Aku tak pernah merancang pola untuk hidupku di jauh hari. Hidup sudah rumit dan aku memilih menyederhanakannya menjadi satu cita-cita bulat telur: aku harus bahagia.
Jadi, perjalanan sejauh manapun, rintangan sesulit apapun, harus bisa kulewati dengan menekan diri sendiri seminimal mungkin. Kata orang kamu tidak akan tahu kamu bisa apa sampai harus melakukan sesuatu. Amin, aku sepakat empat jempol, segala sesuatu harus memberi timbal balik pada kita dalam bentuk apapun. Harus sepadan apa yang kita dapat dengan bagaimana kita menekan diri kita, memberi stressor yang pas pula, jangan berlebih, sayangi diri sendiri. Kita cerna senti demi senti pembelajaran yang dikurikulumkan kehidupan.
Bisa jadi detik ini kamu cuma seonggok murid berbaju putih abu-abu yang sedang malu menggenggam segumpal kertas yang mulanya berbentuk persegi panjang, kertas ulangan yang nilainya ditulis tinta merah, bingung menyembunyikannya dari teman dan bapak-ibu. Lalu dipanggil ke ruang BP untuk disangoni surat panggilan orang tua karena kamu rajin datang telat ke sekolah. Duh, stressor yang besar sekali untuk kawula muda, membuat ingin bunuh diri. Berjalan dengan muka tertunduk dan lesu. Tapi kamu tetap maju tanpa melihat ke belakang. Dan sepuluh tahun kemudian kamu menjadi pembicaraan guru sekolah menengah alumnimu itu tadi, menjadi salah satu lulusan yang sering muncul di acara tv hiburan, menjadi pembawa acara yang konyol dan punya suara tawa yang renyah.
The past doesn't define your future, dear. Blogmu tidak menunjukkan dirimu sebenarnya.
Barangkali apa yang kukatakan selama bertahun-tahun di blog hanyalah bohong. Ilusi. Khayalanku saja. Bahwa dunia di kepalaku begitu unik, seperti aku percaya bahwa Naya Rivera itu lesbian dan Tala itu bukan tokoh fiksi. Dan aku bisa fasih sepuluh bahasa termasuk bahasa bangsa Na'vi. Barangkali yang tumpah di tulisanku hanyalah kata-kata munafik, yang tak kulakoni sehari-hari. Bahwa aku cuma pecundang yang duduk sebagai penjaga warnet yang malas pulang ke rumah karena bosan dengan omelan orang tua yang bosan melihatku menganggur. Malas kuliah, tak ada usaha cari kerja. Dan internet adalah dunia indah di mana aku bebas menentukan fisik dan pikiranku. Dan dirimu hanyalah orang yang tertipu (oleh aku).
The past doesn't define your future, dear. Blogmu tidak menunjukkan dirimu sebenarnya.
Barangkali apa yang kukatakan selama bertahun-tahun di blog hanyalah bohong. Ilusi. Khayalanku saja. Bahwa dunia di kepalaku begitu unik, seperti aku percaya bahwa Naya Rivera itu lesbian dan Tala itu bukan tokoh fiksi. Dan aku bisa fasih sepuluh bahasa termasuk bahasa bangsa Na'vi. Barangkali yang tumpah di tulisanku hanyalah kata-kata munafik, yang tak kulakoni sehari-hari. Bahwa aku cuma pecundang yang duduk sebagai penjaga warnet yang malas pulang ke rumah karena bosan dengan omelan orang tua yang bosan melihatku menganggur. Malas kuliah, tak ada usaha cari kerja. Dan internet adalah dunia indah di mana aku bebas menentukan fisik dan pikiranku. Dan dirimu hanyalah orang yang tertipu (oleh aku).

0 komentar:
Posting Komentar