welcome to my world

Nimmer kann ich ruhig treiben was die Seele stark erfaßt. Nimmer still behaglich bleiben und ich stürme ohne Rast -Karl Marx- (fur du?)

Elixir: 24

Sabtu, 24 Maret 2018

We'll end up splitting up because I'm a witch,...
I'll cry sorrowfully..
I'll miss you so much..
But even though I miss you..
I'll be strong and return to a normal every day life
Maybe we'll meet someone else
But the sadness won't go away
And once more, I'll find myself constantly yearning for you...
But one day..
If I'm not by your side..
Maybe I'll be completely forgotten

-Si Yeon

..constantly yearning for you...
..constantly...
yearning for you...

Apakah selalu hanya yang sedang jatuh cinta
Yang butuh kepastian?
Dan tak butuh airmata
Untuk monolog yang gegar
Dan tak butuh cinta
Untuk memulai sebuah perjalanan melupakan

Seteguk eleksir
Untuk kisah yang usai sebelum babak pertama
Dan untuk puluhan kilometer di antara kita
Yang semakin lebar

Patah

Jumat, 23 Maret 2018

Aku bukan ilalang
Yang tak bisa pergi ke mana kau berada
Saat rindu
Jadi bila aku tak datang
Anggap saja aku tak ingin

Karena aku juga tak mau jadi belalang
Yang melompat dari satu hati ke lain hati
Hanya supaya aku tak merasa sepi

Sendiri adalah ruang berbeda
Untuk kita
Aku sudah ingin berbagi
Tapi kau masih belum lupa rasa disakiti

Tentu satu hari kau
Pasti tersenyum lagi
Kalau toh aku mesti patah ini kali
Jangan ada di antara kita yang disesali

Kau Datang -Krakatau

Selasa, 13 Maret 2018

Kurindukan suasana baru
Harapkan merubah hidupku
Mengisi kehampaan diri
'Tuk mengganti yang tlah pergi

Kau datang seketika
Membuatku terpana
Sehingga ku terlena
Walau 'tuk sementara

Kau datang
Demi kebahagiaanku
Yang kucari

Catatan Perempuan yang Tak Pernah Mengenyam Sekolah Negeri untuk Wajib Belajarnya

Senin, 12 Maret 2018

"Ini cuma tulisan opini saja, menanggapi film anak Indonesia yang heboh kena protes beberapa bulan lalu."

Sebuah film, dengan rating anak-anak yang diharap-harap dapat mengulang kesuksesan Petualangan Sherina di tahun 2017, tersandung masalah dengan sebab tokoh jahatnya cenderung pada agama tertentu (konon, karena saya enggak nonton dan sebelumnya tidak tertarik nonton).

Ketika orang-orang mendebatkan di forum-forum publik, mau tak mau informasi seperti itu terbaca olehku. Terlebih karena seorang teman dekat berkomentar tentang orang-orang yang mengkritik. Untuk orang yang lama terbenam dalam ketidaksinkronan harapan dan situasi/kondisi seperti aku, perdebatan seperti ini bukanlah hal baru yang runcing sejak tragedy Mei '98 maupun galang massa 212 dan seterusnya. Ini adalah pergulatan semenjak bawah lima tahun (balita), bagiku.

Mengenyamkan pendidikan berlatar sekolah agama tertentu semenjak TK sampai SMA adalah langkah rasional orang tua yang ingin anaknya kokoh dalam dasar agama, sehingga saat fase lanjutan si anak diharapkan sudah membawa perbekalan cukup untuk memutuskan masalah-masalahnya terkait kehidupan dan keagamaan (selain bahwa Perguruan Tinggi swasta yang bagus itu biayanya lebih mahal sementara otak anaknya pas-pasan --nggak mungkin nyantol satu beasiswapun-- juga anggapan bahwa Perguruan Tinggi yang bagus adalah milik negeri).

