Pada sore ini kunamai jingga itu langit. Aku patuh terduduk pada beton-beton calon jalan yang belum jadi. Asap mengepul perlahan dan yang jatuh tak terasa semoga bukan airmata.
Sebab aku merindukanmu seperti pengamen mendamba uang receh. Berharap akanmu seperti pengemis ingin uang bukan receh.
Tapi luka serasa cuma serpihan remeh dari sebongkah rindu. Duhai, kapan kau datang padaku ? Tak sabar kuwiwidi hari dengan melihatmu pertama kali, tapi aku memang harus pergi. Mengalihkan perasaan ini pada mobil-mobil yang lalu lalang.
Dan aku durja, muram. Secarik kesedihan kubawa menyisir beton-beton jalanan.
Kemarin, untuk M.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar