From the very first time i rest my eyes on you, boy
My heart says follow through*
Tentu saja aku ingat kamu. Pertemuan terakhir kita di dekat ruang direktur dan setelah itu kita tak pernah lagi berkomunikasi. Kubayangkan kau membangun karir dengan keramahanmu yang unik, di sebuah pulau tempat terakhir aku tahu kau di sana.
Aku ingat pertaruhan dengan Andin waktu itu, walaupun akhirnya kami yang sibuk punya hubungan sendiri. Kalau Andin menyebalkan saat nyetir karena hemineglect, yang tidak kusuka darimu adalah kaca mobil yang terlalu gelap. Saat itu aku benar-benar berharap kita dekat, sayangnya kita tidak satu kelas. Setelah itu kita semakin sibuk dengan urusan masing-masing, sampai sekarang.
I don't want to wait in vain for your love
Coz summer is here, i'm still waiting there
Winter is here, i'm still waiting there*
Saat aku menyerah dengan kemacetan, kuputuskan untuk berjalan di kota kecil ini. Kotamu. Barang kali rumahmu adalah satu dari rumah yang kulewati. Lipstikku terlalu merah hari ini, sehingga laki-laki yang mengingatkanku untuk menepi ke pinggir jalan memanggilku ibu. Tapi memang sudah sembilan atau sepuluh tahun sejak aku, Andin, dan kau. Orang bilang jiwa akan selamanya terasa muda, hanya pelajaran yang semakin banyak yang kita sesap bila kita memang mau belajar. Aku belajar darimu tentang kebahagiaan. Katamu waktu itu: kalau itu bikin kamu bahagia. Aku bahagia denganmu, batinku, tapi aku tak mengenalmu kecuali nama dan kenyataan bahwa kau tidak tertarik pada perempuan.
In life i know there's a lot of grief
But you'll always my relief*
Barang kali aneh buatmu ketika aku memutuskan kau boleh tahu. Seperti kataku, kita tak saling kenal. Tapi kau menjelma jadi satu dari teman yang tak bisa kulupakan.
Lumajang tak sedingin yang kukira, dan mengenangmu tak seberat yang kuduga.
Darling,
you are not a cure for people's loneliness
you do not live to validate anyone
it's not your job to decorate anyone's comfort zone**
-RM Terapung Bu Umi, Jalan Raya Semeru
*waiting in vain
**iambrillyant