Syok pertama adalah saat aku mulai ikut bimbingan belajar (bimbel) di sebuah lembaga belajar, aku mulai mengenal bahwa empat agama lain di Indonesia (jaman itu) benar-benar ada. Makan di kantin bimbel dengan seseorang yang selalu mengangkupkan kedua tangan terlebih dahulu (padahal makananku sudah terlanjur masuk mulut dan aku bahkan lupa berdoa) menamparku bahwa kesalihan tidak melulu milik agama mayoritas negara ini.

Syok paling hebat adalah saat aku mencicipi bangku kuliah kali pertama, bukan hanya kali pertama tidak menggunakan seragam sekolah atau kali pertama mencicipi sekolah negeri, tapi juga kali pertama aku masuk dan memiliki teman sekelas yang tidak satupun kukenal sebelumnya (kecuali satu-dua orang yang cuma 'say hi' di bimbel dulu). Bisa ditebak, aku masuk dalam kelompok yang terdiri dari elemen-elemen yang mirip dengan genk sekolahku dulu, termasuk sikap resistennya terhadap perubahan situasi/kondisi.

Kemudian aku tidak naik kelas (karena mulai pacaran sama cewek, perubahan haluan yang sangat besar buatku, yang menyita waktu belajar dan, well, I was never a bright student either). Karena tidak naik kelas, sekonyong-konyong aku dipaksa mengkerucutkan pertemananku dengan orang-orang yang 'bukan golonganku'. Jadilah aku soulmate si Cina --Buddha pindah Kristen, IPK empat, cuek tapi luar biasa sensitive-- yang aku juga heran ngapain dia nggak naik kelas. Dari dia yang luar biasa sekuler, aku belajar sangat banyak tentang kesalihan sosial.

Seorang dosenku pernah bilang bahwa semakin banyak indera yang digunakan untuk belajar, semakin pelajaran itu bisa diingat dengan baik. Ada benarnya juga hal itu dalam proses pembelajaranku, setidaknya pada kasus bila aku putus dengan seseorang maka aku akan mengganti seluruh bau-bauanku (kecuali satu, yaitu parfum, karena parfum hanya mengingatkanku pada bapak, bukan mantan): deodorant, pasta gigi, sabun mandi, body lotion. Aku adalah manusia hiperosmia, tidak ada gunanya berkilah "Gue cewek dewasa, enggak perlu bersikap childish pake buang ini-itu tentang mantan cuma gara-gara pingin move on" yang memang signifikan dalam mempersulit belajar move on.

Dengan indera yang lebih banyak, kita menyerap pelajaran dari bioskop, lebih dari apa yang kita baca. Secara tidak sadar. Bisa jadi informasi yang kita terima membuat otak kita tidak memperhatikan detil seperti apabila kita membaca buku saja --seperti alasan kenapa kita berciuman dengan mata tertutup, konsentrasi terhadap sensasi tersebut akan lebih berlipat-lipat dengan hanya menerima 'informasi' dari sensoris saja-- tapi mengatakan hal itu seperti menolak slogan "learning by doing' yang digembar-gemborkan banyak pendidik atau orang tua itu sendiri.

Di titik ini aku bukannya ingin menyudutkan satu film atau bagaimana, aku hanya menyayangkan rating film ini, kenapa anak-anak. Kalau benar ingin menyasar anak-anak, kenapa harus memberikan karakter 'seperti itu' pada tokoh jahatnya? Anak-anak adalah pelajar yang dilindungi negara, sudah patut apabila film ini masuk dalam upaya pemecahbelahan, dengan sengaja maupun tanpa sengaja. Para pembuat film juga harus menyadari bahwa mereka punya dampak besar dalam proses belajar,  terlebih para pembuat film yang memang dari awal ingin membuat 'film yang positif' atau 'film yang baik' atau yang prihatin dengan hal instan. Sulit dengan instan memisahkan seorang pembuat film dengan 'nilai karakter' yang keluar lewat kameranya.

Nantinya hasil proses belajar yang adalah pengalaman/pengetahuan, punya dampak sangat penting saat diproses di Prefrontal kita, salah satu tempat Higher Cortical Functions seperti judgement. Apa jadinya anak-anak kita bila proses belajarnya pecah belah?

