
kutunggu di sebuah terminal, kedatanganmu
kau akan datang dengan ransel besar dan sebuah tas tentengan tangan
berisi oleh-oleh yang kau beli sepanjang perjalanan
peluhmu mengucur, daki yang lekat dan sungging senyum penuh kelegaan
senyum yang menular padaku
kita tak bisa langsung berciuman
katamu kau ingin kita tinggal di sebuah negara yang kita bebas melakukan apapun
sebagai bagian dari sebuah hak azasi
kutanya hak azasi tentang apa, kau jawab mengekspresikan diri
aku tertawa, entah karena jawabanmu atau karena kau tersandung saat kita bicara hal itu
dan kamu masih tahu bagaimana cara memelukku
kau tahu bagaimana rasanya sepi ?
sepi adalah saat kau tak ada di sini
hanya terdengar ketikan keyboard yang bersentuhan dengan jariku dan
rasa asing bernama kesendirian
kau mungkin tak tahu rasa sepi
hatiku biru dan hatimu merah ungu
jiwaku setengah dari satu dan kau separuhku
meski begitu jauh kita mesti berjarak, cinta mendekatkan kita hingga
kau tak lebih dari sejengkalpun jauh dariku
aku cinta kau
lalu kau pasti bercerita tentang matahari terbit di kotamu
dan kota-kota lain yang kau singgahi
semua
seindah matahari terbit di penanjakan, menyinari kabut, kaldera bromo
dan dua buah gunung asing yang tak kuributkan namanya
untuk apa sebuah nama
apakah kebahagiaan selalu perlu nama ?
matahari terbit akan meninggalkan bekas pada kulitmu
yang gelap
yang rajin kusentuh dan kau luluri lotion tubuh
kubilang kau butuh tabir surya
kaubilang apa gunanya tetap tinggal di daerah tropis kalau memasalahkan sengatan matahari
kau yang pembantah
masih tersisa rasa ciumanmu yang terakhir
yang akan kutuntut jatahnya yang baru
dari balik pintu begitu kita masuk dalam kamar kita
aku tak ingin menunggu
tak bisa
kau yang kucintai

0 komentar:
Posting Komentar