki memberinya sebotol dingin teh kesukaannya, dia membalas dengan membagi makanan yang tadi dibelinya di festival sebelum bertemu Natsuki.

Handphone Natsuki berbunyi. Ia membaca sejenak pesan yang masuk, membalas dengan cepat, lalu kembali melempar pandangan pada stasiun yang lengang. Udara dingin, Shizuru menyesal tak membekali diri dengan jaket. Dia sangka di tengah kota ini masih memiliki suhu yang hangat di malam hari. Cuaca tak bisa ditebak akhir-akhir ini dan perkiraan Shizuru meleset.

"Mai bilang jangan pulang terlalu malam. Takut besok bangun kesiangan," kata Natsuki sambil tetap menatap pemandangan stasiun.
"Aku datang untuk melihat Natsuki naik ke panggung menerima ijasah. Kalau Natsuki bolos, kedatanganku rasanya percuma," wajah Shizuru seperti kecewa, tapi dalam pikirannya membayangkan Fumi memanggil-manggil nama Natsuki sedang Natsuki sibuk di belakang panggung. Sibuk mencorat-coret baju seragamnya dengan sesama tukang bolos lain. Membuat album kenangan edisi Natsuki, sudah pasti Nao takkan melewatkannya, dituliskannya kata-kata yang akan membuat wajah Natsuki merah padam di seragam Natsuki. Natsuki mungkin akan membalasnya tahun depan saat Nao lulus.

Peluit panjang membubarkan lamunan Shizuru, kereta malam tiba. Shizuru mengenali warna gerbong-gerbongnya, kereta ini yang membawanya mendekat dan menjauh dari Natsuki. Pagi tadi, kereta ini mengantarkannya kembali pada Natsuki, perempuan yang duduk di vespa bersamanya saat ini. Shizuru melirik pada perempuan di sebelahnya. Rambutnya yang legam terurai angin, ikat rambutnya pasti hilang entah di mana. Shizuru ingat harus membeli banyak ikat rambut untuk Natsuki karena selalu hilang setiap saat. Untuk rambut yang sama seperti pemiliknya, tak bisa terikat.

"Itu kereta yang biasanya kamu gunakan, bukan?" tanya Natsuki. Shizuru mengangguk sambil bersiap meneguk teh dalam botol.
"Aku ingat kereta itu. Jadwalnya belum berubah," ujar Natsuki lagi.
"Aku ingat Shizuru melambai-lambai, persis film India," kali ini Shizuru tersedak mendengar kata-kata Natsuki.
"Astaga, bukan aku saja yang nangis bombay, lho, Natsuki!" tukas Shizuru sambil menepuk lengan Natsuki.
"Ngomong-ngomong soal film India, aku punya Kuch Kuch Ho Ta Hai. Mau nonton bareng?" kata Shizuru, tersenyum sambil mengangkat satu alis.
Natsuki tersenyum, "Kuch Kuch Ho Ta Hai...," ia membeo. Film itu adalah film India pertama Natsuki, film India pertama yang Natsuki dan Shizuru tonton bersama. Dibawa oleh Chie, menggunakan kamar Aoi untuk berkumpul mengadakan nonton bareng. Meski Haruka bilang sudah menontonnya berkali-kali tapi tetap juga ikut bergabung. Yukino harus mengingatkannya berkali-kali untuk tidak membocorkan jalan cerita. Di luar dugaan, Nao dan Natsuki adalah yang pertama kali menangis sepanjang jalan cerita film ini. Mikoto berhasil mengabadikannya lewat kamera saku Mai dan hal itu menjadi bahan godaan mereka saat berkumpul bersama di kemudian hari. Juga di kemudian harinya lagi. Terus di kemudian hari.