Itu yang terjadi padaku, struggle to learn-ku sejak balita, aku tidak bohong. Dalam hidup bertetangga saja aku tidak disarankan untuk bermain dengan anak-anak lain agama karena mereka tidak dibatasi waktu sholat (dan beberapa dulu mengolok-olok dan menggodaku dengan makanan dan minuman saat aku sedang belajar melakukan puasa sampai maghrib), atau anak-anak lain ras karena kata-kata mereka kasar tidak seperti orang Jawa yang halus (tapi mbendhol mburi, untungnya aku Jawa Surabaya yang agak kasar tapi terang-terangan) atau karena mereka menganggap ras kami lebih rendah dari mereka. Lalu di sekolah, di mana aku diajari selama belasan tahun bahwa agama ini adalah agama paling baik, tanpa intervensi berarti tentang kesalihan sosial lewat buku ajar yang diterbitkan dan diwajibkan negara, tanpa mengalaminya lewat indera yang lain (interaksi sosial) karena kami satu sekolah semuanya satu agama. Sehingga saat aku harus mendadak mengalami perbedaan, aku cenderung sembunyi pada 'kelompok-kelompok tertentu' untuk lari dari proses belajar pecah belah pada diriku sendiri. Sebab ternyata dalam bernegara, saat aku dikatakan sebagai warga negara yang berdiri sendiri alias 17 tahun ke atas, ternyata banyak proses belajar yang kualami itu tidak sesuai dengan Pancasila, yang intisarinya diambil dari agama yang kuanut.

Haruskah kita runtuhkan dinding-dinding sekolah yang memecah belah proses belajar berkedok 'agama', 'ras', 'suku' (walau ini bukanlah inti dari masalah, hanya sekerucut pandangan saja), mengobrak-obrak demokrasi, atau dengan bijak melakukan intervensi kesalihan sosial lewat negara, pengajaran keseharian pada anak kita, pada anak-anak menyangkut pekerjaan kita, dan pada anak-anak menyangkut kehidupan bermasyarakat kita.

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak anak-anak macam aku telah tumbuh jadi 'orang-orang' bahkan orang tua, pendidik, staf negara, politikus, dan lain sebagainya. Anak-anak macam aku tak perlu dilestarikan, anak-anak macam aku yang saat ini menentukan perubahan generasi berikutnya. Anak-anak macam aku bisa memilih: memandang perbedaan sebagai alat untuk saling kenal --to know, to recognize atau apalah istilahnya yang pasti hasil akhirnya adalah pengalaman/pengetahuan sebagai satu informasi judgement-- atau sebagai alat untuk menutup mata saling menjelekkan satu sama lain.

The choice is ours. Buka mata, buka hati, terbukalah terhadap kritik dan yang lebih penting dari semua itu, terbukalah terhadap anak-anakmu dengan tujuan, bukan hanya keinginan, agar mereka lebih baik (darimu).
Aku tak bisa selalu mengambil risiko
Hanya untuk membuatmu merasa berharga
Sedang dirimu tak ingin lepas dari kebebasan dan keragu-raguan

Kalau ternyata kau hanya gadis kecil yang ingin mainan
Maafkan
Aku tak pernah bisa bermain cantik

Kepada: Secangkir Kopi Malang yang Pahit (2)

Sabtu, 24 Februari 2018

On one summer night
We started this fling
One kiss
Arms interlocked under the blanket
As our hearts trying to put a definition
For this infatuation

You walk on unsteady ground
I...
I never believe in love
So it's never too late for you
To let me go
If you hesitate

Because to be with me
You have to have the courage
To let go

Sapardi Djoko Damono, Kolam. Kepada: Secangkir Kopi Malang yang Pahit

Sonet 7:
Ada jarak yang harus ditempuh sampai suasana siap menerima kita. [Dan kita arif menerimanya, bukan?]
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates