Kereta adalah kendaraan favoritku.
Ya, ada mabuk kendaraan yang kurasakan saat menaikinya. Saat kereta berjalan berupa gerakan lamban ke kanan dan ke kiri, gerakan aneh yang akan membujuk otakku untuk menimbulkan kesalahan persepsi. Ilusi mulai menggerogoti pandanganku.
Gambar yang dipicu oleh pijar lampu jalanan di kaca jendela. Suara yang asing. Seperti melewati episode hidupku dalam kilatan cahaya, membuatku mual dan akhirnya aku muntah juga. Lalu mual lagi, dan muntah. Mual lagi.
Ada satu bagian di otak kecilku yang bersikeras untuk belajar saat aku kewalahan seperti itu. Aku begitu muak dengan rasa mual, tapi ia tetap menyesap pembelajaran yang ada tanpa kenal kompromi. Tak peduli betapa peliknya dadaku menyimpan semua rasa, muak ataupun mual. Tak peduli meski hati pucat pasi.
Menyadarkanku bahwa aku bukan pemimpi, karena manusia akan senantiasa belajar. Meski hidup keras menempanya dalam satu ketimpangan, manusia akan kembali mencari keseimbangan.
Perjalanan kali ini selesai jua, aku sampai pada tujuan.
Keringat dingin tersapu oleh angin, kini aku berpijak di atas tanah dan harus mengulang siklus yang sama sedari awal. Akan kulewati langkah demi langkah: mual-muntah-pucat-keringat dingin. Proses yang sama, berulang-ulang, dan aku terus belajar. Aku takkan pernah berhenti belajar. Siapa kau yang berusaha menghentikanku dari belajar? Aku akan menghadapinya dengan mata terbuka dan percaya, bahwa tiap kali aku putus asa Dia akan menyambungkan tali asa itu kembali. Supaya aku tetap berani melakukan perjalan demi perjalanan dengan kereta ataupun tanpa.
“There’s a battle ahead, many battles are lost
But you’ll never see the end of the road while you’re traveling with me…”
-Don’t dream it’s over

0 komentar:
Posting Komentar