"Sebenarnya, Shizuru tak perlu repot-repot ke sini untuk acara kelulusanku," kata Natsuki datar.
Shizuru tak bisa membaca emosi Natsuki saat ini, dia berusaha memilih kata untuk menjawab Natsuki. "Aneh rasanya kalau aku tidak datang di hari kelulusan Natsuki. Kita ini deket banget," Shizuru memutuskan menjawab tanpa menatap Natsuki. "Atau Natsuki lebih ingin Takeda yang datang?"
"Kalau Shizuru tak datang, takkan ada foto-foto kenangan saat kelulusanku nanti," Natsuki menghela napas, lalu tersenyum kecil.
"Berarti Natsuki memang niat membolos," Shizuru merasa lega karena Natsuki tak menanggapi bahasan tentang Takeda.
"Bukan membolos kalau kamu sudah dinyatakan lulus. Itu cuma formalitas," sanggah Natsuki.

Ibu Natsuki telah lama meninggal. Ayahnya menikah lagi dan Natsuki menolak untuk diajak tinggal bersama di luar negeri. Natsuki tidak memberitahu ayahnya perihal acara kelulusannya. Shizuru memahami mengapa dia dan Mai bisa menjadi sahabat bagi Natsuki yang penyendiri, ada dahaga akan sosok seorang ibu dalam diri Natsuki dan kepribadian Shizuru dan Mai yang keibuan memberi rasa nyaman tersendiri bagi Natsuki.

Tiba-tiba terdengar suara letusan, Shizuru dan Natsuki menatap langit yang mendadak bertebaran cahaya. Natsuki benar, kembang api dari sini terlihat cantik. Langit seperti layar televisi pribadi mereka. Shizuru menyandarkan kepala ke samping, ke tubuh Natsuki, seolah teringat rasa lelah setelah perjalanan dan tugas kuliahnya. Tubuh Natsuki kaku sesaat, lalu Shizuru merasakan pelukan satu lengan Natsuki di punggungnya. Keduanya membisu menikmati gemerlapnya malam.


NB: oke, aku bohong lagi, belum selesai. Yang keempat itu yang terakhir. Beneran!


Kereta Malam II: Festival Sushi

Sabtu, 04 Januari 2014


Kereta tiba di stasiun yang dijanjikan. Shizuru menghirup bau udara lama yang terasa baru di ingatan olfaktori-nya. Kepalanya sakit, disertai pusing dan sedikit mual akibat memaksakan diri mengerjakan tugas kuliah di atas kereta. Shizuru masih punya satu hari untuk istirahat cukup dan mengerjakan sisa tugas.

Sambil mempersiapkan hati sebelum bertemu Natsuki.

Shizuru memesan taksi. Sesampainya di penginapan, Shizuru baru sadar kalau handphone-nya mati, lalu mencolokkannya pada sumber energi. Dia mengurungkan niat menghubungi Natsuki. Meletakkan tas-tas begitu saja, dia berbaring menatap langit-langit. "Natsuki...," Shizuru mendesah dalam pikiran sendiri. Perlahan-lahan rasa lelah menuntunnya pada stadium-stadium tidur.

Matahari tepat di atas kepala saat Shizuru terjaga, yang pertama kali dia rasakan adalah lapar yang menggigit. Shizuru menimbang-nimbang, makan sebelum mandi atau mandi sebelum makan. Dia meraih handphone untuk mengetahui waktu, melepaskan sambungan listrik lalu memeriksa beberapa pesan yang masuk. Ada yang dari Natsuki. Sisanya dari dosen yang memintanya memberi asistensi untuk beberapa adik kelas. Shizuru membalas dengan mengingatkan bahwa dia sudah ijin tidak bisa memberi asistensi minggu ini karena harus mengurus beberapa berkas ijasah di sekolah lama. Sambil menghadiri kelulusan Natsuki, batinnya. Tapi Shizuru tak membalas pesan Natsuki. Dia letakkan handphone di tempat tidur, mencari sebutir antasida di kantong tasnya dan mengunyah pelan. Nyeri di ulu hati berkurang, tapi tidak di kepalanya.

Shizuru memutuskan berbaring lagi, membiasakan diri terhadap nyeri di kepalanya. Ditatapnya kembali langit-langit yang semalam telah diakrabinya. Shizuru teringat sepotong roti yang dia simpan pagi tadi, mengambilnya tanpa bangkit dari tempat tidur, lalu memasukkannya secubit demi secubit ke dalam mulut.

Setelah nyeri di kepalanya reda, Shizuru meraih tugas-tugasnya. Dia bersikeras untuk menyelesaikannya hari ini juga, tak banyak yang harus dia kerjakan, dia telah mencicilnya sedikit demi sedikit. Sedikit lagi, batin Shizuru.

Hari menjelang malam saat Shizuru menyelesaikan tugas kuliah. Beristirahat sejenak, dia membuat secangkir teh dan meregangkan diri. Shizuru teringat untuk memesan tiket kembali ke kotanya, meski hatinya berkata kota inilah yang terasa sebagai rumah, Shizuru memilih kembali dengan kereta malam. Tangannya membuat gerakan seolah memperkirakan berat handphone di genggamannya setelah dia mengkonfirmasi tiket, memutuskan inilah saat menghubungi Natsuki.

Suara di seberang begitu familiar, Shizuru nyaris melupakan nyeri di kepalanya saat Natsuki menjawab panggilannya. Seperti rasa lega pulang ke rumah setelah perjalanan panjang, batin Shizuru di sela percakapan dengan Natsuki. Ia terkejut oleh kabar Shizuru berada di penginapan beberapa blok dari tempat tinggalnya, lalu mengomeli Shizuru panjang lebar karena tidak menginap di tempatnya saja.

"Nanti capek, malah tak bisa istirahat. Kamar Natsuki kan berantakan," tandas Shizuru teringat kebiasaannya membantu membersihkan tempat Natsuki saat weekend, supaya dia sendiri tak gerah melihat segalanya berantakan saat menikmati waktu berdua. Dia membayangkan wajah Natsuki yang seketika akan merah karena malu mendengarnya, Shizuru belum kehabisan stok godaan untuk Natsuki.

Natsuki mengajaknya makan malam tapi Shizuru menolaknya. "Simpan mantera sihirnya untuk besok," batin Shizuru. Dia sudah memutuskan untuk jalan-jalan malam di kota ini sendirian, malam ini, menikmati festival yang sedang berlangsung. Ada satu restoran sushi baru di dekat perayaan festival yang ingin Shizuru coba. Dia ingin meletakkan sumpit dan memakannya dengan tangan, seperti kebiasaan bar-bar Natsuki tapi minus mayo, dan itu hanya bisa dia lakukan bila tak seorangpun mengenalnya di tempat makan tersebut. Shizuru menyanggupi bertemu Natsuki sebelum perayaan wisuda besok di akhir percakapan mereka.

Setelah menyegarkan tubuhnya di bawah pancuran air, Shizuru berjalan menuju festival beberapa blok dari penginapannya. Saat melewati tempat tinggal Natsuki, Shizuru berhenti sebentar menatap jendela kamar perempuan berambut gelap itu. Shizuru melanjutkan perjalanan setelah melawan keinginannya untuk mampir ke tempat Natsuki. Keramaian festival belum mampu mengenyahkan rasa sendiri dalam hati Shizuru. Dia tersenyum pada penjual makanan kecil yang dibelinya, berterima kasih setelah membayar. Alih-alih memakannya, Shizuru malah mengantongi makanan tersebut karena tak menemukan tempat duduk. Shizuru ingin menikmati festival sampai larut nanti, sampai pesta kembang api, tapi terlebih dulu dia harus mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan.

"Shi...zuru?" Shizuru menoleh pada suara yang memanggilnya.
"Ara... Natsuki," Shizuru berusaha meredam keterkejutannya. Aneh sekali melihat Natsuki dan festival. Dua-duanya sama membuat hati Shizuru bergairah, gairah yang berbeda tentunya, tapi keduanya susah dipertemukan. Natsuki benci keramaian. Dulu jika Shizuru mengajak Natsuki berkencan, meski itu hanya istilah pribadi Shizuru, Natsuki selalu menolak tempat-tempat ramai. Sebenarnya Shizuru justru senang, kebutuhan 'privacy' Natsuki memungkinkannya mempunyai waktu berdua saja dengan Natsuki, hanya saja Shizuru merasa lebih sulit untuk menahan diri. Supaya tidak memuntahkan perasaannya begitu saja dan membuat sisanya berantakan. Shizuru akhirnya mengutarakan perasaan di hari kelulusannya dan seperti tebakannya, berantakan.

Natsuki mengajak Shizuru menjauh dari keramaian. Ke tempat yang lebih tinggi untuk melihat kembang api, kata Natsuki.
"Tapi perutku lapar, Natsuki," tukas Shizuru. Giliran Natsuki terkejut. Biasanya yang menggerutu tentang lapar di antara mereka adalah Natsuki.

Shizuru dan Natsuki duduk saling berhadapan. Mereka sudah memesan satu paket sushi yang sekarang sudah diletakkan di antara mereka. Shizuru tersenyum melihat Natsuki makan seperti biasa dengan acuh tak acuh. Dikesampingkannya sumpitnya, Shizuru mengikuti cara makan ala Natsuki dan mereka tersenyum-senyum geli terhadap satu sama lain. Dua perempuan androgini itu seperti berada dalam dunia yang mereka cipta bersama. Seperti di masa lalu, Natsuki menumpahkan teh yang tersenggol tangan kanannya saat meraih makanan. Shizuru lupa mengingatkan diri untuk memindahkan gelas minum Natsuki sebelum ia mulai makan. Seperti di masa lalu, Shizuru dan Natsuki buru-buru menegakkan gelas Natsuki dan tangan mereka bersentuhan, kali ini keempat mata mereka bertatapan. Saat itu seperti saat ini, pipi Natsuki yang mudah memerah mulai menunjukkan semburat warna, tapi kali ini Natsuki tak buru-buru menarik tangannya. Hati Shizuru berdebar-debar, denyut jantungnya meningkat, namun yang tampak di wajahnya hanya senyuman. Shizuru menggenggam tangan Natsuki, berbagai harapan kembali tumbuh subur, dua hal ini terjadi bersamaan tanpa bisa dia cegah.


NB: saya berubah pikiran, cerita ini jadi three shots. Sori.

Kereta Malam I

Jumat, 29 November 2013

Ini adalah cerita AU dari MaiHiME/otome. Shiznat. Two short shots. Saya tidak memiliki Mai HiME.

Panggilan terakhir untuk penumpang kereta yang ditumpangi Shizuru. Kemacetan di jalan depan stasiun membuat penumpang harus setengah berlari menuju kereta yang akan segera berangkat. Shizuru menyesap teh di gelas kertas, memandang barisan penumpang yang sedang menaiki kereta dari jendelanya. Dia sendiri sudah duduk dengan posisi yang nyaman, menghabiskan sedikit demi sedikit teh favoritnya. Tempat duduk di sebelahnya masih kosong, Shizuru berharap tidak akan ada orang yang duduk di sana  mengingat perjalanannya masih di hari kerja.

Perkiraan Shizuru benar, penumpang sepi, tempat duduk lengang di mana-mana. Merapatkan jaket, dia tengah membiasakan diri dengan udara dingin dalam kereta. Shizuru menutup mata, baru 10 menit kereta berjalan, tapi benaknya sudah membayangkan senyum seseorang yang akan dia temui di kota pemberhentian terakhir kereta ini. Shizuru memfokuskan diri pada sorot mata orang yang dia bayangkan, selain rindu dia juga berusaha melawan rasa mual. Banyak kendaraan memberi sensasi tak menyenangkan di kepala dan perut Shizuru, terutama bila dia menikmati pemandangan dari kaca samping kendaraan yang dia naiki.

Neurolog langganan Shizuru bilang itu hanya sedikit efek samping dari kecerdasan Shizuru, dia menjadi peka terhadap perubahan apapun di sekelilingnya. Perubahan secara visual contohnya, dan dokter tersebut menyarankan Shizuru melihat ke kaca depan kendaraan dan menghindari kaca samping. Shizuru kesulitan mempraktekkannya di kereta.

Perubahan. Apa yang kira-kira berubah dari Natsuki, ya? Batin Shizuru

Dua tahun lalu, Shizuru memutuskan untuk kuliah di kota yang berjarak empat ratus sekian kilometer dari Natsuki, meninggalkan Natsuki dan kebimbangannya. Beberapa saat setelah hari kelulusan Shizuru, sebelum dia mengikuti tes masuk mahasiswa baru, Natsuki memberi jawaban terhadap pernyataan cintanya. Natsuki mengatakan bahwa ia tak memiliki perasaan yang sama. Ia menyayangi Shizuru sebagai sahabat terbaiknya, menghancurkan hati Shizuru berkeping-keping dan menghentikan harapan Shizuru selama hampir dua tahun. Berkali-kali Shizuru menyesali telah mengungkapkan perasaannya, dan karena merasa tak sanggup terus berinteraksi hanya sebagai sahabat dengan Natsuki, Shizuru memilih mencerabut paksa kehadiran Natsuki di kehidupannya. Dia menjauh pergi untuk menenangkan diri dan berusaha menjadikan Natsuki hanya sebagai sahabat. Dia punya cita-cita dan universitasnya kini adalah yang terbaik di bidang yang diinginkan Shizuru.

Pikiran Shizuru beralih pada rasa mual yang masih mengganggunya. Dia berusaha mengalihkannya kembali pada kelanjutan ingatan dua tahun yang lalu.

Dua tahun lalu Shizuru juga menggunakan kereta malam untuk pindah dari kota tempat dia bersekolah SMA ke kota tempat bersekolahnya sekarang. Shizuru merasa langit mendadak mendung saat kereta penjemputnya tiba di stasiun. Tiupan peluit menandai kedatangan berton-ton besi yang mengguncang-guncang tanah pijakan. Shizuru  naik ke keretanya setelah panggilan terakhir dikumandangkan, menikmati saat-saat bersama Natsuki yang mungkin untuk terakhir kali di tahun itu. Shizuru tak punya rencana untuk kembali ke kota itu sampai tahun depan, saat ulang tahun Natsuki. Dia berdiri dan melambaikan tangan pada Natsuki untuk sekian kali di pintu kereta, sampai pintu kereta tertutup, tiba-tiba merasa dibutakan oleh kesedihan yang berusaha dia pendam. Kereta berjalan perlahan mulanya, seperti airmata Shizuru.

Shizuru berterima kasih dalam hati kepada kereta malam saat itu, dia duduk sendiri dan menangis sepuasnya sampai pagi tanpa banyak orang yang memperhatikan.

Shizuru juga menggunakan kereta malam untuk mengunjungi keluarganya di tanah kelahirannya. Akhirnya dia menikmati perjalanan-perjalanannya dengan kereta malam, dengan privasi yang diberikan oleh rasa kantuk penumpang lain, Shizuru menikmati pemandangan malam kota-kota yang dilewati keretanya. Lengang, silih berganti, kadang disinari lampu kekuningan sehingga tercipta gambar seperti foto lama dalam frame.

Perjalanan ribuan kilometer yang telah dilewati Shizuru bersama kereta malam-lah yang juga membuatnya kembali tersenyum. Senyum yang datang dari lubuk hati. Kesedihan pasca patah hatinya terobati. Tidak seketika, tapi lukanya perlahan menjadi jaringan parut yang warnanya memucat. Shizuru merasakannya di sela-sela suara Natsuki di telepon, rasa terjaganya terhadap panggilan dari Natsuki perlahan memudar. Keingintahuannya terhadap kisah sehari-hari Natsuki menjadi terlupakan oleh rutinitas sebagai mahasiswa. Orang-orang baru dan janjinya terhadap diri sendiri untuk membuka diri terhadap lingkungan baru memberinya obat tambahan yang bersinergi baik dengan keinginannya sembuh dari sakit cinta terhadap Natsuki. Meski kadang muncul rindu yang sekonyong-konyong, tak bisa dia cegah.

Dua tahun sudah dan lusa adalah hari kelulusan Natsuki.

Bohong bila Shizuru sudah sama sekali tak merasakan debaran di dadanya terhadap sesuatu yang berkaitan dengan Natsuki. Perempuan berambut gelap itu adalah cinta pertama Shizuru. Shizuru teringat pada malam-malam di mana dia sulit memejamkan mata, pikirannya selalu tentang Natsuki. Teringat bagaimana kemudian dia sesali keputusannya pergi dari sisi Natsuki begitu saja. Ego Shizuru yang besar tak bisa menerima kenyataan bahwa Natsuki menolaknya begitu saja. Harapan dalam hatinya adalah Natsuki merasa kehilangan dia, bahwa kepergiannya memberi bekas yang permanen di hati Natsuki seperti apa yang dia rasakan terhadap Natsuki. Nantinya dia sadari, di antara mereka Natsuki-lah yang paling terluka. Di antara mereka, Natsuki-lah yang melesat dewasa.

Terlepas dari betapa gila perasaannya dulu pada Natsuki, Shizuru menjadi orang yang lebih bijak kini. Kontrol dirinya yang semenjak dulu memang baik, menjadi lebih baik lagi. Namun saat Natsuki mengatakan sedang mempertimbangkan untuk menjadi mahasiswa baru di universitas Shizuru, harapan itu muncul kembali di hatinya. Harapan untuk membawa kisah yang berbeda di kesempatan ke dua, walaupun itu cuma harapan dan kesempatan dari diri Shizuru sendiri. Intuisi Shizuru biasanya tepat, dan dia was-was bila kali ini adalah satu dari sedikit yang meleset.

Lagi pula ada Takeda.

Takeda, seperti Shizuru, mengejar-kejar Natsuki mulai kelas 2 SMA. Bedanya, Takeda terang-terangan sedangkan Shizuru hanya bisa menyamarkan keinginannya. Hadirlah dia sebagai salah satu teman Natsuki yang kemudian menjadi sahabat terbaiknya. Berulang kali Shizuru harus menahan diri saat dia melihat Takeda berusaha meluluhkan hati Natsuki, Shizuru tertolong oleh sikap acuh tak acuh Natsuki terhadap Takeda saat mereka masih bersekolah bersama dulu. Kini Takeda di tahun kedua universitas yang sama dengan sekolah SMA mereka, kans Takeda selama dua tahun lalu lebih terbuka lebar dari pada Shizuru yang berbeda kota. Shizuru bukannya tak memikirkan hal itu, tapi dia sungguh bertekad untuk melepaskan Natsuki. Sekarang, memikirkan apa yang telah terjadi antara Natsuki dengan Takeda kembali memberi Shizuru sensasi yang tidak menyenangkan.

Mungkin dia terlalu banyak berharap. Shizuru menarik napas, berusaha mengendalikan perasaannya yang tiba-tiba kembali meluap terhadap Natsuki. Terlalu berharap sering memberi dampak merugikan. Shizuru maklum mengenai kenyataan bahwa cinta pertama tertinggal selamanya. Ke mana pun Shizuru melangkah, ada bagian dari dirinya yang membawa Natsuki turut serta. Bagian dari dirinya yang mencintai Natsuki. Tapi Shizuru tak bisa memaafkan diri sendiri mengenai harapan-harapan baru yang mendadak lahir menyambut berita "dia dan Natsuki akan satu kota lagi" yang belum tentu pasti.

Shizuru menghela napas seakan beban di hatinya akan larut bersama udara yang keluar dari paru-parunya.

Demi menghindari pikirannya yang semakin sulit dia kontrol, Shizuru membuka laptopnya. Ada beberapa tugas mata kuliah yang harus dia selesaikan dan dia tak mau waktu bersama Natsuki berkurang hanya karena dia mendadak kesulitan membagi waktu. Karena banyak melamun, tandas Shizuru pada diri sendiri. Dia menghadiahi senyuman untuk kekonyolan pikirannya, lalu menghabiskan sisa perjalanan kereta untuk mengerjakan tugas.
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates